10/29/08 06:57
Pekanbaru (ANTARA News) - The Riau provincial government planned to report to Vice President Jusuf Kalla the drop in the price of the oil palm fruits of the oil palm fruit growers in Riau. "We would report the fate of the oil palm growers in the region to the vice president," Riau Governor Wan Abubakar said here Tuesday.
The Governor also said that the reporting to the vice president was his own initiative.However, he said he will pick the right time for the vice president to receive the report, not when he is still too preoccupied.
The Governor said that the Riau Government is expected the vice president to give a solution to the declining oil palm fruit prices in Riau, which may have been caused by a drop in demands from the export market due to the current financial crisis.
Besides reporting to the VP, the Riau Government set up an oil palm price supervisory team. Meanwhile based on the result of the meeting at the Riau Provincial agricultural agency in Pekanbaru, Tuesday, the price of oil palm fruits of 10-year old trees dropped to Rp766.88 per kilogram (kg) from Rp823.33. Meanwhile the price of oil palm fruits from three years trees reached Rp546.74 per kg.
COPYRIGHT © 2008
source: antara.com
Showing posts with label Pekanbaru. Show all posts
Showing posts with label Pekanbaru. Show all posts
Tuesday, October 28, 2008
Saturday, October 18, 2008
GAPKI RIAU USUL TIGA LANGKAH PENYELAMATAN
Sabtu, 18 Oktober 2008 13:03 WIB
Metrotvnews.com, Jakarta: Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Propinsi Riau mengajukan tiga rekomendasi kepada pemerintah. Usulan tersebut untuk menyelamatkan industri kelapa sawit nasional dari krisis ekonomi global. Tiga usulan itu disepakati dalam pertemuan pengusaha kelapa sawit di Pekanbaru, Sabtu (18/10) pagi.
Metrotvnews.com, Jakarta: Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Propinsi Riau mengajukan tiga rekomendasi kepada pemerintah. Usulan tersebut untuk menyelamatkan industri kelapa sawit nasional dari krisis ekonomi global. Tiga usulan itu disepakati dalam pertemuan pengusaha kelapa sawit di Pekanbaru, Sabtu (18/10) pagi.
Pertama, pengusaha meminta pemerintah membebaskan pajak ekspor atau zero tax. Kedua, maksimalisasi penggunaan biodiesel dalam negeri. Dan ketiga, perluasan pasar ekspor yang selama ini didominasi tujuan Eropa, China dan India. Gapki Riau juga mengimbau anggotanya untuk menekan biaya produksi.
Gapki Riau menyatakan, ada sekitar 160 perusahaan kelapa sawit di propinsi ini yang terancam bangkrut akibat krisis keuangan dunia. Ratusan perusahaan tersebut tersebar di 11 kabupaten dan kota.
Sejumlah pemilik industri mengaku hanya bisa bertahan selama dua bulan ke depan. Jika tidak ada perbaikan harga kelapa sawit, banyak perusahaan sawit akan tutup atau paling tidak mengurangi jumlah tenaga kerja.(DOR)
Posted by
raprapmedan
at
Saturday, October 18, 2008
0
comments
Labels:
Biodiesel,
Gapki,
Kelapa Sawit,
Krisis Ekonomi Global,
Pekanbaru,
Riau
Thursday, October 16, 2008
ANJLOKNYA HARGA SAWIT, Dishub Riau Ngaku Tak Mampu Berbuat Apa-Apa
16 Oct 2008 15:37 wibad
PEKANBARU (RiauInfo) - Harapan para petani sawit agar pemerintah dapat turun tangan dalam menghadapi makin anjloknya harga buah sawit ternyata hanya tinggal harapan. Pihak pemerintah melalu Dinas Perkbunan Riau menyatakan tidak bisa berbuat apa-apa dalam menghadapi masalah ini.
Kepala Dinas Perkebunan Riau Susilo mengaku pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa dalam menghadapi anjloknya harga sawit dan karet ini. "Kami tidak bisa berbuat apa-apa karena kondisi ini dipengaruhi krisis ekonomi internasional, ditambah dengan masa panen raya di berbagai negara," jelasnya.
Dia mengatakan di tengah situasi seperti saat ini pemerintah daerah tidak bisa memberikan solusi konkrit karena semua kebijakan menjadi hak pemerintah pusat. "Kita hanya bisa berdoa semoga krisis ini cepat berakhir sehingga harga sawit dan karet normal kembali," tambahnya.
Namun begitu Susilo telah mengingatkan para pemilik Pabtik Kelapa Sawit (PKS) bisa bersikap bijak dengan tidak menolak membeli buah sawit masyarakat. Jika ada ada PKS yang menolak sawit tanpa alasan yang jelas akan mendapat teguran keras dari instansinya.
Ketika ditanya sampai kapan kondisi ini akan berlangsung, Susilo mengatakan tidak bisa dipastikan kapan berakhirnya, bisa saja sampai beberapa bulan ke depan. Karena itu dia minta para petani bisa memenej keuangannya dengan baik, sehingga kondisi ini tidak membuat mereka bangkrut.(ad)
source: riauinfo.com
PEKANBARU (RiauInfo) - Harapan para petani sawit agar pemerintah dapat turun tangan dalam menghadapi makin anjloknya harga buah sawit ternyata hanya tinggal harapan. Pihak pemerintah melalu Dinas Perkbunan Riau menyatakan tidak bisa berbuat apa-apa dalam menghadapi masalah ini.
Kepala Dinas Perkebunan Riau Susilo mengaku pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa dalam menghadapi anjloknya harga sawit dan karet ini. "Kami tidak bisa berbuat apa-apa karena kondisi ini dipengaruhi krisis ekonomi internasional, ditambah dengan masa panen raya di berbagai negara," jelasnya.
Dia mengatakan di tengah situasi seperti saat ini pemerintah daerah tidak bisa memberikan solusi konkrit karena semua kebijakan menjadi hak pemerintah pusat. "Kita hanya bisa berdoa semoga krisis ini cepat berakhir sehingga harga sawit dan karet normal kembali," tambahnya.
Namun begitu Susilo telah mengingatkan para pemilik Pabtik Kelapa Sawit (PKS) bisa bersikap bijak dengan tidak menolak membeli buah sawit masyarakat. Jika ada ada PKS yang menolak sawit tanpa alasan yang jelas akan mendapat teguran keras dari instansinya.
Ketika ditanya sampai kapan kondisi ini akan berlangsung, Susilo mengatakan tidak bisa dipastikan kapan berakhirnya, bisa saja sampai beberapa bulan ke depan. Karena itu dia minta para petani bisa memenej keuangannya dengan baik, sehingga kondisi ini tidak membuat mereka bangkrut.(ad)
source: riauinfo.com
Posted by
raprapmedan
at
Thursday, October 16, 2008
0
comments
Labels:
Krisis Ekonomi Global,
Pabrik Kelapa Sawit,
Pekanbaru,
PKS
Wednesday, October 15, 2008
Harga CPO dan TBS Terus Turun
Kamis, 25 September 2008
Laporan LISMAR SUMIRAT, Pekanbaru lismar-sumirat@riaupos.co.id Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya KABAR tak sedap bagi petani dan pengusaha kelapa sawit. Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit menjelang Idul Fitri justru kembali anjlok.
Sesuai keputusan rapat Tim Penetapan harga pembelian TBS kelapa sawit Provinsi Riau yang digelar Selasa (23/9) lalu, untuk TBS umur tanaman tiga tahun hanya Rp736,59 per kilogram, sedangkan TBS dari tanaman umur 10 tahun keatas Rp1.029,13.
‘’Harga CPO terus menurun. Kalau dulu per kilogram CPO bisa mencapai Rp7.000-8.000, sedangkan saat ini satu kilogram CPO hanya Rp4.798. Dari sini saja jelas, harga TBS sawit menjadi turun,’’ ungkap Kasubdin Pemasaran Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Feri Hc menjawab Riau Pos, kemarin.
Menurut Feri anjloknya harga TBS kelapa sawit disebabkan oleh tiga hal yakni suplai sawit yang sedang melimpah dari perkebunan di Indonesia dan Malaysia, permintaan pasar dunia yang juga berkurang dan panen bunga matahari dan kedelai di Eropa.
‘’Saat ini kita termasuk Malaysia sedang panen sawit. Sawit jadi melimpah, sedangkan permintaan tidak mengalami peningkatan. Ditambah lagi di Eropa saat ini musim kedelai dan bunga matahari yang juga diolah menjadi minyak goreng di negara-negara Eropa. Sehingga CPO kita jadi sulit menempus pasar internasional,’’ ulasnya lebih lanjut.
Secara rinci harga TBS umur tiga tahun adalah Rp736,59, empat tahun Rp822,65, lima tahun Rp880,65, enam tahun Rp906,14, tujuh tahun Rp940,75, delapan Rp970,07, sembilan tahun Rp1.001,17 dan umur sepuluh tahun ke atas adalah Rp1.029,13 per kilogram.
‘’Dari harga TBS sebelumnya turun sekitar Rp140,2 per kilogram. Kalau terus turun, kasihan petani sawit, bisa-bisa untuk menutup biaya pupuk saja tidak turun,’’imbuhnya. Feri mengaku tidak dapat berbuat banyak terkait kembali anjloknya harga TBS kelapa sawit di Riau. Apalagi harga TBS dipengaruhi oleh harga CPO. ‘’Kalau harga CPO anjlok, tentu harga sawit tetap anjlok. Rapat Tim Penetapan harga pembelian TBS kelapa sawit, juga berpedoman kepada harga CPO,’’ sebutnya.
Harga TBS kepala sawit diperkirakan akan terus anjlok hingga Oktober mendatang. ‘’Kemungkinan akhir tahun, harga sawit sudah kembali normal,’’katanya.
Penetapan harga jual TBS di Riau, dilakukan oleh sebuah tim penetapan harga yang difasilitasi oleh Dinas Perkebunan Riau, dimana tim terdiri dari sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit besar yang ada di Riau serta petani kelapa sawit yang tergabung dalam wadah koperasi. Tim inilah kemudian yang merumuskan besaran harga TBS dengan berpatokan pada harga CPO di pasaran internasional, dan harga TBS yag ditetapkan terus dilakukan evaluasi setiap dua minggu sekali.(fas)
Laporan LISMAR SUMIRAT, Pekanbaru lismar-sumirat@riaupos.co.id Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya KABAR tak sedap bagi petani dan pengusaha kelapa sawit. Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit menjelang Idul Fitri justru kembali anjlok.
Sesuai keputusan rapat Tim Penetapan harga pembelian TBS kelapa sawit Provinsi Riau yang digelar Selasa (23/9) lalu, untuk TBS umur tanaman tiga tahun hanya Rp736,59 per kilogram, sedangkan TBS dari tanaman umur 10 tahun keatas Rp1.029,13.
‘’Harga CPO terus menurun. Kalau dulu per kilogram CPO bisa mencapai Rp7.000-8.000, sedangkan saat ini satu kilogram CPO hanya Rp4.798. Dari sini saja jelas, harga TBS sawit menjadi turun,’’ ungkap Kasubdin Pemasaran Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Feri Hc menjawab Riau Pos, kemarin.
Menurut Feri anjloknya harga TBS kelapa sawit disebabkan oleh tiga hal yakni suplai sawit yang sedang melimpah dari perkebunan di Indonesia dan Malaysia, permintaan pasar dunia yang juga berkurang dan panen bunga matahari dan kedelai di Eropa.
‘’Saat ini kita termasuk Malaysia sedang panen sawit. Sawit jadi melimpah, sedangkan permintaan tidak mengalami peningkatan. Ditambah lagi di Eropa saat ini musim kedelai dan bunga matahari yang juga diolah menjadi minyak goreng di negara-negara Eropa. Sehingga CPO kita jadi sulit menempus pasar internasional,’’ ulasnya lebih lanjut.
Secara rinci harga TBS umur tiga tahun adalah Rp736,59, empat tahun Rp822,65, lima tahun Rp880,65, enam tahun Rp906,14, tujuh tahun Rp940,75, delapan Rp970,07, sembilan tahun Rp1.001,17 dan umur sepuluh tahun ke atas adalah Rp1.029,13 per kilogram.
‘’Dari harga TBS sebelumnya turun sekitar Rp140,2 per kilogram. Kalau terus turun, kasihan petani sawit, bisa-bisa untuk menutup biaya pupuk saja tidak turun,’’imbuhnya. Feri mengaku tidak dapat berbuat banyak terkait kembali anjloknya harga TBS kelapa sawit di Riau. Apalagi harga TBS dipengaruhi oleh harga CPO. ‘’Kalau harga CPO anjlok, tentu harga sawit tetap anjlok. Rapat Tim Penetapan harga pembelian TBS kelapa sawit, juga berpedoman kepada harga CPO,’’ sebutnya.
Harga TBS kepala sawit diperkirakan akan terus anjlok hingga Oktober mendatang. ‘’Kemungkinan akhir tahun, harga sawit sudah kembali normal,’’katanya.
Penetapan harga jual TBS di Riau, dilakukan oleh sebuah tim penetapan harga yang difasilitasi oleh Dinas Perkebunan Riau, dimana tim terdiri dari sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit besar yang ada di Riau serta petani kelapa sawit yang tergabung dalam wadah koperasi. Tim inilah kemudian yang merumuskan besaran harga TBS dengan berpatokan pada harga CPO di pasaran internasional, dan harga TBS yag ditetapkan terus dilakukan evaluasi setiap dua minggu sekali.(fas)
Posted by
raprapmedan
at
Wednesday, October 15, 2008
0
comments
Labels:
CPO,
Indonesia,
Internasional,
Malaysia,
Pekanbaru,
Riau Pos,
TBS
Harga Sawit Semakin Anjlok
Di Rokan Hulu, TBS Dihargai Rp 300 Per Kilogram
Rabu, 15 Oktober 2008 01:35 WIB
Pasirpengarayan, Kompas - Harga tandan buah segar kelapa sawit di tingkat petani semakin anjlok. Di sentra kelapa sawit Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau, harga TBS kelapa sawit bahkan sudah Rp 300 per kilogram. Harga itu turun Rp 50 dibandingkan dengan sehari sebelumnya sebesar Rp 350 per kilogram.
Syaifuddin, petani sawit yang dijumpai Kompas di Desa Sialangjaya, Kecamatan Rambah, Rokan Hulu, sekitar 190 kilometer dari Pekanbaru, Selasa (14/10), mengatakan, harga Rp 300 masih tergolong bagus. Beberapa pedagang pengumpul sudah berancang-ancang akan menurunkan harga sampai Rp 250 per kilogram (kg).
Dia terpaksa tetap memanen sawit semata-mata untuk mencegah kerusakan pohon pada masa yang akan datang. ”Saya mendengar kalau tandan yang sudah masak tetapi tidak dipanen dapat merusak pohon. Kalau saja pohon tidak rusak, saya tidak akan memanen,” katanya.
Dari dua ton panen tandan buah segar (TBS) kelapa sawit, Selasa, Syaifuddin meraih penghasilan kotor Rp 600.000. Namun, dia harus mengeluarkan upah empat pekerja Rp 240.000. Selain itu, dia harus mengeluarkan upah dodos (memetik buah sawit) Rp 140.000 lagi untuk dua pekerja. Penghasilan bersihnya Rp 220.000 selama dua pekan.
”Sebelum puasa, saya mendapat Rp 4 juta sebulan,” kata Syaifuddin.
Penagih kredit
Ardimen Daulay, Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Kabupaten Rokan Hulu, menyatakan, banyak anggotanya berutang dan tidak sedikit yang dikejar-kejar penagih kredit. Menurut dia, semua anggotanya memiliki lahan sekitar 118.000 hektar. Mereka adalah petani swadaya.
Gubernur Riau Wan Abubakar yang ditemui di Merangin mengatakan, ”Saya meminta petani sabar karena situasi sekarang ini tidak akan berlangsung selamanya. Saya berharap pemerintah pusat dapat mencarikan jalan keluar untuk mengatasi anjloknya harga sawit ini.”
Bupati Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Wahyudi K Anwar menuturkan, mengikuti kecenderungan turunnya harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), harga TBS di wilayahnya juga terus turun.
”Saat harga minyak dunia mencapai 100 dollar AS per barrel beberapa bulan lalu, harga TBS di Kotawaringin Timur mencapai lebih dari Rp 1.000 per kg. Belakangan ini harganya cuma Rp 400 per kg,” kata Wahyudi saat ditemui pada Rapat Koordinasi Pengendalian Pembangunan se- Kalteng di Palangkaraya.
Kemerosotan harga TBS membuat beberapa pihak di Sumatera Utara meminta agar pemerintah pusat segera bertindak untuk menekan harga. Salah satunya adalah menurunkan pajak ekspor (PE) CPO menjadi 1 persen atau menghapus PE CPO saat harga TBS di bawah harga impas produksi, yakni Rp 800 per kg.
Kepala Subdinas Bina Produksi Dinas Perkebunan Sumut Herawati dan Kepala Seksi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Dinas Perkebunan Sumut Sahrida, Selasa, mengatakan, jika pajak tetap diberlakukan, petani kian terdesak.
Bantuan pengusaha
Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang meminta pengusaha membantu kesulitan yang dihadapi petani. Bantuan itu berupa tidak membeli getah karet dengan harga yang sangat murah.
”Tadi pagi saya menghubungi beberapa pengusaha karet di Kalteng dan Kalsel. Mereka berjanji segera berunding agar tak membeli karet petani di harga yang terlalu rendah,” katanya, Selasa, di Palangkaraya.
Petani di Kabupaten Barito Utara dan Gunung Mas terpukul karena anjloknya harga getah karet sepekan ini dari Rp 9.000-Rp 9.500 per kg menjadi Rp 5.500- Rp 6.000. (sah/cas/wsi)
Rabu, 15 Oktober 2008 01:35 WIB
Pasirpengarayan, Kompas - Harga tandan buah segar kelapa sawit di tingkat petani semakin anjlok. Di sentra kelapa sawit Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau, harga TBS kelapa sawit bahkan sudah Rp 300 per kilogram. Harga itu turun Rp 50 dibandingkan dengan sehari sebelumnya sebesar Rp 350 per kilogram.
Syaifuddin, petani sawit yang dijumpai Kompas di Desa Sialangjaya, Kecamatan Rambah, Rokan Hulu, sekitar 190 kilometer dari Pekanbaru, Selasa (14/10), mengatakan, harga Rp 300 masih tergolong bagus. Beberapa pedagang pengumpul sudah berancang-ancang akan menurunkan harga sampai Rp 250 per kilogram (kg).
Dia terpaksa tetap memanen sawit semata-mata untuk mencegah kerusakan pohon pada masa yang akan datang. ”Saya mendengar kalau tandan yang sudah masak tetapi tidak dipanen dapat merusak pohon. Kalau saja pohon tidak rusak, saya tidak akan memanen,” katanya.
Dari dua ton panen tandan buah segar (TBS) kelapa sawit, Selasa, Syaifuddin meraih penghasilan kotor Rp 600.000. Namun, dia harus mengeluarkan upah empat pekerja Rp 240.000. Selain itu, dia harus mengeluarkan upah dodos (memetik buah sawit) Rp 140.000 lagi untuk dua pekerja. Penghasilan bersihnya Rp 220.000 selama dua pekan.
”Sebelum puasa, saya mendapat Rp 4 juta sebulan,” kata Syaifuddin.
Penagih kredit
Ardimen Daulay, Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Kabupaten Rokan Hulu, menyatakan, banyak anggotanya berutang dan tidak sedikit yang dikejar-kejar penagih kredit. Menurut dia, semua anggotanya memiliki lahan sekitar 118.000 hektar. Mereka adalah petani swadaya.
Gubernur Riau Wan Abubakar yang ditemui di Merangin mengatakan, ”Saya meminta petani sabar karena situasi sekarang ini tidak akan berlangsung selamanya. Saya berharap pemerintah pusat dapat mencarikan jalan keluar untuk mengatasi anjloknya harga sawit ini.”
Bupati Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Wahyudi K Anwar menuturkan, mengikuti kecenderungan turunnya harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), harga TBS di wilayahnya juga terus turun.
”Saat harga minyak dunia mencapai 100 dollar AS per barrel beberapa bulan lalu, harga TBS di Kotawaringin Timur mencapai lebih dari Rp 1.000 per kg. Belakangan ini harganya cuma Rp 400 per kg,” kata Wahyudi saat ditemui pada Rapat Koordinasi Pengendalian Pembangunan se- Kalteng di Palangkaraya.
Kemerosotan harga TBS membuat beberapa pihak di Sumatera Utara meminta agar pemerintah pusat segera bertindak untuk menekan harga. Salah satunya adalah menurunkan pajak ekspor (PE) CPO menjadi 1 persen atau menghapus PE CPO saat harga TBS di bawah harga impas produksi, yakni Rp 800 per kg.
Kepala Subdinas Bina Produksi Dinas Perkebunan Sumut Herawati dan Kepala Seksi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Dinas Perkebunan Sumut Sahrida, Selasa, mengatakan, jika pajak tetap diberlakukan, petani kian terdesak.
Bantuan pengusaha
Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang meminta pengusaha membantu kesulitan yang dihadapi petani. Bantuan itu berupa tidak membeli getah karet dengan harga yang sangat murah.
”Tadi pagi saya menghubungi beberapa pengusaha karet di Kalteng dan Kalsel. Mereka berjanji segera berunding agar tak membeli karet petani di harga yang terlalu rendah,” katanya, Selasa, di Palangkaraya.
Petani di Kabupaten Barito Utara dan Gunung Mas terpukul karena anjloknya harga getah karet sepekan ini dari Rp 9.000-Rp 9.500 per kg menjadi Rp 5.500- Rp 6.000. (sah/cas/wsi)
Posted by
raprapmedan
at
Wednesday, October 15, 2008
0
comments
Labels:
CPO,
Pekanbaru,
Riau,
Rokan Hulu,
Sumatera Utara,
Tandab Buah Segar,
TBS
Subscribe to:
Posts (Atom)