Rabu, 29-10-2008
*Bersihar Lubis
SYAHDAN, Indonesia sudah punya master plan pengembangan biofuel, baik tentang lahan, infrastruktur, pabrik, marketing, maupun dana. Biofuel terdiri dari biodiesel dari kelapa sawit dan jarak pagar serta bioetanol dari singkong atau tebu.
Angan-angannya, pada 2010 porsi substitusi biofuel mencapai 10 persen konsumsi BBM. Targetnya, pada 2010 sudah berdiri 11 pabrik biofuel di lahan 6 juta hektare. Dana dari hulu ke hilir, sekitar Rp 200 triliun. Di hulu, dengan asumsi US$ 1 miliar per hektar diprediksi perlu dana Rp 53 triliun. Di hilir, terutama pabrik, perlu Rp 150 triliun.Sebetulnya, oke-oke sajalah, asalkan jangan terulang lagi sikap “tambal sulam.
”Tatkala harga minyak mentah membubung, kita menengok lagi biofuel. Tapi jika berfluktuasi menurun, dilupakan lagi.Patut dicatat bahwa hingga Maret 2008 lalu, ternyata dari 70 calon investor masih banyak yang belum merealisasikannya karena tidak adanya kepastian pasar domestik (Pertamina menurunkannya dari 5% menjadi 1% saja).
Setidaknya, Begitulah yang diungkapkan oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Biofuel Indonsia (Aprobi) Paulus Cakrawan kepada pers. Jangan sampai terjadi pula miss koordinasi antarinstansi, suatu penyakit egosektoral yang belum sembuh. Memang, dalam Inpres Nomor 1 Tahun 2006, disebutkan selain bupati dan gubernur, 13 menteri, seperti Menteri ESDM, Menteri Pertanian, Menteri Kehutanan, Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan terlibat langsung. Menko Perekonomian sebagai komandonya pula.
Koordinasi menjadi penting, untuk menjaga jangan gara-gara kelak ada harapan besar dari pasar, dan akan men-drive harga nabati, kemudian memunculkan ancaman berupa terjadinya kompetisi lahan. Yang tadinya untuk pangan disedot ke bionabati untuk menghasilkan bio energi.
Mestilah ditemukan harmoni yang proporsional antara bionabati dan bioenergi. Untuk itu, jangan terlalu all out di energi dan mengakibatkan sektor pangan terancam. Ketahanan pangan (food security) harus berimbang dengan bioenergi/energy security/ketahanan energi. Jangan sampai ada rebutan lahan, dan kanibalisasi, sehingga diperlukan adanya regulasi dari pemerintah.Sangat pradoks jika pabrik bioethanol marak, tetapi kebun sawit tidak bertambah. Setelah bahan baku siap di berbagai perkebunan, barulah pabrik bioethanol dibangun. Jangan sebaliknya. Bisa-bisa energi melahap pangan.
Paling penting, peran pekebun jangan diabaikan. Fakta berbicara, bahwa perkebunan swasta dan BUMN pada 2000 hanya 3,4 juta hektare dari total area 11,7 juta hektare. Dari jumlah itu, 70 persen adalah perkebunan kelapa sawit swasta menengah dan kecil, yang tumbuh cepat karena subsidi bunga, seperti juga petani karet. Mereka sabar menunggu lima sebelum karet disadap, karena berkebun bagi mereka sudah menjadi kultur.Jika sehektare kebun karet dihargai Rp 10 juta, investasi petani mencapai Rp 37 triliun. Berapa nilai 7,5 juta hektare sawah, kebun kopi, teh, dan yang lain, yang sebagian besar investasi rakyat? Petani adalah investor sejati. Hasil ekspor perkebunan rakyat US$ 5 miliar setahun.
Padahal, dividen dan pajak PTPN I-XIV setahun, kurang dari Rp 1 triliun. Kita terkenang tuan Douwes Dekker alias Multatuli. Penulis roman “Max Havelaar” itu memprotes tanaman paksa ala kolonial Belanda, dan Ratu Belanda mengabulkannya. “Katakan kepada saya, bukankah si petani miskin, bukankah padi menguning seringkali untuk memberi makan orang yang tidak menanamnya?” kata Dekker saat berpidato menjadi Asisten Residen di Lebak, Banten. (Habis)*Wartawan MedanBisnis
source: medanbisnisonline
Showing posts with label Biofuel. Show all posts
Showing posts with label Biofuel. Show all posts
Tuesday, October 28, 2008
Produsen Biodisel Diminta Tingkatkan Produksi
Selasa, 28 Oktober 2008 14:36 WIB
JAKARTA--MI: Pemerintah meminta produsen biodiesel segera meningkatkan kapasitas produksinya dengan menyerap sebanyak-banyaknya kelapa sawit yang kini sedang melimpah. Dirjen Migas Departemen ESDM Evita Legowo di Jakarta, Selasa (28/10) mengatakan penurunan harga kelapa sawit belakangan ini membuat harga biodiesel akan semakin kompetitif. "Pengusaha harus menangkap peluang ini," katanya.
Apalagi, lanjutnya, PT Pertamina (Persero) sudah berkomitmen menyerap secara maksimal produk biodiesel. Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit terus mengalami penurunan dari sebelumnya Rp3.000 per kg menjadi hanya Rp200-300 per kg.
Pada 26 September 2008, kata Evita, pemerintah telah mengeluarkan aturan Peraturan Menteri ESDM No 32 Tahun 2008 yang yang mewajibkan pemanfaatan bahan bakar nabati (BBN). Menurut dia, besaran mandatory yang ditetapkan merupakan angka minimal, sehingga akan semakin mendorong pemanfaatan BBN.
Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) memperkirakan produksi biodiesel tahun 2009 akan mencapai 2.521.000 ton dengan pemakaian domestik 1.121.000 ton. Produksi biodiesel itu dihasilkan sebelas perusahaan yakni PT Asian Agri Tbk, PT Energi Alternatif Indonesia, PT Eterindo Wahanatama Tbk, PT Darmex Biofuel, Ganesha Energy Group, PT Indo Biofuels Energy, PT Multikimia Intipelangi, Musim Mas Group, Pertama Hijau Group, PT Sumi Asih, dan Wilmar Group. (Ant/OL-06)
source: mediaindonesia.com
JAKARTA--MI: Pemerintah meminta produsen biodiesel segera meningkatkan kapasitas produksinya dengan menyerap sebanyak-banyaknya kelapa sawit yang kini sedang melimpah. Dirjen Migas Departemen ESDM Evita Legowo di Jakarta, Selasa (28/10) mengatakan penurunan harga kelapa sawit belakangan ini membuat harga biodiesel akan semakin kompetitif. "Pengusaha harus menangkap peluang ini," katanya.
Apalagi, lanjutnya, PT Pertamina (Persero) sudah berkomitmen menyerap secara maksimal produk biodiesel. Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit terus mengalami penurunan dari sebelumnya Rp3.000 per kg menjadi hanya Rp200-300 per kg.
Pada 26 September 2008, kata Evita, pemerintah telah mengeluarkan aturan Peraturan Menteri ESDM No 32 Tahun 2008 yang yang mewajibkan pemanfaatan bahan bakar nabati (BBN). Menurut dia, besaran mandatory yang ditetapkan merupakan angka minimal, sehingga akan semakin mendorong pemanfaatan BBN.
Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) memperkirakan produksi biodiesel tahun 2009 akan mencapai 2.521.000 ton dengan pemakaian domestik 1.121.000 ton. Produksi biodiesel itu dihasilkan sebelas perusahaan yakni PT Asian Agri Tbk, PT Energi Alternatif Indonesia, PT Eterindo Wahanatama Tbk, PT Darmex Biofuel, Ganesha Energy Group, PT Indo Biofuels Energy, PT Multikimia Intipelangi, Musim Mas Group, Pertama Hijau Group, PT Sumi Asih, dan Wilmar Group. (Ant/OL-06)
source: mediaindonesia.com
Posted by
raprapmedan
at
Tuesday, October 28, 2008
0
comments
Labels:
Asian Agri,
Biodiesel,
Biofuel,
Ganesha Energy,
Musim Mas,
Permata Hijau Group,
Wilmar
Monday, October 27, 2008
Biofuel: Peluang atau Angan-angan (2)
Selasa, 28-10-2008
*Bersihar Lubis
NUN jauh di utara, Brasil memulai program biofuel pada 1973 ketika negeri itu dilibas krisis BBM. Padahal, mereka mengimpor 80 persen BBM. Dicetuskanlah bahan alkohol sebagai energi alternatif. Dirangsang pula dengan diskon pajak bagi produsen dan pengguna mobil etanol. Brasil membidik singkong, jarak pagar, dan primadonanya adalah alkohol yang disuling dari tebu. Tak ayal, industri alkohol dan gula marak mencapai 300-an.
Sektor ini, menurut Asosiasi Agroindustri Tebu Sao Paulo, menyedot 1 juta tenaga kerja di 5,44 juta hektare (2004) lahan tebu, yang terluas di dunia. Separo dari produksi digunakan untuk etanol, dan bertumbuh 6% saban tahun. Cost industri etanol Brasil supermurah. Hanya (sebelum pajak) US$ 17,5 per barel atau sekitar Rp 1.080 per liter. Sedang industri berbasis tebu berbiaya US$ 10 untuk saban kesempatan kerja.
Lebih rendah ketimbang industri petrokimia (US$ 200), industri baja (US$ 145), industri otomotif (US$ 91), industri pengolahan bahan baku (US$ 70), dan industri produk konsumsi (US$ 44).
Brasil beruntung, tapi juga cerdas. Walau punya 20,4 juta ton gula dan 14 miliar liter etanol, hanya 9,5 juta ton gula dan 12,7 miliar liter etanol untuk konsumsi domestik. Sisanya, diekspor. Pada 2005, konsumsi biofuel Brasil mencapai 13 miliar liter, dan mengurangi 40 persen dari total kebutuhan bensin. Produksi etanol tumbuh 8,9 persen setahun, yang harganya lebih rendah dari harga BBM impor.
Biodiesel berbahan baku singkong dan jarak pagar) juga digarap jutaan hektare lahan. Hasilnya, pada 2003, Brasil mengkonsumsi solar 38 miliar liter—6 miliar liternya berasal dari pasar impor. Luar biasa. Di kita ini, ampas tebu percuma. Di Brasil dibakar dan menghasilkan enerji pabrik yang perlu setrum 60 megawatt dari 160 MW yang diproduksi. Harga etanol ini kompetitif, hanya US$ 30-40 per MWh.
Ampas tebu bisa menghasilkan setrum 9.000 MW, 15 kali produksi PLTN di sana. Bahkan, production cost etanol (US$ 0,63 per galon) sangat irit daripada bensin (US$ 1,05). Padahal, Indonesiapun punya limbah tebu 3,5 juta ton menurut data 2002.Yang membuat decak kagum, tak sedikit mobil berbahan bakar etanol meluncur di jalanan Brasil. Ada Fiat, General Motors, Ford, sampai Volkswagen. Lima tahun kemudian, 90 persen mobil Brasis telah minum alkohol. Bahkan, pesawat terbang ringan, menjadi peserta baru. Konon, akan dipakai untuk menyiram lahan pertanian. Brasil sukses karena ada lembaga khusus yang mengurus biofuel bernama Badan Pengembangan Gula dan Alkohol, di bawah Kementerian Pertanian. Merekalah perumus kebijakan. Kemudian, memaksimalkan pasar dalam negeri, sehingga ketergantungan kepada pasar internasional gula teratasi karena adanya industri etanol.
Pemerintah Brasil juga memfasilitasi kredit berbunga rendah (11-12 persen, sementara bunga pasar 26 persen) kepada pengusaha dan petani yang mengembangkan energi terbarukan.Terakhir, juga ditopang oleh lembaga riset dan pengembangan, yang berorientasi kepada produksi agrobisnis yang modern, efisien, dan kompetitif.
Kita punya apa? Mungkin, potensi pasar domestik yang besar, meskipun Pertamina menetapkan hanya 1% dari tadinya 5% biofuel. Juga punya lembaga riset. Ada LIPI, BPPT, Lembaga Riset Perkebunan Indonesia dan kampus. Nah, soal kelembagaan khusus dan fasilitas kredit perlu regulasi, dan sangat penting. Kadang, kita mendengar ada anggapan bahwa sektor agro itu unbankable. Jika pun ada good will, setidaknya tidak seprogresif di Brasil, negeri sepakbola yang tersohor dengan goyang samba itu. (Bersambung)*Wartawan MedanBisnis
source: medanbisnisonline.com
*Bersihar Lubis
NUN jauh di utara, Brasil memulai program biofuel pada 1973 ketika negeri itu dilibas krisis BBM. Padahal, mereka mengimpor 80 persen BBM. Dicetuskanlah bahan alkohol sebagai energi alternatif. Dirangsang pula dengan diskon pajak bagi produsen dan pengguna mobil etanol. Brasil membidik singkong, jarak pagar, dan primadonanya adalah alkohol yang disuling dari tebu. Tak ayal, industri alkohol dan gula marak mencapai 300-an.
Sektor ini, menurut Asosiasi Agroindustri Tebu Sao Paulo, menyedot 1 juta tenaga kerja di 5,44 juta hektare (2004) lahan tebu, yang terluas di dunia. Separo dari produksi digunakan untuk etanol, dan bertumbuh 6% saban tahun. Cost industri etanol Brasil supermurah. Hanya (sebelum pajak) US$ 17,5 per barel atau sekitar Rp 1.080 per liter. Sedang industri berbasis tebu berbiaya US$ 10 untuk saban kesempatan kerja.
Lebih rendah ketimbang industri petrokimia (US$ 200), industri baja (US$ 145), industri otomotif (US$ 91), industri pengolahan bahan baku (US$ 70), dan industri produk konsumsi (US$ 44).
Brasil beruntung, tapi juga cerdas. Walau punya 20,4 juta ton gula dan 14 miliar liter etanol, hanya 9,5 juta ton gula dan 12,7 miliar liter etanol untuk konsumsi domestik. Sisanya, diekspor. Pada 2005, konsumsi biofuel Brasil mencapai 13 miliar liter, dan mengurangi 40 persen dari total kebutuhan bensin. Produksi etanol tumbuh 8,9 persen setahun, yang harganya lebih rendah dari harga BBM impor.
Biodiesel berbahan baku singkong dan jarak pagar) juga digarap jutaan hektare lahan. Hasilnya, pada 2003, Brasil mengkonsumsi solar 38 miliar liter—6 miliar liternya berasal dari pasar impor. Luar biasa. Di kita ini, ampas tebu percuma. Di Brasil dibakar dan menghasilkan enerji pabrik yang perlu setrum 60 megawatt dari 160 MW yang diproduksi. Harga etanol ini kompetitif, hanya US$ 30-40 per MWh.
Ampas tebu bisa menghasilkan setrum 9.000 MW, 15 kali produksi PLTN di sana. Bahkan, production cost etanol (US$ 0,63 per galon) sangat irit daripada bensin (US$ 1,05). Padahal, Indonesiapun punya limbah tebu 3,5 juta ton menurut data 2002.Yang membuat decak kagum, tak sedikit mobil berbahan bakar etanol meluncur di jalanan Brasil. Ada Fiat, General Motors, Ford, sampai Volkswagen. Lima tahun kemudian, 90 persen mobil Brasis telah minum alkohol. Bahkan, pesawat terbang ringan, menjadi peserta baru. Konon, akan dipakai untuk menyiram lahan pertanian. Brasil sukses karena ada lembaga khusus yang mengurus biofuel bernama Badan Pengembangan Gula dan Alkohol, di bawah Kementerian Pertanian. Merekalah perumus kebijakan. Kemudian, memaksimalkan pasar dalam negeri, sehingga ketergantungan kepada pasar internasional gula teratasi karena adanya industri etanol.
Pemerintah Brasil juga memfasilitasi kredit berbunga rendah (11-12 persen, sementara bunga pasar 26 persen) kepada pengusaha dan petani yang mengembangkan energi terbarukan.Terakhir, juga ditopang oleh lembaga riset dan pengembangan, yang berorientasi kepada produksi agrobisnis yang modern, efisien, dan kompetitif.
Kita punya apa? Mungkin, potensi pasar domestik yang besar, meskipun Pertamina menetapkan hanya 1% dari tadinya 5% biofuel. Juga punya lembaga riset. Ada LIPI, BPPT, Lembaga Riset Perkebunan Indonesia dan kampus. Nah, soal kelembagaan khusus dan fasilitas kredit perlu regulasi, dan sangat penting. Kadang, kita mendengar ada anggapan bahwa sektor agro itu unbankable. Jika pun ada good will, setidaknya tidak seprogresif di Brasil, negeri sepakbola yang tersohor dengan goyang samba itu. (Bersambung)*Wartawan MedanBisnis
source: medanbisnisonline.com
Posted by
raprapmedan
at
Monday, October 27, 2008
0
comments
Labels:
Biodiesel,
Biofuel,
CPO,
Energi Alternatif
Biofuel: Peluang atau Angan-angan (1)
Senin, 27-10-2008
*Bersihar Lubis
Pengantar: Bank Indonesia menggelar seminar bertema “Peranan Perbankan Dalam Mendukung Ketahanan Pangan & Energi di Sumatera Utara pada 29 Oktober 2008 di Medan. Berikut ini, disajikan tulisan serial tentang biofuel di Indonesia, yang tampaknya belum sehebat di Brasil (Red).
PRODUK CPO Indonesia sekitar 16-17 juta ton setahun, mirip calon anggota DPR-DPRD (caleg) yang bagai cendawan di musim hujan. Tidak seimbang dengan sedikitnya kursi tersedia yang diperebutkan di parlemen, sehingga kompetisi sangat ketat dan tajam.Tak heran ketika harga sedang pahit di pasaran dunia, produk CPO yang berlimpah-ruah itu menjadi lost economics. Maklum, untuk kebutuhan domestik (minyak goreng) hanya 26% saja. Sisanya, maaf, mirip caleg yang mayoritas diprediksi kandas untuk mencapai “pulau impian.”Fenomena inikah gerangan yang disebut budaya mangan ora mangan asal ngumpul? Tatkala harga minyak nilam tinggi, ramai-ramai bertanam nilam seraya memberangus kebun karet. Akibatnya, over produksi, lalu harga nilam jatuh.
Padahal prospek harga karet alam lebih terjamin karena karet sintetis yang membutuhkan energi BBM semakin mahal pula.Semestinya, ibarat berjualan telur, letakkanlah di banyak keranjang. Alokasi CPO tak cuma untuk migor, dan komoditas ekspor. Selain untuk bahan baku industri hilir domestik (farmasi, kosmetik dsb), ada peluang baru, yakni untuk industri biofuel.
Ini sangat strategis karena bisa menggantikan cadangan minyak bumi yang semakin langka. Apalagi kebijakan harga BBM pun rawan merembes ke wilayah politik. Mulai dari Gus Dur, Mega dan SBY didemo habis-habisan disertai pergolakan politik di DPR. Tragisnya, era keemasan BBM murah pun kian meredup.Sebetulnya, cita-cita pengembangan bahan bakar alternatif berbahan baku nabati (biofuel) telah diwujudkan dalam Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional dan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) pada 25 Januari 2006 silam.
Angan-angan cemerlang ini pernah tercetus pada 1980-an. Seandainya 28 tahun silam intensif dilakukan, mungkin kisah getir CPO dewasa ini tidak akan terjadi. Ironisnya, program itu setop karena harga BBM menurun. Ketika “musuh” pergi kita pun terlena. Tidak konsepsional, tidak konsisten. Kala itu, ada program gasohol: bensin dicampur 10 persen etanol. Bahkan, lembaga penelitian dan pilot plant pembuatan etanol dari pati singkong di Lampung telah beroperasi. Tapi tragisnya, dokumennya hilang. Mudah-mudahan saja, target biofuel 10 persen pada 2010 tidak menjadi angan-angan belaka. (Bersambung)*Wartawan MedanBisnis
source: medanbisnisonline.com
*Bersihar Lubis
Pengantar: Bank Indonesia menggelar seminar bertema “Peranan Perbankan Dalam Mendukung Ketahanan Pangan & Energi di Sumatera Utara pada 29 Oktober 2008 di Medan. Berikut ini, disajikan tulisan serial tentang biofuel di Indonesia, yang tampaknya belum sehebat di Brasil (Red).
PRODUK CPO Indonesia sekitar 16-17 juta ton setahun, mirip calon anggota DPR-DPRD (caleg) yang bagai cendawan di musim hujan. Tidak seimbang dengan sedikitnya kursi tersedia yang diperebutkan di parlemen, sehingga kompetisi sangat ketat dan tajam.Tak heran ketika harga sedang pahit di pasaran dunia, produk CPO yang berlimpah-ruah itu menjadi lost economics. Maklum, untuk kebutuhan domestik (minyak goreng) hanya 26% saja. Sisanya, maaf, mirip caleg yang mayoritas diprediksi kandas untuk mencapai “pulau impian.”Fenomena inikah gerangan yang disebut budaya mangan ora mangan asal ngumpul? Tatkala harga minyak nilam tinggi, ramai-ramai bertanam nilam seraya memberangus kebun karet. Akibatnya, over produksi, lalu harga nilam jatuh.
Padahal prospek harga karet alam lebih terjamin karena karet sintetis yang membutuhkan energi BBM semakin mahal pula.Semestinya, ibarat berjualan telur, letakkanlah di banyak keranjang. Alokasi CPO tak cuma untuk migor, dan komoditas ekspor. Selain untuk bahan baku industri hilir domestik (farmasi, kosmetik dsb), ada peluang baru, yakni untuk industri biofuel.
Ini sangat strategis karena bisa menggantikan cadangan minyak bumi yang semakin langka. Apalagi kebijakan harga BBM pun rawan merembes ke wilayah politik. Mulai dari Gus Dur, Mega dan SBY didemo habis-habisan disertai pergolakan politik di DPR. Tragisnya, era keemasan BBM murah pun kian meredup.Sebetulnya, cita-cita pengembangan bahan bakar alternatif berbahan baku nabati (biofuel) telah diwujudkan dalam Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional dan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) pada 25 Januari 2006 silam.
Angan-angan cemerlang ini pernah tercetus pada 1980-an. Seandainya 28 tahun silam intensif dilakukan, mungkin kisah getir CPO dewasa ini tidak akan terjadi. Ironisnya, program itu setop karena harga BBM menurun. Ketika “musuh” pergi kita pun terlena. Tidak konsepsional, tidak konsisten. Kala itu, ada program gasohol: bensin dicampur 10 persen etanol. Bahkan, lembaga penelitian dan pilot plant pembuatan etanol dari pati singkong di Lampung telah beroperasi. Tapi tragisnya, dokumennya hilang. Mudah-mudahan saja, target biofuel 10 persen pada 2010 tidak menjadi angan-angan belaka. (Bersambung)*Wartawan MedanBisnis
source: medanbisnisonline.com
Thursday, October 16, 2008
Adonis hints UK is wavering on biofuel targets
DUBLIN, Ireland, Oct 15, 2008 (BUSINESS WIRE) -- Research and Markets ( http://www.researchandmarkets.com/research/d19600/canada_biofuels_ma) has announced the addition of the "Canada Biofuels Market Potential" report to their offering.
Biofuel is any fuel that is derived from biomass -- recently living organisms or their metabolic byproducts, such as manure from cows. It is a renewable energy source, unlike other natural resources such as petroleum, coal, and nuclear fuels.
Ethanol is manufactured from microbial conversion of biomass materials through fermentation. Ethanol contains 35% oxygen. The production process consists of conversion of biomass to fermentable sugars, fermentation of sugars to ethanol, and the separation and purification of the ethanol. Fermentation initially produces ethanol containing a substantial amount of water. Distillation removes the majority of water to yield about 95% purity ethanol, the balance being water. This mixture is called hydrous ethanol. If the remaining water is removed in a further process, the ethanol is called anhydrous ethanol and is suitable for blending into gasoline. Ethanol is "denatured" prior to leaving the plant to make it unfit for human consumption by addition of a small amount of products such as gasoline.
Biodiesel fuels are oxygenated organic compounds -- methyl or ethyl esters -- derived from a variety of renewable sources such as vegetable oil, animal fat, and cooking oil. The oxygen contained in biodiesel makes it unstable and requires stabilization to avoid storage problems. Rapeseed methyl ester (RME) diesel, derived from rapeseed oil, is the most common biodiesel fuel available in Europe. In the United States, biodiesel from soybean oil, called soy methyl ester diesel, is the most common biodiesel. Collectively, these fuels are referred to as fatty acid methyl esters (FAME).
Biofuels have become a growth industry with worldwide production more than doubling in the last five years. The rapid expansion of ethanol production in the United States and biodiesel production (and to a lesser extent, biogas) in Germany and other countries in Western Europe has created a biofuels frenzy that has affected many countries, including Canada. Many measures have been used to stimulate production and consumption of biofuels, including preferential taxation, subsidies, import tariffs and consumption mandates. Recently, Canadian federal and provincial governments have announced consumption mandates and subsidies to assist rapid expansion of biofuel production in Canada.
Canada has considerable natural resources and is one of the world's largest producers and exporters of energy. In 2006, Canada produced 21.1 quadrillion British Thermal Units (Btu) of total energy, the fifth largest amount in the world. Since 1980, Canada's total energy production has increased by 86%, while its total energy consumption has increased by only 48% during that period. Almost all of Canada's energy exports go to the United States, making it the largest foreign source of U.S. energy imports: Canada is consistently among the top sources for U.S. oil imports, and it is the largest source of U.S. natural gas and electricity imports. Recognizing the importance of the energy trade between the two countries, both participate in the North American Energy Working Group, which seeks to improve energy integration and cooperation between Canada, the U.S., and Mexico.
The report Biofuel Industry in Canada is a complete coverage of the ethanol and biodiesel market in the country.
source: businessgreen.com
Biofuel is any fuel that is derived from biomass -- recently living organisms or their metabolic byproducts, such as manure from cows. It is a renewable energy source, unlike other natural resources such as petroleum, coal, and nuclear fuels.
Ethanol is manufactured from microbial conversion of biomass materials through fermentation. Ethanol contains 35% oxygen. The production process consists of conversion of biomass to fermentable sugars, fermentation of sugars to ethanol, and the separation and purification of the ethanol. Fermentation initially produces ethanol containing a substantial amount of water. Distillation removes the majority of water to yield about 95% purity ethanol, the balance being water. This mixture is called hydrous ethanol. If the remaining water is removed in a further process, the ethanol is called anhydrous ethanol and is suitable for blending into gasoline. Ethanol is "denatured" prior to leaving the plant to make it unfit for human consumption by addition of a small amount of products such as gasoline.
Biodiesel fuels are oxygenated organic compounds -- methyl or ethyl esters -- derived from a variety of renewable sources such as vegetable oil, animal fat, and cooking oil. The oxygen contained in biodiesel makes it unstable and requires stabilization to avoid storage problems. Rapeseed methyl ester (RME) diesel, derived from rapeseed oil, is the most common biodiesel fuel available in Europe. In the United States, biodiesel from soybean oil, called soy methyl ester diesel, is the most common biodiesel. Collectively, these fuels are referred to as fatty acid methyl esters (FAME).
Biofuels have become a growth industry with worldwide production more than doubling in the last five years. The rapid expansion of ethanol production in the United States and biodiesel production (and to a lesser extent, biogas) in Germany and other countries in Western Europe has created a biofuels frenzy that has affected many countries, including Canada. Many measures have been used to stimulate production and consumption of biofuels, including preferential taxation, subsidies, import tariffs and consumption mandates. Recently, Canadian federal and provincial governments have announced consumption mandates and subsidies to assist rapid expansion of biofuel production in Canada.
Canada has considerable natural resources and is one of the world's largest producers and exporters of energy. In 2006, Canada produced 21.1 quadrillion British Thermal Units (Btu) of total energy, the fifth largest amount in the world. Since 1980, Canada's total energy production has increased by 86%, while its total energy consumption has increased by only 48% during that period. Almost all of Canada's energy exports go to the United States, making it the largest foreign source of U.S. energy imports: Canada is consistently among the top sources for U.S. oil imports, and it is the largest source of U.S. natural gas and electricity imports. Recognizing the importance of the energy trade between the two countries, both participate in the North American Energy Working Group, which seeks to improve energy integration and cooperation between Canada, the U.S., and Mexico.
The report Biofuel Industry in Canada is a complete coverage of the ethanol and biodiesel market in the country.
source: businessgreen.com
What are the biofuel challenges?
Earth & Sky Radio Serieswith hosts
Deborah Byrd, Joel Block,Lindsay Patterson and Jorge Salazar
Mike Goosey: Biofuels are derived from biomass, an organic raw material of living organisms and also their byproducts as well.
That’s biochemist Mike Goosey with Shell, speaking to us from the Thornton Research and Technology Center near Cheshire in the UK. One of the major biofuels today is bioethanol.
Mike Goosey: It is made through a traditional fermentation process. So very similar to the brewing or winery industry, it uses the sucrose from sugarcane. It can take starch from corn or wheat.
The other major biofuel is biodiesel.
Mike Goosey: And again the source, the biomass for that biofuel is commonly rapeseed, palm oil, soya bean as well in the States.
Many have questioned the use of food crops for fuel. But, in a world whose climate is changing, biofuels are seen by many experts and consumers as a necessary next step.
Mike Goosey: It’s not a silver bullet. And there will be other technologies that will contribute to this. But we do see biofuels as a significant contributor to reducing the CO2, and ultimately climate change that is facing us in the next 30, 40, 50 years.
There’s an additional challenge with biofuels. That is, fuel is needed to grow the crops used to make biofuels. In principle, biofuels are carbon neutral, but in practice farming the plants remains carbon intensive.
Mike Goosey: One of the challenges that the we do face as an industry is looking at is how to improve the yield of the biomass and also reduce the amount of energy that is put into growing that biomass. Something that industry and others are working on is how we can reduce the amount of fertilizer, how we can reduce the amount of water that’s required to generate the amount of biomass.
source: earthsky.org
Deborah Byrd, Joel Block,Lindsay Patterson and Jorge Salazar
Mike Goosey: Biofuels are derived from biomass, an organic raw material of living organisms and also their byproducts as well.
That’s biochemist Mike Goosey with Shell, speaking to us from the Thornton Research and Technology Center near Cheshire in the UK. One of the major biofuels today is bioethanol.
Mike Goosey: It is made through a traditional fermentation process. So very similar to the brewing or winery industry, it uses the sucrose from sugarcane. It can take starch from corn or wheat.
The other major biofuel is biodiesel.
Mike Goosey: And again the source, the biomass for that biofuel is commonly rapeseed, palm oil, soya bean as well in the States.
Many have questioned the use of food crops for fuel. But, in a world whose climate is changing, biofuels are seen by many experts and consumers as a necessary next step.
Mike Goosey: It’s not a silver bullet. And there will be other technologies that will contribute to this. But we do see biofuels as a significant contributor to reducing the CO2, and ultimately climate change that is facing us in the next 30, 40, 50 years.
There’s an additional challenge with biofuels. That is, fuel is needed to grow the crops used to make biofuels. In principle, biofuels are carbon neutral, but in practice farming the plants remains carbon intensive.
Mike Goosey: One of the challenges that the we do face as an industry is looking at is how to improve the yield of the biomass and also reduce the amount of energy that is put into growing that biomass. Something that industry and others are working on is how we can reduce the amount of fertilizer, how we can reduce the amount of water that’s required to generate the amount of biomass.
source: earthsky.org
Subscribe to:
Posts (Atom)