Pariwisata
Kamis, 16 Oktober 2008 01:06 WIB
Musi Banyuasin, Kompas - Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin sudah menggagas dan sedang mendesain program pembangunan kawasan agrowisata perkebunan karet dan kelapa sawit. Untuk mewujudkan gagasan tersebut, Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin berharap adanya sharing atau kerja sama pendanaan untuk membangun infrastruktur.
Bupati Musi Banyuasin (Muba) Pahri Azahri mengatakan hal tersebut seusai kegiatan Implementasi Proyek Mekanisme Bersih di lokasi pabrik sawit dan karet PT Pinago Utama di Desa Sugih Waras, Kecamatan Babat Toman, Kabupaten Muba, Sumatera Selatan, Rabu (15/10).
Menurut Pahri, gagasan membangun agrowisata karet dan kelapa sawit tersebut bertujuan untuk menggeliatkan kembali sektor pariwisata di Kabupaten Muba. Dia menilai keberadaan sektor pariwisata ini saling terkait dengan sektor ekonomi dan pendidikan.
”Kalau sebuah masyarakat memiliki sistem ekonomi yang mapan, pendidikan yang maju, dan pariwisata yang baik, maka bisa dibayangkan sendiri dampaknya bagi Muba,” katanya.
Di sisi lain, gagasan itu juga untuk mewujudkan jargon ”Muba Smart 2012” yang selama ini menjadi acuan bagi masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Muba. Menurut Pahri, Kabupaten Muba memiliki potensi yang sangat besar di sektor perkebunan dengan jenis komoditas karet dan kelapa sawit tersebut.
”Hampir 80 persen wilayah geografis Kabupaten Muba terdiri dari kawasan perkebunan karet dan kelapa sawit. Selain menopang sektor ekonomi, mengapa hal itu tidak sekalian dimanfaatkan untuk mengembangkan pariwisata,” katanya.
Secara khusus, Pahri menjelaskan, kemungkinan proyek percontohan dari ide ini akan dilaksanakan di kawasan PT Pinago Utama dengan pertimbangan kesiapan yang paling mantap. Nantinya, proyek pengembangan infrastruktur agrowisata karet dan kelapa sawit ini akan berupa pembangunan jalan, jembatan, penataan lingkungan menjadi hijau, dan pembenahan fasilitas umum-sosial.
Direktur Utama PT Pinago Utama Wilson S menjelaskan, pihaknya siap mendukung gagasan Pemerintah Kabupaten Muba tersebut, terutama pada sektor agrowisata. Dia menilai program agrowisata karet dan kelapa sawit justru akan menguntungkan perusahaan karena fasilitas dan infrastrukturnya juga akan dibangun dengan baik. (ONI)
Showing posts with label Sumatera Selatan. Show all posts
Showing posts with label Sumatera Selatan. Show all posts
Thursday, October 16, 2008
Muba Gagas Agrowisata Karet dan Sawit
Posted by
raprapmedan
at
Thursday, October 16, 2008
0
comments
Labels:
Kelapa Sawit,
Kompas,
Sumatera Selatan
Wednesday, October 15, 2008
Harga Sawit Anjlok Hingga Rp 350 per Kilogram
Rabu, 15/10/2008 03:52 WIB
Palembang
- Krisis ekonomi secara global berdampak cukup kuat terhadap petani di Sumatra Selatan. Sejak sepekan ini, harga sawit hanya Rp 350 per kilogram di tingkat petani. Harga itu pun masih harus dikurangi Rp 100 per kilogram, sehingga pendapatan bersih petani Rp 250 per kilogram.
Amarizal, pengepul sawit, mengatakan harga itu baru diperolehnya setelah pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) menurunkan harga beli ke pengepul menjadi Rp 650 per kilogram TBS. "Karena harga sawit dari pabrik turun, tentu kami juga menurunkan harga beli ke petani, kata Amrizal.
Sejak harga sawit anjlok, produksi TBS dari petani juga merosot sampai separuh lantaran sebagian besar petani tidak bisa membeli pupuk. Padahal, pupuk merupakan kebutuhan utama untuk meningkatkan produksi.
Kopi Juga Anjlok
Sementara sejak satu minggu terakhir ini harga biji kopi terus mengalami penurunan Rp 11.500/kg, turun dari harga sebelumya Rp 15.000 per kg. Padahal sebelumnya harga kopi bisa mencapai Rp 18.000 per kg.
Penurunan tersebut cukup membuat petani di Kota Pagaralam mulai beralih mencari alternatif lain seperti bertanam sayur atau menanam padi. Namun demikian penurunan juga sangat dipengaruhi terjadinya krisis ekonomi global.
Menurut Agen Kopi Kota Pagaralam, Demyati Rais, penurunan harga kopi sangat dipenagaruhi dengan situasi ekonomi dunia yang terjadi pasang surut atau pengaruh krisia ekonomi dunia global.
”Harga kopi terus mengalami penurunan secara berangsur-angsur akibat melorotnya situasi ekonomi dunia saat ini. Bahkan dalam kurun waktu beberapa hari ini harga terus mengalami penurunan. Krisis Finansial yang melanda Amerika juga berdampak bagi harga kopi dunia termasuk di Kota Pagaralam. Sejak terjadinya krisis tersebut komoditas andalan petani di Kota Pagaralam harganya terus anjlok,” ungkapnya.
Khawatir Semakin Anjlok
Menurut Dun (25) Warga Dusun Janang Kelurahan Agung Lawangan Dempo Utara, tidak banyak petani yang masih menyimpan biji kopi untuk dijadikan tabungan menunggu harga lebih tinggi atau menembus angka di atas Rp 20.000/kg. Kalaupun ada bukan sengaja disipan tapi karena ada petani yang mengalami musim yang tidak serentak disetiap daerah di Kota Pagaralam. Sehingga pada saat menjual juga terlambat.
“Kami memang ada menyimpan tapi tidak terlalu banyak hanya beberapa karung saja, kalau pun harga naik itu yang diharapkan kalau tidak akan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Sejumlah petani di Kota Pagaralam menjadi cemas, soalnya kopi merupakan hasil pertanian di Kota Pagaralam, sehingga apabila berlangsung lama akan berdampak pada perekonomian masyarakat,” ungkap Dun.(tw/anw)
Palembang
- Krisis ekonomi secara global berdampak cukup kuat terhadap petani di Sumatra Selatan. Sejak sepekan ini, harga sawit hanya Rp 350 per kilogram di tingkat petani. Harga itu pun masih harus dikurangi Rp 100 per kilogram, sehingga pendapatan bersih petani Rp 250 per kilogram.
Amarizal, pengepul sawit, mengatakan harga itu baru diperolehnya setelah pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) menurunkan harga beli ke pengepul menjadi Rp 650 per kilogram TBS. "Karena harga sawit dari pabrik turun, tentu kami juga menurunkan harga beli ke petani, kata Amrizal.
Sejak harga sawit anjlok, produksi TBS dari petani juga merosot sampai separuh lantaran sebagian besar petani tidak bisa membeli pupuk. Padahal, pupuk merupakan kebutuhan utama untuk meningkatkan produksi.
Kopi Juga Anjlok
Sementara sejak satu minggu terakhir ini harga biji kopi terus mengalami penurunan Rp 11.500/kg, turun dari harga sebelumya Rp 15.000 per kg. Padahal sebelumnya harga kopi bisa mencapai Rp 18.000 per kg.
Penurunan tersebut cukup membuat petani di Kota Pagaralam mulai beralih mencari alternatif lain seperti bertanam sayur atau menanam padi. Namun demikian penurunan juga sangat dipengaruhi terjadinya krisis ekonomi global.
Menurut Agen Kopi Kota Pagaralam, Demyati Rais, penurunan harga kopi sangat dipenagaruhi dengan situasi ekonomi dunia yang terjadi pasang surut atau pengaruh krisia ekonomi dunia global.
”Harga kopi terus mengalami penurunan secara berangsur-angsur akibat melorotnya situasi ekonomi dunia saat ini. Bahkan dalam kurun waktu beberapa hari ini harga terus mengalami penurunan. Krisis Finansial yang melanda Amerika juga berdampak bagi harga kopi dunia termasuk di Kota Pagaralam. Sejak terjadinya krisis tersebut komoditas andalan petani di Kota Pagaralam harganya terus anjlok,” ungkapnya.
Khawatir Semakin Anjlok
Menurut Dun (25) Warga Dusun Janang Kelurahan Agung Lawangan Dempo Utara, tidak banyak petani yang masih menyimpan biji kopi untuk dijadikan tabungan menunggu harga lebih tinggi atau menembus angka di atas Rp 20.000/kg. Kalaupun ada bukan sengaja disipan tapi karena ada petani yang mengalami musim yang tidak serentak disetiap daerah di Kota Pagaralam. Sehingga pada saat menjual juga terlambat.
“Kami memang ada menyimpan tapi tidak terlalu banyak hanya beberapa karung saja, kalau pun harga naik itu yang diharapkan kalau tidak akan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Sejumlah petani di Kota Pagaralam menjadi cemas, soalnya kopi merupakan hasil pertanian di Kota Pagaralam, sehingga apabila berlangsung lama akan berdampak pada perekonomian masyarakat,” ungkap Dun.(tw/anw)
Posted by
raprapmedan
at
Wednesday, October 15, 2008
0
comments
Labels:
PKS,
Pupuk,
Sumatera Selatan,
TBS
Subscribe to:
Posts (Atom)