Rabu, 12/11/2008
PEKANBARU: Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit dan minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO) di Provinsi Riau mengalami kenaikan.
Tim Penetapan Harga Kelapa Sawit di Dinas Perkebunan Provinsi Riau kemarin menyatakan harga TBS pada awal pekan kedua bulan November naik menjadi Rp865,93 per kilogram untuk usia pohon 10 tahun dan Rp619,27 per kg untuk usia pohon 3 tahun.
Sebelumnya harga TBS usia 10 tahun mencapai Rp766,88 per kg, dan kondisi ini merupakan kenaikan pertama sejak harga sawit anjlok. Untuk harga TBS petani nonmitra perusahaan (swadaya), yang sebelumnya sempat mencapai Rp250-Rp300 per kg, kini juga mulai menguat ke harga Rp500 per Kg.
Harga CPO terus naik dan kini Rp4.420,2 per kg. Kenaikan tersebut terus memperbaiki harga CPO lokal yang sejak awal bulan ini sudah mulai menguat dengan harga Rp3.848,02per kg. (Antara)
source: bisnis.com
Showing posts with label TBS. Show all posts
Showing posts with label TBS. Show all posts
Wednesday, November 12, 2008
Thursday, November 6, 2008
TBS Sawit Sentuh Rp 680/Kg
Jumat, 07-11-2008
*bambang s
MedanBisnis – Medan
Setelah dirundung kelabu akibat anjloknya harga tandan buah segar (TBS) sampai ke titik terendah, para petani sawit di sejumlah daerah di Sumatera Utara sedikit agak sumringah, karena hasil panenan sawit mereka mulai direspon pasar.
Meski kenaikannya masih jauh dari harga layak jual yang sempat dinikmati petani, tapi yang jelas harga TBS mulai menggeliat bergerak naik. Harga penjualan di tingkat petani ke pabrik kelapa sawit (PKS) seperti yang dipantau MedanBisnis, memang belum merata.
Hingga kemarin, harga transaksi (dari petani melalui pedagang pengumpul ke PKS) tertinggi terjadi di Tebingtinggi (Sumut). PKS PT Paya Pinang, salah satu perkebunan swasta tertua dan memiliki perkebunan sawit seluas 4.000 hektar di kabupaten tersebut, mencatat harga pembelian TBS tertinggi, yakni Rp 680 per kg.
Transaksi harga TBS tersebut, menunjukkan terjadinya pergeseran harga buah sawit, yang sejak tiga bulan terakhir ini, tak bergeming di seputaran Rp 250 – Rp 300 per kg. “Mudah-mudahan, harga (pembelian) di PKS ini bisa bertahan. Kalau mungkin bisa naik lagi,” harap Haris, salah seorang pedagang pengumpul yang kerap memasok sawit ke PKS tersebut.
Kenaikan sawit juga terjadi di beberapa PKS baik milik badan usaha milik negara (BUMN) maupun swasta. Seperti PKS Adolina milik PTPN-4 di Kabupaten Serdang Bedagei, kemarin juga bergerak naik berkisar antara Rp 580 – Rp 590 per kg. Dua pekan lalu, harga TBS di PKS tersebut masih bertahan di harga paling rendah, Rp 250 per kg.
Di Kabupaten Padang Lawas, yang kini mengklaim sebagai salah satu kabupaten paling banyak dihuni perkebunan berskala besar, harga TBS sawitnya bervariasi. PT Torganda, salah satu perkebunan kelapa sawit paling luas di kabupaten tersebut, melakukan pembelian berkisar Rp 580 per kg.
Dilaporkan dari perbatasan Sumut – Riau, tepatnya di Baganbatu, lokasi terkonsentrasinya perkebunan kelapa sawit, harga TBS justru belum terkatrol, masih antara Rp 480 – Rp 490 per kg.
*bambang s
MedanBisnis – Medan
Setelah dirundung kelabu akibat anjloknya harga tandan buah segar (TBS) sampai ke titik terendah, para petani sawit di sejumlah daerah di Sumatera Utara sedikit agak sumringah, karena hasil panenan sawit mereka mulai direspon pasar.
Meski kenaikannya masih jauh dari harga layak jual yang sempat dinikmati petani, tapi yang jelas harga TBS mulai menggeliat bergerak naik. Harga penjualan di tingkat petani ke pabrik kelapa sawit (PKS) seperti yang dipantau MedanBisnis, memang belum merata.
Hingga kemarin, harga transaksi (dari petani melalui pedagang pengumpul ke PKS) tertinggi terjadi di Tebingtinggi (Sumut). PKS PT Paya Pinang, salah satu perkebunan swasta tertua dan memiliki perkebunan sawit seluas 4.000 hektar di kabupaten tersebut, mencatat harga pembelian TBS tertinggi, yakni Rp 680 per kg.
Transaksi harga TBS tersebut, menunjukkan terjadinya pergeseran harga buah sawit, yang sejak tiga bulan terakhir ini, tak bergeming di seputaran Rp 250 – Rp 300 per kg. “Mudah-mudahan, harga (pembelian) di PKS ini bisa bertahan. Kalau mungkin bisa naik lagi,” harap Haris, salah seorang pedagang pengumpul yang kerap memasok sawit ke PKS tersebut.
Kenaikan sawit juga terjadi di beberapa PKS baik milik badan usaha milik negara (BUMN) maupun swasta. Seperti PKS Adolina milik PTPN-4 di Kabupaten Serdang Bedagei, kemarin juga bergerak naik berkisar antara Rp 580 – Rp 590 per kg. Dua pekan lalu, harga TBS di PKS tersebut masih bertahan di harga paling rendah, Rp 250 per kg.
Di Kabupaten Padang Lawas, yang kini mengklaim sebagai salah satu kabupaten paling banyak dihuni perkebunan berskala besar, harga TBS sawitnya bervariasi. PT Torganda, salah satu perkebunan kelapa sawit paling luas di kabupaten tersebut, melakukan pembelian berkisar Rp 580 per kg.
Dilaporkan dari perbatasan Sumut – Riau, tepatnya di Baganbatu, lokasi terkonsentrasinya perkebunan kelapa sawit, harga TBS justru belum terkatrol, masih antara Rp 480 – Rp 490 per kg.
Penetapan Harga TBS Kelapa Sawit Diusulkan Tiap Minggu

Kamis, 6 November 2008 | 17:10 WIB
PONTIANAK, KAMIS - Periode penetapan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kalimantan Barat yang dilakukan tiap bulan, dinilai sangat memberatkan pengusaha perkebunan sawit manakala harga crude palm oil (CPO) di pasaran global anjlok. karena itu, Gabungan Pengusaha Perkebunan Indonesia (GPPI) Kalbar mengusulkan periode penetapan harga TBS diubah menjadi tiap minggu.
"Dengan harga CPO di pasar dunia yang fluktuatif seperti ini, seharusnya ada penyesuaian harga TBS tiap minggu sehingga industri pengolahan sawit bisa tetap berjalan meski harga CPO turun. Daerah lain seperti di Sumatera Utara sudah menerapkan penetapan harga TBS tiap pekan. Kalbar yang masih menetapkan harga TBS tiap bulan akan didorong untuk menetapkan harga TBS tiap pekan," kata Ketua GPPI Kalbar Ilham Sanusi.
Menurutnya, terakhir kali TBS di Kalbar ditetapkan bulan Oktober lalu. Harga TBS paling rendah untuk tanaman sawit berumur 3 tahun Rp 782,71 per kg, sedangkan harga TBS tertinggi untuk tanaman sawit 10-20 tahun Rp 1.063 per kg. Asumsi yang digunakan waktu itu adalah harga CPO masih berkisar Rp 5.211 tiap kg. Sementara harga CPO dalam dua pekan terakhir turun drastis hingga Rp 3.600 tiap kg.
Perusahaan pengolahaan CPO di Kalbar masih terikat untuk membeli TBS dengan harga Rp 1.063 tiap kg, sementara mereka hanya bisa menjual CPO Rp 3.600 tiap kg. Padahal untuk memproduksi 1 kg CPO dibutuhkan 5 kg TBS. Kondisi ini membuat industri pengolahan sawit terus merugi.
"Untuk menekan kerugian, 17 pabrik pengolahan CPO di Kalbar mengurangi produksinya tiap hari hingga separuh," katanya.
Dalam kondisi normal, kapasitas produksi CPO Kalbar tiap tahun berkisar 850.000 ton atau sekitar 2.300 ton per hari. Dengan pengurangan produksi hingga separuhnya, ini berarti produksi CPO Kalbar saat ini tingga 1.150 ton per hari.
Diakui Ilham, tidak semua TBS dari petani dibeli oleh pabrik. Jika petani sepakat dengan kemampuan beli dari pabrik, maka TBS milik petani itu dibeli. Jika petani tidak sepakat dengan harga itu, terpaksa pabrik tidak membelinya.
Penyesuaian harga TBS yang ditetapkan pemerintah daerah menjadi salah satu solusi agar TBS petani bisa terbeli dan industri pengolahan bisa tetap berjalan, katanya.
source: kompas.com
Wednesday, November 5, 2008
Harga tandan sawit mulai naik
Rabu, 05/11/2008
PADANG: Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit pada tingkat petani di Kabupaten Dharmasraya, salah satu sentra kebun kelapa sawit inti dan plasma di Sumatra Barat, sejak awal pekan ini mulai naik.
?
Asril, petani yang juga pengurus kelompok tani di sentra SP III Tiumang, Dharmasraya, Sumbar, menyebutkan posisi harga TBS petani plasma naik dari Rp550/kg menjadi Rp625/kg (Senin) dan kemarin naik lagi menjadi Rp650/kg.
Kenaikan harga TBS ini, katanya, karena petani menjual ke pabrik pengolahan minyak mentah PT Sumbar Andalas Kencana dengan adanya pola bapak angkat dengan petani plasma di daerah itu. Namun, bagi petani plasma yang menjual kepada pedagang pengumpul (tengkulak) atau ke industri lain, posisi harga tentu tak sebesar itu. (Antara)
source: bisnis.com
PADANG: Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit pada tingkat petani di Kabupaten Dharmasraya, salah satu sentra kebun kelapa sawit inti dan plasma di Sumatra Barat, sejak awal pekan ini mulai naik.
?
Asril, petani yang juga pengurus kelompok tani di sentra SP III Tiumang, Dharmasraya, Sumbar, menyebutkan posisi harga TBS petani plasma naik dari Rp550/kg menjadi Rp625/kg (Senin) dan kemarin naik lagi menjadi Rp650/kg.
Kenaikan harga TBS ini, katanya, karena petani menjual ke pabrik pengolahan minyak mentah PT Sumbar Andalas Kencana dengan adanya pola bapak angkat dengan petani plasma di daerah itu. Namun, bagi petani plasma yang menjual kepada pedagang pengumpul (tengkulak) atau ke industri lain, posisi harga tentu tak sebesar itu. (Antara)
source: bisnis.com
Tuesday, November 4, 2008
Anjloknya Harga TBS Tak Pengaruhi Sirkulasi Kredit di Tapteng, Sejumlah PKS Hentikan Kegiatan Ekspor CPO
Edisi Rabu, 5 November 2008
Pandan, (Analisa)
Anjloknya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Tapanuli Tengah hingga mengalami keruntuhan di level terendah yakni Rp200-300 per kilogram, hingga saat ini belum mempengaruhi proses pengembalian kredit di perbankan.
Hal tersebut diakui pimpinan PT. Bank Sumut cabang pembantu Pandan, Hotlan Gultom kepada Analisa, Selasa (4/11) di ruang kerjanya, kendati harga TBS kelapa sawit di daerah setempat ikut anjlok akibat imbas krisis ekonomi global yang melanda dunia saat ini, namun proses pengembalian kredit dari sejumlah petani selaku nasabah Bank Sumut cabang pembantu Pandan masih normal.
“Terhitung dari triwulan atau hingga akhir September 2008, Bank Sumut cabang pembantu Pandan telah menyalurkan dana kredit termasuk di antaranya untuk bidang pertanian dan perkebunan dengan total anggaran mencapai 80 miliar rupiah lebih, namun sampai saat ini, belum ada satupun nasabah kita yang menunggak angsuran kredit pinjaman yang digulirkan,” ungkap Hotlan.
Menurutnya, tidak semua petani kelapa sawit khususnya di sejumlah kecamatan di antaranya, Pandan, Tukka, Badiri, Pinangsori, Sibabangun dan Sukabangun Kabupaten Tapteng semata-mata menggantungkan hidupnya dari hasil kebun kelapa sawit yang dimiliki, melainkan ada usaha lain seperti pedagang, PNS maupun pengusaha swasta lainnya, sehingga masih bisa menutupi dan membayarkan kewajiban kreditnya di Bank.
Disamping itu, kata Hotlan, pada waktu nasabah ingin melakukan akad kredit, pihaknya selalu menganjurkan agar para nasabah tersebut bersedia menabung dan menyimpan uangnya di Bank Sumut untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan termasuk bertujuan sebagai salah satu langkah antisipasi kredit macet.
Sementara itu, salah seorang pemilik kebun kelapa sawit di Kecamatan Tukka, Tapteng, R br Siregar (48) saat ditemui secara terpisah mengaku, turut merasakan imbas dari anjloknya harga TBS yang terjadi hingga saat ini.
“Sejak harga TBS anjlok, kita sudah tidak pernah lagi menikmati hasil dari kebun kelapa sawit, karena hasil panen yang diperoleh, sudah tidak sebanding lagi dengan biaya produksi yang dikeluarkan,” ungkapnya.
Oleh karenanya, TBS sawit tersebut terpaksa direlakan dipanen sendiri oleh para pekerja yang selama ini menjaga dan merawat kebun kelapa sawitnya sebagai pengganti upah guna memenuhi kebutuhan hidup para pekerja. Sebab, jika TBS dibiarkan membusuk di pohon, dikhawatirkan akan merusak pohon dan akan mengganggu sirkulasi panen berikutnya, katanya.
Dia juga mengaku, selama membuka kebun sawit seluas 8 hektar lebih di Kecamatan Tukka, Tapteng, pihaknya tidak pernah menggunakan bantuan kredit dari perbankan, karena masih mampu membiayainya dari hasil usaha lain yang digeluti.
Bertahan Hidup
Berbeda dengan penderitaan yang dialami sejumlah petani yang berada di Kecamatan Manduamas dan Sirandorung yang baru-baru ini terpaksa menjual barang berharga miliknya seperti perhiasan emas, sepeda motor dan lainnya, hanya untuk mempertahankan hidup dan sekolah anaknya, akibat anjloknya harga TBS yang saat ini hanya bertengger di angka Rp180 – Rp300 per kilogram.
Dimana, para petani mengaku uang hasil penjualan perhiasan tersebut digunakan untuk membeli beras dan kebutuhan lainnya, sebab hasil penjualan dari kelapa sawit sudah tidak cukup lagi untuk kebutuhan sehari-hari.
Di waktu berbeda, Dirut PT Bintang Nauli Pratama, Dody Batubara kepada wartawan mengatakan, sejak harga TBS anjlok, operasional pabrik kelapa sawit (PKS) miliknya terpaksa diturunkan 50 persen menjadi 35-40 ton crude palm oil (CPO) per hari dari sebelumnya memproduksi 70-100 ton CPO per hari. Keseluruhan CPO tersebut hanya dapat dipasarkan ke pabrik pengolehan minyak goreng, sedangkan untuk kegiatan ekspor terpaksa dihentikan sementara waktu.
“Soalnya, harga TBS di tingkat petani di daerah setempat masih mengalami stagnasi di level Rp200 per kilogram, bahkan di tingkat pabrik, harganya hanya mencapai Rp400 per kilogram dari sebelumnya yang sempat bertahan di angka Rp500 per kilogram,” terangnya. (yan)
source: analisadaily.com
Pandan, (Analisa)
Anjloknya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Tapanuli Tengah hingga mengalami keruntuhan di level terendah yakni Rp200-300 per kilogram, hingga saat ini belum mempengaruhi proses pengembalian kredit di perbankan.
Hal tersebut diakui pimpinan PT. Bank Sumut cabang pembantu Pandan, Hotlan Gultom kepada Analisa, Selasa (4/11) di ruang kerjanya, kendati harga TBS kelapa sawit di daerah setempat ikut anjlok akibat imbas krisis ekonomi global yang melanda dunia saat ini, namun proses pengembalian kredit dari sejumlah petani selaku nasabah Bank Sumut cabang pembantu Pandan masih normal.
“Terhitung dari triwulan atau hingga akhir September 2008, Bank Sumut cabang pembantu Pandan telah menyalurkan dana kredit termasuk di antaranya untuk bidang pertanian dan perkebunan dengan total anggaran mencapai 80 miliar rupiah lebih, namun sampai saat ini, belum ada satupun nasabah kita yang menunggak angsuran kredit pinjaman yang digulirkan,” ungkap Hotlan.
Menurutnya, tidak semua petani kelapa sawit khususnya di sejumlah kecamatan di antaranya, Pandan, Tukka, Badiri, Pinangsori, Sibabangun dan Sukabangun Kabupaten Tapteng semata-mata menggantungkan hidupnya dari hasil kebun kelapa sawit yang dimiliki, melainkan ada usaha lain seperti pedagang, PNS maupun pengusaha swasta lainnya, sehingga masih bisa menutupi dan membayarkan kewajiban kreditnya di Bank.
Disamping itu, kata Hotlan, pada waktu nasabah ingin melakukan akad kredit, pihaknya selalu menganjurkan agar para nasabah tersebut bersedia menabung dan menyimpan uangnya di Bank Sumut untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan termasuk bertujuan sebagai salah satu langkah antisipasi kredit macet.
Sementara itu, salah seorang pemilik kebun kelapa sawit di Kecamatan Tukka, Tapteng, R br Siregar (48) saat ditemui secara terpisah mengaku, turut merasakan imbas dari anjloknya harga TBS yang terjadi hingga saat ini.
“Sejak harga TBS anjlok, kita sudah tidak pernah lagi menikmati hasil dari kebun kelapa sawit, karena hasil panen yang diperoleh, sudah tidak sebanding lagi dengan biaya produksi yang dikeluarkan,” ungkapnya.
Oleh karenanya, TBS sawit tersebut terpaksa direlakan dipanen sendiri oleh para pekerja yang selama ini menjaga dan merawat kebun kelapa sawitnya sebagai pengganti upah guna memenuhi kebutuhan hidup para pekerja. Sebab, jika TBS dibiarkan membusuk di pohon, dikhawatirkan akan merusak pohon dan akan mengganggu sirkulasi panen berikutnya, katanya.
Dia juga mengaku, selama membuka kebun sawit seluas 8 hektar lebih di Kecamatan Tukka, Tapteng, pihaknya tidak pernah menggunakan bantuan kredit dari perbankan, karena masih mampu membiayainya dari hasil usaha lain yang digeluti.
Bertahan Hidup
Berbeda dengan penderitaan yang dialami sejumlah petani yang berada di Kecamatan Manduamas dan Sirandorung yang baru-baru ini terpaksa menjual barang berharga miliknya seperti perhiasan emas, sepeda motor dan lainnya, hanya untuk mempertahankan hidup dan sekolah anaknya, akibat anjloknya harga TBS yang saat ini hanya bertengger di angka Rp180 – Rp300 per kilogram.
Dimana, para petani mengaku uang hasil penjualan perhiasan tersebut digunakan untuk membeli beras dan kebutuhan lainnya, sebab hasil penjualan dari kelapa sawit sudah tidak cukup lagi untuk kebutuhan sehari-hari.
Di waktu berbeda, Dirut PT Bintang Nauli Pratama, Dody Batubara kepada wartawan mengatakan, sejak harga TBS anjlok, operasional pabrik kelapa sawit (PKS) miliknya terpaksa diturunkan 50 persen menjadi 35-40 ton crude palm oil (CPO) per hari dari sebelumnya memproduksi 70-100 ton CPO per hari. Keseluruhan CPO tersebut hanya dapat dipasarkan ke pabrik pengolehan minyak goreng, sedangkan untuk kegiatan ekspor terpaksa dihentikan sementara waktu.
“Soalnya, harga TBS di tingkat petani di daerah setempat masih mengalami stagnasi di level Rp200 per kilogram, bahkan di tingkat pabrik, harganya hanya mencapai Rp400 per kilogram dari sebelumnya yang sempat bertahan di angka Rp500 per kilogram,” terangnya. (yan)
source: analisadaily.com
Posted by
raprapmedan
at
Tuesday, November 04, 2008
0
comments
Labels:
CPO,
Krisis Ekonomi Global,
Sumut,
TBS
Monday, November 3, 2008
Sawit Turun, Penjualan Pupuk Nol %
Senin, 03 November 2008
KOTA (RP) — Kian merosotnya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit bukan hanya dikeluhkan oleh petani, namun juga berdampak terhadap sepinya penjualan pupuk di tempat penjualan pupuk. Bahkan sebelum dan pasca-hari raya, pedagang pupuk nyaris sepi penjualan pupuk.
Seperti yang diungkapkan Drs H Zaidin Zam, salah seorang pedagang pupuk di Jalan HR Soebrantas Pekanbaru. Menurutnya penjualan pupuk sepi seiring kian merosotnya harga sawit.
‘’Sejak puasa hingga sekarang ini penjualan nol persen. Petani langganan biasanya pun tak datang-datang lagi, mungkin kesulitan keuangan sejak harga sawit merosot,’’ ujar pengusaha sukses ini.
Hal ini bisa dimakluminya, karena petani kesulitan keuangan akibat merosotnya harga sawit yang berdampak menurunnya daya beli petani.
‘’Petani sawit saat ini memang sedang kesulitan akibat menurunnya harga sawit. Bukan hanya tidak memakai pupuk, panen saja petani sudah malas. Bahkan ada suatu daerah seperti kita baca di koran, petaninya membiarkan sawit mereka busuk di pokok sawit,’’ sebutnya.
‘’Kalau dibandingkan sewaktu hari raya harga pupuk saat ini sedikit mengalami penurunan, tapi penurunan itu tetap tidak sesuai dengan harga penjualan sawit. Harga sawit tinggal Rp300, bahkan banyak petani yang milih tidak memanen kebun sawitnya. Akibatnya petani tak sanggup membeli pupuk,’’ sebut Caleg Partai Golkar untuk DPRD Riau dari Dapil Siak-Pelalawan tersebut.(mar)
source: riaupos.com
KOTA (RP) — Kian merosotnya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit bukan hanya dikeluhkan oleh petani, namun juga berdampak terhadap sepinya penjualan pupuk di tempat penjualan pupuk. Bahkan sebelum dan pasca-hari raya, pedagang pupuk nyaris sepi penjualan pupuk.
Seperti yang diungkapkan Drs H Zaidin Zam, salah seorang pedagang pupuk di Jalan HR Soebrantas Pekanbaru. Menurutnya penjualan pupuk sepi seiring kian merosotnya harga sawit.
‘’Sejak puasa hingga sekarang ini penjualan nol persen. Petani langganan biasanya pun tak datang-datang lagi, mungkin kesulitan keuangan sejak harga sawit merosot,’’ ujar pengusaha sukses ini.
Hal ini bisa dimakluminya, karena petani kesulitan keuangan akibat merosotnya harga sawit yang berdampak menurunnya daya beli petani.
‘’Petani sawit saat ini memang sedang kesulitan akibat menurunnya harga sawit. Bukan hanya tidak memakai pupuk, panen saja petani sudah malas. Bahkan ada suatu daerah seperti kita baca di koran, petaninya membiarkan sawit mereka busuk di pokok sawit,’’ sebutnya.
‘’Kalau dibandingkan sewaktu hari raya harga pupuk saat ini sedikit mengalami penurunan, tapi penurunan itu tetap tidak sesuai dengan harga penjualan sawit. Harga sawit tinggal Rp300, bahkan banyak petani yang milih tidak memanen kebun sawitnya. Akibatnya petani tak sanggup membeli pupuk,’’ sebut Caleg Partai Golkar untuk DPRD Riau dari Dapil Siak-Pelalawan tersebut.(mar)
source: riaupos.com
Saturday, November 1, 2008
TBS Sawit Membusuk,
Sabtu, 1 November 2008 | 03:00 WIB
Muara Enim, Kompas - Lebih dari 200 truk pengangkut tandan buah segar atau TBS kelapa sawit milik petani plasma di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, tertahan lima hari di kawasan pabrik kelapa sawit Suli milik PT Perkebunan Nusantara VII. Akibatnya, kualitas TBS menurun karena mulai busuk.
Bahkan, TBS kelapa sawit yang diangkut lebih dari 200 truk tersebut terancam terbuang percuma. Jika lewat tujuh hari setelah pemetikan, TBS sawit tidak bisa lagi diolah menjadi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).
Petani menduga penahanan pembelian sawit terjadi akibat dampak krisis yang menyebabkan harga CPO dunia anjlok.
Berdasarkan pantauan Jumat (31/10), antrean truk pengangkut sawit sekitar 2 kilometer tampak di sepanjang jalan Kecamatan Gunung Megang. Puluhan petugas satuan pengamanan (satpam) juga terlihat berjaga-jaga di pintu masuk.
Sebagian truk sawit antre dan tertahan selama lima hari karena tidak boleh masuk ke pabrik. Kondisi ini membuat petani khawatir mengalami kerugian karena buah sawit mereka busuk.
Sebagian petani di dekat pintu masuk bernegosiasi dengan satpam, tetapi tetap tidak boleh masuk. Sebagian petani yang kesal lalu memblokir pintu masuk pabrik dengan cara memarkir truk secara melintang. Ini dilakukan setelah petani melihat beberapa truk sawit dari perkebunan inti dibolehkan masuk ke pabrik.
Anggota kelompok petani plasma pabrik kelapa sawit (PKS) Suli, yang juga Ketua KUD Plasma Suli, Makmur Maryanto, mengatakan, situasi itu biasa terjadi saat harga jatuh atau permintaan turun seperti sekarang.
Rusak
Humas PTPN VII Sony Soediastanto mengatakan, antrean truk terjadi karena salah satu unit pengolahan sawit rusak. Akibatnya, stok sawit dari plasma yang masuk terpaksa tertahan.
Menurut Makmur, penolakan pembelian ini sudah berulang kali terjadi dan pernah dibahas Pemerintah Kabupaten serta DPRD Muara Enim.
Ketua Gabungan Perusahaan Perkebunan Sumsel Syamsir Syahbana mengatakan, PTPN VII wajib membeli semua buah sawit milik petani plasma maupun petani inti tanpa kecuali. Tertahannya truk pengangkut selama lima hari, menurut dia, akan membuat kualitas TBS turun. Bahkan jika hingga tujuh hari belum diolah, TBS sawit itu harus dibuang.
Dari Salatiga, Jawa Tengah, dilaporkan, anjloknya harga karet kelas satu jenis rubber smoke sheet (RSS) di pasar internasional tiga pekan ini membuat Perkebunan Getas Salatiga milik PTPN IX mengencangkan ikat pinggang. Administratur Perkebunan Getas Adhi Budi Kusumo, Jumat, mengatakan, harga karet RSS anjlok dari 3,2 dollar AS per kilogram menjadi 1,6 dollar AS per kg. (oni/wad/gal)
Muara Enim, Kompas - Lebih dari 200 truk pengangkut tandan buah segar atau TBS kelapa sawit milik petani plasma di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, tertahan lima hari di kawasan pabrik kelapa sawit Suli milik PT Perkebunan Nusantara VII. Akibatnya, kualitas TBS menurun karena mulai busuk.
Bahkan, TBS kelapa sawit yang diangkut lebih dari 200 truk tersebut terancam terbuang percuma. Jika lewat tujuh hari setelah pemetikan, TBS sawit tidak bisa lagi diolah menjadi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).
Petani menduga penahanan pembelian sawit terjadi akibat dampak krisis yang menyebabkan harga CPO dunia anjlok.
Berdasarkan pantauan Jumat (31/10), antrean truk pengangkut sawit sekitar 2 kilometer tampak di sepanjang jalan Kecamatan Gunung Megang. Puluhan petugas satuan pengamanan (satpam) juga terlihat berjaga-jaga di pintu masuk.
Sebagian truk sawit antre dan tertahan selama lima hari karena tidak boleh masuk ke pabrik. Kondisi ini membuat petani khawatir mengalami kerugian karena buah sawit mereka busuk.
Sebagian petani di dekat pintu masuk bernegosiasi dengan satpam, tetapi tetap tidak boleh masuk. Sebagian petani yang kesal lalu memblokir pintu masuk pabrik dengan cara memarkir truk secara melintang. Ini dilakukan setelah petani melihat beberapa truk sawit dari perkebunan inti dibolehkan masuk ke pabrik.
Anggota kelompok petani plasma pabrik kelapa sawit (PKS) Suli, yang juga Ketua KUD Plasma Suli, Makmur Maryanto, mengatakan, situasi itu biasa terjadi saat harga jatuh atau permintaan turun seperti sekarang.
Rusak
Humas PTPN VII Sony Soediastanto mengatakan, antrean truk terjadi karena salah satu unit pengolahan sawit rusak. Akibatnya, stok sawit dari plasma yang masuk terpaksa tertahan.
Menurut Makmur, penolakan pembelian ini sudah berulang kali terjadi dan pernah dibahas Pemerintah Kabupaten serta DPRD Muara Enim.
Ketua Gabungan Perusahaan Perkebunan Sumsel Syamsir Syahbana mengatakan, PTPN VII wajib membeli semua buah sawit milik petani plasma maupun petani inti tanpa kecuali. Tertahannya truk pengangkut selama lima hari, menurut dia, akan membuat kualitas TBS turun. Bahkan jika hingga tujuh hari belum diolah, TBS sawit itu harus dibuang.
Dari Salatiga, Jawa Tengah, dilaporkan, anjloknya harga karet kelas satu jenis rubber smoke sheet (RSS) di pasar internasional tiga pekan ini membuat Perkebunan Getas Salatiga milik PTPN IX mengencangkan ikat pinggang. Administratur Perkebunan Getas Adhi Budi Kusumo, Jumat, mengatakan, harga karet RSS anjlok dari 3,2 dollar AS per kilogram menjadi 1,6 dollar AS per kg. (oni/wad/gal)
Posted by
raprapmedan
at
Saturday, November 01, 2008
0
comments
Labels:
Gabungan Kelapa Sawit Indonesia,
TBS
Thursday, October 30, 2008
Harga TBS Kelapa Sawit Terus Anjlok
ekonomi
Rabu, 29 Oktober 2008 - 10:09 wib
MEDAN - Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit terpuruk hingga di bawah Rp200 per kg. Akibatnya, petani tidak memanen karena biaya operasional lebih tinggi.
Sekretaris Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumatera Utara (Sumut) Timbas Ginting mengatakan, penurunan harga minyak internasional menyeret harga kelapa sawit ke level terendah. Dengan kondisi ini, Pabrik Kelapa Sawit Tanpa Kebun (PKSTK) kini kesulitan bahan baku akibat tidak ada pasokan dari petani."Pabrik yang tidak memiliki kebun dan pabrik dengan 30 persen bahan baku dari rakyat kekurangan pasokan, karena banyak petani tidak melakukan panen," ujar Timbas di Medan.
Saat ini terdapat 21 PKSTK yang tersebar di Sumut yang bergantung pada pasokan bahan baku dari petani. Hanya pabrik kelapa sawit PTPN yang tidak menggunakan pasokan bahan baku dari hasil perkebunan rakyat. Dengan demikian, sebagian pabrik di Sumut masih membutuhkan pasokan dari petani, setidaknya 30 persen dari kapasitas produksi. Menurut dia, pemilik pabrik tidak mampu menaikkan harga sawit agar petani tetap melakukan panen.
Persoalannya, harga saat ini sudah sangat tipis dengan biaya produksi. "Pabrikan saat ini masih menghargai kelapa sawit pada kisaran Rp600-700 per kg. Sementara harga di tingkat petani ditentukan pengumpul atau lebih murah, karena dipotong biaya transportasi," jelas Timbas.
Dengan harga pabrik Rp600-700 per kg, harga TBS di tingkat petani akan bervariasi tergantung jarak dari pabrik. Harga bisa dibanderol mulai Rp300 ke bawah. Sekjen Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Asmar Arsyad mengatakan, harga impas (break even point/BEP) kelapa sawit petani setidaknya Rp400 per kg.
Jadi, wajar jika petani tidak memanen karena harga kelapa sawit di bawah Rp300 per kg.Apalagi lokasi kebun jauh dari jalan raya, maka TBS hanya dihargai Rp150 per kg. "Untuk biaya dodos (alat pemetik buah sawit) dan pemikulan ke pinggir jalan saja, harga Rp150 tidak cukup. Padahal, kebun sawit rakyat kebanyakan jauh dari pabrik,"ujarnya.
Luas perkebunan kelapa sawit rakyat mencapai sekitar 32 persen dari total luas perkebunan sawit di Sumut. Berdasarkan data 2007, luas perkebunan rakyat mencapai 354.044 ha, 302.241 ha milik PTPN, dan 436.970 ha milik perusahaan swasta.
Khaidir Aprin, 48, petani asal Asahan, mengatakan sebagian petani saat ini menyerahkan kelapa sawitnya untuk dipetik siapa saja tanpa dipungut bayaran."Sebab, jika tandan matang tidak diturunkan akan merusak tanaman kelapa sawit," katanya. Tindakan itu dilakukan warga yang memiliki kebun jauh dari pabrik. Meski sudah diserahkan begitu saja, tidak semua kelapa sawit dipanen, karena biaya pemetikan tidak sesuai lagi dengan harga jual.
Petani lainnya, Kamil, 50, warga Padang Lawas, menyatakan sudah dua pekan terakhir harga sawit mereka jual seharga Rp200 per kg. "Terpaksalah, karena harga kelapa sawit saat ini untuk biaya hidup saja tidak cukup," ujarnya.
Biodiesel
Sementara itu, pemerintah meminta produsen biodiesel segera meningkatkan kapasitas produksinya dengan menyerap sebanyak-banyaknya kelapa sawit yang kini sedang melimpah. Dirjen Migas Departemen ESDM Evita Legowo mengatakan, penurunan harga kelapa sawit belakangan ini membuat harga biodiesel akan semakin kompetitif.
"Pengusaha harus menangkap peluang ini," katanya. Apalagi, lanjutnya, PT Pertamina sudah berkomitmen menyerap secara maksimal produk biodiesel. Evita menambahkan, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri ESDM No32/ 2008 yang mewajibkan pemanfaatan bahan bakar nabati bagi industri. (sindo//rhs)
source: okezone.com
Rabu, 29 Oktober 2008 - 10:09 wib
MEDAN - Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit terpuruk hingga di bawah Rp200 per kg. Akibatnya, petani tidak memanen karena biaya operasional lebih tinggi.
Sekretaris Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumatera Utara (Sumut) Timbas Ginting mengatakan, penurunan harga minyak internasional menyeret harga kelapa sawit ke level terendah. Dengan kondisi ini, Pabrik Kelapa Sawit Tanpa Kebun (PKSTK) kini kesulitan bahan baku akibat tidak ada pasokan dari petani."Pabrik yang tidak memiliki kebun dan pabrik dengan 30 persen bahan baku dari rakyat kekurangan pasokan, karena banyak petani tidak melakukan panen," ujar Timbas di Medan.
Saat ini terdapat 21 PKSTK yang tersebar di Sumut yang bergantung pada pasokan bahan baku dari petani. Hanya pabrik kelapa sawit PTPN yang tidak menggunakan pasokan bahan baku dari hasil perkebunan rakyat. Dengan demikian, sebagian pabrik di Sumut masih membutuhkan pasokan dari petani, setidaknya 30 persen dari kapasitas produksi. Menurut dia, pemilik pabrik tidak mampu menaikkan harga sawit agar petani tetap melakukan panen.
Persoalannya, harga saat ini sudah sangat tipis dengan biaya produksi. "Pabrikan saat ini masih menghargai kelapa sawit pada kisaran Rp600-700 per kg. Sementara harga di tingkat petani ditentukan pengumpul atau lebih murah, karena dipotong biaya transportasi," jelas Timbas.
Dengan harga pabrik Rp600-700 per kg, harga TBS di tingkat petani akan bervariasi tergantung jarak dari pabrik. Harga bisa dibanderol mulai Rp300 ke bawah. Sekjen Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Asmar Arsyad mengatakan, harga impas (break even point/BEP) kelapa sawit petani setidaknya Rp400 per kg.
Jadi, wajar jika petani tidak memanen karena harga kelapa sawit di bawah Rp300 per kg.Apalagi lokasi kebun jauh dari jalan raya, maka TBS hanya dihargai Rp150 per kg. "Untuk biaya dodos (alat pemetik buah sawit) dan pemikulan ke pinggir jalan saja, harga Rp150 tidak cukup. Padahal, kebun sawit rakyat kebanyakan jauh dari pabrik,"ujarnya.
Luas perkebunan kelapa sawit rakyat mencapai sekitar 32 persen dari total luas perkebunan sawit di Sumut. Berdasarkan data 2007, luas perkebunan rakyat mencapai 354.044 ha, 302.241 ha milik PTPN, dan 436.970 ha milik perusahaan swasta.
Khaidir Aprin, 48, petani asal Asahan, mengatakan sebagian petani saat ini menyerahkan kelapa sawitnya untuk dipetik siapa saja tanpa dipungut bayaran."Sebab, jika tandan matang tidak diturunkan akan merusak tanaman kelapa sawit," katanya. Tindakan itu dilakukan warga yang memiliki kebun jauh dari pabrik. Meski sudah diserahkan begitu saja, tidak semua kelapa sawit dipanen, karena biaya pemetikan tidak sesuai lagi dengan harga jual.
Petani lainnya, Kamil, 50, warga Padang Lawas, menyatakan sudah dua pekan terakhir harga sawit mereka jual seharga Rp200 per kg. "Terpaksalah, karena harga kelapa sawit saat ini untuk biaya hidup saja tidak cukup," ujarnya.
Biodiesel
Sementara itu, pemerintah meminta produsen biodiesel segera meningkatkan kapasitas produksinya dengan menyerap sebanyak-banyaknya kelapa sawit yang kini sedang melimpah. Dirjen Migas Departemen ESDM Evita Legowo mengatakan, penurunan harga kelapa sawit belakangan ini membuat harga biodiesel akan semakin kompetitif.
"Pengusaha harus menangkap peluang ini," katanya. Apalagi, lanjutnya, PT Pertamina sudah berkomitmen menyerap secara maksimal produk biodiesel. Evita menambahkan, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri ESDM No32/ 2008 yang mewajibkan pemanfaatan bahan bakar nabati bagi industri. (sindo//rhs)
source: okezone.com
Posted by
raprapmedan
at
Thursday, October 30, 2008
0
comments
Labels:
Gapki,
PKS,
Sumatera Utara,
TBS
Monday, October 27, 2008
Gubernur Riau Didesak Membuat Peraturan Harga TBS
Edisi Selasa, 28 Oktober 2008
Pekanbaru, (Analisa)
Gubernur Riau didesak membuat Peraturan Gubernur (Pergub) tentang standarisasi harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit, menyusul anjloknya harga komoditi tersebut di pasaran.
Desakan itu terungkap dalam dengar pendapat (‘hearing') antara anggota Komisi B DPRD Riau dengan utusan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Riau (Gapki) dan instansi terkait lainnya di gedung dewan setempat, Senin (27/10).
Hearing yang dipimpin Wakil Ketua Komisi B, AB Purba, SH berjalan cukup alot karena masing- masing pihak memberikan penjelasan terkait fenomena turunnya harga TBS, sebagai implikasi krisis keuangan global.
“Yang paling terpukul itu adalah petani sawit swadaya, karena tidak bermitra dengan pihak pabrik kelapa sawit (PKS). Akibatnya harga beli TBS ditentukan PKS. Dengan alasan harga CPO turun, PKS menggunakannya sebagai senjata untuk membeli sawit petani serendah-rendahnya bahkan hanya Rp200 per kilogram (kg),” tuturnya.
Di Riau sendiri, imbuh Purba, jumlah petani swadaya cukup besar. Akan menjadi masalah besar jika kondisi ini tidak bisa dicari jalan keluarnya.
Hearing yang berlangsung hingga tiga jam ini, akhirnya menyimpulkan mendesak gubernur untuk membuat Pergub Riau yang mengatur standarisasi harga TBS di pasaran. Hal ini bertujuan untuk memberikan perlindungan bagi petani sawit. Untuk menggagasnya perlu dibentuk tim yang terdiri dari lintaskerja.
Dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Perkebunan (Kadisbun) Riau Susilo SE mengatakan, sejumlah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) terancam tutup, jika harga jual Cruide Palm Oil (CPO) tidak membaik.
PKS tidak mungkin menjual CPO ke pasaran karena harga jualnya sangat rendah dan tidak sebanding dengan harga produksi. Rendahnya harga jual CPO ini dengan sendirinya akan mengancam kelangsungan hidup petani-petani kelapa sawit di Riau.
Menurut Susilo, turunnya harga jual CPO saat ini selain terjadinya krisis global juga disebabkan isu lingkungan yang dihembuskan NGO-NGO (Non Government Organisation/LSM) yang ada.
Isu yang dihembuskan NGO adalah CPO yang diproduksi dari Indonesia tersebut tidak ramah lingkungan dan banyak tanaman kelapa sawit yang ditanam di lahan-lahan rawa, sehingga pasaran dunia enggan membeli CPO tersebut.
Ke depan tambahnya, hendaknya harus ada industri hilir yang bisa mengolah CPO yang ada jika pasaran dunia tidak mau membeli CPO tersebut. Jika industri hilir tersebut tidak juga didirikan persoalan ini tidak akan pernah selesai, karena ketergantungan terhadap pasaran dunia sangat kuat sekali. Sementara pasar bisa sewenang-wenang menetapkan harga dengan berbagai dalih.
Terlepas dari soal itu, hingga berita ini turunkan Senin (27/10) pukul 20.30 WIB masih berlangsung pertemuan antara Gubernur Riau Wan Abubakar dengan pengusaha kelapa sawit dan karet di daerah itu.
Pertemuan yang berlangsung di Balai Pauh Janggi, kediaman Gubernur, Jalan Diponegoro, Pekanbaru untuk mencari solusi penanganan krisis harga sawit dan harga karet di Riau. (dw)
source: analisadaily.com
Pekanbaru, (Analisa)
Gubernur Riau didesak membuat Peraturan Gubernur (Pergub) tentang standarisasi harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit, menyusul anjloknya harga komoditi tersebut di pasaran.
Desakan itu terungkap dalam dengar pendapat (‘hearing') antara anggota Komisi B DPRD Riau dengan utusan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Riau (Gapki) dan instansi terkait lainnya di gedung dewan setempat, Senin (27/10).
Hearing yang dipimpin Wakil Ketua Komisi B, AB Purba, SH berjalan cukup alot karena masing- masing pihak memberikan penjelasan terkait fenomena turunnya harga TBS, sebagai implikasi krisis keuangan global.
“Yang paling terpukul itu adalah petani sawit swadaya, karena tidak bermitra dengan pihak pabrik kelapa sawit (PKS). Akibatnya harga beli TBS ditentukan PKS. Dengan alasan harga CPO turun, PKS menggunakannya sebagai senjata untuk membeli sawit petani serendah-rendahnya bahkan hanya Rp200 per kilogram (kg),” tuturnya.
Di Riau sendiri, imbuh Purba, jumlah petani swadaya cukup besar. Akan menjadi masalah besar jika kondisi ini tidak bisa dicari jalan keluarnya.
Hearing yang berlangsung hingga tiga jam ini, akhirnya menyimpulkan mendesak gubernur untuk membuat Pergub Riau yang mengatur standarisasi harga TBS di pasaran. Hal ini bertujuan untuk memberikan perlindungan bagi petani sawit. Untuk menggagasnya perlu dibentuk tim yang terdiri dari lintaskerja.
Dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Perkebunan (Kadisbun) Riau Susilo SE mengatakan, sejumlah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) terancam tutup, jika harga jual Cruide Palm Oil (CPO) tidak membaik.
PKS tidak mungkin menjual CPO ke pasaran karena harga jualnya sangat rendah dan tidak sebanding dengan harga produksi. Rendahnya harga jual CPO ini dengan sendirinya akan mengancam kelangsungan hidup petani-petani kelapa sawit di Riau.
Menurut Susilo, turunnya harga jual CPO saat ini selain terjadinya krisis global juga disebabkan isu lingkungan yang dihembuskan NGO-NGO (Non Government Organisation/LSM) yang ada.
Isu yang dihembuskan NGO adalah CPO yang diproduksi dari Indonesia tersebut tidak ramah lingkungan dan banyak tanaman kelapa sawit yang ditanam di lahan-lahan rawa, sehingga pasaran dunia enggan membeli CPO tersebut.
Ke depan tambahnya, hendaknya harus ada industri hilir yang bisa mengolah CPO yang ada jika pasaran dunia tidak mau membeli CPO tersebut. Jika industri hilir tersebut tidak juga didirikan persoalan ini tidak akan pernah selesai, karena ketergantungan terhadap pasaran dunia sangat kuat sekali. Sementara pasar bisa sewenang-wenang menetapkan harga dengan berbagai dalih.
Terlepas dari soal itu, hingga berita ini turunkan Senin (27/10) pukul 20.30 WIB masih berlangsung pertemuan antara Gubernur Riau Wan Abubakar dengan pengusaha kelapa sawit dan karet di daerah itu.
Pertemuan yang berlangsung di Balai Pauh Janggi, kediaman Gubernur, Jalan Diponegoro, Pekanbaru untuk mencari solusi penanganan krisis harga sawit dan harga karet di Riau. (dw)
source: analisadaily.com
Posted by
raprapmedan
at
Monday, October 27, 2008
0
comments
Labels:
CPO,
Gapki,
Harga Sawit,
PKS,
Riau,
TBS
Pabrik di Simalungun Beli TBS Rp 580/kg
Petani Tanggapi Dingin
Selasa, 28-10-2008
*samsudin harahap
MedanBisnis – Pematangsiantar Setelah sempat ambruk ke harga Rp 150/kg, maka minggu ini harga TBS (tandan buah segar) sawit di Simalungun mulai merangkak naik menjadi Rp 580/kg. Namun kenaikan harga TBS tersebut belum cukup untuk menutupi biaya pemanenan, apalagi untuk biaya pemupukan.
Karena itu, informasi tentang harga jual TBS yang tinggi ke pabrik kelapa sawit(PKS) secara langsung dianggap dingin saja oleh petani. Soalnya, petani tidak punya akses langsung ke PKS, selama ini mereka hanya menjual produknya ke agen pengumpul saja.
Soal usulan untuk membentuk wadah petani sawit agar bisa berhubungan langsung dengan pabrik juga tidak mereka gubris, sebab mereka sudah tidak percaya lagi dengan wadah-wadah seperti itu. Mereka lebih percaya kepada agen pengumpul yang bisa memberikan pinjaman modal, hanya dengan jaminan petani akan menjual hasil panen sawit kepada agen tersebut.
Bahkan mereka tidak mau tahu soal kebijakan pemerintah untuk mendongkrak harga dengan menurunkan pajak ekspor(PE) TBS dari 7,5% menjadi 2,5%. Mereka hanya menunggu harga sawit bisa naik kembali hingga minimal Rp 1.000/kg. Kondisi ini dipaparkan oleh beberapa orang petani sawit di Kabupaten Simalungun kepada kepada MedanBisnis, Senin (27/10).
Hardono Purba (35) petani sawit di Raya Kahean mengakui bahwa minggu ini harga sawit telah bergerak naik hingga mencapai Rp 520 – Rp 580/kg. Namun, katanya, dengan harga sebesar itu belum bisa mengatasi biaya produksi petani. “Jangankan untuk biaya pemupukan, untuk ongkos memanen saja harga Rp 580/kg itu tidak cukup,” cetusnya.
Menurut Hardono,agar petani sawit tidak terpuruk serta mampu untuk menutupi biaya produksi dan pemupukan, maka harga TBS minimal Rp 1.000/kg. Hermanto Sipayung(30), petani sawit di kecamatan Silau Kahean kabupaten Simalungun, mengatakan ambruknya harga sawit baru-baru ini sangat mengancam kelangsungan para petani sawit. Kenaikan harga sawit minggu ini, katanya, juga belum bisa meringankan beban petani.”Kenaikan harga sawit minggu ini belum berarti apa-apa untuk bisa meringankan para petani,”katanya.
Hermanto juga tidak setuju dengan usulan pembentukan wadah petani,agar petani bisa menjual langsung ke pabrik dengan harga tinggi. Karena,lanjutnya,sebenarnya sudah lama ada wadah seperti itu,namun fungsi dan manfaatnya kepada petani sama sekali tidak ada.Dia mencontohkan wadah seperti KUD(Koperasi Unit Desa) yang sama sekali tidak bisa membantu peningkatan pendapatan petani. “Malah pengurus KUD tersebut berperan sebagai tengkulak-tengkulak yang ganas kepada petani,”katanya. Kondisi itulah yang menyebabkan petani lebih suka menjalin kesepakatan dengan agen pengumpul yang bisa memberi pinjaman modal dengan ikatan menjual hasil panennya kepada agen tersebut.
Wakil Ketua Komisi A DPRD Sumut Abdul Hakim Siagian SH Mhum,melalui telepon seluler,Senin(27/10) sore mengatakan kepada Medan Bisnis,bahwa untuk menjaga situasi harga yang stabil dan pantas untuk didapatkan petani,maka pemerintah harus proakttif turun kelapangan mengawasinya.
Menurutnya,setelah menurunkan PE dari 7,5% menjadi 2,5%,maka pemerintah harus mengawalnya sampai ke lapangan.Dikatakannya bahwa nantinya penurunan PE itu jangan hanya menguntungakan pengusaha dan agen sawit saja,sementar petani tetap terpuruk karena harga tidak naik juga.“Jangan penurunan PE tersebut nantinya hanya dimanfaatkan agen-agen dan pengusaha sawit nakal untuk keuntungan mereka saja”ujarnya.Untuk itu,lanjutnya,pemerintah harus dengan tegas menindak pengusaha dan agen sawit yang nakal dan merugikan petani sawit.
source: medanbisnisonline.com
Selasa, 28-10-2008
*samsudin harahap
MedanBisnis – Pematangsiantar Setelah sempat ambruk ke harga Rp 150/kg, maka minggu ini harga TBS (tandan buah segar) sawit di Simalungun mulai merangkak naik menjadi Rp 580/kg. Namun kenaikan harga TBS tersebut belum cukup untuk menutupi biaya pemanenan, apalagi untuk biaya pemupukan.
Karena itu, informasi tentang harga jual TBS yang tinggi ke pabrik kelapa sawit(PKS) secara langsung dianggap dingin saja oleh petani. Soalnya, petani tidak punya akses langsung ke PKS, selama ini mereka hanya menjual produknya ke agen pengumpul saja.
Soal usulan untuk membentuk wadah petani sawit agar bisa berhubungan langsung dengan pabrik juga tidak mereka gubris, sebab mereka sudah tidak percaya lagi dengan wadah-wadah seperti itu. Mereka lebih percaya kepada agen pengumpul yang bisa memberikan pinjaman modal, hanya dengan jaminan petani akan menjual hasil panen sawit kepada agen tersebut.
Bahkan mereka tidak mau tahu soal kebijakan pemerintah untuk mendongkrak harga dengan menurunkan pajak ekspor(PE) TBS dari 7,5% menjadi 2,5%. Mereka hanya menunggu harga sawit bisa naik kembali hingga minimal Rp 1.000/kg. Kondisi ini dipaparkan oleh beberapa orang petani sawit di Kabupaten Simalungun kepada kepada MedanBisnis, Senin (27/10).
Hardono Purba (35) petani sawit di Raya Kahean mengakui bahwa minggu ini harga sawit telah bergerak naik hingga mencapai Rp 520 – Rp 580/kg. Namun, katanya, dengan harga sebesar itu belum bisa mengatasi biaya produksi petani. “Jangankan untuk biaya pemupukan, untuk ongkos memanen saja harga Rp 580/kg itu tidak cukup,” cetusnya.
Menurut Hardono,agar petani sawit tidak terpuruk serta mampu untuk menutupi biaya produksi dan pemupukan, maka harga TBS minimal Rp 1.000/kg. Hermanto Sipayung(30), petani sawit di kecamatan Silau Kahean kabupaten Simalungun, mengatakan ambruknya harga sawit baru-baru ini sangat mengancam kelangsungan para petani sawit. Kenaikan harga sawit minggu ini, katanya, juga belum bisa meringankan beban petani.”Kenaikan harga sawit minggu ini belum berarti apa-apa untuk bisa meringankan para petani,”katanya.
Hermanto juga tidak setuju dengan usulan pembentukan wadah petani,agar petani bisa menjual langsung ke pabrik dengan harga tinggi. Karena,lanjutnya,sebenarnya sudah lama ada wadah seperti itu,namun fungsi dan manfaatnya kepada petani sama sekali tidak ada.Dia mencontohkan wadah seperti KUD(Koperasi Unit Desa) yang sama sekali tidak bisa membantu peningkatan pendapatan petani. “Malah pengurus KUD tersebut berperan sebagai tengkulak-tengkulak yang ganas kepada petani,”katanya. Kondisi itulah yang menyebabkan petani lebih suka menjalin kesepakatan dengan agen pengumpul yang bisa memberi pinjaman modal dengan ikatan menjual hasil panennya kepada agen tersebut.
Wakil Ketua Komisi A DPRD Sumut Abdul Hakim Siagian SH Mhum,melalui telepon seluler,Senin(27/10) sore mengatakan kepada Medan Bisnis,bahwa untuk menjaga situasi harga yang stabil dan pantas untuk didapatkan petani,maka pemerintah harus proakttif turun kelapangan mengawasinya.
Menurutnya,setelah menurunkan PE dari 7,5% menjadi 2,5%,maka pemerintah harus mengawalnya sampai ke lapangan.Dikatakannya bahwa nantinya penurunan PE itu jangan hanya menguntungakan pengusaha dan agen sawit saja,sementar petani tetap terpuruk karena harga tidak naik juga.“Jangan penurunan PE tersebut nantinya hanya dimanfaatkan agen-agen dan pengusaha sawit nakal untuk keuntungan mereka saja”ujarnya.Untuk itu,lanjutnya,pemerintah harus dengan tegas menindak pengusaha dan agen sawit yang nakal dan merugikan petani sawit.
source: medanbisnisonline.com
Posted by
raprapmedan
at
Monday, October 27, 2008
0
comments
Labels:
Harga Sawit,
PKS,
Pungutan Ekspor,
Simalungun,
TBS
Sunday, October 26, 2008
MALAYSIA, Cari Formulasi untuk Lindungi Petani
Senin, 27 Oktober 2008
KUALA LUMPUR (Suara Karya): Pemerintah Malaysia sedang mencari formulasi untuk melindungi pendapatan petani, minimal 1000 ringgit (Rp2,7 juta) per bulan, setelah jatuhnya harga kelapa sawit dan karet di pasar internasional.
Wakil PM Malaysia Najib Tun Razak mengatakan, sebuah tim kecil akan mengadakan pembicaraan tentang jatuhnya harga kelapa sawit dan karet di pasar internasional belakangan ini yang membuat pendapatan negara, petani kelapa sawit dan karet anjlok, demikian harian Utusan Malaysia, Minggu.
Salah satu topik pembahasan adalah mengadakan pertemuan dengan negara-negara produsen karet untuk menstabilkan harga kepala sawit dan karet.
Najib mengatakan, pemerintah akan memberikan perlindungan atau jaminan pendapatan petani kelapa sawit dan karet tidak akan di bawah 1.000 ringgit (Rp 2,7 juta) per bulan akibat penurunan harga kelapa sawit di dunia.
Harga sawit dunia ini turun ke level terendah yakni 370 ringgit (Rp 1 juta) per ton dibandingkan 454 (Rp 1,2 juta) ringgit per ton pada 27 September 2008.
Sebelumnya, harga sawit bahkan mencapai 863 ringgit hingga 900 ringgit per ton. Saat itu, pendapatan petani kelapa sawit rata-rata mencapai 3.000 hingga 4.000 ringgit (Rp 8,1 - 10,8 juta) per bulan.
Sementara itu, Najib juga mengatakan pemerintahnya akan menyuntuk dana sedikitnya 1,4 miliar dolar AS ke pasar saham dan menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi 2009 di tengah semakin memburuknya krisis finansial global.
Dia mengatakan mengatakan bahwa pemerintah mungkin meninjau kembali prediksi defisit fiskal 2009 dan 2008 serta dukungan pada proyek-proyek manufaktur dengan membatasi dampak multiplier ekonomi untuk tahun tersebut guna melindungi dampak krisis ekonomi.
Dalam pidatonya pada sebuah konferensi di Kuala Lumpur, Najib mengatakan bahwa pemerintah akan melipat duakan ukuran perusahaan investasi milik pemerintah Valuaecaap Sd.Bhd., yang didirikan pada 2003 untuk investasi dalam under-valued, tetapi saham-sahamnya secara fondamental kuat.
"Memberikan berbagai kesempatan saat ini untuk nilai investasi, saya akan dengan senang mengumumkan bahwa pemerintah akan menyediakan dana tambahan lima miliar ringgit (1,4 miliar dolar) dua kali lipat dari Valuecap menjadi 10 miliar ringgit," katanya.
Kaladher Govindan, pimpinan riset pada pialang lokal TA Securities mengatakan langkah tersebut "merupakan dorongan positif terhadap pasar saham," yang mengalami penurunan hingga 37 persen tahun ini.
Najib, yang ditetapkan sebagai pengganti perdana menteri pada Maret mendatang mengatakan revisi yang cenderung turun untuk pertumbuhan 2009 dari 5,4 persen dan respon kebijakan pemerintah secara rinci akan diumumkan di parlemen pada 4 November mendatang. (AP/Kentos)
source: suarakarya-online.com
KUALA LUMPUR (Suara Karya): Pemerintah Malaysia sedang mencari formulasi untuk melindungi pendapatan petani, minimal 1000 ringgit (Rp2,7 juta) per bulan, setelah jatuhnya harga kelapa sawit dan karet di pasar internasional.
Wakil PM Malaysia Najib Tun Razak mengatakan, sebuah tim kecil akan mengadakan pembicaraan tentang jatuhnya harga kelapa sawit dan karet di pasar internasional belakangan ini yang membuat pendapatan negara, petani kelapa sawit dan karet anjlok, demikian harian Utusan Malaysia, Minggu.
Salah satu topik pembahasan adalah mengadakan pertemuan dengan negara-negara produsen karet untuk menstabilkan harga kepala sawit dan karet.
Najib mengatakan, pemerintah akan memberikan perlindungan atau jaminan pendapatan petani kelapa sawit dan karet tidak akan di bawah 1.000 ringgit (Rp 2,7 juta) per bulan akibat penurunan harga kelapa sawit di dunia.
Harga sawit dunia ini turun ke level terendah yakni 370 ringgit (Rp 1 juta) per ton dibandingkan 454 (Rp 1,2 juta) ringgit per ton pada 27 September 2008.
Sebelumnya, harga sawit bahkan mencapai 863 ringgit hingga 900 ringgit per ton. Saat itu, pendapatan petani kelapa sawit rata-rata mencapai 3.000 hingga 4.000 ringgit (Rp 8,1 - 10,8 juta) per bulan.
Sementara itu, Najib juga mengatakan pemerintahnya akan menyuntuk dana sedikitnya 1,4 miliar dolar AS ke pasar saham dan menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi 2009 di tengah semakin memburuknya krisis finansial global.
Dia mengatakan mengatakan bahwa pemerintah mungkin meninjau kembali prediksi defisit fiskal 2009 dan 2008 serta dukungan pada proyek-proyek manufaktur dengan membatasi dampak multiplier ekonomi untuk tahun tersebut guna melindungi dampak krisis ekonomi.
Dalam pidatonya pada sebuah konferensi di Kuala Lumpur, Najib mengatakan bahwa pemerintah akan melipat duakan ukuran perusahaan investasi milik pemerintah Valuaecaap Sd.Bhd., yang didirikan pada 2003 untuk investasi dalam under-valued, tetapi saham-sahamnya secara fondamental kuat.
"Memberikan berbagai kesempatan saat ini untuk nilai investasi, saya akan dengan senang mengumumkan bahwa pemerintah akan menyediakan dana tambahan lima miliar ringgit (1,4 miliar dolar) dua kali lipat dari Valuecap menjadi 10 miliar ringgit," katanya.
Kaladher Govindan, pimpinan riset pada pialang lokal TA Securities mengatakan langkah tersebut "merupakan dorongan positif terhadap pasar saham," yang mengalami penurunan hingga 37 persen tahun ini.
Najib, yang ditetapkan sebagai pengganti perdana menteri pada Maret mendatang mengatakan revisi yang cenderung turun untuk pertumbuhan 2009 dari 5,4 persen dan respon kebijakan pemerintah secara rinci akan diumumkan di parlemen pada 4 November mendatang. (AP/Kentos)
source: suarakarya-online.com
Sunday, October 19, 2008
Usaha Kelapa Sawit Riau Terancam Goyah
Minggu, 19 Oktober 2008 19:26
"Banyak pengusaha anggota Gapki terancam gulung tikar, terutama para pengusaha pemula," kata Wisnu di Pekanbaru, Minggu.
Ia menjelaskan, anjloknya harga komoditi itu mulai berdampak buruk kepada para pengusaha baru karena mereka tidak memiliki kecukupan dana untuk mensubstitusi keuntungan pada saat harga turun. Kondisi itu jelas berbeda dengan pengusaha sawit lama, karena mereka bisa menutupi kerugian dari keuntungan yang didapatkan saat harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) tinggi pada semester I 2008.
Sedangkan, marjin profit dari ekspor melalui Dumai dan Belawan kini terus merosot akibat harga jual turun dari Rp5.019,26 menjadi Rp4.237 per kilogram.
"Sedangkan ongkos pemeliharaan kebun rata-rata mencapai Rp3.900 untuk satu pohon. Kondisi bertambah buruk akibat bunga kredit bank meningkat, dan menyulitkan pengusaha pemula yang menggunakan modal pinjaman bank untuk usaha mereka," ujarnya.
Dari jumlah luasan perkebunan sawit Riau yang mencapai 1,7-2 juta hektare, ujar Wisnu, sekitar 400.000 hektare merupakan milik pengusaha anggota Gapki dan dari luas tersebut sekitar 30% merupakan pengusaha baru.
Kesulitan Beli Pupuk
Sementara itu, Wakil Ketua Himpunan Kerukunan Tani (HKTI) Riau yang juga pengamat pertanian dari Universitas Islam Riau (UIR) Fachri Yasin mengatakan, petani swadaya non mitra perusahaan mulai kesulitan membeli pupuk untuk kebun mereka karena harga anjlok.
"Untuk memanen saja sudah susah karena harga jual rendah membuat petani merugi, apalagi untuk membeli pupuk yang makin mahal," katanya.
Dengan harga tandan buah segar (TBS) untuk petani swadaya yang hanya berkisar Rp350-Rp400 per kilogram, petani kesulitan menjangkau harga pupuk urea yang kini mencapai Rp500 ribu hingga Rp600 ribu per karung. Sedangkan pada saat ini, perkebunan sawit mulai memasuki masa pemupukan.
"Bila tidak dipupuk dengan semestinya, jumlah buah dan kualitas rendemen akan menurun sebelum masanya," katanya.
Karena itu, ia menyarankan agar melakukan penghematan dengan mengurangi ongkos pengupahan. Menurut dia, saat harga TBS sempat mencapai Rp2.000 per kilogram, banyak petani dengan luas kebun hanya dua sampai tiga hektare berperilaku boros dengan menghabiskan keuntungan panen untuk membeli barang mewah dan malas turun merawat kebun sendiri dengan mempekerjakan buruh untuk menggantikan peran mereka.
"Petani harus kembali ke pola hidup petani yang sebenarnya yakni mandiri, melakukan semua pemupukan sendiri untuk mengurangi ongkos dari mengupah pekerja untuk pemupukan," ujarnya. (*/erl)
source: kapanlagi.com
Kapanlagi.com - Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Riau Wisnu Oriza Suharto mengatakan, sektor usaha kelapa sawit di Riau mulai goyah karena sejumlah pengusaha terancam gulung tikar akibat harga jual sawit terus menurun.
"Banyak pengusaha anggota Gapki terancam gulung tikar, terutama para pengusaha pemula," kata Wisnu di Pekanbaru, Minggu.
Ia menjelaskan, anjloknya harga komoditi itu mulai berdampak buruk kepada para pengusaha baru karena mereka tidak memiliki kecukupan dana untuk mensubstitusi keuntungan pada saat harga turun. Kondisi itu jelas berbeda dengan pengusaha sawit lama, karena mereka bisa menutupi kerugian dari keuntungan yang didapatkan saat harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) tinggi pada semester I 2008.
Sedangkan, marjin profit dari ekspor melalui Dumai dan Belawan kini terus merosot akibat harga jual turun dari Rp5.019,26 menjadi Rp4.237 per kilogram.
"Sedangkan ongkos pemeliharaan kebun rata-rata mencapai Rp3.900 untuk satu pohon. Kondisi bertambah buruk akibat bunga kredit bank meningkat, dan menyulitkan pengusaha pemula yang menggunakan modal pinjaman bank untuk usaha mereka," ujarnya.
Dari jumlah luasan perkebunan sawit Riau yang mencapai 1,7-2 juta hektare, ujar Wisnu, sekitar 400.000 hektare merupakan milik pengusaha anggota Gapki dan dari luas tersebut sekitar 30% merupakan pengusaha baru.
Kesulitan Beli Pupuk
Sementara itu, Wakil Ketua Himpunan Kerukunan Tani (HKTI) Riau yang juga pengamat pertanian dari Universitas Islam Riau (UIR) Fachri Yasin mengatakan, petani swadaya non mitra perusahaan mulai kesulitan membeli pupuk untuk kebun mereka karena harga anjlok.
"Untuk memanen saja sudah susah karena harga jual rendah membuat petani merugi, apalagi untuk membeli pupuk yang makin mahal," katanya.
Dengan harga tandan buah segar (TBS) untuk petani swadaya yang hanya berkisar Rp350-Rp400 per kilogram, petani kesulitan menjangkau harga pupuk urea yang kini mencapai Rp500 ribu hingga Rp600 ribu per karung. Sedangkan pada saat ini, perkebunan sawit mulai memasuki masa pemupukan.
"Bila tidak dipupuk dengan semestinya, jumlah buah dan kualitas rendemen akan menurun sebelum masanya," katanya.
Karena itu, ia menyarankan agar melakukan penghematan dengan mengurangi ongkos pengupahan. Menurut dia, saat harga TBS sempat mencapai Rp2.000 per kilogram, banyak petani dengan luas kebun hanya dua sampai tiga hektare berperilaku boros dengan menghabiskan keuntungan panen untuk membeli barang mewah dan malas turun merawat kebun sendiri dengan mempekerjakan buruh untuk menggantikan peran mereka.
"Petani harus kembali ke pola hidup petani yang sebenarnya yakni mandiri, melakukan semua pemupukan sendiri untuk mengurangi ongkos dari mengupah pekerja untuk pemupukan," ujarnya. (*/erl)
source: kapanlagi.com
Posted by
raprapmedan
at
Sunday, October 19, 2008
0
comments
Labels:
crude palm oil,
Dumai,
Gabungan Kelapa Sawit Indonesia,
HKTI,
Riau,
TBS
Friday, October 17, 2008
Di Balik Anjloknya Harga Sawit
Jumat, 17 Oktober 2008 00:01 WIB
Harga tandan buah segar yang semula Rp2.800 per kilogram, tiba-tiba terpuruk ke angka Rp250 per kilogram.
SIANG itu Yono bersama para petani sawit hanya tampak duduk di bangku tempat penimbangan sawit rakyat sambil menghisap sebatang rokok. Sejak harga tandan buah segar turun, petani di sana lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk dan berkumpul di warung yang bersebelahan dengan tempat penimbangan sawit.Biasanya siang itu, Yono bersama puluhan petani lainnya sudah berada di tengah rerimbunan pohon kelapa sawit yang teduh.Mereka memetik tandan demi tandan buah sawit dengan besi runcing berbentuk tombak.Kini rutinitas itu tidak lagi dilakukan para petani. Kebun sawit yang selalu menjadi sahabat setia dalam keseharian mulai tampak sepi dari aktivitas mendodos (memanen)."Jika harga tandan buah segar turun lagi, kami tidak akan mendodos. Kami akan biarkan buah-buah sawit itu membusuk di pohon," kata Yono, 39, petani sawit di Kecamatan Kempas, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, saat Media Indonesia menghampirinya, kemarin (15/10).Yono bersama puluhan petani sawit di Kecamatan Kempas hanya bisa pasrah tatkala harga tandan buah segar turun drastis ke level terendah Rp250 per kilogram.Mereka sama sekali tidak menyangka, hanya dalam hitungan hari pasca-Lebaran, harga tandan buah segar yang semula Rp2.800 per kilogram, tiba-tiba terpuruk ke angka Rp250 per kilogram."Kami hingga kini tidak tahu sama sekali kenapa harga sawit anjlok. Sebagai petani kami hanya bisa berharap pemerintah dapat memperhatikan nasib petani yang nasibnya kian hari kian menjerit," ujarnya.Menurut Yono, sejak harga TBS terpuruk, ekonomi ratusan petani yang mengantungkan hidup dengan berkebun sawit mulai terpukul. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu harga sawit kembali normal.Sebagian petani kini juga sudah mulai meminjam uang ke tengkulak untuk menutupi biaya hidup sehari-hari. Anjloknya harga sawit menjadi dilema bagi ratusan petani di Kabupaten Indragiri Hilir.Hasil memetik dan memanen sawit yang cuma dihargai dengan Rp250 per kilogram sama sekali tidak memberikan secercah harapan dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Saat ini untuk mendodos sawit dan melangsir ke tepi jalan saja mereka harus mengeluarkan biaya operasional Rp200 per kilogram.Sementara sisa penjualan yang didapat sekitar Rp50 per kilogram hanya cukup untuk membersihkan pokok sawit agar dahan dan pohonnya tidak membusuk."Jadi sama sekali kami tidak mendapat apa-apa bila tetap harus memanen sawit," keluh Yono.Bila dalam beberapa hari ke depan harga TBS terus anjlok, ratusan petani di Kecamatan Kempas akan membawa hasil panennya untuk di tumpuk dan dibiarkan membusuk di depan kantor Bupati dan DPRD Indragiri Hilir sebagai bentuk kekecewaan terhadap pemerintah yang dinilai lamban memperhatikan nasib petani.Kondisi serupa juga dialami oleh para petani sawit di Kabupaten Kuantan Singingi Siak, Kampar, Pelalawan, Bengkalis, dan Kota Dumai.Sementara itu, Abdul Kadir, 50, petani sawit di Kabupaten Kampar menyebutkan, kondisi petani sawit semakin sulit karena harga-harga pupuk juga terus mengalami peningkatan.Harga pupuk di tingkat petani terus mengalami kenaikan. Misalnya, NPK saat ini sudah mencapai Rp500.000 per karung, urea Rp300.000 per karung, dan KCL Rp400.000 per karung.Dilema yang dialami oleh para petani sawit saat ini memang begitu berat. Impian untuk bisa hidup sejahtera lewat bertani sawit, kini berangsur-angsur pudar oleh kondisi yang sama sekali tidak mereka ketahui apa sebabnya.Bila harga tandan buah segar terus mengalami penurunan, sudah bisa dipastikan ribuan petani sawit akan jatuh dan terperosok kembali ke jurang kemiskinan. (N-4)
Benny Andriyos
source: mediaindonesia.com
Harga tandan buah segar yang semula Rp2.800 per kilogram, tiba-tiba terpuruk ke angka Rp250 per kilogram.
SIANG itu Yono bersama para petani sawit hanya tampak duduk di bangku tempat penimbangan sawit rakyat sambil menghisap sebatang rokok. Sejak harga tandan buah segar turun, petani di sana lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk dan berkumpul di warung yang bersebelahan dengan tempat penimbangan sawit.Biasanya siang itu, Yono bersama puluhan petani lainnya sudah berada di tengah rerimbunan pohon kelapa sawit yang teduh.Mereka memetik tandan demi tandan buah sawit dengan besi runcing berbentuk tombak.Kini rutinitas itu tidak lagi dilakukan para petani. Kebun sawit yang selalu menjadi sahabat setia dalam keseharian mulai tampak sepi dari aktivitas mendodos (memanen)."Jika harga tandan buah segar turun lagi, kami tidak akan mendodos. Kami akan biarkan buah-buah sawit itu membusuk di pohon," kata Yono, 39, petani sawit di Kecamatan Kempas, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, saat Media Indonesia menghampirinya, kemarin (15/10).Yono bersama puluhan petani sawit di Kecamatan Kempas hanya bisa pasrah tatkala harga tandan buah segar turun drastis ke level terendah Rp250 per kilogram.Mereka sama sekali tidak menyangka, hanya dalam hitungan hari pasca-Lebaran, harga tandan buah segar yang semula Rp2.800 per kilogram, tiba-tiba terpuruk ke angka Rp250 per kilogram."Kami hingga kini tidak tahu sama sekali kenapa harga sawit anjlok. Sebagai petani kami hanya bisa berharap pemerintah dapat memperhatikan nasib petani yang nasibnya kian hari kian menjerit," ujarnya.Menurut Yono, sejak harga TBS terpuruk, ekonomi ratusan petani yang mengantungkan hidup dengan berkebun sawit mulai terpukul. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu harga sawit kembali normal.Sebagian petani kini juga sudah mulai meminjam uang ke tengkulak untuk menutupi biaya hidup sehari-hari. Anjloknya harga sawit menjadi dilema bagi ratusan petani di Kabupaten Indragiri Hilir.Hasil memetik dan memanen sawit yang cuma dihargai dengan Rp250 per kilogram sama sekali tidak memberikan secercah harapan dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Saat ini untuk mendodos sawit dan melangsir ke tepi jalan saja mereka harus mengeluarkan biaya operasional Rp200 per kilogram.Sementara sisa penjualan yang didapat sekitar Rp50 per kilogram hanya cukup untuk membersihkan pokok sawit agar dahan dan pohonnya tidak membusuk."Jadi sama sekali kami tidak mendapat apa-apa bila tetap harus memanen sawit," keluh Yono.Bila dalam beberapa hari ke depan harga TBS terus anjlok, ratusan petani di Kecamatan Kempas akan membawa hasil panennya untuk di tumpuk dan dibiarkan membusuk di depan kantor Bupati dan DPRD Indragiri Hilir sebagai bentuk kekecewaan terhadap pemerintah yang dinilai lamban memperhatikan nasib petani.Kondisi serupa juga dialami oleh para petani sawit di Kabupaten Kuantan Singingi Siak, Kampar, Pelalawan, Bengkalis, dan Kota Dumai.Sementara itu, Abdul Kadir, 50, petani sawit di Kabupaten Kampar menyebutkan, kondisi petani sawit semakin sulit karena harga-harga pupuk juga terus mengalami peningkatan.Harga pupuk di tingkat petani terus mengalami kenaikan. Misalnya, NPK saat ini sudah mencapai Rp500.000 per karung, urea Rp300.000 per karung, dan KCL Rp400.000 per karung.Dilema yang dialami oleh para petani sawit saat ini memang begitu berat. Impian untuk bisa hidup sejahtera lewat bertani sawit, kini berangsur-angsur pudar oleh kondisi yang sama sekali tidak mereka ketahui apa sebabnya.Bila harga tandan buah segar terus mengalami penurunan, sudah bisa dipastikan ribuan petani sawit akan jatuh dan terperosok kembali ke jurang kemiskinan. (N-4)
Benny Andriyos
source: mediaindonesia.com
Thursday, October 16, 2008
Harga TBS Sawit Diperkirakan Terus Merosot
Kamis, 16 Oktober 2008 06:22 WIB
BENGKULU--MI: Harga kelapa sawit (tandan buah segar-TBS) diperkirakan akan terus turun menyusul anjloknya harga minyak sawit mentah (crude palm oil-CPO) di pasar dunia.
"Perkiraan kita pakan depan harga TBS akan turun lagi hingga pada kisaran Rp550/Kg di tingkat pabrik/perusahaan," kata Dayari, perwakilan dari PT Bio Nusantara, sebuah perusahaan pekebunan sawit swasta, saat rapat membahas harga TBS bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu, Rabu (15/10).
Ia menjelaskan, harga CPO saat ini masih pada posisi Rp4.285 Kg, namun sudah ada yang menawar lebih rendah yakni berkisar Rp3.600-Rp3.700/Kg. Rendahnya penawaran itu menjadi indikasi harga CPO akan terus turun. Jika harga CPO turun, kata dia, maka harga TBS pun dengan sendirinya akan ikut turun.
Direktur Kebun PT Agricinal, Dapot Sitompul juga menyatakan hal yang sama, terkait harga CPO dan TBS itu. Menurut dia, penurunan harga CPO di pasar dunia itu tidak terlepas dari terjadinya krisis keuangan di Amerika Serikat.
Sitompul juga mengeluhkan, kualias TBS yang berasal dari perkebunan petani setempat.
"Masyarakat kadang menjual TBS asal saja, banyak diantaranya yang sudah busuk, sehingga mempengaruhi kulitas CPO. Kita dari perusahaan kadang serba salah," katanya.
Harga beli TBS oleh perusahaan perkebunan di daerah itu dari para petani saat ini bervariasi. Harga pembelian tertinggi diberikan oleh PT Agricinal yakni Rp730/Kg,kemudian PT Bio Nusantara Rp670/Kg, PT Puding Mas Rp660/Kg, PT Daria DharmaPratama Rp650/Kg dan PT Agri Andalas Rp600/Kg.
Kelapa sawit merupakan komiditi andalan Provinsi Bengkulu. Luas perkebunan sawit di daerah itu sekitar 150 ribu hakter (Ha), dan 90.898 Ha di antaranya milik masyarakat, sisanya dikelola oleh perusahaan baik BUMN maupun swasta.
Pemerintah Provinsi Bengkulu juga akan melaksanakan program revitalisasi perkebunan kelapa sawit seluas 60 ribu Ha, dalam dua tahap. Tahap awal seluas 23 ribu Ha segera direalisasikan dengan pembiayaan berasal dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebesar Rp621 miliar, dengan asumsi biaya Rp27 juta per Ha. (Ant/OL-02)
source: mediaindonesia.com
BENGKULU--MI: Harga kelapa sawit (tandan buah segar-TBS) diperkirakan akan terus turun menyusul anjloknya harga minyak sawit mentah (crude palm oil-CPO) di pasar dunia.
"Perkiraan kita pakan depan harga TBS akan turun lagi hingga pada kisaran Rp550/Kg di tingkat pabrik/perusahaan," kata Dayari, perwakilan dari PT Bio Nusantara, sebuah perusahaan pekebunan sawit swasta, saat rapat membahas harga TBS bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu, Rabu (15/10).
Ia menjelaskan, harga CPO saat ini masih pada posisi Rp4.285 Kg, namun sudah ada yang menawar lebih rendah yakni berkisar Rp3.600-Rp3.700/Kg. Rendahnya penawaran itu menjadi indikasi harga CPO akan terus turun. Jika harga CPO turun, kata dia, maka harga TBS pun dengan sendirinya akan ikut turun.
Direktur Kebun PT Agricinal, Dapot Sitompul juga menyatakan hal yang sama, terkait harga CPO dan TBS itu. Menurut dia, penurunan harga CPO di pasar dunia itu tidak terlepas dari terjadinya krisis keuangan di Amerika Serikat.
Sitompul juga mengeluhkan, kualias TBS yang berasal dari perkebunan petani setempat.
"Masyarakat kadang menjual TBS asal saja, banyak diantaranya yang sudah busuk, sehingga mempengaruhi kulitas CPO. Kita dari perusahaan kadang serba salah," katanya.
Harga beli TBS oleh perusahaan perkebunan di daerah itu dari para petani saat ini bervariasi. Harga pembelian tertinggi diberikan oleh PT Agricinal yakni Rp730/Kg,kemudian PT Bio Nusantara Rp670/Kg, PT Puding Mas Rp660/Kg, PT Daria DharmaPratama Rp650/Kg dan PT Agri Andalas Rp600/Kg.
Kelapa sawit merupakan komiditi andalan Provinsi Bengkulu. Luas perkebunan sawit di daerah itu sekitar 150 ribu hakter (Ha), dan 90.898 Ha di antaranya milik masyarakat, sisanya dikelola oleh perusahaan baik BUMN maupun swasta.
Pemerintah Provinsi Bengkulu juga akan melaksanakan program revitalisasi perkebunan kelapa sawit seluas 60 ribu Ha, dalam dua tahap. Tahap awal seluas 23 ribu Ha segera direalisasikan dengan pembiayaan berasal dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebesar Rp621 miliar, dengan asumsi biaya Rp27 juta per Ha. (Ant/OL-02)
source: mediaindonesia.com
Posted by
raprapmedan
at
Thursday, October 16, 2008
0
comments
Labels:
China,
CPO,
Gabungan Kelapa Sawit Indonesia,
India,
Labuhan Batu,
Sumatera Utara,
TBS
Wednesday, October 15, 2008
Harga CPO dan TBS Terus Turun
Kamis, 25 September 2008
Laporan LISMAR SUMIRAT, Pekanbaru lismar-sumirat@riaupos.co.id Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya KABAR tak sedap bagi petani dan pengusaha kelapa sawit. Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit menjelang Idul Fitri justru kembali anjlok.
Sesuai keputusan rapat Tim Penetapan harga pembelian TBS kelapa sawit Provinsi Riau yang digelar Selasa (23/9) lalu, untuk TBS umur tanaman tiga tahun hanya Rp736,59 per kilogram, sedangkan TBS dari tanaman umur 10 tahun keatas Rp1.029,13.
‘’Harga CPO terus menurun. Kalau dulu per kilogram CPO bisa mencapai Rp7.000-8.000, sedangkan saat ini satu kilogram CPO hanya Rp4.798. Dari sini saja jelas, harga TBS sawit menjadi turun,’’ ungkap Kasubdin Pemasaran Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Feri Hc menjawab Riau Pos, kemarin.
Menurut Feri anjloknya harga TBS kelapa sawit disebabkan oleh tiga hal yakni suplai sawit yang sedang melimpah dari perkebunan di Indonesia dan Malaysia, permintaan pasar dunia yang juga berkurang dan panen bunga matahari dan kedelai di Eropa.
‘’Saat ini kita termasuk Malaysia sedang panen sawit. Sawit jadi melimpah, sedangkan permintaan tidak mengalami peningkatan. Ditambah lagi di Eropa saat ini musim kedelai dan bunga matahari yang juga diolah menjadi minyak goreng di negara-negara Eropa. Sehingga CPO kita jadi sulit menempus pasar internasional,’’ ulasnya lebih lanjut.
Secara rinci harga TBS umur tiga tahun adalah Rp736,59, empat tahun Rp822,65, lima tahun Rp880,65, enam tahun Rp906,14, tujuh tahun Rp940,75, delapan Rp970,07, sembilan tahun Rp1.001,17 dan umur sepuluh tahun ke atas adalah Rp1.029,13 per kilogram.
‘’Dari harga TBS sebelumnya turun sekitar Rp140,2 per kilogram. Kalau terus turun, kasihan petani sawit, bisa-bisa untuk menutup biaya pupuk saja tidak turun,’’imbuhnya. Feri mengaku tidak dapat berbuat banyak terkait kembali anjloknya harga TBS kelapa sawit di Riau. Apalagi harga TBS dipengaruhi oleh harga CPO. ‘’Kalau harga CPO anjlok, tentu harga sawit tetap anjlok. Rapat Tim Penetapan harga pembelian TBS kelapa sawit, juga berpedoman kepada harga CPO,’’ sebutnya.
Harga TBS kepala sawit diperkirakan akan terus anjlok hingga Oktober mendatang. ‘’Kemungkinan akhir tahun, harga sawit sudah kembali normal,’’katanya.
Penetapan harga jual TBS di Riau, dilakukan oleh sebuah tim penetapan harga yang difasilitasi oleh Dinas Perkebunan Riau, dimana tim terdiri dari sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit besar yang ada di Riau serta petani kelapa sawit yang tergabung dalam wadah koperasi. Tim inilah kemudian yang merumuskan besaran harga TBS dengan berpatokan pada harga CPO di pasaran internasional, dan harga TBS yag ditetapkan terus dilakukan evaluasi setiap dua minggu sekali.(fas)
Laporan LISMAR SUMIRAT, Pekanbaru lismar-sumirat@riaupos.co.id Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya KABAR tak sedap bagi petani dan pengusaha kelapa sawit. Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit menjelang Idul Fitri justru kembali anjlok.
Sesuai keputusan rapat Tim Penetapan harga pembelian TBS kelapa sawit Provinsi Riau yang digelar Selasa (23/9) lalu, untuk TBS umur tanaman tiga tahun hanya Rp736,59 per kilogram, sedangkan TBS dari tanaman umur 10 tahun keatas Rp1.029,13.
‘’Harga CPO terus menurun. Kalau dulu per kilogram CPO bisa mencapai Rp7.000-8.000, sedangkan saat ini satu kilogram CPO hanya Rp4.798. Dari sini saja jelas, harga TBS sawit menjadi turun,’’ ungkap Kasubdin Pemasaran Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Feri Hc menjawab Riau Pos, kemarin.
Menurut Feri anjloknya harga TBS kelapa sawit disebabkan oleh tiga hal yakni suplai sawit yang sedang melimpah dari perkebunan di Indonesia dan Malaysia, permintaan pasar dunia yang juga berkurang dan panen bunga matahari dan kedelai di Eropa.
‘’Saat ini kita termasuk Malaysia sedang panen sawit. Sawit jadi melimpah, sedangkan permintaan tidak mengalami peningkatan. Ditambah lagi di Eropa saat ini musim kedelai dan bunga matahari yang juga diolah menjadi minyak goreng di negara-negara Eropa. Sehingga CPO kita jadi sulit menempus pasar internasional,’’ ulasnya lebih lanjut.
Secara rinci harga TBS umur tiga tahun adalah Rp736,59, empat tahun Rp822,65, lima tahun Rp880,65, enam tahun Rp906,14, tujuh tahun Rp940,75, delapan Rp970,07, sembilan tahun Rp1.001,17 dan umur sepuluh tahun ke atas adalah Rp1.029,13 per kilogram.
‘’Dari harga TBS sebelumnya turun sekitar Rp140,2 per kilogram. Kalau terus turun, kasihan petani sawit, bisa-bisa untuk menutup biaya pupuk saja tidak turun,’’imbuhnya. Feri mengaku tidak dapat berbuat banyak terkait kembali anjloknya harga TBS kelapa sawit di Riau. Apalagi harga TBS dipengaruhi oleh harga CPO. ‘’Kalau harga CPO anjlok, tentu harga sawit tetap anjlok. Rapat Tim Penetapan harga pembelian TBS kelapa sawit, juga berpedoman kepada harga CPO,’’ sebutnya.
Harga TBS kepala sawit diperkirakan akan terus anjlok hingga Oktober mendatang. ‘’Kemungkinan akhir tahun, harga sawit sudah kembali normal,’’katanya.
Penetapan harga jual TBS di Riau, dilakukan oleh sebuah tim penetapan harga yang difasilitasi oleh Dinas Perkebunan Riau, dimana tim terdiri dari sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit besar yang ada di Riau serta petani kelapa sawit yang tergabung dalam wadah koperasi. Tim inilah kemudian yang merumuskan besaran harga TBS dengan berpatokan pada harga CPO di pasaran internasional, dan harga TBS yag ditetapkan terus dilakukan evaluasi setiap dua minggu sekali.(fas)
Posted by
raprapmedan
at
Wednesday, October 15, 2008
0
comments
Labels:
CPO,
Indonesia,
Internasional,
Malaysia,
Pekanbaru,
Riau Pos,
TBS
PKS Mulai Tolak Beli Sawit Petani
BANGKINANG-Anjloknya harga sawit belakangan ini yang telah mencapai Rp450/kg mulai menimbulkan masalah baru bagi pemilik kebun sawit. Pasalnya sejumlah Pabrik Kelapa sawit (PKS) mulai menolak membeli sawit petani dengan berbagai alasan yang tak jelas. Dari penelusuran Riau Mandiri, Selasa (14/10), penolakan PKS membeli sawit petani di antaranya terjadi di Kabupaten Kampar. Menurut pengakuan Muhammad U, salah seorang petani setempat, sejumlah PKS enggan membeli sawit masyarakat dengan alasan yang tak jelas. Padahal selama ini sawit yang dijual masyarakat selalu diterima. "Saya tidak tahu kenapa pihak PKS tak mau lagi membeli sawit petani sejak tiga hari yang lalu,” kata Muhammad yang mengaku harga sawit di PKS sebelumnya hanyalah Rp700/kg. "Lalu harus kemana lagi kami harus menjualnya?" tanya Muhammad dengan wajah gelisah. Sementara H Syukur, salah seorang pemilik kebun sawit, juga mengaku terpukul dengan jatuhnya harga sawit yang kini Rp450 per-kilogramnya, padahal pernah mencapai harga Rp2.100 per-kg. Dia mengalami kerugian yang cukup besar karena hasil panen sekitar 60 ton sawit kini hanya dihargai Rp35 juta. Padahal sebelumnya bisa mencapai Rp100 juta.
”Sudah tak sampai separoh lagi diterima,” katanya. Berbeda dengan Muhammad, dia mengaku masih bersyukur karena buah sawit masih bisa dijual. "Tapi jika buah sawit tak terjual lagi maka kerugian akan semakin besar dan buah sawit akan menjadi busuk," katanya. Kasubdin Pengelolaan dan Pemasaran Hasil Dinas Perkebunan Provinsi Riau Ir Feri Hc MSi selaku Ketua Tim Pelaksana rapat penetapan harga tandan buah segar (TBS) dalam kesempatan terpisah mengatakan, pihaknya telah mengambil kebijakan di antaranya, mensyaratkan PKS untuk bermitra dengan petani, khususnya petani sawit swadaya. "PKS harus mengambilkan pasokan TBS minimal 25 persen dari petani swadaya/mitra binaan, apalagi saat ini PKS yang belum memiliki kebun sebanyak 28 unit dari 138 unit PKS yang ada di Riau," ujar Feri usai rapat tim penetapan harga pembelian Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit di Dinas Perkebunan Provinsi Riau kemarin.
Harga Sawit NaikDiakui Feri, harga TBS yang anjlok tajam saat ini dialami oleh para petani sawit swadaya atau mandiri karena mereka tidak bermitra dengan PKS. Sementara untuk petani sawit yang bermitra dengan PKS, justru harga TBS mengalami kenaikan. Harga TBS umur di atas 10 tahun naik menjadi Rp1.047/kg, atau naik Rp18 dari harga sebelumnya Rp1.027/kg. Sedangkan untuk TBS kelapa sawit umur tiga tahun Rp749,59/kg, umur 4 tahun 837,61/kg, umur lima tahun 896,52. Kemudian umur enam tahun Rp922,41/kg, umur 7 tahun 957,76/kg, umur 8 tahun Rp 987,59, 9 tahun Rp1.019/kg Naiknya harga TBS saat ini menurutnya, salah satunya disebabkan permintaan CPO di luar negeri mulai meningkat. "Karena petani swadaya tersebut tidak bermitra, maka selalu di nomor duakan oleh pihak PKS. Pihak PKS lebih mendahulukan petani yang merupakan mitra binaannya, sehingga petani swadaya harus antre. Akibatnya, TBS petani swadaya tadi mengalami penyusutan dan berpengaruh terhadap kualitas komoditi, yang seharusnya agregat A menjadi agregat C, dan tentunya juga berpengaruh terhadap harga," ujarnya. Belum lagi biaya dodos/panen yang mencapai Rp100 hingga Rp200/kg yang harus dikeluarkan petani swadaya. "Faktor cuaca seperti hujan saat ini yang mengakibatkan rusaknya jalan, Sehingga mobil untuk mengangkut hasil panen tidak dapat masuk ke lokasi kebun. Akibatnya, petani harus menambah biaya angkut dan memerlukan waktu untuk menjual hasil panen itu," tambahnya. Menurut Feri, di Provinsi Riau saat ini sekitar 50 persen merupakan petani swadaya, dan 50 persen lainnya merupakan petani PIR BUMN maupun swasta. "Dari 1.700.000 hektar lahan sawit di Riau, 50 persennya dikelola petani swadaya," ungkapnya.
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau Susilo, yang ditemui menambahkan, perlu adanya keberpihakan Pemerintah Daerah Provinsi maupun kabupaten/kota dalam mengatasi persoalan infrastruktur perkebunan yang dirasakan petani saat ini. "Akses jalan yang jelek, ditambah kondisi hujan saat ini mengakibatkan petani sulit untuk mengumpulkan hasil panennya untuk kemudian dipasarkan. Untuk itu perlu keberpihakan pemerintah daerah," ujarnya.
Ia mencontohkan di Provinsi Sumatera Barat, kondisi jalan-jalan di persawahan umumnya telah diaspal, sehingga petani tidak memiliki kendala untuk mengangkut dan memasarkan hasil panennya. "Hendaknya hal seperti ini juga dilakukan di Provinsi Riau," ujarnya.(tim)
”Sudah tak sampai separoh lagi diterima,” katanya. Berbeda dengan Muhammad, dia mengaku masih bersyukur karena buah sawit masih bisa dijual. "Tapi jika buah sawit tak terjual lagi maka kerugian akan semakin besar dan buah sawit akan menjadi busuk," katanya. Kasubdin Pengelolaan dan Pemasaran Hasil Dinas Perkebunan Provinsi Riau Ir Feri Hc MSi selaku Ketua Tim Pelaksana rapat penetapan harga tandan buah segar (TBS) dalam kesempatan terpisah mengatakan, pihaknya telah mengambil kebijakan di antaranya, mensyaratkan PKS untuk bermitra dengan petani, khususnya petani sawit swadaya. "PKS harus mengambilkan pasokan TBS minimal 25 persen dari petani swadaya/mitra binaan, apalagi saat ini PKS yang belum memiliki kebun sebanyak 28 unit dari 138 unit PKS yang ada di Riau," ujar Feri usai rapat tim penetapan harga pembelian Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit di Dinas Perkebunan Provinsi Riau kemarin.
Harga Sawit NaikDiakui Feri, harga TBS yang anjlok tajam saat ini dialami oleh para petani sawit swadaya atau mandiri karena mereka tidak bermitra dengan PKS. Sementara untuk petani sawit yang bermitra dengan PKS, justru harga TBS mengalami kenaikan. Harga TBS umur di atas 10 tahun naik menjadi Rp1.047/kg, atau naik Rp18 dari harga sebelumnya Rp1.027/kg. Sedangkan untuk TBS kelapa sawit umur tiga tahun Rp749,59/kg, umur 4 tahun 837,61/kg, umur lima tahun 896,52. Kemudian umur enam tahun Rp922,41/kg, umur 7 tahun 957,76/kg, umur 8 tahun Rp 987,59, 9 tahun Rp1.019/kg Naiknya harga TBS saat ini menurutnya, salah satunya disebabkan permintaan CPO di luar negeri mulai meningkat. "Karena petani swadaya tersebut tidak bermitra, maka selalu di nomor duakan oleh pihak PKS. Pihak PKS lebih mendahulukan petani yang merupakan mitra binaannya, sehingga petani swadaya harus antre. Akibatnya, TBS petani swadaya tadi mengalami penyusutan dan berpengaruh terhadap kualitas komoditi, yang seharusnya agregat A menjadi agregat C, dan tentunya juga berpengaruh terhadap harga," ujarnya. Belum lagi biaya dodos/panen yang mencapai Rp100 hingga Rp200/kg yang harus dikeluarkan petani swadaya. "Faktor cuaca seperti hujan saat ini yang mengakibatkan rusaknya jalan, Sehingga mobil untuk mengangkut hasil panen tidak dapat masuk ke lokasi kebun. Akibatnya, petani harus menambah biaya angkut dan memerlukan waktu untuk menjual hasil panen itu," tambahnya. Menurut Feri, di Provinsi Riau saat ini sekitar 50 persen merupakan petani swadaya, dan 50 persen lainnya merupakan petani PIR BUMN maupun swasta. "Dari 1.700.000 hektar lahan sawit di Riau, 50 persennya dikelola petani swadaya," ungkapnya.
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau Susilo, yang ditemui menambahkan, perlu adanya keberpihakan Pemerintah Daerah Provinsi maupun kabupaten/kota dalam mengatasi persoalan infrastruktur perkebunan yang dirasakan petani saat ini. "Akses jalan yang jelek, ditambah kondisi hujan saat ini mengakibatkan petani sulit untuk mengumpulkan hasil panennya untuk kemudian dipasarkan. Untuk itu perlu keberpihakan pemerintah daerah," ujarnya.
Ia mencontohkan di Provinsi Sumatera Barat, kondisi jalan-jalan di persawahan umumnya telah diaspal, sehingga petani tidak memiliki kendala untuk mengangkut dan memasarkan hasil panennya. "Hendaknya hal seperti ini juga dilakukan di Provinsi Riau," ujarnya.(tim)
Posted by
raprapmedan
at
Wednesday, October 15, 2008
0
comments
Labels:
Kampar,
PKS,
Riau Mandiri,
TBS
Harga Sawit Anjlok Hingga Rp 350 per Kilogram
Rabu, 15/10/2008 03:52 WIB
Palembang
- Krisis ekonomi secara global berdampak cukup kuat terhadap petani di Sumatra Selatan. Sejak sepekan ini, harga sawit hanya Rp 350 per kilogram di tingkat petani. Harga itu pun masih harus dikurangi Rp 100 per kilogram, sehingga pendapatan bersih petani Rp 250 per kilogram.
Amarizal, pengepul sawit, mengatakan harga itu baru diperolehnya setelah pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) menurunkan harga beli ke pengepul menjadi Rp 650 per kilogram TBS. "Karena harga sawit dari pabrik turun, tentu kami juga menurunkan harga beli ke petani, kata Amrizal.
Sejak harga sawit anjlok, produksi TBS dari petani juga merosot sampai separuh lantaran sebagian besar petani tidak bisa membeli pupuk. Padahal, pupuk merupakan kebutuhan utama untuk meningkatkan produksi.
Kopi Juga Anjlok
Sementara sejak satu minggu terakhir ini harga biji kopi terus mengalami penurunan Rp 11.500/kg, turun dari harga sebelumya Rp 15.000 per kg. Padahal sebelumnya harga kopi bisa mencapai Rp 18.000 per kg.
Penurunan tersebut cukup membuat petani di Kota Pagaralam mulai beralih mencari alternatif lain seperti bertanam sayur atau menanam padi. Namun demikian penurunan juga sangat dipengaruhi terjadinya krisis ekonomi global.
Menurut Agen Kopi Kota Pagaralam, Demyati Rais, penurunan harga kopi sangat dipenagaruhi dengan situasi ekonomi dunia yang terjadi pasang surut atau pengaruh krisia ekonomi dunia global.
”Harga kopi terus mengalami penurunan secara berangsur-angsur akibat melorotnya situasi ekonomi dunia saat ini. Bahkan dalam kurun waktu beberapa hari ini harga terus mengalami penurunan. Krisis Finansial yang melanda Amerika juga berdampak bagi harga kopi dunia termasuk di Kota Pagaralam. Sejak terjadinya krisis tersebut komoditas andalan petani di Kota Pagaralam harganya terus anjlok,” ungkapnya.
Khawatir Semakin Anjlok
Menurut Dun (25) Warga Dusun Janang Kelurahan Agung Lawangan Dempo Utara, tidak banyak petani yang masih menyimpan biji kopi untuk dijadikan tabungan menunggu harga lebih tinggi atau menembus angka di atas Rp 20.000/kg. Kalaupun ada bukan sengaja disipan tapi karena ada petani yang mengalami musim yang tidak serentak disetiap daerah di Kota Pagaralam. Sehingga pada saat menjual juga terlambat.
“Kami memang ada menyimpan tapi tidak terlalu banyak hanya beberapa karung saja, kalau pun harga naik itu yang diharapkan kalau tidak akan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Sejumlah petani di Kota Pagaralam menjadi cemas, soalnya kopi merupakan hasil pertanian di Kota Pagaralam, sehingga apabila berlangsung lama akan berdampak pada perekonomian masyarakat,” ungkap Dun.(tw/anw)
Palembang
- Krisis ekonomi secara global berdampak cukup kuat terhadap petani di Sumatra Selatan. Sejak sepekan ini, harga sawit hanya Rp 350 per kilogram di tingkat petani. Harga itu pun masih harus dikurangi Rp 100 per kilogram, sehingga pendapatan bersih petani Rp 250 per kilogram.
Amarizal, pengepul sawit, mengatakan harga itu baru diperolehnya setelah pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) menurunkan harga beli ke pengepul menjadi Rp 650 per kilogram TBS. "Karena harga sawit dari pabrik turun, tentu kami juga menurunkan harga beli ke petani, kata Amrizal.
Sejak harga sawit anjlok, produksi TBS dari petani juga merosot sampai separuh lantaran sebagian besar petani tidak bisa membeli pupuk. Padahal, pupuk merupakan kebutuhan utama untuk meningkatkan produksi.
Kopi Juga Anjlok
Sementara sejak satu minggu terakhir ini harga biji kopi terus mengalami penurunan Rp 11.500/kg, turun dari harga sebelumya Rp 15.000 per kg. Padahal sebelumnya harga kopi bisa mencapai Rp 18.000 per kg.
Penurunan tersebut cukup membuat petani di Kota Pagaralam mulai beralih mencari alternatif lain seperti bertanam sayur atau menanam padi. Namun demikian penurunan juga sangat dipengaruhi terjadinya krisis ekonomi global.
Menurut Agen Kopi Kota Pagaralam, Demyati Rais, penurunan harga kopi sangat dipenagaruhi dengan situasi ekonomi dunia yang terjadi pasang surut atau pengaruh krisia ekonomi dunia global.
”Harga kopi terus mengalami penurunan secara berangsur-angsur akibat melorotnya situasi ekonomi dunia saat ini. Bahkan dalam kurun waktu beberapa hari ini harga terus mengalami penurunan. Krisis Finansial yang melanda Amerika juga berdampak bagi harga kopi dunia termasuk di Kota Pagaralam. Sejak terjadinya krisis tersebut komoditas andalan petani di Kota Pagaralam harganya terus anjlok,” ungkapnya.
Khawatir Semakin Anjlok
Menurut Dun (25) Warga Dusun Janang Kelurahan Agung Lawangan Dempo Utara, tidak banyak petani yang masih menyimpan biji kopi untuk dijadikan tabungan menunggu harga lebih tinggi atau menembus angka di atas Rp 20.000/kg. Kalaupun ada bukan sengaja disipan tapi karena ada petani yang mengalami musim yang tidak serentak disetiap daerah di Kota Pagaralam. Sehingga pada saat menjual juga terlambat.
“Kami memang ada menyimpan tapi tidak terlalu banyak hanya beberapa karung saja, kalau pun harga naik itu yang diharapkan kalau tidak akan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Sejumlah petani di Kota Pagaralam menjadi cemas, soalnya kopi merupakan hasil pertanian di Kota Pagaralam, sehingga apabila berlangsung lama akan berdampak pada perekonomian masyarakat,” ungkap Dun.(tw/anw)
Posted by
raprapmedan
at
Wednesday, October 15, 2008
0
comments
Labels:
PKS,
Pupuk,
Sumatera Selatan,
TBS
Harga Sawit Semakin Anjlok
Di Rokan Hulu, TBS Dihargai Rp 300 Per Kilogram
Rabu, 15 Oktober 2008 01:35 WIB
Pasirpengarayan, Kompas - Harga tandan buah segar kelapa sawit di tingkat petani semakin anjlok. Di sentra kelapa sawit Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau, harga TBS kelapa sawit bahkan sudah Rp 300 per kilogram. Harga itu turun Rp 50 dibandingkan dengan sehari sebelumnya sebesar Rp 350 per kilogram.
Syaifuddin, petani sawit yang dijumpai Kompas di Desa Sialangjaya, Kecamatan Rambah, Rokan Hulu, sekitar 190 kilometer dari Pekanbaru, Selasa (14/10), mengatakan, harga Rp 300 masih tergolong bagus. Beberapa pedagang pengumpul sudah berancang-ancang akan menurunkan harga sampai Rp 250 per kilogram (kg).
Dia terpaksa tetap memanen sawit semata-mata untuk mencegah kerusakan pohon pada masa yang akan datang. ”Saya mendengar kalau tandan yang sudah masak tetapi tidak dipanen dapat merusak pohon. Kalau saja pohon tidak rusak, saya tidak akan memanen,” katanya.
Dari dua ton panen tandan buah segar (TBS) kelapa sawit, Selasa, Syaifuddin meraih penghasilan kotor Rp 600.000. Namun, dia harus mengeluarkan upah empat pekerja Rp 240.000. Selain itu, dia harus mengeluarkan upah dodos (memetik buah sawit) Rp 140.000 lagi untuk dua pekerja. Penghasilan bersihnya Rp 220.000 selama dua pekan.
”Sebelum puasa, saya mendapat Rp 4 juta sebulan,” kata Syaifuddin.
Penagih kredit
Ardimen Daulay, Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Kabupaten Rokan Hulu, menyatakan, banyak anggotanya berutang dan tidak sedikit yang dikejar-kejar penagih kredit. Menurut dia, semua anggotanya memiliki lahan sekitar 118.000 hektar. Mereka adalah petani swadaya.
Gubernur Riau Wan Abubakar yang ditemui di Merangin mengatakan, ”Saya meminta petani sabar karena situasi sekarang ini tidak akan berlangsung selamanya. Saya berharap pemerintah pusat dapat mencarikan jalan keluar untuk mengatasi anjloknya harga sawit ini.”
Bupati Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Wahyudi K Anwar menuturkan, mengikuti kecenderungan turunnya harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), harga TBS di wilayahnya juga terus turun.
”Saat harga minyak dunia mencapai 100 dollar AS per barrel beberapa bulan lalu, harga TBS di Kotawaringin Timur mencapai lebih dari Rp 1.000 per kg. Belakangan ini harganya cuma Rp 400 per kg,” kata Wahyudi saat ditemui pada Rapat Koordinasi Pengendalian Pembangunan se- Kalteng di Palangkaraya.
Kemerosotan harga TBS membuat beberapa pihak di Sumatera Utara meminta agar pemerintah pusat segera bertindak untuk menekan harga. Salah satunya adalah menurunkan pajak ekspor (PE) CPO menjadi 1 persen atau menghapus PE CPO saat harga TBS di bawah harga impas produksi, yakni Rp 800 per kg.
Kepala Subdinas Bina Produksi Dinas Perkebunan Sumut Herawati dan Kepala Seksi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Dinas Perkebunan Sumut Sahrida, Selasa, mengatakan, jika pajak tetap diberlakukan, petani kian terdesak.
Bantuan pengusaha
Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang meminta pengusaha membantu kesulitan yang dihadapi petani. Bantuan itu berupa tidak membeli getah karet dengan harga yang sangat murah.
”Tadi pagi saya menghubungi beberapa pengusaha karet di Kalteng dan Kalsel. Mereka berjanji segera berunding agar tak membeli karet petani di harga yang terlalu rendah,” katanya, Selasa, di Palangkaraya.
Petani di Kabupaten Barito Utara dan Gunung Mas terpukul karena anjloknya harga getah karet sepekan ini dari Rp 9.000-Rp 9.500 per kg menjadi Rp 5.500- Rp 6.000. (sah/cas/wsi)
Rabu, 15 Oktober 2008 01:35 WIB
Pasirpengarayan, Kompas - Harga tandan buah segar kelapa sawit di tingkat petani semakin anjlok. Di sentra kelapa sawit Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau, harga TBS kelapa sawit bahkan sudah Rp 300 per kilogram. Harga itu turun Rp 50 dibandingkan dengan sehari sebelumnya sebesar Rp 350 per kilogram.
Syaifuddin, petani sawit yang dijumpai Kompas di Desa Sialangjaya, Kecamatan Rambah, Rokan Hulu, sekitar 190 kilometer dari Pekanbaru, Selasa (14/10), mengatakan, harga Rp 300 masih tergolong bagus. Beberapa pedagang pengumpul sudah berancang-ancang akan menurunkan harga sampai Rp 250 per kilogram (kg).
Dia terpaksa tetap memanen sawit semata-mata untuk mencegah kerusakan pohon pada masa yang akan datang. ”Saya mendengar kalau tandan yang sudah masak tetapi tidak dipanen dapat merusak pohon. Kalau saja pohon tidak rusak, saya tidak akan memanen,” katanya.
Dari dua ton panen tandan buah segar (TBS) kelapa sawit, Selasa, Syaifuddin meraih penghasilan kotor Rp 600.000. Namun, dia harus mengeluarkan upah empat pekerja Rp 240.000. Selain itu, dia harus mengeluarkan upah dodos (memetik buah sawit) Rp 140.000 lagi untuk dua pekerja. Penghasilan bersihnya Rp 220.000 selama dua pekan.
”Sebelum puasa, saya mendapat Rp 4 juta sebulan,” kata Syaifuddin.
Penagih kredit
Ardimen Daulay, Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Kabupaten Rokan Hulu, menyatakan, banyak anggotanya berutang dan tidak sedikit yang dikejar-kejar penagih kredit. Menurut dia, semua anggotanya memiliki lahan sekitar 118.000 hektar. Mereka adalah petani swadaya.
Gubernur Riau Wan Abubakar yang ditemui di Merangin mengatakan, ”Saya meminta petani sabar karena situasi sekarang ini tidak akan berlangsung selamanya. Saya berharap pemerintah pusat dapat mencarikan jalan keluar untuk mengatasi anjloknya harga sawit ini.”
Bupati Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Wahyudi K Anwar menuturkan, mengikuti kecenderungan turunnya harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), harga TBS di wilayahnya juga terus turun.
”Saat harga minyak dunia mencapai 100 dollar AS per barrel beberapa bulan lalu, harga TBS di Kotawaringin Timur mencapai lebih dari Rp 1.000 per kg. Belakangan ini harganya cuma Rp 400 per kg,” kata Wahyudi saat ditemui pada Rapat Koordinasi Pengendalian Pembangunan se- Kalteng di Palangkaraya.
Kemerosotan harga TBS membuat beberapa pihak di Sumatera Utara meminta agar pemerintah pusat segera bertindak untuk menekan harga. Salah satunya adalah menurunkan pajak ekspor (PE) CPO menjadi 1 persen atau menghapus PE CPO saat harga TBS di bawah harga impas produksi, yakni Rp 800 per kg.
Kepala Subdinas Bina Produksi Dinas Perkebunan Sumut Herawati dan Kepala Seksi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Dinas Perkebunan Sumut Sahrida, Selasa, mengatakan, jika pajak tetap diberlakukan, petani kian terdesak.
Bantuan pengusaha
Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang meminta pengusaha membantu kesulitan yang dihadapi petani. Bantuan itu berupa tidak membeli getah karet dengan harga yang sangat murah.
”Tadi pagi saya menghubungi beberapa pengusaha karet di Kalteng dan Kalsel. Mereka berjanji segera berunding agar tak membeli karet petani di harga yang terlalu rendah,” katanya, Selasa, di Palangkaraya.
Petani di Kabupaten Barito Utara dan Gunung Mas terpukul karena anjloknya harga getah karet sepekan ini dari Rp 9.000-Rp 9.500 per kg menjadi Rp 5.500- Rp 6.000. (sah/cas/wsi)
Posted by
raprapmedan
at
Wednesday, October 15, 2008
0
comments
Labels:
CPO,
Pekanbaru,
Riau,
Rokan Hulu,
Sumatera Utara,
Tandab Buah Segar,
TBS
Subscribe to:
Posts (Atom)