Rabu, 05 November 2008 | 17:30 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Malaysia akan menjalin kerja sama penggunaan bahan bakar nabati (BBN) dengan Indonesia. Negeri jiran itu akan akan mempelajari mandatory (aturan yang mewajibkan) pemakaian BBN yang sudah berlaku di Indonesia.
"Mereka berminat untuk belajar dan akan membuat MoU (nota kesepahaman) terkait rencana itu," kata Staf Ahli Menteri Sumber Daya Mineral bidang SDM dan Teknologi Lulu Sumiarso seusai bertemu dengan Menteri Perkebunan dan Komoditas Malaysia Datuk Peter Chin Fah Kui, Rabu (5/11).
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Evita Legowo menambahkan, Malaysia akan menerapkan mandatory BBN pada 2009. Rencana penggunaan BBN oleh Malaysia, karena negara itu sedang kelebihan pasokan CPO (minyak sawit mentah). Sorta Tobing
source: tempo.co.id
Showing posts with label Biodiesel. Show all posts
Showing posts with label Biodiesel. Show all posts
Wednesday, November 5, 2008
Monday, November 3, 2008
RI harus kembangkan industri hilir CPO
Senin, 03/11/2008
Petani kelapa sawit saat ini kelimpungan lantaran anjloknya harga tandan buah segar (TBS) di pasaran. Sebenarnya kemerosotan harga TBS bukan kali ini saja terjadi, melainkan sudah berulang kali. Oleh karena itu, kasus rendahnya harga TBS yang pernah terjadi sebelumnya itu semestinya bisa menjadi pelajaran bagi para petani.
Lebih dari 75% produksi kelapa sawit Indonesia diekspor dalam bentuk minyak mentah sawit atau crude palm oil (CPO). Ini berbeda dengan Malaysia, di mana 80% produksi diekspor dalam bentuk produk yang bernilai tambah hasil kreasi industri hilir.
Ekspor membuat kita menjadi bergantung pada pembeli dari luar negeri. Kalau keuangan mereka sedang sehat, produk kita dibeli semua. Akan tetapi sebaliknya, kalau sedang sakit, kita juga yang harus menanggung derita seperti yang terjadi saat ini sebagai imbas krisis global.
Belajar dari kejadian ini, Indonesia harus segera menggalakkan industri hilir. Untuk masuk ke industri hilir, Indonesia jelas memiliki potensi. Berdasarkan data Kantor Menteri Negara BUMN, sekitar 7,5% dari 29 juta ton produksi CPO dunia dihasilkan oleh 11 BUMN sektor perkebunan di Indonesia, yakni PTPN I hingga VIII, XIII, XIV, dan PT Rajawali Nusindo Indonesia.
Produksi CPO PTPN ini merupakan bagian dari 23% seluruh konsumsi lemak dan minyak dunia. Badan Palm Oil World menyatakan total produksi CPO dunia kini mendekati 29 juta ton per tahun. Indonesia bersama Malaysia menjadi produsen terbesar dengan produksi 83%.
Dari realisasi ekspor CPO dunia yang mendekati 22 juta ton per tahun, 92% di antaranya berasal dari Indonesia dan Malaysia. Sebagai salah satu penghasil CPO terbesar, Indonesia menjadi barometer dunia. Perubahan apa pun yang terjadi dalam produksi kelapa sawit di Indonesia akan selalu disorot komunitas CPO internasional.
Persoalan dalam pengembangan industri hilir CPO bukanlah kurangnya pasokan di dalam negeri sehingga perlu dibatasi melalui peningkatan PE dan/atau kuota seperti yang selama ini dilakukan pemerintah, melainkan ketiadaan grand design dan roadmap dengan sasaran yang jelas dalam setiap tahapannya.
Selama ini CPO umumnya diekspor dan nilai tambahnya kecil. Padahal jika digunakan untuk industri dalam negeri, nilai tambahnya bisa lebih ditingkatkan. Dibandingkan dengan Malaysia, pengembangan industri hilir Indonesia masih tertinggal jauh. Meski di atas kertas Indonesia menikmati keunggulan komparatif berupa luas lahan sawit, tapi Malaysia jauh lebih riil dalam menikmati hasil dari olahan kelapa sawit karena serius mengembangkan keunggulan kompetitif (value added) di sektor hilir.
Industri hilir Malaysia mampu mengolah CPO menjadi lebih dari 120 jenis produk bernilai tambah tinggi, sedangkan Indonesia baru belasan produk. Malaysian Palm Oil Board (MPOB), yang merupakan institusi tertinggi dalam pelaksanaan kebijakan industri kelapa sawit di Malaysia adalah institusi di balik kesuksesan sawit Malaysia.
?Harga CPO tak akan menjadi bulan-bulanan perdagangan dunia sepanjang Indonesia mau membangkitkan industri hilir. Bangkitnya industri hilir akan dirasakan manfaatnya oleh banyak pihak. Petani akan lebih aman karena sudah ada pihak industri yang siap menampung usaha tani mereka. Pengusahaan berbagai industri hilir pengolah CPO pun akan menjadi peluang baru penyerapan tenaga kerja di Indonesia.
Produk olahan dari CPO dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu produk pangan dan nonpangan. Produk pangan terutama minyak goreng dan margarin, sedangkan produk nonpangan a.l. oleokimia yaitu ester, asam lemak, surfaktan, gliserin dan turunan.
Oleokimia
Industri penghasil oleokimia termasuk industri kimia agro (agrobased chemical industry) mempunyai peranan penting dalam upaya pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat seperti kosmetik, produk farmasi dan produk konsumsi lainnya.
Sampai saat ini beberapa produk industri bahan kimia khusus yang berbasis CPO sepenuhnya masih bergantung impor, seperti produk isopropyl palmitat, isopropyl miristat, asam palmitat, dan asam oleat. Pengembangan industri bahan kimia khusus di dalam negeri yang menghasilkan produk-produk tersebut mempunyai prospek yang baik, karena didukung potensi pasar yang besar dari perusahaan kosmetik dan farmasi yang berjumlah 600 perusahaan.
?Kajian yang dilakukan Seafast Center IPB menunjukkan bahwa produk oleokimia sangat prospektif untuk dikembangkan sebagai jawaban atas gonjang-ganjing harga CPO karena berlawanan dengan kondisi supply-demand minyak mentah nabati yang saat ini berada dalam posisi excess supply. Produk oleokimia dunia diperkirakan masih berada dalam kondisi excess demand hingga beberapa tahun mendatang.
?Kondisi excess demand pada produk oleokimia ini tentu merupakan sebuah indikasi akan prospektifnya harga komoditas tersebut. Menurut FAO, pertumbuhan permintaan terhadap produk oleokimia setiap tahunnya mencapai 3%.
Diramalkan pertumbuhan industri oleokimia yang terbesar akan terjadi di kawasan Asia. Hal ini tidak terlepas dari pertumbuhan produksi minyak nabati yang sangat tinggi di kawasan ini.
Pada 1960 produksi minyak dan lemak Asia baru 7,5 juta ton atau 24,12% dari produksi minyak dan lemak dunia, tetapi pada 1980 melonjak menjadi 8,4 juta ton atau 20,95% dari total produksi dunia.
Pada 2000 Asia telah menjadi kawasan produsen minyak dan lemak nabati utama dunia dengan total produksi 39,3 juta ton atau 37,43% dari total produksi dunia.
Selama kurun waktu 1960-2000, produksi minyak dan lemak kawasan Asia telah tumbuh rata-rata 53,63% per tahun.
Oleh Rahmat Pramulya
Mahasiswa Pascasarjana Manajemen dan Bisnis (MB) IPB, anggota Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (Maksi).
source: bisnis.com
Petani kelapa sawit saat ini kelimpungan lantaran anjloknya harga tandan buah segar (TBS) di pasaran. Sebenarnya kemerosotan harga TBS bukan kali ini saja terjadi, melainkan sudah berulang kali. Oleh karena itu, kasus rendahnya harga TBS yang pernah terjadi sebelumnya itu semestinya bisa menjadi pelajaran bagi para petani.
Lebih dari 75% produksi kelapa sawit Indonesia diekspor dalam bentuk minyak mentah sawit atau crude palm oil (CPO). Ini berbeda dengan Malaysia, di mana 80% produksi diekspor dalam bentuk produk yang bernilai tambah hasil kreasi industri hilir.
Ekspor membuat kita menjadi bergantung pada pembeli dari luar negeri. Kalau keuangan mereka sedang sehat, produk kita dibeli semua. Akan tetapi sebaliknya, kalau sedang sakit, kita juga yang harus menanggung derita seperti yang terjadi saat ini sebagai imbas krisis global.
Belajar dari kejadian ini, Indonesia harus segera menggalakkan industri hilir. Untuk masuk ke industri hilir, Indonesia jelas memiliki potensi. Berdasarkan data Kantor Menteri Negara BUMN, sekitar 7,5% dari 29 juta ton produksi CPO dunia dihasilkan oleh 11 BUMN sektor perkebunan di Indonesia, yakni PTPN I hingga VIII, XIII, XIV, dan PT Rajawali Nusindo Indonesia.
Produksi CPO PTPN ini merupakan bagian dari 23% seluruh konsumsi lemak dan minyak dunia. Badan Palm Oil World menyatakan total produksi CPO dunia kini mendekati 29 juta ton per tahun. Indonesia bersama Malaysia menjadi produsen terbesar dengan produksi 83%.
Dari realisasi ekspor CPO dunia yang mendekati 22 juta ton per tahun, 92% di antaranya berasal dari Indonesia dan Malaysia. Sebagai salah satu penghasil CPO terbesar, Indonesia menjadi barometer dunia. Perubahan apa pun yang terjadi dalam produksi kelapa sawit di Indonesia akan selalu disorot komunitas CPO internasional.
Persoalan dalam pengembangan industri hilir CPO bukanlah kurangnya pasokan di dalam negeri sehingga perlu dibatasi melalui peningkatan PE dan/atau kuota seperti yang selama ini dilakukan pemerintah, melainkan ketiadaan grand design dan roadmap dengan sasaran yang jelas dalam setiap tahapannya.
Selama ini CPO umumnya diekspor dan nilai tambahnya kecil. Padahal jika digunakan untuk industri dalam negeri, nilai tambahnya bisa lebih ditingkatkan. Dibandingkan dengan Malaysia, pengembangan industri hilir Indonesia masih tertinggal jauh. Meski di atas kertas Indonesia menikmati keunggulan komparatif berupa luas lahan sawit, tapi Malaysia jauh lebih riil dalam menikmati hasil dari olahan kelapa sawit karena serius mengembangkan keunggulan kompetitif (value added) di sektor hilir.
Industri hilir Malaysia mampu mengolah CPO menjadi lebih dari 120 jenis produk bernilai tambah tinggi, sedangkan Indonesia baru belasan produk. Malaysian Palm Oil Board (MPOB), yang merupakan institusi tertinggi dalam pelaksanaan kebijakan industri kelapa sawit di Malaysia adalah institusi di balik kesuksesan sawit Malaysia.
?Harga CPO tak akan menjadi bulan-bulanan perdagangan dunia sepanjang Indonesia mau membangkitkan industri hilir. Bangkitnya industri hilir akan dirasakan manfaatnya oleh banyak pihak. Petani akan lebih aman karena sudah ada pihak industri yang siap menampung usaha tani mereka. Pengusahaan berbagai industri hilir pengolah CPO pun akan menjadi peluang baru penyerapan tenaga kerja di Indonesia.
Produk olahan dari CPO dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu produk pangan dan nonpangan. Produk pangan terutama minyak goreng dan margarin, sedangkan produk nonpangan a.l. oleokimia yaitu ester, asam lemak, surfaktan, gliserin dan turunan.
Oleokimia
Industri penghasil oleokimia termasuk industri kimia agro (agrobased chemical industry) mempunyai peranan penting dalam upaya pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat seperti kosmetik, produk farmasi dan produk konsumsi lainnya.
Sampai saat ini beberapa produk industri bahan kimia khusus yang berbasis CPO sepenuhnya masih bergantung impor, seperti produk isopropyl palmitat, isopropyl miristat, asam palmitat, dan asam oleat. Pengembangan industri bahan kimia khusus di dalam negeri yang menghasilkan produk-produk tersebut mempunyai prospek yang baik, karena didukung potensi pasar yang besar dari perusahaan kosmetik dan farmasi yang berjumlah 600 perusahaan.
?Kajian yang dilakukan Seafast Center IPB menunjukkan bahwa produk oleokimia sangat prospektif untuk dikembangkan sebagai jawaban atas gonjang-ganjing harga CPO karena berlawanan dengan kondisi supply-demand minyak mentah nabati yang saat ini berada dalam posisi excess supply. Produk oleokimia dunia diperkirakan masih berada dalam kondisi excess demand hingga beberapa tahun mendatang.
?Kondisi excess demand pada produk oleokimia ini tentu merupakan sebuah indikasi akan prospektifnya harga komoditas tersebut. Menurut FAO, pertumbuhan permintaan terhadap produk oleokimia setiap tahunnya mencapai 3%.
Diramalkan pertumbuhan industri oleokimia yang terbesar akan terjadi di kawasan Asia. Hal ini tidak terlepas dari pertumbuhan produksi minyak nabati yang sangat tinggi di kawasan ini.
Pada 1960 produksi minyak dan lemak Asia baru 7,5 juta ton atau 24,12% dari produksi minyak dan lemak dunia, tetapi pada 1980 melonjak menjadi 8,4 juta ton atau 20,95% dari total produksi dunia.
Pada 2000 Asia telah menjadi kawasan produsen minyak dan lemak nabati utama dunia dengan total produksi 39,3 juta ton atau 37,43% dari total produksi dunia.
Selama kurun waktu 1960-2000, produksi minyak dan lemak kawasan Asia telah tumbuh rata-rata 53,63% per tahun.
Oleh Rahmat Pramulya
Mahasiswa Pascasarjana Manajemen dan Bisnis (MB) IPB, anggota Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (Maksi).
source: bisnis.com
Thursday, October 30, 2008
Pengusaha dan Pelaku Industri Sambut Baik Pemanfaatan CPO Jadi Biodiesel
Medan, (Analisa)
Pengusaha dan pelaku industri menyambut baik kebijakan pemerintah yang mewajibkan pemakaian Bahan Bakar Nabati (BBN).
Langkah ini dinilai efektif untuk menyerap kelebihan stok minyak sawit mentah (CPO) yang melimpah. Selain itu, pemakaian Bahan Bakar Nabati (BBN) dipastikan dapat menghemat biaya produksi industri di tengah krisis.
Hal itu dikatakan bendahara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumatera Utara (Sumut) Laksamana Adiyaksa kepada wartawan, Kamis (30/10).
Menurutnya, kebijakan tersebut berdasarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 32 tahun 2008 tentang Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai bahan bakar Lain.
Dalam Permen tersebut dinyatakan pemanfaatan biodiesel untuk transportasi pada Oktober-Desember 2008 sebanyak 1 persen akan dinaikkan secara bertahap menjadi 20 persen pada tahun 2025. Sedangkan untuk industri dan komersial sebesar 2,5 persen serta pembangkit listrik 0,1 persen.
Untuk itu pengusaha siap produksi dan menggunakannya, karena pemakaian BBN ini memang lebih efisien. Khusus bagi industri CPO tentu akan menjadi pasar baru. Sehingga diharapkan bisa menyerap Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit petani di daerah ini.
Dia menambahkan, jika ini yang terjadi harga TBS juga diharapkan naik.
Lebih efektif
Menurut Laksamana, pemanfaatan biodiesel untuk bahan bakar ini juga lebih efektif dan cepat daripada harus mengembangkan industri hilir yang membutuhkan investasi besar dan waktu relatif lebih lama.
Pada prinsipnya yang dilakukan hanya pencampuran BBM fosil dengan minyak RBD (Refine Bleached Dedorize olein). Untuk komposisi tergantung peruntukan mesin yang disiapkan.
Jika motor bergerak seperti alat transportasi komposisi RBD bisa mencapai 20 persen dan BBM fosil 80 persen. Sedangkan untuk motor tak bergerak, seperti genset dan mesin pengolahan, RBD bisa lebih banyak mencapai 80 persen.
Investasinya tentu lebih murah dibandingkan membangun industri hilir. Karena yang diperlukan hanya mesin pencampur dan tangki penyimpanan campuran katanya.
Dengan pencampuran ini harga bahan bakar yang dihasilkan jauh lebih murah ketimbang menggunakan BBM fosil. Ditambahkannya, beberapa perusahaan juga telah menerapkannya sejak tahun 2006 lalu.
Mengenai produksi, pihaknya menjamin produksi cukup dan dipastikan selalu tersedia. Dia mengatakan produksi CPO nasional mencapai 18 juta ton per tahun.
Dari jumlah tersebut dimanfaatkan untuk minyak goreng sekitar 4,5 juta ton, produksi RBD 4 juta ton. Kondisi saat ini stok biodiesel mencapai 2,5 juta per tahun, dan selebihnya ekspor.
Sementara itu, Sekretaris I Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Timbas Prasad Ginting, juga mengatakan, pentingnya pemerintah mensterilkan produk impor berbahan CPO.
Hal ini dimaksudkan agar produsen bisa memproduksi lebih banyak produk turunan CPO. Seperti halnya minyak goreng, mentega, dan produk turunan lainnya yang sudah banyak beredar di dalam negeri.
Dari harga, produksi lokal jauh lebih murah. Begitu juga dengan kualitas yang lebih baik. Tetapi produsen sulit menambah produksinya karena kebutuhan konsumsi produk ini tidak terlalu banyak, katanya.
Ia juga menghimbau industri memanfaatkan BBN. Sebab selain efisiensi biaya produksi, BBN juga lebih ramah lingkungan, ungkapnya. (ms)
source: analisadaily.com
Pengusaha dan pelaku industri menyambut baik kebijakan pemerintah yang mewajibkan pemakaian Bahan Bakar Nabati (BBN).
Langkah ini dinilai efektif untuk menyerap kelebihan stok minyak sawit mentah (CPO) yang melimpah. Selain itu, pemakaian Bahan Bakar Nabati (BBN) dipastikan dapat menghemat biaya produksi industri di tengah krisis.
Hal itu dikatakan bendahara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumatera Utara (Sumut) Laksamana Adiyaksa kepada wartawan, Kamis (30/10).
Menurutnya, kebijakan tersebut berdasarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 32 tahun 2008 tentang Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai bahan bakar Lain.
Dalam Permen tersebut dinyatakan pemanfaatan biodiesel untuk transportasi pada Oktober-Desember 2008 sebanyak 1 persen akan dinaikkan secara bertahap menjadi 20 persen pada tahun 2025. Sedangkan untuk industri dan komersial sebesar 2,5 persen serta pembangkit listrik 0,1 persen.
Untuk itu pengusaha siap produksi dan menggunakannya, karena pemakaian BBN ini memang lebih efisien. Khusus bagi industri CPO tentu akan menjadi pasar baru. Sehingga diharapkan bisa menyerap Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit petani di daerah ini.
Dia menambahkan, jika ini yang terjadi harga TBS juga diharapkan naik.
Lebih efektif
Menurut Laksamana, pemanfaatan biodiesel untuk bahan bakar ini juga lebih efektif dan cepat daripada harus mengembangkan industri hilir yang membutuhkan investasi besar dan waktu relatif lebih lama.
Pada prinsipnya yang dilakukan hanya pencampuran BBM fosil dengan minyak RBD (Refine Bleached Dedorize olein). Untuk komposisi tergantung peruntukan mesin yang disiapkan.
Jika motor bergerak seperti alat transportasi komposisi RBD bisa mencapai 20 persen dan BBM fosil 80 persen. Sedangkan untuk motor tak bergerak, seperti genset dan mesin pengolahan, RBD bisa lebih banyak mencapai 80 persen.
Investasinya tentu lebih murah dibandingkan membangun industri hilir. Karena yang diperlukan hanya mesin pencampur dan tangki penyimpanan campuran katanya.
Dengan pencampuran ini harga bahan bakar yang dihasilkan jauh lebih murah ketimbang menggunakan BBM fosil. Ditambahkannya, beberapa perusahaan juga telah menerapkannya sejak tahun 2006 lalu.
Mengenai produksi, pihaknya menjamin produksi cukup dan dipastikan selalu tersedia. Dia mengatakan produksi CPO nasional mencapai 18 juta ton per tahun.
Dari jumlah tersebut dimanfaatkan untuk minyak goreng sekitar 4,5 juta ton, produksi RBD 4 juta ton. Kondisi saat ini stok biodiesel mencapai 2,5 juta per tahun, dan selebihnya ekspor.
Sementara itu, Sekretaris I Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Timbas Prasad Ginting, juga mengatakan, pentingnya pemerintah mensterilkan produk impor berbahan CPO.
Hal ini dimaksudkan agar produsen bisa memproduksi lebih banyak produk turunan CPO. Seperti halnya minyak goreng, mentega, dan produk turunan lainnya yang sudah banyak beredar di dalam negeri.
Dari harga, produksi lokal jauh lebih murah. Begitu juga dengan kualitas yang lebih baik. Tetapi produsen sulit menambah produksinya karena kebutuhan konsumsi produk ini tidak terlalu banyak, katanya.
Ia juga menghimbau industri memanfaatkan BBN. Sebab selain efisiensi biaya produksi, BBN juga lebih ramah lingkungan, ungkapnya. (ms)
source: analisadaily.com
Posted by
raprapmedan
at
Thursday, October 30, 2008
0
comments
Labels:
Biodiesel,
CPO,
Gapki,
Laksamana Adiyaksa,
Pertamina
Pengusaha Siap Produksi dan Pakai Biodiesel
Jumat, 31-10-2008
*herman saleh/ant
MedanBisnis – Medan
Meski dinilai terlalu kecil, pengusaha dan pelaku industri menyambut baik kebijakan pemerintah yang mewajibkan pemakaian bahan bakar nabati (BBN). Pasalnya, langkah ini dinilai efektif untuk menyerap kelebihan stok crude palm oil (CPO) yang melimpah. Selain itu, pemakaian BBN dipastikan dapat menghemat biaya produksi industri di tengah krisis.
Bendahara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumatera Utara (Sumut) Laksamana Adiyaksa mengungkapkan, kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 32 Tahun 2008 tentang Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (biofuel) Sebagai Bahan Bakar Lain. Dalam Permen tersebut, dinyatakan pemanfaatan biodiesel (B100) untuk transportasi pada Oktober-Desember 2008 sebanyak 1%, dan akan dinaikkan secara bertahap menjadi 20% pada tahun 2025. Sedangkan untuk industri dan komersial sebesar 2,5%, serta pembangkit listrik 0,1%.
“Pengusaha siap produksi dan pakai, karena pemakaian BBN ini memang lebih efisien. Khsusus bagi industri CPO, tentu akan menjadi pasar baru. Sehingga, diharapkan bisa menyerap tandan buah segar (TBS) kelapa sawit petani,” katanya, di Medan, Kamis (30/10). Dia menambahkan, jika ini yang terjadi harga TBS juga diharapkan terdongkrak naik.
Satu solusi yang sangat dinantikan, katanya, mengingat pengembangan ekspor masih terasa sulit dilakukan. Namun, jika pasar dalam negeri menjanjikan, maka bukan hal yang mustahil jika pengusaha akan memfokuskan pemasaran dalam negeri, dan meningkatkan produksi BBN berbahan CPO, seperti halnya biodiesel.
“Saat krisis, pasar dalam negeri memang harus dioptimalkan. Gapki optimis pengusaha akan termotivasi jika pasar ini bisa digarap,” katanya. Menurut Laks, pemanfaatan biodiesel untuk bahan bakar ini juga lebih efektif dan cepat, ketimbang harus mengembangkan industri hilir yang membutuhkan investasi besar, dan waktu relatif lebih lama.
Pada prinsipnya, kata Laks, yang dilakukan hanya pencampuran BBM fosil dengan minyak RBD (refine Bleached dedorize olein). Untuk komposisi, tergantung peruntukan mesin yang disiapkan. Jika motor bergerak seperti alat transportasi, komposisi RBD bisa mencapai 20% dan BBM fosil 80%. Sedangkan untuk motor tak bergerak, seperti genset dan mesin pengolahan, RBD bisa lebih banyak mencapai 80%.
“Investasinya tentu lebih murah dibandingkan membangun industri hilir. Soalnya, yang diperlukan hanya mesin pencampur dan tangki penyimpanan campuran,” katanya menjelaskan. Dengan pencampuran ini, lanjutnya, harga bahan bakar yang dihasilkan jauh lebih murah ketimbang menggunakan BBM fosil (lihat tabel). Ditambahkannya, beberapa perusahaan juga telah menerapkan ini sejak tahun 2006 lalu. Tepatnya, ketika da pembatasan pemakaian BBM Industri.
Mengenai produksi, katanya lagi, pihaknya menjamin produksi cukup dan dipastikan selalu tersedia. Dia mengatakan produksi CPO nasional mencapai 18 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut dimanfaatkan untuk minyak goreng sekitar 4,5 juta ton, produksi RBD 4 juta ton. Kondisi saat ini, stok biodiesel mencapai 2,5 juta per tahun, dan selebihnya ekspor.
“Dengan kondisi sekarang, produksi minyak goreng tentu bisa ditingkatkan. Untuk proteksi, pemerintah bisa meminimalisir atau bahkan menghentikan masuknya produk impor berbahan CPO,” terangnya, seraya mengatakan, berkurangnya pasokan luar negeri akan mendongkrak harga kembali.
Asistem Costumer Relation Pertamina Pemasaran BBM Retail Region I Rustam Aji memaparkan, alokasi pemakaian solar tahun 2008 mencapai 717.000 kiloliter, premium 998.000 kiloliter, dan minyak tanah 661.000 kiloliter. Sementara konsumsi rata-rata BBM bersubsidi di Sumut mencapai 3.200 kiloleter/hari premium, minyak tanah 1.800 kiloliter/hari, dan solar 2.200 kiloliter/hari.
Stop Impor
Sekretaris I Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Timbas Prasad Ginting, juga menekankan pentingnya pemerintah mensterilkan produk impor berbahan CPO. Hal ini dimaksudkan agar produsen bisa memproduksi lebih banyak produk turunan CPO. Seperti halnya minyak goreng, mentega, dan produk turunan lainnya yang sudah banyak beredar di dalam negeri.
“Dari harga, produksi lokal jauh lebih murah. Begitu juga dengan kualitas yang lebih baik. Tetapi, produsen sulit menambah produksi, karena kebutuhan konsumsi produk turunan ini tidak terlalu banyak,” katanya. Ia juga menghimbau industri memanfaatkan BBN. Sebab, selain efisiensi biaya produksi, BBN juga lebih ramah lingkungan
Sementara PT Pertamina (Persero) menyatakan kesiapannya menyerap seluruh bahan baku biodiesel (fatty acid methyl ester/FAME) menyusul penurunan harga kelapa sawit akhir-akhir ini. “Berapapun FAME (bahan baku biodiesel) yang ada, kami siap menyerap,” kata Deputi Pemasaran Pertamina Hanung Budya di Jakarta, Kamis.
Pada 1 Nopember ini, Pertamina akan meluncurkan perluasan pemakaian biodiesel dengan kandungan FAME sebesar lima persen di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jabodetabek dan Surabaya.
Pertamina juga menargetkan sebanyak 3.000 SPBU di Jawa atau 80 persennya menjual biodiesel lima persen hingga akhir tahun 2008. Per 11 April 2008, komponen FAME dalam biodiesel hanya satu persen.
Menurut Hanung, pihaknya juga akan memasukkan FAME lima persen pada produk solar yang diperuntukkan bagi industri. Bahkan, lanjutnya, kalau persediaan FAME memungkinkan, Pertamina akan meningkatkan kandungan FAME hingga 10 persen pada tahun ini.
Saat ini, SPBU yang menjual bahan bakr nabati (BBN) baru 279 unit yang terdiri dari jenis biodiesel 232 unit, biopremium satu unit, dan biopertamax 46 unit.
Dengan volume penjualan mencapai 48.661 kiloliter yang terdiri dari biodiesel 46.700 kiloliter, biopremium 310 kiloliter, dan biopertamax 1.651 kiloliter.
Total jumlah SBPU yang menjual BBM Pertamina di seluruh Indonesia mencapai 4.600 unit.
Sebelumnya, pemerintah meminta produsen biodiesel segera meningkatkan kapasitas produksinya dengan menyerap sebanyak-banyaknya kelapa sawit yang kini sedang melimpah.
Dirjen Migas Departemen ESDM Evita Legowo di Jakarta, Selasa mengatakan, penurunan harga kelapa sawit belakangan ini membuat harga biodiesel akan semakin kompetitif.
Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit terus mengalami penurunan dari sebelumnya sekitar Rp2.000 per kg menjadi hanya Rp200-300 per kg.
Pemerintah, lanjutnya, tertanggal 26 September 2008 telah mengeluarkan Peraturan Menteri ESDM No 32 Tahun 2008 yang berisi mandatory atau kewajiban minimal pemakaian BBN.
Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) memperkirakan produksi biodiesel tahun 2009 akan mencapai 2.521.000 ton dengan pemakaian domestik 1.121.000 ton.
Produksi biodiesel itu dihasilkan sebelas perusahaan yakni PT Asian Agri Tbk, PT Energi Alternatif Indonesia, PT Eterindo Wahanatama Tbk, PT Darmex Biofuel, Ganesha Energy Group, PT Indo Biofuels Energy, PT Multikimia Intipelangi, Musim Mas Group, Pertama Hijau Group, PT Sumi Asih, dan Wilmar Group.
source: medanbisnisonline.com
*herman saleh/ant
MedanBisnis – Medan
Meski dinilai terlalu kecil, pengusaha dan pelaku industri menyambut baik kebijakan pemerintah yang mewajibkan pemakaian bahan bakar nabati (BBN). Pasalnya, langkah ini dinilai efektif untuk menyerap kelebihan stok crude palm oil (CPO) yang melimpah. Selain itu, pemakaian BBN dipastikan dapat menghemat biaya produksi industri di tengah krisis.
Bendahara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumatera Utara (Sumut) Laksamana Adiyaksa mengungkapkan, kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 32 Tahun 2008 tentang Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (biofuel) Sebagai Bahan Bakar Lain. Dalam Permen tersebut, dinyatakan pemanfaatan biodiesel (B100) untuk transportasi pada Oktober-Desember 2008 sebanyak 1%, dan akan dinaikkan secara bertahap menjadi 20% pada tahun 2025. Sedangkan untuk industri dan komersial sebesar 2,5%, serta pembangkit listrik 0,1%.
“Pengusaha siap produksi dan pakai, karena pemakaian BBN ini memang lebih efisien. Khsusus bagi industri CPO, tentu akan menjadi pasar baru. Sehingga, diharapkan bisa menyerap tandan buah segar (TBS) kelapa sawit petani,” katanya, di Medan, Kamis (30/10). Dia menambahkan, jika ini yang terjadi harga TBS juga diharapkan terdongkrak naik.
Satu solusi yang sangat dinantikan, katanya, mengingat pengembangan ekspor masih terasa sulit dilakukan. Namun, jika pasar dalam negeri menjanjikan, maka bukan hal yang mustahil jika pengusaha akan memfokuskan pemasaran dalam negeri, dan meningkatkan produksi BBN berbahan CPO, seperti halnya biodiesel.
“Saat krisis, pasar dalam negeri memang harus dioptimalkan. Gapki optimis pengusaha akan termotivasi jika pasar ini bisa digarap,” katanya. Menurut Laks, pemanfaatan biodiesel untuk bahan bakar ini juga lebih efektif dan cepat, ketimbang harus mengembangkan industri hilir yang membutuhkan investasi besar, dan waktu relatif lebih lama.
Pada prinsipnya, kata Laks, yang dilakukan hanya pencampuran BBM fosil dengan minyak RBD (refine Bleached dedorize olein). Untuk komposisi, tergantung peruntukan mesin yang disiapkan. Jika motor bergerak seperti alat transportasi, komposisi RBD bisa mencapai 20% dan BBM fosil 80%. Sedangkan untuk motor tak bergerak, seperti genset dan mesin pengolahan, RBD bisa lebih banyak mencapai 80%.
“Investasinya tentu lebih murah dibandingkan membangun industri hilir. Soalnya, yang diperlukan hanya mesin pencampur dan tangki penyimpanan campuran,” katanya menjelaskan. Dengan pencampuran ini, lanjutnya, harga bahan bakar yang dihasilkan jauh lebih murah ketimbang menggunakan BBM fosil (lihat tabel). Ditambahkannya, beberapa perusahaan juga telah menerapkan ini sejak tahun 2006 lalu. Tepatnya, ketika da pembatasan pemakaian BBM Industri.
Mengenai produksi, katanya lagi, pihaknya menjamin produksi cukup dan dipastikan selalu tersedia. Dia mengatakan produksi CPO nasional mencapai 18 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut dimanfaatkan untuk minyak goreng sekitar 4,5 juta ton, produksi RBD 4 juta ton. Kondisi saat ini, stok biodiesel mencapai 2,5 juta per tahun, dan selebihnya ekspor.
“Dengan kondisi sekarang, produksi minyak goreng tentu bisa ditingkatkan. Untuk proteksi, pemerintah bisa meminimalisir atau bahkan menghentikan masuknya produk impor berbahan CPO,” terangnya, seraya mengatakan, berkurangnya pasokan luar negeri akan mendongkrak harga kembali.
Asistem Costumer Relation Pertamina Pemasaran BBM Retail Region I Rustam Aji memaparkan, alokasi pemakaian solar tahun 2008 mencapai 717.000 kiloliter, premium 998.000 kiloliter, dan minyak tanah 661.000 kiloliter. Sementara konsumsi rata-rata BBM bersubsidi di Sumut mencapai 3.200 kiloleter/hari premium, minyak tanah 1.800 kiloliter/hari, dan solar 2.200 kiloliter/hari.
Stop Impor
Sekretaris I Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Timbas Prasad Ginting, juga menekankan pentingnya pemerintah mensterilkan produk impor berbahan CPO. Hal ini dimaksudkan agar produsen bisa memproduksi lebih banyak produk turunan CPO. Seperti halnya minyak goreng, mentega, dan produk turunan lainnya yang sudah banyak beredar di dalam negeri.
“Dari harga, produksi lokal jauh lebih murah. Begitu juga dengan kualitas yang lebih baik. Tetapi, produsen sulit menambah produksi, karena kebutuhan konsumsi produk turunan ini tidak terlalu banyak,” katanya. Ia juga menghimbau industri memanfaatkan BBN. Sebab, selain efisiensi biaya produksi, BBN juga lebih ramah lingkungan
Sementara PT Pertamina (Persero) menyatakan kesiapannya menyerap seluruh bahan baku biodiesel (fatty acid methyl ester/FAME) menyusul penurunan harga kelapa sawit akhir-akhir ini. “Berapapun FAME (bahan baku biodiesel) yang ada, kami siap menyerap,” kata Deputi Pemasaran Pertamina Hanung Budya di Jakarta, Kamis.
Pada 1 Nopember ini, Pertamina akan meluncurkan perluasan pemakaian biodiesel dengan kandungan FAME sebesar lima persen di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jabodetabek dan Surabaya.
Pertamina juga menargetkan sebanyak 3.000 SPBU di Jawa atau 80 persennya menjual biodiesel lima persen hingga akhir tahun 2008. Per 11 April 2008, komponen FAME dalam biodiesel hanya satu persen.
Menurut Hanung, pihaknya juga akan memasukkan FAME lima persen pada produk solar yang diperuntukkan bagi industri. Bahkan, lanjutnya, kalau persediaan FAME memungkinkan, Pertamina akan meningkatkan kandungan FAME hingga 10 persen pada tahun ini.
Saat ini, SPBU yang menjual bahan bakr nabati (BBN) baru 279 unit yang terdiri dari jenis biodiesel 232 unit, biopremium satu unit, dan biopertamax 46 unit.
Dengan volume penjualan mencapai 48.661 kiloliter yang terdiri dari biodiesel 46.700 kiloliter, biopremium 310 kiloliter, dan biopertamax 1.651 kiloliter.
Total jumlah SBPU yang menjual BBM Pertamina di seluruh Indonesia mencapai 4.600 unit.
Sebelumnya, pemerintah meminta produsen biodiesel segera meningkatkan kapasitas produksinya dengan menyerap sebanyak-banyaknya kelapa sawit yang kini sedang melimpah.
Dirjen Migas Departemen ESDM Evita Legowo di Jakarta, Selasa mengatakan, penurunan harga kelapa sawit belakangan ini membuat harga biodiesel akan semakin kompetitif.
Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit terus mengalami penurunan dari sebelumnya sekitar Rp2.000 per kg menjadi hanya Rp200-300 per kg.
Pemerintah, lanjutnya, tertanggal 26 September 2008 telah mengeluarkan Peraturan Menteri ESDM No 32 Tahun 2008 yang berisi mandatory atau kewajiban minimal pemakaian BBN.
Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) memperkirakan produksi biodiesel tahun 2009 akan mencapai 2.521.000 ton dengan pemakaian domestik 1.121.000 ton.
Produksi biodiesel itu dihasilkan sebelas perusahaan yakni PT Asian Agri Tbk, PT Energi Alternatif Indonesia, PT Eterindo Wahanatama Tbk, PT Darmex Biofuel, Ganesha Energy Group, PT Indo Biofuels Energy, PT Multikimia Intipelangi, Musim Mas Group, Pertama Hijau Group, PT Sumi Asih, dan Wilmar Group.
source: medanbisnisonline.com
Posted by
raprapmedan
at
Thursday, October 30, 2008
0
comments
Labels:
Biodiesel,
Gapki,
Laksamana Adiyaksa,
Pertamina
Kebutuhan CPO Domestik Aman
Rabu, 29 Oktober 2008 | 11:42 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) untuk kebutuhan dalam negeri saat ini masih aman meskipun pajak ekspor produk komoditas itu diturunkan nol persen.
"Produksi CPO Indonesia mencapai 19 juta ton per tahun. Kebutuhan dalam negeri mencapai 5 persen dari total produksi," ujar Sekretaris Tim Nasional Bahan Bakar Nabati dan Direktur Jenderal Migas Departemen ESDM Evita Legowo pagi tadi, Rabu (29/10), di Jakarta.
Evita melihat Indonesia tidak harus membatasi ekspor mengingat kebutuhan CPO untuk produk makanan dalam negeri mencapai 4 juta ton per tahun. Sementara CPO untuk bahan bakar mencapai 3 juta ton per tahun.
Namun demikian, pemerintah perlu mengeluarkan Domestic Mandatory Obligation (DMO) untuk menjamin pasokan dan produksi dalam negeri. "Kita perlu mewaspadai Amerika Serikat yang mulai membatasi impor CPO," katanya.
Sorta Tobing
TEMPO Interaktif, Jakarta: Minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) untuk kebutuhan dalam negeri saat ini masih aman meskipun pajak ekspor produk komoditas itu diturunkan nol persen.
"Produksi CPO Indonesia mencapai 19 juta ton per tahun. Kebutuhan dalam negeri mencapai 5 persen dari total produksi," ujar Sekretaris Tim Nasional Bahan Bakar Nabati dan Direktur Jenderal Migas Departemen ESDM Evita Legowo pagi tadi, Rabu (29/10), di Jakarta.
Evita melihat Indonesia tidak harus membatasi ekspor mengingat kebutuhan CPO untuk produk makanan dalam negeri mencapai 4 juta ton per tahun. Sementara CPO untuk bahan bakar mencapai 3 juta ton per tahun.
Namun demikian, pemerintah perlu mengeluarkan Domestic Mandatory Obligation (DMO) untuk menjamin pasokan dan produksi dalam negeri. "Kita perlu mewaspadai Amerika Serikat yang mulai membatasi impor CPO," katanya.
Sorta Tobing
Posted by
raprapmedan
at
Thursday, October 30, 2008
0
comments
Labels:
Biodiesel,
CPO,
DMO,
Kelapa Sawit
Industri Hilir Kelapa Sawit Harus Dibangun di Riau
29 Oct 2008 11:19 wib
ad
PEKANBARU (RiauInfo) - Upaya yang dapat dilakukan untuk mkengantisipasi anjloknya harga buah sawit di Riau adalah dengan membangun industri hilir kelapa sawit di daerah ini. Jika industri hilir ini ada di Riau, maka harga sawit di daerah ini tidak lagi tergantung pada permintaan CPO dari luar negeri.
Pengamat ekonomi dari Universitas Riau Edyanus Herman Halim mengatakan, upaya Pemprov Riau agar dibangun industri hilir di Riau tidak bisa hanya dengan memohon pada pemerintah saja. Pemprov Riau harus lebih dahulu membangun infrastruktur yang dibutuhkan untuk industri tersebut.
Tanpa adanya dibangunnya infrastruktur yang dibutuhkan, tidak mungkin investor akan tertarik menanamkan modalnya di bidang industri hilir kelapa sawit di Riau. "Pemerintah pusat juga tidak akan merespon keinginan Pemprov Riau itu," jelasnya.
Dia mengatakan, salah satu infrastruktur yang diperlukan investor adalah jalan, air dan listrik. Ketiga hal inilah yang sangat mendasar dibutuhkan untuk membangun industri hilir kelapa sawit. "Makanya Pemprov Riau harus terlebih dahulu menyediakannya," jelas dia lagi.(Ad)
source: riauinfo.com
ad
PEKANBARU (RiauInfo) - Upaya yang dapat dilakukan untuk mkengantisipasi anjloknya harga buah sawit di Riau adalah dengan membangun industri hilir kelapa sawit di daerah ini. Jika industri hilir ini ada di Riau, maka harga sawit di daerah ini tidak lagi tergantung pada permintaan CPO dari luar negeri.
Pengamat ekonomi dari Universitas Riau Edyanus Herman Halim mengatakan, upaya Pemprov Riau agar dibangun industri hilir di Riau tidak bisa hanya dengan memohon pada pemerintah saja. Pemprov Riau harus lebih dahulu membangun infrastruktur yang dibutuhkan untuk industri tersebut.
Tanpa adanya dibangunnya infrastruktur yang dibutuhkan, tidak mungkin investor akan tertarik menanamkan modalnya di bidang industri hilir kelapa sawit di Riau. "Pemerintah pusat juga tidak akan merespon keinginan Pemprov Riau itu," jelasnya.
Dia mengatakan, salah satu infrastruktur yang diperlukan investor adalah jalan, air dan listrik. Ketiga hal inilah yang sangat mendasar dibutuhkan untuk membangun industri hilir kelapa sawit. "Makanya Pemprov Riau harus terlebih dahulu menyediakannya," jelas dia lagi.(Ad)
source: riauinfo.com
Posted by
raprapmedan
at
Thursday, October 30, 2008
0
comments
Labels:
Biodiesel,
CPO,
Kelapa Sawit,
Riau
Tuesday, October 28, 2008
Produsen Biodisel Diminta Tingkatkan Produksi
Selasa, 28 Oktober 2008 14:36 WIB
JAKARTA--MI: Pemerintah meminta produsen biodiesel segera meningkatkan kapasitas produksinya dengan menyerap sebanyak-banyaknya kelapa sawit yang kini sedang melimpah. Dirjen Migas Departemen ESDM Evita Legowo di Jakarta, Selasa (28/10) mengatakan penurunan harga kelapa sawit belakangan ini membuat harga biodiesel akan semakin kompetitif. "Pengusaha harus menangkap peluang ini," katanya.
Apalagi, lanjutnya, PT Pertamina (Persero) sudah berkomitmen menyerap secara maksimal produk biodiesel. Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit terus mengalami penurunan dari sebelumnya Rp3.000 per kg menjadi hanya Rp200-300 per kg.
Pada 26 September 2008, kata Evita, pemerintah telah mengeluarkan aturan Peraturan Menteri ESDM No 32 Tahun 2008 yang yang mewajibkan pemanfaatan bahan bakar nabati (BBN). Menurut dia, besaran mandatory yang ditetapkan merupakan angka minimal, sehingga akan semakin mendorong pemanfaatan BBN.
Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) memperkirakan produksi biodiesel tahun 2009 akan mencapai 2.521.000 ton dengan pemakaian domestik 1.121.000 ton. Produksi biodiesel itu dihasilkan sebelas perusahaan yakni PT Asian Agri Tbk, PT Energi Alternatif Indonesia, PT Eterindo Wahanatama Tbk, PT Darmex Biofuel, Ganesha Energy Group, PT Indo Biofuels Energy, PT Multikimia Intipelangi, Musim Mas Group, Pertama Hijau Group, PT Sumi Asih, dan Wilmar Group. (Ant/OL-06)
source: mediaindonesia.com
JAKARTA--MI: Pemerintah meminta produsen biodiesel segera meningkatkan kapasitas produksinya dengan menyerap sebanyak-banyaknya kelapa sawit yang kini sedang melimpah. Dirjen Migas Departemen ESDM Evita Legowo di Jakarta, Selasa (28/10) mengatakan penurunan harga kelapa sawit belakangan ini membuat harga biodiesel akan semakin kompetitif. "Pengusaha harus menangkap peluang ini," katanya.
Apalagi, lanjutnya, PT Pertamina (Persero) sudah berkomitmen menyerap secara maksimal produk biodiesel. Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit terus mengalami penurunan dari sebelumnya Rp3.000 per kg menjadi hanya Rp200-300 per kg.
Pada 26 September 2008, kata Evita, pemerintah telah mengeluarkan aturan Peraturan Menteri ESDM No 32 Tahun 2008 yang yang mewajibkan pemanfaatan bahan bakar nabati (BBN). Menurut dia, besaran mandatory yang ditetapkan merupakan angka minimal, sehingga akan semakin mendorong pemanfaatan BBN.
Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) memperkirakan produksi biodiesel tahun 2009 akan mencapai 2.521.000 ton dengan pemakaian domestik 1.121.000 ton. Produksi biodiesel itu dihasilkan sebelas perusahaan yakni PT Asian Agri Tbk, PT Energi Alternatif Indonesia, PT Eterindo Wahanatama Tbk, PT Darmex Biofuel, Ganesha Energy Group, PT Indo Biofuels Energy, PT Multikimia Intipelangi, Musim Mas Group, Pertama Hijau Group, PT Sumi Asih, dan Wilmar Group. (Ant/OL-06)
source: mediaindonesia.com
Posted by
raprapmedan
at
Tuesday, October 28, 2008
0
comments
Labels:
Asian Agri,
Biodiesel,
Biofuel,
Ganesha Energy,
Musim Mas,
Permata Hijau Group,
Wilmar
Monday, October 27, 2008
Biofuel: Peluang atau Angan-angan (2)
Selasa, 28-10-2008
*Bersihar Lubis
NUN jauh di utara, Brasil memulai program biofuel pada 1973 ketika negeri itu dilibas krisis BBM. Padahal, mereka mengimpor 80 persen BBM. Dicetuskanlah bahan alkohol sebagai energi alternatif. Dirangsang pula dengan diskon pajak bagi produsen dan pengguna mobil etanol. Brasil membidik singkong, jarak pagar, dan primadonanya adalah alkohol yang disuling dari tebu. Tak ayal, industri alkohol dan gula marak mencapai 300-an.
Sektor ini, menurut Asosiasi Agroindustri Tebu Sao Paulo, menyedot 1 juta tenaga kerja di 5,44 juta hektare (2004) lahan tebu, yang terluas di dunia. Separo dari produksi digunakan untuk etanol, dan bertumbuh 6% saban tahun. Cost industri etanol Brasil supermurah. Hanya (sebelum pajak) US$ 17,5 per barel atau sekitar Rp 1.080 per liter. Sedang industri berbasis tebu berbiaya US$ 10 untuk saban kesempatan kerja.
Lebih rendah ketimbang industri petrokimia (US$ 200), industri baja (US$ 145), industri otomotif (US$ 91), industri pengolahan bahan baku (US$ 70), dan industri produk konsumsi (US$ 44).
Brasil beruntung, tapi juga cerdas. Walau punya 20,4 juta ton gula dan 14 miliar liter etanol, hanya 9,5 juta ton gula dan 12,7 miliar liter etanol untuk konsumsi domestik. Sisanya, diekspor. Pada 2005, konsumsi biofuel Brasil mencapai 13 miliar liter, dan mengurangi 40 persen dari total kebutuhan bensin. Produksi etanol tumbuh 8,9 persen setahun, yang harganya lebih rendah dari harga BBM impor.
Biodiesel berbahan baku singkong dan jarak pagar) juga digarap jutaan hektare lahan. Hasilnya, pada 2003, Brasil mengkonsumsi solar 38 miliar liter—6 miliar liternya berasal dari pasar impor. Luar biasa. Di kita ini, ampas tebu percuma. Di Brasil dibakar dan menghasilkan enerji pabrik yang perlu setrum 60 megawatt dari 160 MW yang diproduksi. Harga etanol ini kompetitif, hanya US$ 30-40 per MWh.
Ampas tebu bisa menghasilkan setrum 9.000 MW, 15 kali produksi PLTN di sana. Bahkan, production cost etanol (US$ 0,63 per galon) sangat irit daripada bensin (US$ 1,05). Padahal, Indonesiapun punya limbah tebu 3,5 juta ton menurut data 2002.Yang membuat decak kagum, tak sedikit mobil berbahan bakar etanol meluncur di jalanan Brasil. Ada Fiat, General Motors, Ford, sampai Volkswagen. Lima tahun kemudian, 90 persen mobil Brasis telah minum alkohol. Bahkan, pesawat terbang ringan, menjadi peserta baru. Konon, akan dipakai untuk menyiram lahan pertanian. Brasil sukses karena ada lembaga khusus yang mengurus biofuel bernama Badan Pengembangan Gula dan Alkohol, di bawah Kementerian Pertanian. Merekalah perumus kebijakan. Kemudian, memaksimalkan pasar dalam negeri, sehingga ketergantungan kepada pasar internasional gula teratasi karena adanya industri etanol.
Pemerintah Brasil juga memfasilitasi kredit berbunga rendah (11-12 persen, sementara bunga pasar 26 persen) kepada pengusaha dan petani yang mengembangkan energi terbarukan.Terakhir, juga ditopang oleh lembaga riset dan pengembangan, yang berorientasi kepada produksi agrobisnis yang modern, efisien, dan kompetitif.
Kita punya apa? Mungkin, potensi pasar domestik yang besar, meskipun Pertamina menetapkan hanya 1% dari tadinya 5% biofuel. Juga punya lembaga riset. Ada LIPI, BPPT, Lembaga Riset Perkebunan Indonesia dan kampus. Nah, soal kelembagaan khusus dan fasilitas kredit perlu regulasi, dan sangat penting. Kadang, kita mendengar ada anggapan bahwa sektor agro itu unbankable. Jika pun ada good will, setidaknya tidak seprogresif di Brasil, negeri sepakbola yang tersohor dengan goyang samba itu. (Bersambung)*Wartawan MedanBisnis
source: medanbisnisonline.com
*Bersihar Lubis
NUN jauh di utara, Brasil memulai program biofuel pada 1973 ketika negeri itu dilibas krisis BBM. Padahal, mereka mengimpor 80 persen BBM. Dicetuskanlah bahan alkohol sebagai energi alternatif. Dirangsang pula dengan diskon pajak bagi produsen dan pengguna mobil etanol. Brasil membidik singkong, jarak pagar, dan primadonanya adalah alkohol yang disuling dari tebu. Tak ayal, industri alkohol dan gula marak mencapai 300-an.
Sektor ini, menurut Asosiasi Agroindustri Tebu Sao Paulo, menyedot 1 juta tenaga kerja di 5,44 juta hektare (2004) lahan tebu, yang terluas di dunia. Separo dari produksi digunakan untuk etanol, dan bertumbuh 6% saban tahun. Cost industri etanol Brasil supermurah. Hanya (sebelum pajak) US$ 17,5 per barel atau sekitar Rp 1.080 per liter. Sedang industri berbasis tebu berbiaya US$ 10 untuk saban kesempatan kerja.
Lebih rendah ketimbang industri petrokimia (US$ 200), industri baja (US$ 145), industri otomotif (US$ 91), industri pengolahan bahan baku (US$ 70), dan industri produk konsumsi (US$ 44).
Brasil beruntung, tapi juga cerdas. Walau punya 20,4 juta ton gula dan 14 miliar liter etanol, hanya 9,5 juta ton gula dan 12,7 miliar liter etanol untuk konsumsi domestik. Sisanya, diekspor. Pada 2005, konsumsi biofuel Brasil mencapai 13 miliar liter, dan mengurangi 40 persen dari total kebutuhan bensin. Produksi etanol tumbuh 8,9 persen setahun, yang harganya lebih rendah dari harga BBM impor.
Biodiesel berbahan baku singkong dan jarak pagar) juga digarap jutaan hektare lahan. Hasilnya, pada 2003, Brasil mengkonsumsi solar 38 miliar liter—6 miliar liternya berasal dari pasar impor. Luar biasa. Di kita ini, ampas tebu percuma. Di Brasil dibakar dan menghasilkan enerji pabrik yang perlu setrum 60 megawatt dari 160 MW yang diproduksi. Harga etanol ini kompetitif, hanya US$ 30-40 per MWh.
Ampas tebu bisa menghasilkan setrum 9.000 MW, 15 kali produksi PLTN di sana. Bahkan, production cost etanol (US$ 0,63 per galon) sangat irit daripada bensin (US$ 1,05). Padahal, Indonesiapun punya limbah tebu 3,5 juta ton menurut data 2002.Yang membuat decak kagum, tak sedikit mobil berbahan bakar etanol meluncur di jalanan Brasil. Ada Fiat, General Motors, Ford, sampai Volkswagen. Lima tahun kemudian, 90 persen mobil Brasis telah minum alkohol. Bahkan, pesawat terbang ringan, menjadi peserta baru. Konon, akan dipakai untuk menyiram lahan pertanian. Brasil sukses karena ada lembaga khusus yang mengurus biofuel bernama Badan Pengembangan Gula dan Alkohol, di bawah Kementerian Pertanian. Merekalah perumus kebijakan. Kemudian, memaksimalkan pasar dalam negeri, sehingga ketergantungan kepada pasar internasional gula teratasi karena adanya industri etanol.
Pemerintah Brasil juga memfasilitasi kredit berbunga rendah (11-12 persen, sementara bunga pasar 26 persen) kepada pengusaha dan petani yang mengembangkan energi terbarukan.Terakhir, juga ditopang oleh lembaga riset dan pengembangan, yang berorientasi kepada produksi agrobisnis yang modern, efisien, dan kompetitif.
Kita punya apa? Mungkin, potensi pasar domestik yang besar, meskipun Pertamina menetapkan hanya 1% dari tadinya 5% biofuel. Juga punya lembaga riset. Ada LIPI, BPPT, Lembaga Riset Perkebunan Indonesia dan kampus. Nah, soal kelembagaan khusus dan fasilitas kredit perlu regulasi, dan sangat penting. Kadang, kita mendengar ada anggapan bahwa sektor agro itu unbankable. Jika pun ada good will, setidaknya tidak seprogresif di Brasil, negeri sepakbola yang tersohor dengan goyang samba itu. (Bersambung)*Wartawan MedanBisnis
source: medanbisnisonline.com
Posted by
raprapmedan
at
Monday, October 27, 2008
0
comments
Labels:
Biodiesel,
Biofuel,
CPO,
Energi Alternatif
Biofuel: Peluang atau Angan-angan (1)
Senin, 27-10-2008
*Bersihar Lubis
Pengantar: Bank Indonesia menggelar seminar bertema “Peranan Perbankan Dalam Mendukung Ketahanan Pangan & Energi di Sumatera Utara pada 29 Oktober 2008 di Medan. Berikut ini, disajikan tulisan serial tentang biofuel di Indonesia, yang tampaknya belum sehebat di Brasil (Red).
PRODUK CPO Indonesia sekitar 16-17 juta ton setahun, mirip calon anggota DPR-DPRD (caleg) yang bagai cendawan di musim hujan. Tidak seimbang dengan sedikitnya kursi tersedia yang diperebutkan di parlemen, sehingga kompetisi sangat ketat dan tajam.Tak heran ketika harga sedang pahit di pasaran dunia, produk CPO yang berlimpah-ruah itu menjadi lost economics. Maklum, untuk kebutuhan domestik (minyak goreng) hanya 26% saja. Sisanya, maaf, mirip caleg yang mayoritas diprediksi kandas untuk mencapai “pulau impian.”Fenomena inikah gerangan yang disebut budaya mangan ora mangan asal ngumpul? Tatkala harga minyak nilam tinggi, ramai-ramai bertanam nilam seraya memberangus kebun karet. Akibatnya, over produksi, lalu harga nilam jatuh.
Padahal prospek harga karet alam lebih terjamin karena karet sintetis yang membutuhkan energi BBM semakin mahal pula.Semestinya, ibarat berjualan telur, letakkanlah di banyak keranjang. Alokasi CPO tak cuma untuk migor, dan komoditas ekspor. Selain untuk bahan baku industri hilir domestik (farmasi, kosmetik dsb), ada peluang baru, yakni untuk industri biofuel.
Ini sangat strategis karena bisa menggantikan cadangan minyak bumi yang semakin langka. Apalagi kebijakan harga BBM pun rawan merembes ke wilayah politik. Mulai dari Gus Dur, Mega dan SBY didemo habis-habisan disertai pergolakan politik di DPR. Tragisnya, era keemasan BBM murah pun kian meredup.Sebetulnya, cita-cita pengembangan bahan bakar alternatif berbahan baku nabati (biofuel) telah diwujudkan dalam Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional dan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) pada 25 Januari 2006 silam.
Angan-angan cemerlang ini pernah tercetus pada 1980-an. Seandainya 28 tahun silam intensif dilakukan, mungkin kisah getir CPO dewasa ini tidak akan terjadi. Ironisnya, program itu setop karena harga BBM menurun. Ketika “musuh” pergi kita pun terlena. Tidak konsepsional, tidak konsisten. Kala itu, ada program gasohol: bensin dicampur 10 persen etanol. Bahkan, lembaga penelitian dan pilot plant pembuatan etanol dari pati singkong di Lampung telah beroperasi. Tapi tragisnya, dokumennya hilang. Mudah-mudahan saja, target biofuel 10 persen pada 2010 tidak menjadi angan-angan belaka. (Bersambung)*Wartawan MedanBisnis
source: medanbisnisonline.com
*Bersihar Lubis
Pengantar: Bank Indonesia menggelar seminar bertema “Peranan Perbankan Dalam Mendukung Ketahanan Pangan & Energi di Sumatera Utara pada 29 Oktober 2008 di Medan. Berikut ini, disajikan tulisan serial tentang biofuel di Indonesia, yang tampaknya belum sehebat di Brasil (Red).
PRODUK CPO Indonesia sekitar 16-17 juta ton setahun, mirip calon anggota DPR-DPRD (caleg) yang bagai cendawan di musim hujan. Tidak seimbang dengan sedikitnya kursi tersedia yang diperebutkan di parlemen, sehingga kompetisi sangat ketat dan tajam.Tak heran ketika harga sedang pahit di pasaran dunia, produk CPO yang berlimpah-ruah itu menjadi lost economics. Maklum, untuk kebutuhan domestik (minyak goreng) hanya 26% saja. Sisanya, maaf, mirip caleg yang mayoritas diprediksi kandas untuk mencapai “pulau impian.”Fenomena inikah gerangan yang disebut budaya mangan ora mangan asal ngumpul? Tatkala harga minyak nilam tinggi, ramai-ramai bertanam nilam seraya memberangus kebun karet. Akibatnya, over produksi, lalu harga nilam jatuh.
Padahal prospek harga karet alam lebih terjamin karena karet sintetis yang membutuhkan energi BBM semakin mahal pula.Semestinya, ibarat berjualan telur, letakkanlah di banyak keranjang. Alokasi CPO tak cuma untuk migor, dan komoditas ekspor. Selain untuk bahan baku industri hilir domestik (farmasi, kosmetik dsb), ada peluang baru, yakni untuk industri biofuel.
Ini sangat strategis karena bisa menggantikan cadangan minyak bumi yang semakin langka. Apalagi kebijakan harga BBM pun rawan merembes ke wilayah politik. Mulai dari Gus Dur, Mega dan SBY didemo habis-habisan disertai pergolakan politik di DPR. Tragisnya, era keemasan BBM murah pun kian meredup.Sebetulnya, cita-cita pengembangan bahan bakar alternatif berbahan baku nabati (biofuel) telah diwujudkan dalam Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional dan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) pada 25 Januari 2006 silam.
Angan-angan cemerlang ini pernah tercetus pada 1980-an. Seandainya 28 tahun silam intensif dilakukan, mungkin kisah getir CPO dewasa ini tidak akan terjadi. Ironisnya, program itu setop karena harga BBM menurun. Ketika “musuh” pergi kita pun terlena. Tidak konsepsional, tidak konsisten. Kala itu, ada program gasohol: bensin dicampur 10 persen etanol. Bahkan, lembaga penelitian dan pilot plant pembuatan etanol dari pati singkong di Lampung telah beroperasi. Tapi tragisnya, dokumennya hilang. Mudah-mudahan saja, target biofuel 10 persen pada 2010 tidak menjadi angan-angan belaka. (Bersambung)*Wartawan MedanBisnis
source: medanbisnisonline.com
Rupiah Melemah, Penggunaan Biodiesel Dipercepat
Senin, 27/10/2008 18:20 WIB
Anwar Khumaini - detikFinance
Jakarta - Pelemahan nilai tukar rupiah akan dijadikan momen untuk mempercepat penggunaan energi alternatif seperti biodiesel. Selain harganya yang dipatok dalam rupiah, penggunaan biodiesel bisa membantu industri sawit nasional.
Hal tersebut disampaikan Menneg BUMN Sofyan Djalil di Istana Presiden, Jakarta, Senin (27/10/2008). Sofyan Djalil dan Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati dipanggil oleh Presiden SBY, untuk menjelaskan kondisi perekonomian terkini selama ditinggalkan Presiden ke China."Kita akan cepat mempergunakan biodiesel karena biodiesel itu dibayar dengan rupiah, selain juga membantu sawit nasional," ujar Sofyan.
Pada perdagangan valas pukul 17.00 WIB, Senin (27/10/2008) berdasarkan data CNBC, rupiah melemah hingga 744 poin ke posisi 10.749 per dolar AS.
Menurut Sofyan, dengan pelemahan rupiah itu, semua BUMN akan diminta membawa pulang dolarnya. Sementara Pertamina akan diminta membayar transaksinya dalam rupiah sebisa mungkin."Pertamina yang bisa dibayar dengan rupiah harus dibayar dengan rupiah supaya mereka tidak banyak keluarkan dolar," jelas Sofyan Djalil."Kita lakukan minimalisasi penggunaan valuta asing di BUMN agar suplai valas meningkat dan pengaruhi permintaan valas," imbuhnya.
Sementara Menkeu Sri Mulyani mengatakan, pemerintah akan terus melakukan evaluasi dan observasi atas pengaruh pelemahan nilai tukar rupiah ke APBN.(anw/qom)
source: detik.com
Anwar Khumaini - detikFinance
Jakarta - Pelemahan nilai tukar rupiah akan dijadikan momen untuk mempercepat penggunaan energi alternatif seperti biodiesel. Selain harganya yang dipatok dalam rupiah, penggunaan biodiesel bisa membantu industri sawit nasional.
Hal tersebut disampaikan Menneg BUMN Sofyan Djalil di Istana Presiden, Jakarta, Senin (27/10/2008). Sofyan Djalil dan Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati dipanggil oleh Presiden SBY, untuk menjelaskan kondisi perekonomian terkini selama ditinggalkan Presiden ke China."Kita akan cepat mempergunakan biodiesel karena biodiesel itu dibayar dengan rupiah, selain juga membantu sawit nasional," ujar Sofyan.
Pada perdagangan valas pukul 17.00 WIB, Senin (27/10/2008) berdasarkan data CNBC, rupiah melemah hingga 744 poin ke posisi 10.749 per dolar AS.
Menurut Sofyan, dengan pelemahan rupiah itu, semua BUMN akan diminta membawa pulang dolarnya. Sementara Pertamina akan diminta membayar transaksinya dalam rupiah sebisa mungkin."Pertamina yang bisa dibayar dengan rupiah harus dibayar dengan rupiah supaya mereka tidak banyak keluarkan dolar," jelas Sofyan Djalil."Kita lakukan minimalisasi penggunaan valuta asing di BUMN agar suplai valas meningkat dan pengaruhi permintaan valas," imbuhnya.
Sementara Menkeu Sri Mulyani mengatakan, pemerintah akan terus melakukan evaluasi dan observasi atas pengaruh pelemahan nilai tukar rupiah ke APBN.(anw/qom)
source: detik.com
Posted by
raprapmedan
at
Monday, October 27, 2008
0
comments
Labels:
Biodiesel,
BUMN,
Dollar,
Sofyan Djalil,
Sri Mulyani Indrawati
Sunday, October 19, 2008
Colombia to have six palm biodiesel plants by 2009
October 18, 2008
On the sidelines of a meeting on sustainable palm oil that ended Friday in the Colombian coastal city of Cartagena, Nu?ez said that this year just a small percentage of palm oil output was destined for biofuels production "because the plants have not begun to function fully."She also said that the export markets for palm oil will continue to be affected by the current financial crisis and noted that the price of the vegetable oil has plunged from $1,400 per ton a few months ago to some $525 per ton at present.Nu?ez said that lower price was due to several reasons: "high inventories in Malaysia and Indonesia, market expectations related to the financial crisis and the reduction in oil prices.
source: tmcnet.com
(EFE Ingles Via Acquire Media NewsEdge) Cartagena, Colombia, Oct 18 (EFE).- Colombia, the leading producer of palm oil in the Americas, will have six palm biodiesel plants by next year and plans to increase its share of the biofuels market, sources from the sector said.
In an interview Friday with Efe, the president of Colombian palm oil producer Comercializadora Internacional Acepalma, Maria Emma Nu?ez, said that four of these six plants have already begun operating, but that production will be stepped up next year and the other two plants will also come on stream."At this time, (palm oil production) is destined for processing plants to make cooking oil, margarine and soaps, and there has been a little this year for the biodiesel plants, but by next year a significant percentage of production will be destined for the biodiesel plants," she said.
On the sidelines of a meeting on sustainable palm oil that ended Friday in the Colombian coastal city of Cartagena, Nu?ez said that this year just a small percentage of palm oil output was destined for biofuels production "because the plants have not begun to function fully."She also said that the export markets for palm oil will continue to be affected by the current financial crisis and noted that the price of the vegetable oil has plunged from $1,400 per ton a few months ago to some $525 per ton at present.Nu?ez said that lower price was due to several reasons: "high inventories in Malaysia and Indonesia, market expectations related to the financial crisis and the reduction in oil prices.
"She added that Colombian production of palm oil is expected to rise from 806,000 tons in 2008 to some 872,000 tons next year.Of the current production, some 46 percent is destined for export, primarily to the Netherlands, Germany and England in Europe, as well as to Mexico, the Caribbean, Brazil, Peru, Argentina and the United States in the Americas.The goal of the Cartagena meeting on palm oil was to internationally certify the region's biodiesel producers.Business leaders from Brazil, Colombia, Costa Rica, Ecuador, Guatemala, Honduras, Peru and Venezuela took part in the two-day gathering, where they learned about the successful experience with palm oil production in Indonesia, Malaysia and Thailand, which combine for 88 percent of total world output.
Separately, an sugarcane ethanol plant capable of producing 1.8 million liters (475,000 gallons) annually was inaugurated Friday in the central Colombian town of Barbosa, some 300 kilometers (186 miles) from Bogota.President Alvaro Uribe and Agriculture Minister Andres Arias inaugurated the plant, which, according to officials, will create a total of 429 jobs.
EFEfer/mcCopyright ? 2008 EFE News Services (U.S.) Inc.
source: tmcnet.com
Posted by
raprapmedan
at
Sunday, October 19, 2008
0
comments
Labels:
Biodiesel,
Colombia,
Indonesia,
Palm Oil
Saturday, October 18, 2008
GAPKI RIAU USUL TIGA LANGKAH PENYELAMATAN
Sabtu, 18 Oktober 2008 13:03 WIB
Metrotvnews.com, Jakarta: Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Propinsi Riau mengajukan tiga rekomendasi kepada pemerintah. Usulan tersebut untuk menyelamatkan industri kelapa sawit nasional dari krisis ekonomi global. Tiga usulan itu disepakati dalam pertemuan pengusaha kelapa sawit di Pekanbaru, Sabtu (18/10) pagi.
Metrotvnews.com, Jakarta: Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Propinsi Riau mengajukan tiga rekomendasi kepada pemerintah. Usulan tersebut untuk menyelamatkan industri kelapa sawit nasional dari krisis ekonomi global. Tiga usulan itu disepakati dalam pertemuan pengusaha kelapa sawit di Pekanbaru, Sabtu (18/10) pagi.
Pertama, pengusaha meminta pemerintah membebaskan pajak ekspor atau zero tax. Kedua, maksimalisasi penggunaan biodiesel dalam negeri. Dan ketiga, perluasan pasar ekspor yang selama ini didominasi tujuan Eropa, China dan India. Gapki Riau juga mengimbau anggotanya untuk menekan biaya produksi.
Gapki Riau menyatakan, ada sekitar 160 perusahaan kelapa sawit di propinsi ini yang terancam bangkrut akibat krisis keuangan dunia. Ratusan perusahaan tersebut tersebar di 11 kabupaten dan kota.
Sejumlah pemilik industri mengaku hanya bisa bertahan selama dua bulan ke depan. Jika tidak ada perbaikan harga kelapa sawit, banyak perusahaan sawit akan tutup atau paling tidak mengurangi jumlah tenaga kerja.(DOR)
Posted by
raprapmedan
at
Saturday, October 18, 2008
0
comments
Labels:
Biodiesel,
Gapki,
Kelapa Sawit,
Krisis Ekonomi Global,
Pekanbaru,
Riau
Thursday, October 16, 2008
Adonis hints UK is wavering on biofuel targets
DUBLIN, Ireland, Oct 15, 2008 (BUSINESS WIRE) -- Research and Markets ( http://www.researchandmarkets.com/research/d19600/canada_biofuels_ma) has announced the addition of the "Canada Biofuels Market Potential" report to their offering.
Biofuel is any fuel that is derived from biomass -- recently living organisms or their metabolic byproducts, such as manure from cows. It is a renewable energy source, unlike other natural resources such as petroleum, coal, and nuclear fuels.
Ethanol is manufactured from microbial conversion of biomass materials through fermentation. Ethanol contains 35% oxygen. The production process consists of conversion of biomass to fermentable sugars, fermentation of sugars to ethanol, and the separation and purification of the ethanol. Fermentation initially produces ethanol containing a substantial amount of water. Distillation removes the majority of water to yield about 95% purity ethanol, the balance being water. This mixture is called hydrous ethanol. If the remaining water is removed in a further process, the ethanol is called anhydrous ethanol and is suitable for blending into gasoline. Ethanol is "denatured" prior to leaving the plant to make it unfit for human consumption by addition of a small amount of products such as gasoline.
Biodiesel fuels are oxygenated organic compounds -- methyl or ethyl esters -- derived from a variety of renewable sources such as vegetable oil, animal fat, and cooking oil. The oxygen contained in biodiesel makes it unstable and requires stabilization to avoid storage problems. Rapeseed methyl ester (RME) diesel, derived from rapeseed oil, is the most common biodiesel fuel available in Europe. In the United States, biodiesel from soybean oil, called soy methyl ester diesel, is the most common biodiesel. Collectively, these fuels are referred to as fatty acid methyl esters (FAME).
Biofuels have become a growth industry with worldwide production more than doubling in the last five years. The rapid expansion of ethanol production in the United States and biodiesel production (and to a lesser extent, biogas) in Germany and other countries in Western Europe has created a biofuels frenzy that has affected many countries, including Canada. Many measures have been used to stimulate production and consumption of biofuels, including preferential taxation, subsidies, import tariffs and consumption mandates. Recently, Canadian federal and provincial governments have announced consumption mandates and subsidies to assist rapid expansion of biofuel production in Canada.
Canada has considerable natural resources and is one of the world's largest producers and exporters of energy. In 2006, Canada produced 21.1 quadrillion British Thermal Units (Btu) of total energy, the fifth largest amount in the world. Since 1980, Canada's total energy production has increased by 86%, while its total energy consumption has increased by only 48% during that period. Almost all of Canada's energy exports go to the United States, making it the largest foreign source of U.S. energy imports: Canada is consistently among the top sources for U.S. oil imports, and it is the largest source of U.S. natural gas and electricity imports. Recognizing the importance of the energy trade between the two countries, both participate in the North American Energy Working Group, which seeks to improve energy integration and cooperation between Canada, the U.S., and Mexico.
The report Biofuel Industry in Canada is a complete coverage of the ethanol and biodiesel market in the country.
source: businessgreen.com
Biofuel is any fuel that is derived from biomass -- recently living organisms or their metabolic byproducts, such as manure from cows. It is a renewable energy source, unlike other natural resources such as petroleum, coal, and nuclear fuels.
Ethanol is manufactured from microbial conversion of biomass materials through fermentation. Ethanol contains 35% oxygen. The production process consists of conversion of biomass to fermentable sugars, fermentation of sugars to ethanol, and the separation and purification of the ethanol. Fermentation initially produces ethanol containing a substantial amount of water. Distillation removes the majority of water to yield about 95% purity ethanol, the balance being water. This mixture is called hydrous ethanol. If the remaining water is removed in a further process, the ethanol is called anhydrous ethanol and is suitable for blending into gasoline. Ethanol is "denatured" prior to leaving the plant to make it unfit for human consumption by addition of a small amount of products such as gasoline.
Biodiesel fuels are oxygenated organic compounds -- methyl or ethyl esters -- derived from a variety of renewable sources such as vegetable oil, animal fat, and cooking oil. The oxygen contained in biodiesel makes it unstable and requires stabilization to avoid storage problems. Rapeseed methyl ester (RME) diesel, derived from rapeseed oil, is the most common biodiesel fuel available in Europe. In the United States, biodiesel from soybean oil, called soy methyl ester diesel, is the most common biodiesel. Collectively, these fuels are referred to as fatty acid methyl esters (FAME).
Biofuels have become a growth industry with worldwide production more than doubling in the last five years. The rapid expansion of ethanol production in the United States and biodiesel production (and to a lesser extent, biogas) in Germany and other countries in Western Europe has created a biofuels frenzy that has affected many countries, including Canada. Many measures have been used to stimulate production and consumption of biofuels, including preferential taxation, subsidies, import tariffs and consumption mandates. Recently, Canadian federal and provincial governments have announced consumption mandates and subsidies to assist rapid expansion of biofuel production in Canada.
Canada has considerable natural resources and is one of the world's largest producers and exporters of energy. In 2006, Canada produced 21.1 quadrillion British Thermal Units (Btu) of total energy, the fifth largest amount in the world. Since 1980, Canada's total energy production has increased by 86%, while its total energy consumption has increased by only 48% during that period. Almost all of Canada's energy exports go to the United States, making it the largest foreign source of U.S. energy imports: Canada is consistently among the top sources for U.S. oil imports, and it is the largest source of U.S. natural gas and electricity imports. Recognizing the importance of the energy trade between the two countries, both participate in the North American Energy Working Group, which seeks to improve energy integration and cooperation between Canada, the U.S., and Mexico.
The report Biofuel Industry in Canada is a complete coverage of the ethanol and biodiesel market in the country.
source: businessgreen.com
What are the biofuel challenges?
Earth & Sky Radio Serieswith hosts
Deborah Byrd, Joel Block,Lindsay Patterson and Jorge Salazar
Mike Goosey: Biofuels are derived from biomass, an organic raw material of living organisms and also their byproducts as well.
That’s biochemist Mike Goosey with Shell, speaking to us from the Thornton Research and Technology Center near Cheshire in the UK. One of the major biofuels today is bioethanol.
Mike Goosey: It is made through a traditional fermentation process. So very similar to the brewing or winery industry, it uses the sucrose from sugarcane. It can take starch from corn or wheat.
The other major biofuel is biodiesel.
Mike Goosey: And again the source, the biomass for that biofuel is commonly rapeseed, palm oil, soya bean as well in the States.
Many have questioned the use of food crops for fuel. But, in a world whose climate is changing, biofuels are seen by many experts and consumers as a necessary next step.
Mike Goosey: It’s not a silver bullet. And there will be other technologies that will contribute to this. But we do see biofuels as a significant contributor to reducing the CO2, and ultimately climate change that is facing us in the next 30, 40, 50 years.
There’s an additional challenge with biofuels. That is, fuel is needed to grow the crops used to make biofuels. In principle, biofuels are carbon neutral, but in practice farming the plants remains carbon intensive.
Mike Goosey: One of the challenges that the we do face as an industry is looking at is how to improve the yield of the biomass and also reduce the amount of energy that is put into growing that biomass. Something that industry and others are working on is how we can reduce the amount of fertilizer, how we can reduce the amount of water that’s required to generate the amount of biomass.
source: earthsky.org
Deborah Byrd, Joel Block,Lindsay Patterson and Jorge Salazar
Mike Goosey: Biofuels are derived from biomass, an organic raw material of living organisms and also their byproducts as well.
That’s biochemist Mike Goosey with Shell, speaking to us from the Thornton Research and Technology Center near Cheshire in the UK. One of the major biofuels today is bioethanol.
Mike Goosey: It is made through a traditional fermentation process. So very similar to the brewing or winery industry, it uses the sucrose from sugarcane. It can take starch from corn or wheat.
The other major biofuel is biodiesel.
Mike Goosey: And again the source, the biomass for that biofuel is commonly rapeseed, palm oil, soya bean as well in the States.
Many have questioned the use of food crops for fuel. But, in a world whose climate is changing, biofuels are seen by many experts and consumers as a necessary next step.
Mike Goosey: It’s not a silver bullet. And there will be other technologies that will contribute to this. But we do see biofuels as a significant contributor to reducing the CO2, and ultimately climate change that is facing us in the next 30, 40, 50 years.
There’s an additional challenge with biofuels. That is, fuel is needed to grow the crops used to make biofuels. In principle, biofuels are carbon neutral, but in practice farming the plants remains carbon intensive.
Mike Goosey: One of the challenges that the we do face as an industry is looking at is how to improve the yield of the biomass and also reduce the amount of energy that is put into growing that biomass. Something that industry and others are working on is how we can reduce the amount of fertilizer, how we can reduce the amount of water that’s required to generate the amount of biomass.
source: earthsky.org
Subscribe to:
Posts (Atom)