Kamis, 06/11/2008 19:19 WIB
oleh : Erwin Tambunan
JAKARTA (bisnis.com): Pemerintah Indonesia dan Malaysia sepakat memangkas 250.000 ha perkebunan kelapa sawit untuk mengurangi kelebihan produksi komoditas itu.
"Kami akan mengatur stok produksi bersama-sama untuk memperoleh harga yang pas, tidak jatuh seperti sekarang ini," ujar Mentan Anton Apriantono seusai menandatangani kesepakatan bersama dengan Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditas Malaysia, Peter Chin Fah Kui, hari ini.
Dalam kesepakatan itu, Malaysia mulai 2009 berencana memangkas 200.000 ha perkebunan sawitnya, sedangkan Indonesia memangkas 50.000 ha. "Malaysia mengklaim produksi sawitnya sebanyak 2,5 ton per ha, sedangkan Indonesia 1,5 ton/ha."
Pengaturan pemangkasan perkebunan kelapa sawit, menurut Anton, dilaksanakan awal Januari 2009. "Pemangkasan itu diprioritaskan pohon yang sudah tua yang tujuannya mengurangi produksi, sehingga ekspansinya sesuai kebutuhan pasar," katanya.
Sebelumnya Dirjen Perkebunan Deptan Achmad Manggabarani mengatakan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit yang berlaku sekarang Rp4.500 per kg. "Dua minggu lalu harganya sempat anjlok hingga mencapai Rp3.900 per kg," katanya.
Mengantisipasi perkembangan perdagangan kelapa sawit internasional, kedua negara sebagai produsen 85% kebutuhan minyak sawit dunia bersepakat setiap bulan saling tukar menukar informasi tentang perdagangan kelapa sawit dan karet. (tw)
source: bisnis.com
Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Thursday, November 6, 2008
RI-Malaysia pangkas 250.000 ha kebun sawit
Posted by
raprapmedan
at
Thursday, November 06, 2008
0
comments
Labels:
Indonesia,
Kelapa Sawit,
Malaysia
Monday, October 20, 2008
ANALISA KOMODITI, 20 OKTOBER 2008
( Senin, 20 - 10 - 08)
ENERGI – Meningkat dipicu aksi short coveringPada perdagangan akhir pekan kemarin, harga minyak mentah ditutup meningkat karena aksi short covering setelah secara dramatis sebelumnya mengalami penurunan. Peningkatan harga minyak juga dipicu rencana pertemuan OPEC pada minggu depan yang berencana mengurangi produksi.Harga minyak mentah November ditutup meningkat $2 menjadi $71.85 per barel, setelah sebelumnya selama seminggu mengalami penurunan hingga $5.85 atau 8% dari penutupan Jum’at minggu lalu di $77.70 per barel. (Asy/Bpti)
source: bappebti.go.id
MINYAK KELAPA SAWIT- Terus melemahPada perdagangan berjangka Minyak Kelapa Sawit di Malaysia dan di Indonesia, harga CPO berjangka ditutup melemah lebih dari 3 % karena kekhawatiran yang masih menyelimuti pasar global berkaitan dengan resesi ekonomi yang akan memangkas permintaan.
Kontrak Januari di MDEX ditutup melemah RM16 atau 0.97% menjadi RM 1,635 (US463) per ton, sementara itu kontrak bulan yang sama di BBJ ditutup melemah Rp.145 per kg menjadi Rp.5.065 per kg. Indonesia berencana untuk memotong pajak ekspor minyak sawit karena melemahnya permintaan yang menyebabkan tekanan pada harga.
Pada peraturan yang berlaku sekarang Dalam Permenkeu No 09/PMK.011/2008, tarif PE berpedoman pada harga rata-rata CPO CIF Rotterdam satu bulan sebelum penetapan harga patokan ekspor (HPE). Pemerintah Indonesia berencana menentukan pajak ekspor pada bulan November. Pajak eksport yang sekarang berlaku pada 7.5% untuk bulan Oktober.
LOGAM – Turun karena investor melikuidasi danaPada perdagangan hari Jum’at harga emas ditutup terus melemah dipicu aksi likuidasi yang dilakukan investor untuk mendapatkan dana cash nya. Kontrak emas Desember ditutup melemah $16.80 atau 2.1% menjadi $787.70 per ons. Sampai dengan minggu ini emas sudah turun $71.30 atau 8.3%Pada perdagangan emas berjangka di BBJ, harga emas kontrak Desember ditutup melemah Rp.15.400/gr atau 5.7% menjadi Rp.254.250/gram, dipicu penurunan harga emas di pasar global.
Emas mengalami kejatuhan terbesar 8.4% pada 15 Agustus, yang merupakan prosentase penurunan terbesar sejak 1984. Harga emas diperkirakan akan membaik karena meningkatnya permintaan untuk perlindungan asset ditengah terus meningkatnya kekacauan keuangan.Akan tetapi keinginan untuk memegang dana cash menyebabkan harga emas terpuruk. Dalam jangka panjang, rencana darurat pasar global untuk melakukan injeksi dana ke pasar akan menyebabkan inflasi, hal ini akan merupakan kabar baik bafi harga emas untuk membeli emas sebagai upaya hedging.Sementara itu harga perak turun 3.1% menjadi $9.34 per ons. Tembaga mengalami peningkatan 4.5% menjadi $2.1795 per pound.
ENERGI – Meningkat dipicu aksi short coveringPada perdagangan akhir pekan kemarin, harga minyak mentah ditutup meningkat karena aksi short covering setelah secara dramatis sebelumnya mengalami penurunan. Peningkatan harga minyak juga dipicu rencana pertemuan OPEC pada minggu depan yang berencana mengurangi produksi.Harga minyak mentah November ditutup meningkat $2 menjadi $71.85 per barel, setelah sebelumnya selama seminggu mengalami penurunan hingga $5.85 atau 8% dari penutupan Jum’at minggu lalu di $77.70 per barel. (Asy/Bpti)
source: bappebti.go.id
Posted by
raprapmedan
at
Monday, October 20, 2008
0
comments
Labels:
CPO,
Indonesia,
Krisis Ekonomi Global,
Malaysia,
Pajak Ekspor
Sunday, October 19, 2008
Biofuel boom endangers orangutan habitat
Palm oil plantations are encroaching on rain forest reserves on the Indonesia island of Borneo, where the endangered primates live.
By Paul Watson, Los Angeles Times Staff Writer October 19, 2008
By Paul Watson, Los Angeles Times Staff Writer October 19, 2008
TANJUNG PUTING NATIONAL PARK, INDONESIA -- In the rush to feed the world's growing appetite for climate-friendly fuel and cooking oil that doesn't clog arteries, the Bornean orangutan could get plowed over.Several plantation owners are eyeing Tanjung Puting park, a sanctuary for 6,000 of the endangered animals. It is the world's second-largest population of a primate that experts warn could be extinct in less than two decades if a massive assault on its forest habitat is not stopped.The orangutans' biggest enemy, the United Nations says, is no longer poachers or loggers. It's the palm oil industry.On the receding borders of this 1,600-square-mile lush reserve, a road paved with good intentions runs smack into a swamp of alleged corruption and government bungling. It's one of the mounting costs few bargained for in the global craze to "go green."The park clings to the southern tip of the island of Borneo, which is shared by Indonesia and Malaysia, the top producers of palm oil. Exporters market it as an alternative to both petroleum and cooking oils containing trans fats.
"That's only a slogan, you know," said Ichlas Al Zaqie, the local project manager for Los Angeles-based Orangutan Foundation International. "They change the forest, and say it's for energy sustainability, but they're killing other creatures."Indonesia is losing lowland forest faster than any other major forested country. At the rate its trees are being felled to plant oil palms, poach high-grade timber and clear land for farming, 98% of Indonesia's forest may be lost by 2022, the United Nations Environment Program says."If the immediate crisis in securing the future survival of the orangutan and the protection of national parks is not resolved, very few wild orangutans will be left within two decades," UNEP concluded in a report last year.
"The rate and extent of illegal logging in national parks may, if unchallenged, endanger the entire concept of protected areas worldwide."In July, loggers finished buzz-sawing and bulldozing a 40,000-acre swath in a northeastern corner of the park, where at least 561 orangutan lived, to clear ground for oil palm plants, Zaqie said.The government isn't much help, say environmental activists, who accuse corrupt officials, military and police officers of siding with timber poachers, illegal miners and others threatening the forests.Activists bemoan a territorial dispute between local officials and the provincial and national governments."The problem now is even the central government can't really say where the exact border of the national park is," said Yeppie Kustiwae, who handles the issue of forest conversion for the World Wide Fund for Nature in Indonesia.
Zaqie says palm oil companies are determined to take as much as 5 million acres of orangutan forest habitat in Tanjung Puting and the larger Sebangau National Park, where Borneo's largest population of orangutans lives.Tanjung Puting, a tropical Eden still revealing its secrets, shelters nine primate species, including rare proboscis monkeys, whose pendulous schnozzes can be 7 inches long.Zaqie says he first saw bulldozers knocking down trees for the northeastern palm oil plantation five years ago. He was certain the loggers were on land included in the park in a 1996 government decree.He tried without success to stop the bulldozer operators. So Zaqie went to a manager, who confirmed that the forest was being converted into a plantation by an Indonesian company called Wanasawit Subur Lestari. A spokesman for its parent company, BEST Plantation Group, denied encroaching on the park."We are working based on a permit issued by the government," said Wahyu Bimadhrata, BEST's legal manager.
"We don't work inside the national park."Mounting pressures on the forest are easiest to see in the money made by palm oil plantations. In 1990, Indonesia earned $204 million from palm oil exports; the value exploded to more than $7.8 billion in 2007.Palm oil exports started growing sharply five years ago after the European Union declared a mandatory quota to replace gasoline and diesel from crude with biofuels. Last year, it raised the biofuel target to 10% of transportation fuels by 2020, driving the price of palm oil higher and ratcheting up the threat to rain forests.The EU has maintained the policy even though a report in April by European Environment Agency scientists called it an "overambitious" experiment "whose unintended effects are difficult to predict and difficult to control.
"Instead of reducing greenhouse gas emissions, producing palm oil on what was once peat swamp forests may be boosting the amount of carbon dioxide in the atmosphere. Leveling the jungle not only destroys trees that absorb carbon dioxide, it also releases millions of tons of carbon dioxide stored in Borneo's peat for thousands of years. Fires set to clear trees and stumps add to the problem.As companies lobby to clear more rain forest, other Indonesians are laboring to restore habitat for orangutans and rehabilitate those who lost their jungle homes or were rescued from poachers.A decade ago, raging fires burned millions of acres of Borneo's forest. The Borneo Orangutan Survival Foundation bought 4,500 acres that farmers had abandoned to grassland at Samboja Lestari, on the island's eastern side.
"People thought that in one or two years, we would give up," said Ishak Yassir, the foundation's regional program manager. "We proved them wrong."His Indonesian staff cares for 224 orangutans; each day, teachers take their wide-eyed pupils to forest school. They teach them the basics, such as tree climbing; the proper way to eat dirt to get at insects, seeds and other nutrients; and avoiding snakes.Once they graduate, they join the list of orangutans ready to leave rehab.Yassir's staff has cleared more than 50 young adults for release over the last six years. But the orangutans' rescuers can't find enough safe forest for the apes to go home to.paul.watson@latimes.comSpecial correspondent Dinda Jouhana in Jakarta, Indonesia, contributed to this report.
source: latimes.com
Posted by
raprapmedan
at
Sunday, October 19, 2008
0
comments
Labels:
Indonesia,
Orang Utan,
Tanjung Putin Nasional
Colombia to have six palm biodiesel plants by 2009
October 18, 2008
On the sidelines of a meeting on sustainable palm oil that ended Friday in the Colombian coastal city of Cartagena, Nu?ez said that this year just a small percentage of palm oil output was destined for biofuels production "because the plants have not begun to function fully."She also said that the export markets for palm oil will continue to be affected by the current financial crisis and noted that the price of the vegetable oil has plunged from $1,400 per ton a few months ago to some $525 per ton at present.Nu?ez said that lower price was due to several reasons: "high inventories in Malaysia and Indonesia, market expectations related to the financial crisis and the reduction in oil prices.
source: tmcnet.com
(EFE Ingles Via Acquire Media NewsEdge) Cartagena, Colombia, Oct 18 (EFE).- Colombia, the leading producer of palm oil in the Americas, will have six palm biodiesel plants by next year and plans to increase its share of the biofuels market, sources from the sector said.
In an interview Friday with Efe, the president of Colombian palm oil producer Comercializadora Internacional Acepalma, Maria Emma Nu?ez, said that four of these six plants have already begun operating, but that production will be stepped up next year and the other two plants will also come on stream."At this time, (palm oil production) is destined for processing plants to make cooking oil, margarine and soaps, and there has been a little this year for the biodiesel plants, but by next year a significant percentage of production will be destined for the biodiesel plants," she said.
On the sidelines of a meeting on sustainable palm oil that ended Friday in the Colombian coastal city of Cartagena, Nu?ez said that this year just a small percentage of palm oil output was destined for biofuels production "because the plants have not begun to function fully."She also said that the export markets for palm oil will continue to be affected by the current financial crisis and noted that the price of the vegetable oil has plunged from $1,400 per ton a few months ago to some $525 per ton at present.Nu?ez said that lower price was due to several reasons: "high inventories in Malaysia and Indonesia, market expectations related to the financial crisis and the reduction in oil prices.
"She added that Colombian production of palm oil is expected to rise from 806,000 tons in 2008 to some 872,000 tons next year.Of the current production, some 46 percent is destined for export, primarily to the Netherlands, Germany and England in Europe, as well as to Mexico, the Caribbean, Brazil, Peru, Argentina and the United States in the Americas.The goal of the Cartagena meeting on palm oil was to internationally certify the region's biodiesel producers.Business leaders from Brazil, Colombia, Costa Rica, Ecuador, Guatemala, Honduras, Peru and Venezuela took part in the two-day gathering, where they learned about the successful experience with palm oil production in Indonesia, Malaysia and Thailand, which combine for 88 percent of total world output.
Separately, an sugarcane ethanol plant capable of producing 1.8 million liters (475,000 gallons) annually was inaugurated Friday in the central Colombian town of Barbosa, some 300 kilometers (186 miles) from Bogota.President Alvaro Uribe and Agriculture Minister Andres Arias inaugurated the plant, which, according to officials, will create a total of 429 jobs.
EFEfer/mcCopyright ? 2008 EFE News Services (U.S.) Inc.
source: tmcnet.com
Posted by
raprapmedan
at
Sunday, October 19, 2008
0
comments
Labels:
Biodiesel,
Colombia,
Indonesia,
Palm Oil
Wednesday, October 15, 2008
Ekspor CPO Oktober Bisa Kembali ke US$ 2 Miliar
Rabu, 08/10/2008 17:43 WIBSuhendra - detikFinance
Jakarta - Penurunan pajak ekspor (PE) bulan Oktober menjadi 7,5% akan menyebabkan nilai ekspor Crude Palm Oil (CPO) kembali naik rata-rata menjadi US$ 2 miliar.
Departemen Perdagangan memperkirakan angka ini merupakan pencapaian rata-rata bulanan sepanjang 2008, bahkan lebih tinggi dari nilai ekspor bulan sebelumnya yang masih di bawah US$ 2 miliar.
Hal ini dikatakan oleh Dirjen Perdagangan Luar Negeri Diah Maulida di Gedung Departemen Perdagangan Jl Ridwan Rais, Jakarta, Rabu (8/10/2008).
"Umumnya kalau kita lihat data volume ekspor bulanan rata-rata US$ 2 miliar, waktu Juli hanya US$ 600 jutaan dan bulan kemarin mencapai US$ 1 miliar karena PE turun dari 15% ke 10%," ujar Diah.
Dia menambahkan, sekarang ini pihaknya sedang mewaspadai kemungkinan penurunan permintaan ekspor akibat krisis finansial global termasuk bagi permintaan produk CPO.
"Sekarang sudah ada peraturan kewajiban untuk menyerap CPO sebagai biofuel mulai 2009 sehingga paling tidak kita harapkan akan kelebihan produksi CPO kita bisa terserap ke arah sana," ungkapnya.
Menurut Diah, potensi negara-negara maju mengurangi permintaan konsumsi CPO sangat tinggi pada kondisi saat ini terutama bagi negara yang terkena krisis keuangan. Namun ia sangat yakin bagi negara-negara berkembang seperti India dan Pakistan masih sangat potensial untuk menyerap produk CPO Indonesia karena CPO belum memiliki alternatif lain sebagai bahan bakar nabati di negara-negara tersebut.(hen/ir)
source : detik.com
Jakarta - Penurunan pajak ekspor (PE) bulan Oktober menjadi 7,5% akan menyebabkan nilai ekspor Crude Palm Oil (CPO) kembali naik rata-rata menjadi US$ 2 miliar.
Departemen Perdagangan memperkirakan angka ini merupakan pencapaian rata-rata bulanan sepanjang 2008, bahkan lebih tinggi dari nilai ekspor bulan sebelumnya yang masih di bawah US$ 2 miliar.
Hal ini dikatakan oleh Dirjen Perdagangan Luar Negeri Diah Maulida di Gedung Departemen Perdagangan Jl Ridwan Rais, Jakarta, Rabu (8/10/2008).
"Umumnya kalau kita lihat data volume ekspor bulanan rata-rata US$ 2 miliar, waktu Juli hanya US$ 600 jutaan dan bulan kemarin mencapai US$ 1 miliar karena PE turun dari 15% ke 10%," ujar Diah.
Dia menambahkan, sekarang ini pihaknya sedang mewaspadai kemungkinan penurunan permintaan ekspor akibat krisis finansial global termasuk bagi permintaan produk CPO.
"Sekarang sudah ada peraturan kewajiban untuk menyerap CPO sebagai biofuel mulai 2009 sehingga paling tidak kita harapkan akan kelebihan produksi CPO kita bisa terserap ke arah sana," ungkapnya.
Menurut Diah, potensi negara-negara maju mengurangi permintaan konsumsi CPO sangat tinggi pada kondisi saat ini terutama bagi negara yang terkena krisis keuangan. Namun ia sangat yakin bagi negara-negara berkembang seperti India dan Pakistan masih sangat potensial untuk menyerap produk CPO Indonesia karena CPO belum memiliki alternatif lain sebagai bahan bakar nabati di negara-negara tersebut.(hen/ir)
source : detik.com
Posted by
raprapmedan
at
Wednesday, October 15, 2008
0
comments
Labels:
Bahan Bakar Nabati,
CPO,
Departemen Perdagangan,
India,
Indonesia,
Krisis Ekonomi Global,
Pajak Ekspor,
PE,
Pungutan Ekspor
Harga CPO dan TBS Terus Turun
Kamis, 25 September 2008
Laporan LISMAR SUMIRAT, Pekanbaru lismar-sumirat@riaupos.co.id Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya KABAR tak sedap bagi petani dan pengusaha kelapa sawit. Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit menjelang Idul Fitri justru kembali anjlok.
Sesuai keputusan rapat Tim Penetapan harga pembelian TBS kelapa sawit Provinsi Riau yang digelar Selasa (23/9) lalu, untuk TBS umur tanaman tiga tahun hanya Rp736,59 per kilogram, sedangkan TBS dari tanaman umur 10 tahun keatas Rp1.029,13.
‘’Harga CPO terus menurun. Kalau dulu per kilogram CPO bisa mencapai Rp7.000-8.000, sedangkan saat ini satu kilogram CPO hanya Rp4.798. Dari sini saja jelas, harga TBS sawit menjadi turun,’’ ungkap Kasubdin Pemasaran Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Feri Hc menjawab Riau Pos, kemarin.
Menurut Feri anjloknya harga TBS kelapa sawit disebabkan oleh tiga hal yakni suplai sawit yang sedang melimpah dari perkebunan di Indonesia dan Malaysia, permintaan pasar dunia yang juga berkurang dan panen bunga matahari dan kedelai di Eropa.
‘’Saat ini kita termasuk Malaysia sedang panen sawit. Sawit jadi melimpah, sedangkan permintaan tidak mengalami peningkatan. Ditambah lagi di Eropa saat ini musim kedelai dan bunga matahari yang juga diolah menjadi minyak goreng di negara-negara Eropa. Sehingga CPO kita jadi sulit menempus pasar internasional,’’ ulasnya lebih lanjut.
Secara rinci harga TBS umur tiga tahun adalah Rp736,59, empat tahun Rp822,65, lima tahun Rp880,65, enam tahun Rp906,14, tujuh tahun Rp940,75, delapan Rp970,07, sembilan tahun Rp1.001,17 dan umur sepuluh tahun ke atas adalah Rp1.029,13 per kilogram.
‘’Dari harga TBS sebelumnya turun sekitar Rp140,2 per kilogram. Kalau terus turun, kasihan petani sawit, bisa-bisa untuk menutup biaya pupuk saja tidak turun,’’imbuhnya. Feri mengaku tidak dapat berbuat banyak terkait kembali anjloknya harga TBS kelapa sawit di Riau. Apalagi harga TBS dipengaruhi oleh harga CPO. ‘’Kalau harga CPO anjlok, tentu harga sawit tetap anjlok. Rapat Tim Penetapan harga pembelian TBS kelapa sawit, juga berpedoman kepada harga CPO,’’ sebutnya.
Harga TBS kepala sawit diperkirakan akan terus anjlok hingga Oktober mendatang. ‘’Kemungkinan akhir tahun, harga sawit sudah kembali normal,’’katanya.
Penetapan harga jual TBS di Riau, dilakukan oleh sebuah tim penetapan harga yang difasilitasi oleh Dinas Perkebunan Riau, dimana tim terdiri dari sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit besar yang ada di Riau serta petani kelapa sawit yang tergabung dalam wadah koperasi. Tim inilah kemudian yang merumuskan besaran harga TBS dengan berpatokan pada harga CPO di pasaran internasional, dan harga TBS yag ditetapkan terus dilakukan evaluasi setiap dua minggu sekali.(fas)
Laporan LISMAR SUMIRAT, Pekanbaru lismar-sumirat@riaupos.co.id Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya KABAR tak sedap bagi petani dan pengusaha kelapa sawit. Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit menjelang Idul Fitri justru kembali anjlok.
Sesuai keputusan rapat Tim Penetapan harga pembelian TBS kelapa sawit Provinsi Riau yang digelar Selasa (23/9) lalu, untuk TBS umur tanaman tiga tahun hanya Rp736,59 per kilogram, sedangkan TBS dari tanaman umur 10 tahun keatas Rp1.029,13.
‘’Harga CPO terus menurun. Kalau dulu per kilogram CPO bisa mencapai Rp7.000-8.000, sedangkan saat ini satu kilogram CPO hanya Rp4.798. Dari sini saja jelas, harga TBS sawit menjadi turun,’’ ungkap Kasubdin Pemasaran Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Feri Hc menjawab Riau Pos, kemarin.
Menurut Feri anjloknya harga TBS kelapa sawit disebabkan oleh tiga hal yakni suplai sawit yang sedang melimpah dari perkebunan di Indonesia dan Malaysia, permintaan pasar dunia yang juga berkurang dan panen bunga matahari dan kedelai di Eropa.
‘’Saat ini kita termasuk Malaysia sedang panen sawit. Sawit jadi melimpah, sedangkan permintaan tidak mengalami peningkatan. Ditambah lagi di Eropa saat ini musim kedelai dan bunga matahari yang juga diolah menjadi minyak goreng di negara-negara Eropa. Sehingga CPO kita jadi sulit menempus pasar internasional,’’ ulasnya lebih lanjut.
Secara rinci harga TBS umur tiga tahun adalah Rp736,59, empat tahun Rp822,65, lima tahun Rp880,65, enam tahun Rp906,14, tujuh tahun Rp940,75, delapan Rp970,07, sembilan tahun Rp1.001,17 dan umur sepuluh tahun ke atas adalah Rp1.029,13 per kilogram.
‘’Dari harga TBS sebelumnya turun sekitar Rp140,2 per kilogram. Kalau terus turun, kasihan petani sawit, bisa-bisa untuk menutup biaya pupuk saja tidak turun,’’imbuhnya. Feri mengaku tidak dapat berbuat banyak terkait kembali anjloknya harga TBS kelapa sawit di Riau. Apalagi harga TBS dipengaruhi oleh harga CPO. ‘’Kalau harga CPO anjlok, tentu harga sawit tetap anjlok. Rapat Tim Penetapan harga pembelian TBS kelapa sawit, juga berpedoman kepada harga CPO,’’ sebutnya.
Harga TBS kepala sawit diperkirakan akan terus anjlok hingga Oktober mendatang. ‘’Kemungkinan akhir tahun, harga sawit sudah kembali normal,’’katanya.
Penetapan harga jual TBS di Riau, dilakukan oleh sebuah tim penetapan harga yang difasilitasi oleh Dinas Perkebunan Riau, dimana tim terdiri dari sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit besar yang ada di Riau serta petani kelapa sawit yang tergabung dalam wadah koperasi. Tim inilah kemudian yang merumuskan besaran harga TBS dengan berpatokan pada harga CPO di pasaran internasional, dan harga TBS yag ditetapkan terus dilakukan evaluasi setiap dua minggu sekali.(fas)
Posted by
raprapmedan
at
Wednesday, October 15, 2008
0
comments
Labels:
CPO,
Indonesia,
Internasional,
Malaysia,
Pekanbaru,
Riau Pos,
TBS
Subscribe to:
Posts (Atom)