Kamis, 13/11/2008
KUALA LUMPUR:? Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) melemah pada hari kedua perdagangan dan mendekati level terendah setidaknya dalam satu pekan terakhir menyusul penurunan prospek permintaan biofuel.
Kontrak CPO untuk pengiriman Januari turun sekitar 5,1% menjadi RM1.505 setara dengan US$419 per ton di Malaysia Derivatives Exchange.?
JPMorgan memangkas perkiraan harga CPO tahun depan menjadi hanya RM1.580 per ton lebih rendah dari estimasi awal yang masih RM2.200 per ton. (Bloomberg/luz)
source: bisnis.com
Showing posts with label Malaysia. Show all posts
Showing posts with label Malaysia. Show all posts
Thursday, November 13, 2008
Thursday, November 6, 2008
RI-Malaysia pangkas 250.000 ha kebun sawit
Kamis, 06/11/2008 19:19 WIB
oleh : Erwin Tambunan
JAKARTA (bisnis.com): Pemerintah Indonesia dan Malaysia sepakat memangkas 250.000 ha perkebunan kelapa sawit untuk mengurangi kelebihan produksi komoditas itu.
"Kami akan mengatur stok produksi bersama-sama untuk memperoleh harga yang pas, tidak jatuh seperti sekarang ini," ujar Mentan Anton Apriantono seusai menandatangani kesepakatan bersama dengan Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditas Malaysia, Peter Chin Fah Kui, hari ini.
Dalam kesepakatan itu, Malaysia mulai 2009 berencana memangkas 200.000 ha perkebunan sawitnya, sedangkan Indonesia memangkas 50.000 ha. "Malaysia mengklaim produksi sawitnya sebanyak 2,5 ton per ha, sedangkan Indonesia 1,5 ton/ha."
Pengaturan pemangkasan perkebunan kelapa sawit, menurut Anton, dilaksanakan awal Januari 2009. "Pemangkasan itu diprioritaskan pohon yang sudah tua yang tujuannya mengurangi produksi, sehingga ekspansinya sesuai kebutuhan pasar," katanya.
Sebelumnya Dirjen Perkebunan Deptan Achmad Manggabarani mengatakan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit yang berlaku sekarang Rp4.500 per kg. "Dua minggu lalu harganya sempat anjlok hingga mencapai Rp3.900 per kg," katanya.
Mengantisipasi perkembangan perdagangan kelapa sawit internasional, kedua negara sebagai produsen 85% kebutuhan minyak sawit dunia bersepakat setiap bulan saling tukar menukar informasi tentang perdagangan kelapa sawit dan karet. (tw)
source: bisnis.com
oleh : Erwin Tambunan
JAKARTA (bisnis.com): Pemerintah Indonesia dan Malaysia sepakat memangkas 250.000 ha perkebunan kelapa sawit untuk mengurangi kelebihan produksi komoditas itu.
"Kami akan mengatur stok produksi bersama-sama untuk memperoleh harga yang pas, tidak jatuh seperti sekarang ini," ujar Mentan Anton Apriantono seusai menandatangani kesepakatan bersama dengan Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditas Malaysia, Peter Chin Fah Kui, hari ini.
Dalam kesepakatan itu, Malaysia mulai 2009 berencana memangkas 200.000 ha perkebunan sawitnya, sedangkan Indonesia memangkas 50.000 ha. "Malaysia mengklaim produksi sawitnya sebanyak 2,5 ton per ha, sedangkan Indonesia 1,5 ton/ha."
Pengaturan pemangkasan perkebunan kelapa sawit, menurut Anton, dilaksanakan awal Januari 2009. "Pemangkasan itu diprioritaskan pohon yang sudah tua yang tujuannya mengurangi produksi, sehingga ekspansinya sesuai kebutuhan pasar," katanya.
Sebelumnya Dirjen Perkebunan Deptan Achmad Manggabarani mengatakan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit yang berlaku sekarang Rp4.500 per kg. "Dua minggu lalu harganya sempat anjlok hingga mencapai Rp3.900 per kg," katanya.
Mengantisipasi perkembangan perdagangan kelapa sawit internasional, kedua negara sebagai produsen 85% kebutuhan minyak sawit dunia bersepakat setiap bulan saling tukar menukar informasi tentang perdagangan kelapa sawit dan karet. (tw)
source: bisnis.com
Posted by
raprapmedan
at
Thursday, November 06, 2008
0
comments
Labels:
Indonesia,
Kelapa Sawit,
Malaysia
Tuesday, October 28, 2008
Lahan Kelapa Sawit untuk Orangutan
KUALA LUMPUR -- Menyempitnya habitat alami sejumlah satwa liar akibat pembukaan perkebunan kelapa sawit tak membuat para pejuang pelestarian lingkungan Malaysia hilang akal. Kini mereka meluncurkan strategi baru untuk melindungi orangutan Kalimantan, gajah pygmy, dan satwa yang terancam punah lainnya dengan membeli lahan dari pemilik perkebunan untuk dijadikan hutan suaka.
Langkah ini diambil untuk menjaga kelestarian orangutan yang jumlahnya terus merosot akibat pembalakan liar dan meluasnya perkebunan kelapa sawit dengan cepat di Malaysia dan Indonesia, dua negara tempat orangutan ditemukan di alam.
Kelompok konservasi LEAP yang berbasis di Malaysia tengah merundingkan pembelian 89,8 hektare lahan hutan tropis di negara bagian Sabah, Kalimantan, dari operator perkebunan sawit.
Lahan seluas itu dibutuhkan untuk dijadikan sebagai koridor yang menghubungkan dua wilayah suaka margasatwa yang menjadi rumah bagi 600 orangutan, 150 gajah pygmy, dan beragam jenis satwa dilindungi lainnya, seperti monyet proboscis, burung rangkong, dan berang-berang.
"Untuk membeli lahan itu, LEAP melakukan aksi penggalangan dana melalui sumbangan masyarakat dan pribadi," kata Cynthia Ong, Direktur Eksekutif LEAP. World Land Trust, sebuah yayasan amal untuk konservasi alam yang bekerja sama dengan LEAP dalam inisiatif itu, mengatakan bahwa mereka membutuhkan Rp 5,3 miliar untuk membeli lahan tersebut.
Ong mengatakan ini adalah pertama kalinya sebuah lembaga swadaya masyarakat berusaha membeli tanah di Kalimantan, Malaysia, untuk perlindungan lingkungan dengan bantuan pemerintah. Dia belum bisa memastikan kapan pembelian hutan itu dilaksanakan.
"Pembelian lahan ini amat mendesak," tutur Ong. "Kami tak punya jalan lain untuk menghindari potensi timbulnya konflik antara manusia dan satwa liar."
Jumlah orangutan di Malaysia dan Indonesia turun hingga separuhnya dalam 20 tahun terakhir hingga mencapai angka di bawah 60 ribu ekor akibat aktivitas pembukaan hutan. Para ilmuwan memperkirakan populasi primata turun lebih dari 5.000 ekor setiap tahun sejak 2004. AP
source: korantempo.com
Langkah ini diambil untuk menjaga kelestarian orangutan yang jumlahnya terus merosot akibat pembalakan liar dan meluasnya perkebunan kelapa sawit dengan cepat di Malaysia dan Indonesia, dua negara tempat orangutan ditemukan di alam.
Kelompok konservasi LEAP yang berbasis di Malaysia tengah merundingkan pembelian 89,8 hektare lahan hutan tropis di negara bagian Sabah, Kalimantan, dari operator perkebunan sawit.
Lahan seluas itu dibutuhkan untuk dijadikan sebagai koridor yang menghubungkan dua wilayah suaka margasatwa yang menjadi rumah bagi 600 orangutan, 150 gajah pygmy, dan beragam jenis satwa dilindungi lainnya, seperti monyet proboscis, burung rangkong, dan berang-berang.
"Untuk membeli lahan itu, LEAP melakukan aksi penggalangan dana melalui sumbangan masyarakat dan pribadi," kata Cynthia Ong, Direktur Eksekutif LEAP. World Land Trust, sebuah yayasan amal untuk konservasi alam yang bekerja sama dengan LEAP dalam inisiatif itu, mengatakan bahwa mereka membutuhkan Rp 5,3 miliar untuk membeli lahan tersebut.
Ong mengatakan ini adalah pertama kalinya sebuah lembaga swadaya masyarakat berusaha membeli tanah di Kalimantan, Malaysia, untuk perlindungan lingkungan dengan bantuan pemerintah. Dia belum bisa memastikan kapan pembelian hutan itu dilaksanakan.
"Pembelian lahan ini amat mendesak," tutur Ong. "Kami tak punya jalan lain untuk menghindari potensi timbulnya konflik antara manusia dan satwa liar."
Jumlah orangutan di Malaysia dan Indonesia turun hingga separuhnya dalam 20 tahun terakhir hingga mencapai angka di bawah 60 ribu ekor akibat aktivitas pembukaan hutan. Para ilmuwan memperkirakan populasi primata turun lebih dari 5.000 ekor setiap tahun sejak 2004. AP
source: korantempo.com
Posted by
raprapmedan
at
Tuesday, October 28, 2008
0
comments
Labels:
Gajah,
Kalimantan,
Kelapa Sawit,
Malaysia,
Orang Utan
Monday, October 27, 2008
IOI still the top pick despite recent hedging losses
Tuesday October 28, 2008
By DANNY YAP
PETALING JAYA: IOI Corp Bhd, Malaysia’s second largest plantation company, remains the top pick among analysts for the sector despite its recent losses from hedging of palm oil purchases in euro.
Citi Investment Research analyst Penny Yaw, who rates IOI a buy/low risk stock with a target price of RM7.46, said it was still the most efficient oil palm plantation company with a yield per mature hectare of 28.54 tonnes.
“This is the highest yield per mature hectare for the industry,” she said, adding that the research house believed the current downward pressure in crude palm oil (CPO) price was short-term and the price was close to floor level.
Last Friday, CPO price fell RM160 to close at RM1,390 per tonne amid growing fears of a global recession slowing down demand.
The last time CPO price hit such a low level was in the early 1980s, when it dropped to RM1,444 per tonne.
Most analysts believe the current fundamentals warrant a minimum CPO price of RM1,300 to RM1,400 per tonne for the industry players, especially the smaller ones, to survive.
However, Yaw said, based on the underlying long-term fundamentals for vegetable oils over the medium term, the outlook remained positive for IOI due to its size and efficiency.
“The company also has a strong record of re-investing its capital and it enjoys the highest return on equity among the big-cap plantation groups in Malaysia,” she said, adding that IOI’s financial position was strengthening due to its strong operating cash flow.
TA Securities analyst James Ratnam concurred with Yaw that IOI’s overall performance outlook remained good, describing the recent fall in its share price as a knee-jerk reaction following the company’s hedging losses.
Last Friday, IOI’s share price fell as low as RM2.40 and closed at RM2.45, representing the lowest closing price since September 1998.
Ratnam said IOI’s overall earnings were unlikely to be seriously dented by the foreign exchange (forex) losses in the longer term.
For the financial year ended June 30, IOI announced unrecognised losses from currency options contracts of RM61.78mil, of which RM59.3mil was from sales contracts.
A foreign analyst said making losses or gains on forward currency contracts was a normal course of events for many large companies, including IOI.
“The forex losses are not a reflection of IOI’s core business competency, which is efficient CPO production,” he said.
He added that investors’ jitters due to the massive fall in CPO prices over the past months were exarcebated by the forex losses.
The analyst said the cost of production was between RM1,200 and RM1,700 for most plantation companies.
“If the CPO price hits RM1,200 per tonne, the earnings capability of all the plantation companies, including IOI, will be affected significantly as will their contribution to the country’s economy,” he said.
However, he said, IOI was probably in a better position than other plantation players to weather the storm if the CPO price dipped further.
By DANNY YAP
PETALING JAYA: IOI Corp Bhd, Malaysia’s second largest plantation company, remains the top pick among analysts for the sector despite its recent losses from hedging of palm oil purchases in euro.
Citi Investment Research analyst Penny Yaw, who rates IOI a buy/low risk stock with a target price of RM7.46, said it was still the most efficient oil palm plantation company with a yield per mature hectare of 28.54 tonnes.
“This is the highest yield per mature hectare for the industry,” she said, adding that the research house believed the current downward pressure in crude palm oil (CPO) price was short-term and the price was close to floor level.
Last Friday, CPO price fell RM160 to close at RM1,390 per tonne amid growing fears of a global recession slowing down demand.
The last time CPO price hit such a low level was in the early 1980s, when it dropped to RM1,444 per tonne.
Most analysts believe the current fundamentals warrant a minimum CPO price of RM1,300 to RM1,400 per tonne for the industry players, especially the smaller ones, to survive.
However, Yaw said, based on the underlying long-term fundamentals for vegetable oils over the medium term, the outlook remained positive for IOI due to its size and efficiency.
“The company also has a strong record of re-investing its capital and it enjoys the highest return on equity among the big-cap plantation groups in Malaysia,” she said, adding that IOI’s financial position was strengthening due to its strong operating cash flow.
TA Securities analyst James Ratnam concurred with Yaw that IOI’s overall performance outlook remained good, describing the recent fall in its share price as a knee-jerk reaction following the company’s hedging losses.
Last Friday, IOI’s share price fell as low as RM2.40 and closed at RM2.45, representing the lowest closing price since September 1998.
Ratnam said IOI’s overall earnings were unlikely to be seriously dented by the foreign exchange (forex) losses in the longer term.
For the financial year ended June 30, IOI announced unrecognised losses from currency options contracts of RM61.78mil, of which RM59.3mil was from sales contracts.
A foreign analyst said making losses or gains on forward currency contracts was a normal course of events for many large companies, including IOI.
“The forex losses are not a reflection of IOI’s core business competency, which is efficient CPO production,” he said.
He added that investors’ jitters due to the massive fall in CPO prices over the past months were exarcebated by the forex losses.
The analyst said the cost of production was between RM1,200 and RM1,700 for most plantation companies.
“If the CPO price hits RM1,200 per tonne, the earnings capability of all the plantation companies, including IOI, will be affected significantly as will their contribution to the country’s economy,” he said.
However, he said, IOI was probably in a better position than other plantation players to weather the storm if the CPO price dipped further.
Sunday, October 26, 2008
MALAYSIA, Cari Formulasi untuk Lindungi Petani
Senin, 27 Oktober 2008
KUALA LUMPUR (Suara Karya): Pemerintah Malaysia sedang mencari formulasi untuk melindungi pendapatan petani, minimal 1000 ringgit (Rp2,7 juta) per bulan, setelah jatuhnya harga kelapa sawit dan karet di pasar internasional.
Wakil PM Malaysia Najib Tun Razak mengatakan, sebuah tim kecil akan mengadakan pembicaraan tentang jatuhnya harga kelapa sawit dan karet di pasar internasional belakangan ini yang membuat pendapatan negara, petani kelapa sawit dan karet anjlok, demikian harian Utusan Malaysia, Minggu.
Salah satu topik pembahasan adalah mengadakan pertemuan dengan negara-negara produsen karet untuk menstabilkan harga kepala sawit dan karet.
Najib mengatakan, pemerintah akan memberikan perlindungan atau jaminan pendapatan petani kelapa sawit dan karet tidak akan di bawah 1.000 ringgit (Rp 2,7 juta) per bulan akibat penurunan harga kelapa sawit di dunia.
Harga sawit dunia ini turun ke level terendah yakni 370 ringgit (Rp 1 juta) per ton dibandingkan 454 (Rp 1,2 juta) ringgit per ton pada 27 September 2008.
Sebelumnya, harga sawit bahkan mencapai 863 ringgit hingga 900 ringgit per ton. Saat itu, pendapatan petani kelapa sawit rata-rata mencapai 3.000 hingga 4.000 ringgit (Rp 8,1 - 10,8 juta) per bulan.
Sementara itu, Najib juga mengatakan pemerintahnya akan menyuntuk dana sedikitnya 1,4 miliar dolar AS ke pasar saham dan menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi 2009 di tengah semakin memburuknya krisis finansial global.
Dia mengatakan mengatakan bahwa pemerintah mungkin meninjau kembali prediksi defisit fiskal 2009 dan 2008 serta dukungan pada proyek-proyek manufaktur dengan membatasi dampak multiplier ekonomi untuk tahun tersebut guna melindungi dampak krisis ekonomi.
Dalam pidatonya pada sebuah konferensi di Kuala Lumpur, Najib mengatakan bahwa pemerintah akan melipat duakan ukuran perusahaan investasi milik pemerintah Valuaecaap Sd.Bhd., yang didirikan pada 2003 untuk investasi dalam under-valued, tetapi saham-sahamnya secara fondamental kuat.
"Memberikan berbagai kesempatan saat ini untuk nilai investasi, saya akan dengan senang mengumumkan bahwa pemerintah akan menyediakan dana tambahan lima miliar ringgit (1,4 miliar dolar) dua kali lipat dari Valuecap menjadi 10 miliar ringgit," katanya.
Kaladher Govindan, pimpinan riset pada pialang lokal TA Securities mengatakan langkah tersebut "merupakan dorongan positif terhadap pasar saham," yang mengalami penurunan hingga 37 persen tahun ini.
Najib, yang ditetapkan sebagai pengganti perdana menteri pada Maret mendatang mengatakan revisi yang cenderung turun untuk pertumbuhan 2009 dari 5,4 persen dan respon kebijakan pemerintah secara rinci akan diumumkan di parlemen pada 4 November mendatang. (AP/Kentos)
source: suarakarya-online.com
KUALA LUMPUR (Suara Karya): Pemerintah Malaysia sedang mencari formulasi untuk melindungi pendapatan petani, minimal 1000 ringgit (Rp2,7 juta) per bulan, setelah jatuhnya harga kelapa sawit dan karet di pasar internasional.
Wakil PM Malaysia Najib Tun Razak mengatakan, sebuah tim kecil akan mengadakan pembicaraan tentang jatuhnya harga kelapa sawit dan karet di pasar internasional belakangan ini yang membuat pendapatan negara, petani kelapa sawit dan karet anjlok, demikian harian Utusan Malaysia, Minggu.
Salah satu topik pembahasan adalah mengadakan pertemuan dengan negara-negara produsen karet untuk menstabilkan harga kepala sawit dan karet.
Najib mengatakan, pemerintah akan memberikan perlindungan atau jaminan pendapatan petani kelapa sawit dan karet tidak akan di bawah 1.000 ringgit (Rp 2,7 juta) per bulan akibat penurunan harga kelapa sawit di dunia.
Harga sawit dunia ini turun ke level terendah yakni 370 ringgit (Rp 1 juta) per ton dibandingkan 454 (Rp 1,2 juta) ringgit per ton pada 27 September 2008.
Sebelumnya, harga sawit bahkan mencapai 863 ringgit hingga 900 ringgit per ton. Saat itu, pendapatan petani kelapa sawit rata-rata mencapai 3.000 hingga 4.000 ringgit (Rp 8,1 - 10,8 juta) per bulan.
Sementara itu, Najib juga mengatakan pemerintahnya akan menyuntuk dana sedikitnya 1,4 miliar dolar AS ke pasar saham dan menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi 2009 di tengah semakin memburuknya krisis finansial global.
Dia mengatakan mengatakan bahwa pemerintah mungkin meninjau kembali prediksi defisit fiskal 2009 dan 2008 serta dukungan pada proyek-proyek manufaktur dengan membatasi dampak multiplier ekonomi untuk tahun tersebut guna melindungi dampak krisis ekonomi.
Dalam pidatonya pada sebuah konferensi di Kuala Lumpur, Najib mengatakan bahwa pemerintah akan melipat duakan ukuran perusahaan investasi milik pemerintah Valuaecaap Sd.Bhd., yang didirikan pada 2003 untuk investasi dalam under-valued, tetapi saham-sahamnya secara fondamental kuat.
"Memberikan berbagai kesempatan saat ini untuk nilai investasi, saya akan dengan senang mengumumkan bahwa pemerintah akan menyediakan dana tambahan lima miliar ringgit (1,4 miliar dolar) dua kali lipat dari Valuecap menjadi 10 miliar ringgit," katanya.
Kaladher Govindan, pimpinan riset pada pialang lokal TA Securities mengatakan langkah tersebut "merupakan dorongan positif terhadap pasar saham," yang mengalami penurunan hingga 37 persen tahun ini.
Najib, yang ditetapkan sebagai pengganti perdana menteri pada Maret mendatang mengatakan revisi yang cenderung turun untuk pertumbuhan 2009 dari 5,4 persen dan respon kebijakan pemerintah secara rinci akan diumumkan di parlemen pada 4 November mendatang. (AP/Kentos)
source: suarakarya-online.com
Monday, October 20, 2008
Pemerintah Belum Muluskan Pajak Ekspor 0%
Senin, 20/10/2008 10:38 WIB
Dadan Kuswaraharja - detikFinance
source: detik.com
Dadan Kuswaraharja - detikFinance
Jakarta - Pemerintah belum memutuskan penerapan bea keluar atau pajak ekspor produk minyak kelapa sawit sebesar 0 persen menyusul turunnya harga CPO akhir-akhir ini."Hari ini katanya pemerintah mau ada rapat mengenai hal itu, namun batal," ujarnya Ketua Harian Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Derom Bangun ketika dihubungi detikFinance, Senin (20/10/2008).
Menurutnya dari penerapan PE 7,5% pada Oktober, pada posisi harga CPO di Rotterdam saat ini US$ 565 per ton dengan dipotong biaya-biaya maka harga yang bisa diterima produsen hanya mencapai Rp 3.800 per kilo atau dengan tambahan PPN maka menjadi Rp 4.200 yang diperkirakan mampu membeli harga TBS petani seharga Rp 300-600 per kilo. "Jadi harganya sangat rendah," ujarnya.
Pengusaha kelapa sawit dalam beberapa kesempatan, terus berupaya meminta penurunan pajak ekspor CPO kepada pemerintah. Permintaan pengusaha kelapa sawit di Indonesia ini juga diikuti rekannya di Malaysia, dimana pengusaha mereka juga meminta regulator untuk memotong pajak ketika harga minyak CPO sudah mendekati titik break even point usahanya sebesar 1.500 ringgit per ton.Di bursa komoditas Malaysia sendiri yang merupakan acuan, harga CPO mencapai 1.654 ringgit per ton untuk kontrak di bulan November 2008.
(ddn/ir)source: detik.com
Posted by
raprapmedan
at
Monday, October 20, 2008
0
comments
Labels:
CPO,
Derom Bangun,
Gabungan Kelapa Sawit Indonesia,
Malaysia,
Pungutan Ekspor
ANALISA KOMODITI, 20 OKTOBER 2008
( Senin, 20 - 10 - 08)
ENERGI – Meningkat dipicu aksi short coveringPada perdagangan akhir pekan kemarin, harga minyak mentah ditutup meningkat karena aksi short covering setelah secara dramatis sebelumnya mengalami penurunan. Peningkatan harga minyak juga dipicu rencana pertemuan OPEC pada minggu depan yang berencana mengurangi produksi.Harga minyak mentah November ditutup meningkat $2 menjadi $71.85 per barel, setelah sebelumnya selama seminggu mengalami penurunan hingga $5.85 atau 8% dari penutupan Jum’at minggu lalu di $77.70 per barel. (Asy/Bpti)
source: bappebti.go.id
MINYAK KELAPA SAWIT- Terus melemahPada perdagangan berjangka Minyak Kelapa Sawit di Malaysia dan di Indonesia, harga CPO berjangka ditutup melemah lebih dari 3 % karena kekhawatiran yang masih menyelimuti pasar global berkaitan dengan resesi ekonomi yang akan memangkas permintaan.
Kontrak Januari di MDEX ditutup melemah RM16 atau 0.97% menjadi RM 1,635 (US463) per ton, sementara itu kontrak bulan yang sama di BBJ ditutup melemah Rp.145 per kg menjadi Rp.5.065 per kg. Indonesia berencana untuk memotong pajak ekspor minyak sawit karena melemahnya permintaan yang menyebabkan tekanan pada harga.
Pada peraturan yang berlaku sekarang Dalam Permenkeu No 09/PMK.011/2008, tarif PE berpedoman pada harga rata-rata CPO CIF Rotterdam satu bulan sebelum penetapan harga patokan ekspor (HPE). Pemerintah Indonesia berencana menentukan pajak ekspor pada bulan November. Pajak eksport yang sekarang berlaku pada 7.5% untuk bulan Oktober.
LOGAM – Turun karena investor melikuidasi danaPada perdagangan hari Jum’at harga emas ditutup terus melemah dipicu aksi likuidasi yang dilakukan investor untuk mendapatkan dana cash nya. Kontrak emas Desember ditutup melemah $16.80 atau 2.1% menjadi $787.70 per ons. Sampai dengan minggu ini emas sudah turun $71.30 atau 8.3%Pada perdagangan emas berjangka di BBJ, harga emas kontrak Desember ditutup melemah Rp.15.400/gr atau 5.7% menjadi Rp.254.250/gram, dipicu penurunan harga emas di pasar global.
Emas mengalami kejatuhan terbesar 8.4% pada 15 Agustus, yang merupakan prosentase penurunan terbesar sejak 1984. Harga emas diperkirakan akan membaik karena meningkatnya permintaan untuk perlindungan asset ditengah terus meningkatnya kekacauan keuangan.Akan tetapi keinginan untuk memegang dana cash menyebabkan harga emas terpuruk. Dalam jangka panjang, rencana darurat pasar global untuk melakukan injeksi dana ke pasar akan menyebabkan inflasi, hal ini akan merupakan kabar baik bafi harga emas untuk membeli emas sebagai upaya hedging.Sementara itu harga perak turun 3.1% menjadi $9.34 per ons. Tembaga mengalami peningkatan 4.5% menjadi $2.1795 per pound.
ENERGI – Meningkat dipicu aksi short coveringPada perdagangan akhir pekan kemarin, harga minyak mentah ditutup meningkat karena aksi short covering setelah secara dramatis sebelumnya mengalami penurunan. Peningkatan harga minyak juga dipicu rencana pertemuan OPEC pada minggu depan yang berencana mengurangi produksi.Harga minyak mentah November ditutup meningkat $2 menjadi $71.85 per barel, setelah sebelumnya selama seminggu mengalami penurunan hingga $5.85 atau 8% dari penutupan Jum’at minggu lalu di $77.70 per barel. (Asy/Bpti)
source: bappebti.go.id
Posted by
raprapmedan
at
Monday, October 20, 2008
0
comments
Labels:
CPO,
Indonesia,
Krisis Ekonomi Global,
Malaysia,
Pajak Ekspor
Sunday, October 19, 2008
Nigeria needs to depend less on oil
By Our Reader
Published: Sunday, 19 Oct 2008
In the world of Information Technology, there is what is called disaster recovery strategy. Corporations spend millions of dollars to build backup sites just in case their production site is consumed by any natural or man-made disaster. It is not that these corporations have money to waste by replicating their infrastructure but it is a very critical business need. Liking Nigeria to a Corporation, what is our own disaster recovery strategy in case our oil wells dry up or some disasters make it impossible for production to go on for a whole year? I do believe that we have technocrats in the cabinet of Umaru Yar’Adua and it is high time they began to put this into perspective.
Nigeria is abundantly blessed with natural endownments – the Olumo rock, the water falls, Yankari games reserve and others. How far have we gone to develop tourism? Maybe we should just shut down all oil wells and see if there is any backup. Of course I know this position might sound sarcastic and bizarre but it will open our eyes to the truth.
Barth Okonkwo,
Adeola Hopewell, Victoria Island,
barthlini@yahoo.com.
source: punchng.com
Published: Sunday, 19 Oct 2008
Has anyone ever imagined Nigeria without oil? Perhaps, it has not crossed our minds that one day, we might sell our last drop.
In the world of Information Technology, there is what is called disaster recovery strategy. Corporations spend millions of dollars to build backup sites just in case their production site is consumed by any natural or man-made disaster. It is not that these corporations have money to waste by replicating their infrastructure but it is a very critical business need. Liking Nigeria to a Corporation, what is our own disaster recovery strategy in case our oil wells dry up or some disasters make it impossible for production to go on for a whole year? I do believe that we have technocrats in the cabinet of Umaru Yar’Adua and it is high time they began to put this into perspective.
A particular Asian country, Malaysia I guess, took oil fruit from Nigeria to cultivate in their country. Today, they are playing big in palm oil and other associated by-products of palm fruit. United Arab Emirate was a desert before. I even learnt they had come to Nigeria to borrow before. Presently, a lot of us fight for Emirate‘s ticket to fly to Dubai for vacation and shopping. How did they make it happen? Some smart and serious minded guys in that country came together and strategised on how to move their country forward.
What has happened to agriculture in Nigeria? What have become of our groundnut pyramids in the North and the cocoa in the West? We have all abandoned these to local farmers with occasional distribution of fertilizers to them. We are all in the mad chase for oil.
Nigeria is abundantly blessed with natural endownments – the Olumo rock, the water falls, Yankari games reserve and others. How far have we gone to develop tourism? Maybe we should just shut down all oil wells and see if there is any backup. Of course I know this position might sound sarcastic and bizarre but it will open our eyes to the truth.
Adeola Hopewell, Victoria Island,
barthlini@yahoo.com.
source: punchng.com
Posted by
raprapmedan
at
Sunday, October 19, 2008
0
comments
Labels:
Asia,
Malaysia,
Nigeria,
Palm Oil
Friday, October 17, 2008
Global markets take a beating again
Friday October 17, 2008
By IZWAN IDRIS
KUALA LUMPUR: Global markets took another beating Thursday, with shares in Japan plummeting more than 11% as investors continued to dump shares amid heightening fears the global economy is sinking into a recession.
Japanese Prime Minister Taro Aso was quoted as telling Japanese lawmakers that the US government’s US$700bil banking rescue plan was “insufficient” and that was why “the market is again falling sharply.’’
Sentiment in Asia and Europe was gutted by the 7.9% dive on the Dow Jones Industrial Index on Wednesday on fears the US economy was headed for a recession after Federal Reserve chairman Ben Bernanke said the US economy faced a “significant threat” from credit markets.
Crude oil dropped US$4.09 to settle at US$74.54 on Wednesday, the lowest closing level since Aug 31, 2007 as fears of a sharp fall in demand took grip.
Japan’s Nikkei 225 plummeted 11.4% to 8,458.45 points yesterday, the index’s steepest one-day loss since 1987.
European markets slumped 2% to 3% in early trade.
In South Korea, the main Kospi index plunged 9.4% after rating agency Standard & Poor’s warned that Korean banks might struggle to refinance their debts.
Stock markets in Hong Kong, China and Singapore fell between 4.2% and 5.2%, while in Australia, share prices tumbled 6.7%.
On Bursa Malaysia, the KL Composite Index fell 29.86 points, or 3.1% to 920 points.
Shares in oil and gas fabricator KNM Group Bhd again dominated trade on Bursa Malaysia, with 342 million shares transacted.
The counter alone accounted for about 38% of total market volume of 897 million shares yesterday. (See report on B3)
The ringgit, meanwhile, slumped to a new 21-month low at 3.5265 against the US dollar.
OSK Research has lowered its year-end target for the KL Composite Index (KLCI) for a second time in a month, citing “worsening global economic outlook and falling commodity prices.’’
The firm slashed its year-end target for the KLCI to 1,037 points from 1,128 points and to just 1,116 points for 2009.
“With sentiment badly beaten as it is, even the easing political uncertainties and the unveiling of a domestic ‘stabilisation’ plan may not be enough to significantly lift our market,’’ OSK said.
The Government is expected to announce on Monday details of its stabilisation plan, which would contain measures to help the economy withstand the global financial crisis.
The financial crisis and its crippling impact on the global economy had already ravaged commodity markets, with crude oil, crude palm oil (CPO) and steel prices plunging from record highs just months before.
CPO third month futures contract traded on Bursa Derivatives, the global benchmark for the vegetable oil, tumbled 5.3% to a new two-year low of RM1,651 per tonne yesterday.
CIMB Research noted that steel product prices had fallen 30% to 50% from their peak in July.
“In a nutshell, the landscape for the steel industry has changed and is expected to be negative for the next six to 12 months, given the recent downgrades of key demand drivers for the steel,’’ it said.
source: biz.thestar.com.my
By IZWAN IDRIS
KUALA LUMPUR: Global markets took another beating Thursday, with shares in Japan plummeting more than 11% as investors continued to dump shares amid heightening fears the global economy is sinking into a recession.
Japanese Prime Minister Taro Aso was quoted as telling Japanese lawmakers that the US government’s US$700bil banking rescue plan was “insufficient” and that was why “the market is again falling sharply.’’
Sentiment in Asia and Europe was gutted by the 7.9% dive on the Dow Jones Industrial Index on Wednesday on fears the US economy was headed for a recession after Federal Reserve chairman Ben Bernanke said the US economy faced a “significant threat” from credit markets.
Crude oil dropped US$4.09 to settle at US$74.54 on Wednesday, the lowest closing level since Aug 31, 2007 as fears of a sharp fall in demand took grip.
Japan’s Nikkei 225 plummeted 11.4% to 8,458.45 points yesterday, the index’s steepest one-day loss since 1987.
European markets slumped 2% to 3% in early trade.
In South Korea, the main Kospi index plunged 9.4% after rating agency Standard & Poor’s warned that Korean banks might struggle to refinance their debts.
Stock markets in Hong Kong, China and Singapore fell between 4.2% and 5.2%, while in Australia, share prices tumbled 6.7%.
On Bursa Malaysia, the KL Composite Index fell 29.86 points, or 3.1% to 920 points.
Shares in oil and gas fabricator KNM Group Bhd again dominated trade on Bursa Malaysia, with 342 million shares transacted.
The counter alone accounted for about 38% of total market volume of 897 million shares yesterday. (See report on B3)
The ringgit, meanwhile, slumped to a new 21-month low at 3.5265 against the US dollar.
OSK Research has lowered its year-end target for the KL Composite Index (KLCI) for a second time in a month, citing “worsening global economic outlook and falling commodity prices.’’
The firm slashed its year-end target for the KLCI to 1,037 points from 1,128 points and to just 1,116 points for 2009.
“With sentiment badly beaten as it is, even the easing political uncertainties and the unveiling of a domestic ‘stabilisation’ plan may not be enough to significantly lift our market,’’ OSK said.
The Government is expected to announce on Monday details of its stabilisation plan, which would contain measures to help the economy withstand the global financial crisis.
The financial crisis and its crippling impact on the global economy had already ravaged commodity markets, with crude oil, crude palm oil (CPO) and steel prices plunging from record highs just months before.
CPO third month futures contract traded on Bursa Derivatives, the global benchmark for the vegetable oil, tumbled 5.3% to a new two-year low of RM1,651 per tonne yesterday.
CIMB Research noted that steel product prices had fallen 30% to 50% from their peak in July.
“In a nutshell, the landscape for the steel industry has changed and is expected to be negative for the next six to 12 months, given the recent downgrades of key demand drivers for the steel,’’ it said.
source: biz.thestar.com.my
Posted by
raprapmedan
at
Friday, October 17, 2008
0
comments
Labels:
Asia,
Australia,
CPO,
Crude Oil,
Dow Jones,
Europe,
Financial Crisis,
Malaysia,
Nikkei,
Singapore,
South Korea,
Taro Aso
Financial Crisis Woes Add To Gloom At Malaysia-China Palm Oil Seminar
October 16, 2008 19:39 PM
By Tham Choy Lin
NANJING, Oct 16 (Bernama) -- Sentiment was bearish at the Malaysia-China Palm Oil Seminar 2008 which opened here Thursday as Asian stock markets and crude oil price took another dive in heightened fears of a global recession following poor retail sales numbers from the United States.
Traders attending the two-day seminar came largely to get a better grip of fluctuating prices and the direction of China, the world's largest oils and fats consumer and a key importer of Malaysian palm oil.
Malaysia Palm Oil Council (MPOC) chief executive officer Tan Sri Dr Yusof Basiron, an industry veteran, was sanguine of the outlook for palm oil which had dipped below RM1,800 per tonne.
"The price outlook is very much linked to petroluem prices, that's out of our control but what we can do is to manage the price volatility and supply equation. Once the supply expansion gets back to normal rate, it is a factor of time before the market corrects itself," he told Bernama on the sidelines of the seminar.
The Malaysian government will consider on Oct 21 a proposal to blend up to five percent of palm oil with diesel for use by public transport to shore up the price which has nosedived from a record of over RM4000 per tonne in March to less than half.
Yusof said if approved, the move would trim the country's current palm oil stock of 1.92 million tonnes by between 200,000 tonnes to 5000,000 tonnes.
"This will create a new demand for palm oil and it will offset any big shocks developing and stabilise prices. Before this, our palm oil was not used much for biodiesel and it tends to be traded at a discount even to petroluem," he said.
A commodity broker, who declined to be named, said that the market was leaning towards more downside.
"Consumers are standing on the sidelines and over the past few months, I have not sealed any significant contracts," he said.
Tracing the downward spiral, Martin Bek-Nielsen, executive director of United Plantations Bhd, among Malaysia's industry giants, said the build-up of palm oil stocks, to reach 2.2 million tonnes, from high production this year, had led to concerns that the high prices could not be sustained.
Adding to the pressure was the appreciation of the US dollar, falling price of crude oil and now, the international financial crisis which clipped the possibility of a sustaining level or a rebound after falling through the RM2,000 mark.
"The financial crisis and meltdown of the stock markets has instill such a fear in the minds of people, hedge funds were slaughtered and the general market sentiment is so bearish," Bek-Nielsen said.
He said the crisis had dashed the possibility of the price returning to a sustainable level or by now, a rebound after falling through the RM2,000 mark.
With Wednesday's closing price of RM1,749 and the limit down on soy oil trading, Bek-Nielsen said the price may shed further to the RM1,600 region and he expects it would eventually improved in light of a downturn in supply following the high production this year.
But it would take it another half or one year to see another big appreciation, he said.
"At the end of the day if the financial crisis is as bad as people anticipate, we should be in a period of low price levels until the world economy show signs of improvement," he added.
The seminar, held for the second time since 2006, is organised in tandem with the China International Conference of Seed Crushers.
Nineteen Malaysian companies, including industry players like Sime Darby and Felda, as well as Bursa Malaysia, which is the benchmark in palm oil futures, are taking part.
-- BERNAMA
source: bernama.com.my
By Tham Choy Lin
NANJING, Oct 16 (Bernama) -- Sentiment was bearish at the Malaysia-China Palm Oil Seminar 2008 which opened here Thursday as Asian stock markets and crude oil price took another dive in heightened fears of a global recession following poor retail sales numbers from the United States.
Traders attending the two-day seminar came largely to get a better grip of fluctuating prices and the direction of China, the world's largest oils and fats consumer and a key importer of Malaysian palm oil.
Malaysia Palm Oil Council (MPOC) chief executive officer Tan Sri Dr Yusof Basiron, an industry veteran, was sanguine of the outlook for palm oil which had dipped below RM1,800 per tonne.
"The price outlook is very much linked to petroluem prices, that's out of our control but what we can do is to manage the price volatility and supply equation. Once the supply expansion gets back to normal rate, it is a factor of time before the market corrects itself," he told Bernama on the sidelines of the seminar.
The Malaysian government will consider on Oct 21 a proposal to blend up to five percent of palm oil with diesel for use by public transport to shore up the price which has nosedived from a record of over RM4000 per tonne in March to less than half.
Yusof said if approved, the move would trim the country's current palm oil stock of 1.92 million tonnes by between 200,000 tonnes to 5000,000 tonnes.
"This will create a new demand for palm oil and it will offset any big shocks developing and stabilise prices. Before this, our palm oil was not used much for biodiesel and it tends to be traded at a discount even to petroluem," he said.
A commodity broker, who declined to be named, said that the market was leaning towards more downside.
"Consumers are standing on the sidelines and over the past few months, I have not sealed any significant contracts," he said.
Tracing the downward spiral, Martin Bek-Nielsen, executive director of United Plantations Bhd, among Malaysia's industry giants, said the build-up of palm oil stocks, to reach 2.2 million tonnes, from high production this year, had led to concerns that the high prices could not be sustained.
Adding to the pressure was the appreciation of the US dollar, falling price of crude oil and now, the international financial crisis which clipped the possibility of a sustaining level or a rebound after falling through the RM2,000 mark.
"The financial crisis and meltdown of the stock markets has instill such a fear in the minds of people, hedge funds were slaughtered and the general market sentiment is so bearish," Bek-Nielsen said.
He said the crisis had dashed the possibility of the price returning to a sustainable level or by now, a rebound after falling through the RM2,000 mark.
With Wednesday's closing price of RM1,749 and the limit down on soy oil trading, Bek-Nielsen said the price may shed further to the RM1,600 region and he expects it would eventually improved in light of a downturn in supply following the high production this year.
But it would take it another half or one year to see another big appreciation, he said.
"At the end of the day if the financial crisis is as bad as people anticipate, we should be in a period of low price levels until the world economy show signs of improvement," he added.
The seminar, held for the second time since 2006, is organised in tandem with the China International Conference of Seed Crushers.
Nineteen Malaysian companies, including industry players like Sime Darby and Felda, as well as Bursa Malaysia, which is the benchmark in palm oil futures, are taking part.
-- BERNAMA
source: bernama.com.my
Thursday, October 16, 2008
Palm oil mill fined RM10,000 for discharging toxic effluents into river
Bernama
The Sessions Court here yesterday imposed a fine of RM10,000 on a palm oil mill located in Jalan Ayer Tawar, Manjung, about 70km from here, for discharging toxic effluents into a river nearby the mill on Sept 19, 2007.
Judge Tan Hooi Leng castigated Pantai Remis Palm Oil Mill Sdn Bhd for not adhering to Department of Environment (DOE) regulations in causing pollution in the river.
The mill’s owners were charged under Section 16(1) of Environmental Quality Act 1974 for the offence and could have been fined a maximum of RM25,000 or jailed not more than two years of both.
The prosecution was conducted by Perak DOE prosecuting officer Thamara Selvam a/l Vyapuri.
source: nst.com.my
The Sessions Court here yesterday imposed a fine of RM10,000 on a palm oil mill located in Jalan Ayer Tawar, Manjung, about 70km from here, for discharging toxic effluents into a river nearby the mill on Sept 19, 2007.
Judge Tan Hooi Leng castigated Pantai Remis Palm Oil Mill Sdn Bhd for not adhering to Department of Environment (DOE) regulations in causing pollution in the river.
The mill’s owners were charged under Section 16(1) of Environmental Quality Act 1974 for the offence and could have been fined a maximum of RM25,000 or jailed not more than two years of both.
The prosecution was conducted by Perak DOE prosecuting officer Thamara Selvam a/l Vyapuri.
source: nst.com.my
Renewed selling of blue chips drags down KLCI
Thursday October 16, 2008
By IZWAN IDRIS and YVONNE TAN
PETALING JAYA: Stocks on Bursa Malaysia tumbled yesterday, dragged down by renewed sell-off on blue-chip firms like KNM Group Bhd and IOI Corp Bhd amid worries that falling commodity prices and weaker global growth outlook will hurt earnings.
The KL Composite Index dropped 16.18 points, or 1.7%, to 949.88 points yesterday, which also reflected declines in other regional markets. In Hong Kong, the benchmark Hang Seng index was down 5% and stocks in Singapore fell 3.2%.
Almost all major markets in Asia were lower with shares in South Korea down 2%, while Australian stocks lost 0.8%. In Indonesia, the Jakarta Composite Index retreated 2.2%.
Shares in Japan reversed early losses to end up 1%, rising on the back of a massive 14% jump on Tuesday.
“Investors are pricing in a much slower earnings growth next year,’’ said a fund manager at a local asset management firm.
“Concerns over global recession weigh heavily on the market and this will limit stocks’ upside potential in the near term,” he added.
Shares in KNM, one of the country’s biggest oil and gas fabricators, plunged 21.5 sen, or 24%, yesterday to 69 sen with 154 million shares transacted.
Yesterday’s market volume was 572 million shares.
Analysts said the huge sell-down on KNM was partly due to worries the company was facing a tougher operating environment owing to falling crude oil prices.
Filings with Bursa Malaysia showed the group’s major shareholders, including foreign funds, had aggressively trimmed down their holdings in KNM in recent weeks.
Crude oil in New York yesterday fell to below US$77 per barrel on concerns demand would falter as the financial crisis crippled global economic growth. The crude oil price had plummeted 47% from its peak of US$147 per barrel three months ago.
KNM told Bursa Malaysia yesterday it had accepted Malayan Banking Bhd’s (Maybank) offer of a three-year term loan worth 150 million euros to settle the bridging loan granted by Maybank for the acquisition of German-based Borsig GmbH.
The takeover was completed on June 6.
Meanwhile, IOI Corp’s share price hit a new two-year low yesterday, down 16 sen, or 4.5%, at RM3.36. It was the second most heavily-traded stock after KNM with 23.39 million shares changing hands.
Shares in IOI Corp, along with big palm oil producers like Sime Darby Bhd and Kuala Lumpur Kepong Bhd, have been under pressure in the past months on declining crude plam oil (CPO) prices.
On Bursa Derivatives, the benchmark third-month contract for CPO fell RM107 to RM1,743 per tonne €“ its lowest since mid-November 2006. Palm oil prices have fallen 43% year-to-date.
Another big loser was Public Bank Bhd, which saw its share price fall 15 sen, or 1.7%, to RM8.90.
Public Bank, currently the biggest bank in terms of market value, said on Tuesday its third-quarter net profit rose 13%, but added that the operating environment would be “more challenging” in the coming months as the local economy was expected to soften in the last quarter and in 2009.
The market will also keep an eye on Tenaga Nasional Bhd today, which is expected to release its results for the financial year ended Aug 31 after the stock market closes.
source: biz.thestar.com.my
By IZWAN IDRIS and YVONNE TAN
PETALING JAYA: Stocks on Bursa Malaysia tumbled yesterday, dragged down by renewed sell-off on blue-chip firms like KNM Group Bhd and IOI Corp Bhd amid worries that falling commodity prices and weaker global growth outlook will hurt earnings.
The KL Composite Index dropped 16.18 points, or 1.7%, to 949.88 points yesterday, which also reflected declines in other regional markets. In Hong Kong, the benchmark Hang Seng index was down 5% and stocks in Singapore fell 3.2%.
Almost all major markets in Asia were lower with shares in South Korea down 2%, while Australian stocks lost 0.8%. In Indonesia, the Jakarta Composite Index retreated 2.2%.
Shares in Japan reversed early losses to end up 1%, rising on the back of a massive 14% jump on Tuesday.
“Investors are pricing in a much slower earnings growth next year,’’ said a fund manager at a local asset management firm.
“Concerns over global recession weigh heavily on the market and this will limit stocks’ upside potential in the near term,” he added.
Shares in KNM, one of the country’s biggest oil and gas fabricators, plunged 21.5 sen, or 24%, yesterday to 69 sen with 154 million shares transacted.
Yesterday’s market volume was 572 million shares.
Analysts said the huge sell-down on KNM was partly due to worries the company was facing a tougher operating environment owing to falling crude oil prices.
Filings with Bursa Malaysia showed the group’s major shareholders, including foreign funds, had aggressively trimmed down their holdings in KNM in recent weeks.
Crude oil in New York yesterday fell to below US$77 per barrel on concerns demand would falter as the financial crisis crippled global economic growth. The crude oil price had plummeted 47% from its peak of US$147 per barrel three months ago.
KNM told Bursa Malaysia yesterday it had accepted Malayan Banking Bhd’s (Maybank) offer of a three-year term loan worth 150 million euros to settle the bridging loan granted by Maybank for the acquisition of German-based Borsig GmbH.
The takeover was completed on June 6.
Meanwhile, IOI Corp’s share price hit a new two-year low yesterday, down 16 sen, or 4.5%, at RM3.36. It was the second most heavily-traded stock after KNM with 23.39 million shares changing hands.
Shares in IOI Corp, along with big palm oil producers like Sime Darby Bhd and Kuala Lumpur Kepong Bhd, have been under pressure in the past months on declining crude plam oil (CPO) prices.
On Bursa Derivatives, the benchmark third-month contract for CPO fell RM107 to RM1,743 per tonne €“ its lowest since mid-November 2006. Palm oil prices have fallen 43% year-to-date.
Another big loser was Public Bank Bhd, which saw its share price fall 15 sen, or 1.7%, to RM8.90.
Public Bank, currently the biggest bank in terms of market value, said on Tuesday its third-quarter net profit rose 13%, but added that the operating environment would be “more challenging” in the coming months as the local economy was expected to soften in the last quarter and in 2009.
The market will also keep an eye on Tenaga Nasional Bhd today, which is expected to release its results for the financial year ended Aug 31 after the stock market closes.
source: biz.thestar.com.my
Wednesday, October 15, 2008
Harga Produk Pertanian Berjatuhan
Rabu, 15 Oktober 2008 01:19 WIB
ANDREAS MARYOTO
Hanya dalam hitungan bulan mimpi indah para investor untuk meraup untung besar dengan menanam uang di bisnis pertanian, terutama perkebunan, terhenti untuk waktu yang belum jelas. Krisis keuangan global sudah mulai berdampak pada perdagangan komoditas pertanian.
Harga komoditas seperti jagung, kedelai, gula, dan gandum telah turun setelah pasar memperkirakan dalam beberapa bulan ke depan akan terjadi penurunan permintaan. Harga minyak sawit mentah (CPO) yang sudah turun dipastikan akan makin tertekan.
Pasar komoditas dunia dikabarkan tidak terpengaruh oleh upaya-upaya yang dilakukan AS dalam menangani krisis keuangan. Investor merespons situasi ini dengan berjaga-jaga, salah satunya mengurangi permintaan sejumlah komoditas itu untuk beberapa bulan ke depan.
Harga jagung di Chicago Board of Trade untuk pengiriman Desember telah turun 6,61 persen (menjadi 4,24 dollar AS per gantang). Harga jagung turun menyusul penurunan permintaan komoditas itu untuk etanol. Penurunan produksi etanol terkait langsung dengan harga minyak yang juga turun.
Kecenderungan harga jagung yang turun akan memukul petani jagung di dalam negeri. Sejak dua tahun lalu petani bergairah menanam jagung karena harga yang terus membaik dari semula sekitar Rp 800 per kg menjadi Rp 2.600 per kg. Sejumlah pemodal besar juga memasuki bisnis ini karena sejak semula bisnis jagung diduga akan terus membaik seiring dengan kenaikan harga minyak.
Proyeksi produksi jagung yang memperkirakan produksi akan naik dipastikan makin menekan harga jagung. Departemen Pertanian AS (USDA) dalam proyeksi produksi jagung di AS yang terbaru menyebutkan, perkiraan produksi tahun ini mencapai 12,2 miliar gantang. Angka ini lebih tinggi dibanding proyeksi sebelumnya yang hanya sekitar 12,1 miliar gantang.
USDA sudah mengingatkan soal kemungkinan penurunan harga akibat kenaikan pasokan. Meski demikian, mekanisme pengendalian harga yang dilakukan AS dalam membantu petani mungkin masih bisa mencegah kejatuhan drastis harga jagung.
Harga gula juga mengalami penurunan drastis. Di bursa London (LIFFE) harga gula (white sugar) pada Agustus mencapai puncak mendekati 440 dollar AS per ton, tetapi pada akhir pekan lalu anjlok di bawah 340 dollar AS per ton.
Saat ini Indonesia masih tergantung pada gula impor, maka penurunan harga turut menekan harga gula produksi di dalam negeri. Kemungkinan penyelundupan gula perlu diwaspadai karena harga gula impor menjadi sangat murah. Harga di dalam negeri saat ini sekitar Rp 5.000 per kg. Dengan harga di London setinggi itu, ada insentif besar untuk menyelundupkan gula ke dalam negeri.
Harga gandum turun 7,03 persen (5,95 dollar AS per gantang). Harga gandum meski mengalami penurunan tidak langsung akan menurunkan harga terigu dan juga produk turunannya secara langsung di dalam negeri. Kalangan produsen biasanya menunggu hingga harga stabil, baru mereka menyesuaikan harga penjualan.
Harga kedelai untuk pengiriman November turun 7,06 persen (9,22 dollar AS per gantang). Harga kedelai yang turun akan menurunkan harga kedelai di dalam negeri. Hal ini karena sebagian besar kebutuhan kedelai di dalam negeri diimpor. Meski demikian, penurunan harga produk asal kedelai seperti tahu dan tempe tidak akan cepat terjadi.
Kenaikan produksi kedelai juga diperkirakan terjadi pada tahun ini sehingga akan menekan harga kedelai di tengah tekanan akibat penurunan permintaan karena krisis finansial itu. Perkiraan produksi kedelai terbaru di AS naik dari 2,93 miliar gantang ke 2,98 miliar gantang.
Untuk harga CPO yang telah menurun sejak beberapa bulan lalu diperkirakan juga kembali turun karena untuk saat ini harga CPO juga sangat terkait dengan harga minyak. Ketika harga minyak dunia turun, harga CPO juga akan turun. Pada Maret lalu harga CPO di bursa Kuala Lumpur, Malaysia, mencapai 3.695 RM (ringgit Malaysia) per ton, tetapi menjadi 2.347 RM per ton pada akhir September lalu.
Sindikat internasional
Jadi, sebelum krisis finansial harga CPO telah menurun. Informasi dari kalangan produsen CPO menyebutkan adanya sindikat internasional yang diduga mendorong kenaikan harga CPO hingga menarik para investor untuk masuk ke bisnis ini sejak beberapa waktu lalu. Harga yang menjulang menjadikan pemilik modal yang tidak tahu-menahu dengan kelapa sawit berlarian menanamkan modal ke perkebunan sawit.
Ketika mereka beramai-ramai masuk, perangkap sindikat ini dimainkan. Harga CPO mulai diturunkan sehingga investor yang sudah terlibat dengan utang perbankan bersiap-siap keluar dari bisnis kelapa sawit. Sindikasi inilah yang nantinya ”mengurus” utang dan juga aset-aset milik investor dadakan itu. Pada saatnya nanti, sindikasi ini menguasai bisnis kelapa sawit secara besar-besaran.
Mempercepat kejatuhan
Krisis finansial yang disertai dengan penurunan permintaan CPO dipastikan makin mempercepat jatuhnya aset perkebunan kelapa sawit ke tangan sindikasi ini karena harga jual CPO makin tak menarik lagi. Harga sawit yang makin murah menjadikan investor dadakan tak lagi berniat meneruskan bisnis.
Sindikasi itu yang berpikir jangka panjang dengan senang hati menolong para investor ini, dengan mengucurkan dana. Namun, kelak mereka menjadi raja bisnis kelapa sawit karena telah menguasai aset perkebunan di berbagai tempat. Meski demikian, keberadaan sindikasi ini sulit dideteksi. Dugaan itu hingga sekarang juga sulit dibuktikan dan tetap menjadi rumor.
Indonesia perlu mencermati secara khusus perkembangan harga komoditas di pasar dunia karena sejumlah komoditas itu terkait langsung dengan industri dan juga nasib petani di Indonesia. Sayangnya, dibandingkan dengan negara lain, Indonesia relatif ”tenang-tenang saja” menangani masalah ini.
Negara tetangga Malaysia sudah sejak awal memantau perkembangan ini dan berusaha mencari cara untuk menekan dampak penurunan itu. Malaysia meyakini dampak penurunan harga yang paling membahayakan adalah kerugian besar yang harus ditanggung petani. Mereka telah memperkirakan dampak sosial ekonomi penurunan harga komoditas akan menyulitkan mereka.
Source :http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/15/01192860/harga.produk.pertanian.
berjatuhan
ANDREAS MARYOTO
Hanya dalam hitungan bulan mimpi indah para investor untuk meraup untung besar dengan menanam uang di bisnis pertanian, terutama perkebunan, terhenti untuk waktu yang belum jelas. Krisis keuangan global sudah mulai berdampak pada perdagangan komoditas pertanian.
Harga komoditas seperti jagung, kedelai, gula, dan gandum telah turun setelah pasar memperkirakan dalam beberapa bulan ke depan akan terjadi penurunan permintaan. Harga minyak sawit mentah (CPO) yang sudah turun dipastikan akan makin tertekan.
Pasar komoditas dunia dikabarkan tidak terpengaruh oleh upaya-upaya yang dilakukan AS dalam menangani krisis keuangan. Investor merespons situasi ini dengan berjaga-jaga, salah satunya mengurangi permintaan sejumlah komoditas itu untuk beberapa bulan ke depan.
Harga jagung di Chicago Board of Trade untuk pengiriman Desember telah turun 6,61 persen (menjadi 4,24 dollar AS per gantang). Harga jagung turun menyusul penurunan permintaan komoditas itu untuk etanol. Penurunan produksi etanol terkait langsung dengan harga minyak yang juga turun.
Kecenderungan harga jagung yang turun akan memukul petani jagung di dalam negeri. Sejak dua tahun lalu petani bergairah menanam jagung karena harga yang terus membaik dari semula sekitar Rp 800 per kg menjadi Rp 2.600 per kg. Sejumlah pemodal besar juga memasuki bisnis ini karena sejak semula bisnis jagung diduga akan terus membaik seiring dengan kenaikan harga minyak.
Proyeksi produksi jagung yang memperkirakan produksi akan naik dipastikan makin menekan harga jagung. Departemen Pertanian AS (USDA) dalam proyeksi produksi jagung di AS yang terbaru menyebutkan, perkiraan produksi tahun ini mencapai 12,2 miliar gantang. Angka ini lebih tinggi dibanding proyeksi sebelumnya yang hanya sekitar 12,1 miliar gantang.
USDA sudah mengingatkan soal kemungkinan penurunan harga akibat kenaikan pasokan. Meski demikian, mekanisme pengendalian harga yang dilakukan AS dalam membantu petani mungkin masih bisa mencegah kejatuhan drastis harga jagung.
Harga gula juga mengalami penurunan drastis. Di bursa London (LIFFE) harga gula (white sugar) pada Agustus mencapai puncak mendekati 440 dollar AS per ton, tetapi pada akhir pekan lalu anjlok di bawah 340 dollar AS per ton.
Saat ini Indonesia masih tergantung pada gula impor, maka penurunan harga turut menekan harga gula produksi di dalam negeri. Kemungkinan penyelundupan gula perlu diwaspadai karena harga gula impor menjadi sangat murah. Harga di dalam negeri saat ini sekitar Rp 5.000 per kg. Dengan harga di London setinggi itu, ada insentif besar untuk menyelundupkan gula ke dalam negeri.
Harga gandum turun 7,03 persen (5,95 dollar AS per gantang). Harga gandum meski mengalami penurunan tidak langsung akan menurunkan harga terigu dan juga produk turunannya secara langsung di dalam negeri. Kalangan produsen biasanya menunggu hingga harga stabil, baru mereka menyesuaikan harga penjualan.
Harga kedelai untuk pengiriman November turun 7,06 persen (9,22 dollar AS per gantang). Harga kedelai yang turun akan menurunkan harga kedelai di dalam negeri. Hal ini karena sebagian besar kebutuhan kedelai di dalam negeri diimpor. Meski demikian, penurunan harga produk asal kedelai seperti tahu dan tempe tidak akan cepat terjadi.
Kenaikan produksi kedelai juga diperkirakan terjadi pada tahun ini sehingga akan menekan harga kedelai di tengah tekanan akibat penurunan permintaan karena krisis finansial itu. Perkiraan produksi kedelai terbaru di AS naik dari 2,93 miliar gantang ke 2,98 miliar gantang.
Untuk harga CPO yang telah menurun sejak beberapa bulan lalu diperkirakan juga kembali turun karena untuk saat ini harga CPO juga sangat terkait dengan harga minyak. Ketika harga minyak dunia turun, harga CPO juga akan turun. Pada Maret lalu harga CPO di bursa Kuala Lumpur, Malaysia, mencapai 3.695 RM (ringgit Malaysia) per ton, tetapi menjadi 2.347 RM per ton pada akhir September lalu.
Sindikat internasional
Jadi, sebelum krisis finansial harga CPO telah menurun. Informasi dari kalangan produsen CPO menyebutkan adanya sindikat internasional yang diduga mendorong kenaikan harga CPO hingga menarik para investor untuk masuk ke bisnis ini sejak beberapa waktu lalu. Harga yang menjulang menjadikan pemilik modal yang tidak tahu-menahu dengan kelapa sawit berlarian menanamkan modal ke perkebunan sawit.
Ketika mereka beramai-ramai masuk, perangkap sindikat ini dimainkan. Harga CPO mulai diturunkan sehingga investor yang sudah terlibat dengan utang perbankan bersiap-siap keluar dari bisnis kelapa sawit. Sindikasi inilah yang nantinya ”mengurus” utang dan juga aset-aset milik investor dadakan itu. Pada saatnya nanti, sindikasi ini menguasai bisnis kelapa sawit secara besar-besaran.
Mempercepat kejatuhan
Krisis finansial yang disertai dengan penurunan permintaan CPO dipastikan makin mempercepat jatuhnya aset perkebunan kelapa sawit ke tangan sindikasi ini karena harga jual CPO makin tak menarik lagi. Harga sawit yang makin murah menjadikan investor dadakan tak lagi berniat meneruskan bisnis.
Sindikasi itu yang berpikir jangka panjang dengan senang hati menolong para investor ini, dengan mengucurkan dana. Namun, kelak mereka menjadi raja bisnis kelapa sawit karena telah menguasai aset perkebunan di berbagai tempat. Meski demikian, keberadaan sindikasi ini sulit dideteksi. Dugaan itu hingga sekarang juga sulit dibuktikan dan tetap menjadi rumor.
Indonesia perlu mencermati secara khusus perkembangan harga komoditas di pasar dunia karena sejumlah komoditas itu terkait langsung dengan industri dan juga nasib petani di Indonesia. Sayangnya, dibandingkan dengan negara lain, Indonesia relatif ”tenang-tenang saja” menangani masalah ini.
Negara tetangga Malaysia sudah sejak awal memantau perkembangan ini dan berusaha mencari cara untuk menekan dampak penurunan itu. Malaysia meyakini dampak penurunan harga yang paling membahayakan adalah kerugian besar yang harus ditanggung petani. Mereka telah memperkirakan dampak sosial ekonomi penurunan harga komoditas akan menyulitkan mereka.
Source :http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/15/01192860/harga.produk.pertanian.
berjatuhan
Posted by
raprapmedan
at
Wednesday, October 15, 2008
0
comments
Labels:
CPO,
Malaysia,
Perkebunan,
Pertanian
Harga CPO dan TBS Terus Turun
Kamis, 25 September 2008
Laporan LISMAR SUMIRAT, Pekanbaru lismar-sumirat@riaupos.co.id Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya KABAR tak sedap bagi petani dan pengusaha kelapa sawit. Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit menjelang Idul Fitri justru kembali anjlok.
Sesuai keputusan rapat Tim Penetapan harga pembelian TBS kelapa sawit Provinsi Riau yang digelar Selasa (23/9) lalu, untuk TBS umur tanaman tiga tahun hanya Rp736,59 per kilogram, sedangkan TBS dari tanaman umur 10 tahun keatas Rp1.029,13.
‘’Harga CPO terus menurun. Kalau dulu per kilogram CPO bisa mencapai Rp7.000-8.000, sedangkan saat ini satu kilogram CPO hanya Rp4.798. Dari sini saja jelas, harga TBS sawit menjadi turun,’’ ungkap Kasubdin Pemasaran Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Feri Hc menjawab Riau Pos, kemarin.
Menurut Feri anjloknya harga TBS kelapa sawit disebabkan oleh tiga hal yakni suplai sawit yang sedang melimpah dari perkebunan di Indonesia dan Malaysia, permintaan pasar dunia yang juga berkurang dan panen bunga matahari dan kedelai di Eropa.
‘’Saat ini kita termasuk Malaysia sedang panen sawit. Sawit jadi melimpah, sedangkan permintaan tidak mengalami peningkatan. Ditambah lagi di Eropa saat ini musim kedelai dan bunga matahari yang juga diolah menjadi minyak goreng di negara-negara Eropa. Sehingga CPO kita jadi sulit menempus pasar internasional,’’ ulasnya lebih lanjut.
Secara rinci harga TBS umur tiga tahun adalah Rp736,59, empat tahun Rp822,65, lima tahun Rp880,65, enam tahun Rp906,14, tujuh tahun Rp940,75, delapan Rp970,07, sembilan tahun Rp1.001,17 dan umur sepuluh tahun ke atas adalah Rp1.029,13 per kilogram.
‘’Dari harga TBS sebelumnya turun sekitar Rp140,2 per kilogram. Kalau terus turun, kasihan petani sawit, bisa-bisa untuk menutup biaya pupuk saja tidak turun,’’imbuhnya. Feri mengaku tidak dapat berbuat banyak terkait kembali anjloknya harga TBS kelapa sawit di Riau. Apalagi harga TBS dipengaruhi oleh harga CPO. ‘’Kalau harga CPO anjlok, tentu harga sawit tetap anjlok. Rapat Tim Penetapan harga pembelian TBS kelapa sawit, juga berpedoman kepada harga CPO,’’ sebutnya.
Harga TBS kepala sawit diperkirakan akan terus anjlok hingga Oktober mendatang. ‘’Kemungkinan akhir tahun, harga sawit sudah kembali normal,’’katanya.
Penetapan harga jual TBS di Riau, dilakukan oleh sebuah tim penetapan harga yang difasilitasi oleh Dinas Perkebunan Riau, dimana tim terdiri dari sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit besar yang ada di Riau serta petani kelapa sawit yang tergabung dalam wadah koperasi. Tim inilah kemudian yang merumuskan besaran harga TBS dengan berpatokan pada harga CPO di pasaran internasional, dan harga TBS yag ditetapkan terus dilakukan evaluasi setiap dua minggu sekali.(fas)
Laporan LISMAR SUMIRAT, Pekanbaru lismar-sumirat@riaupos.co.id Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya KABAR tak sedap bagi petani dan pengusaha kelapa sawit. Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit menjelang Idul Fitri justru kembali anjlok.
Sesuai keputusan rapat Tim Penetapan harga pembelian TBS kelapa sawit Provinsi Riau yang digelar Selasa (23/9) lalu, untuk TBS umur tanaman tiga tahun hanya Rp736,59 per kilogram, sedangkan TBS dari tanaman umur 10 tahun keatas Rp1.029,13.
‘’Harga CPO terus menurun. Kalau dulu per kilogram CPO bisa mencapai Rp7.000-8.000, sedangkan saat ini satu kilogram CPO hanya Rp4.798. Dari sini saja jelas, harga TBS sawit menjadi turun,’’ ungkap Kasubdin Pemasaran Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Feri Hc menjawab Riau Pos, kemarin.
Menurut Feri anjloknya harga TBS kelapa sawit disebabkan oleh tiga hal yakni suplai sawit yang sedang melimpah dari perkebunan di Indonesia dan Malaysia, permintaan pasar dunia yang juga berkurang dan panen bunga matahari dan kedelai di Eropa.
‘’Saat ini kita termasuk Malaysia sedang panen sawit. Sawit jadi melimpah, sedangkan permintaan tidak mengalami peningkatan. Ditambah lagi di Eropa saat ini musim kedelai dan bunga matahari yang juga diolah menjadi minyak goreng di negara-negara Eropa. Sehingga CPO kita jadi sulit menempus pasar internasional,’’ ulasnya lebih lanjut.
Secara rinci harga TBS umur tiga tahun adalah Rp736,59, empat tahun Rp822,65, lima tahun Rp880,65, enam tahun Rp906,14, tujuh tahun Rp940,75, delapan Rp970,07, sembilan tahun Rp1.001,17 dan umur sepuluh tahun ke atas adalah Rp1.029,13 per kilogram.
‘’Dari harga TBS sebelumnya turun sekitar Rp140,2 per kilogram. Kalau terus turun, kasihan petani sawit, bisa-bisa untuk menutup biaya pupuk saja tidak turun,’’imbuhnya. Feri mengaku tidak dapat berbuat banyak terkait kembali anjloknya harga TBS kelapa sawit di Riau. Apalagi harga TBS dipengaruhi oleh harga CPO. ‘’Kalau harga CPO anjlok, tentu harga sawit tetap anjlok. Rapat Tim Penetapan harga pembelian TBS kelapa sawit, juga berpedoman kepada harga CPO,’’ sebutnya.
Harga TBS kepala sawit diperkirakan akan terus anjlok hingga Oktober mendatang. ‘’Kemungkinan akhir tahun, harga sawit sudah kembali normal,’’katanya.
Penetapan harga jual TBS di Riau, dilakukan oleh sebuah tim penetapan harga yang difasilitasi oleh Dinas Perkebunan Riau, dimana tim terdiri dari sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit besar yang ada di Riau serta petani kelapa sawit yang tergabung dalam wadah koperasi. Tim inilah kemudian yang merumuskan besaran harga TBS dengan berpatokan pada harga CPO di pasaran internasional, dan harga TBS yag ditetapkan terus dilakukan evaluasi setiap dua minggu sekali.(fas)
Posted by
raprapmedan
at
Wednesday, October 15, 2008
0
comments
Labels:
CPO,
Indonesia,
Internasional,
Malaysia,
Pekanbaru,
Riau Pos,
TBS
Harga Minyak Sawit Kembali Tertekan
Rabu, 15 Oktober 2008 13:51
Kapanlagi.com - Berbagai faktor yang mempengaruhi harga berjangka minyak kelapa sawit Malaysia, Rabu.
Harga berjangka minyak sawit Malaysia naik 0,82%, Selasa, melanjutkan rebound dari sehari sebelumnya, namun berakhir di bawah harga tertinggi karena kekhawatiran bahwa permintaan kembali melemah.
Harga kontrak patokan untuk Desember di Bursa berjangka produk turunan Malaysia naik 15 ringgit, atau 0,82% menjadi 1.850 ringgit per ton, di bawah harga tertinggi 1.902 ringgit pada awal perdagangan.
Sementara itu, harga berjangka kedelai di Bursa Komoditas di Chicago, Selasa malam, mengalami penurunan dan ditutup di bawah US$9 per gantang untuk pertama kalinya di tahun ini. Penurunan karena adanya kekhawatiran pelambatan perekonomian dunia yang membuat permintaan komoditas ini terbatas.
Pada Desember, kedelai ditutup US$9,20 per ton lebih rendah menjadi US$247,50. Untuk periode yang sama, minyak kedelai ditutup 1,21 per lb lebih rendah menjadi 38 sen. (*/meg)
Kapanlagi.com - Berbagai faktor yang mempengaruhi harga berjangka minyak kelapa sawit Malaysia, Rabu.
Harga berjangka minyak sawit Malaysia naik 0,82%, Selasa, melanjutkan rebound dari sehari sebelumnya, namun berakhir di bawah harga tertinggi karena kekhawatiran bahwa permintaan kembali melemah.
Harga kontrak patokan untuk Desember di Bursa berjangka produk turunan Malaysia naik 15 ringgit, atau 0,82% menjadi 1.850 ringgit per ton, di bawah harga tertinggi 1.902 ringgit pada awal perdagangan.
Sementara itu, harga berjangka kedelai di Bursa Komoditas di Chicago, Selasa malam, mengalami penurunan dan ditutup di bawah US$9 per gantang untuk pertama kalinya di tahun ini. Penurunan karena adanya kekhawatiran pelambatan perekonomian dunia yang membuat permintaan komoditas ini terbatas.
Pada Desember, kedelai ditutup US$9,20 per ton lebih rendah menjadi US$247,50. Untuk periode yang sama, minyak kedelai ditutup 1,21 per lb lebih rendah menjadi 38 sen. (*/meg)
Posted by
raprapmedan
at
Wednesday, October 15, 2008
0
comments
Labels:
Malaysia,
Minyak Kelapa Sawit
Subscribe to:
Posts (Atom)