Showing posts with label Derom Bangun. Show all posts
Showing posts with label Derom Bangun. Show all posts

Monday, November 10, 2008

Importir CPO India Ingkari Kontrak Sejak Agustus

Minggu, 09/11/2008 14:10 WIB
Angga Aliya ZRF - detikFinance

Jakarta - Sebanyak 30 importir minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) asal India yang disusun dalam daftar hitam Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) sudah mengingkari kontrak sejak Agustus 2008.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Gapki Derom Bangun yang dihubungi detikFinance, Minggu (9/11/2008). "Mereka berhenti mengirimkan kapalnya sejak Agustus lalu, tapi tanggal tepatnya saya tidak tahu," katanya.

Menurutnya, sejumlah importir asal India tersebut sudah melakukan kontrak untuk melakukan pengiriman dan pembayaran di tempat dengan beberapa produsen CPO lokal. Namun, ketika tanggal pengiriman tiba, tidak ada satu kapal pun yang datang dari 30 importir tersebut.

Gapki pun memperkirakan kerugian yang cukup besar dengan ingkarnya para importir India nakal tersebut. Namun sayang, ia enggan mengatakan detail kerugiannya.

"Maka dari itu, kami langsung menyusun daftar perusahaan yang tidak menepati kontrak dan melayangkan surat kepada asosiasi CPO India seminggu yang lalu," imbuhnya.

Ia mengatakan, nilai kontrak yang tidak ditepati oleh importir India itu beragam dengan total nilai kontrak yang cukup besar. Hampir semua pesanan di kontrak tersebut di atas 100.000 ton.

"Yang baru diketahui 30 itu saja, sisa kontraknya ke negara lain saya tidak bisa bilang tidak ada. Harus dicek lagi," ujarnya.

Selama ini, Indonesia menjadi eksportir CPO ke lebih dari 100 negara di seluruh dunia. Negara_negara itu antara lain India, Cina, Belanda, Pakistan dan lain sebagainya.

Tiga puluh perusahaan yang termasuk dalam daftar hitam Gapki antara lain: Nafed, JMD Oils and Fats, Bhatinda Oils and Fats, Kundan Oils and Fats, Raj Agro Oils, Gujarat Spices, Puneet and Company, Sarda Agro, Sudhir Agro, NCS Hyderabad, Mahesh Agro, Golden Oils Kolkata, Coastal Energy, Pradyhuman Overseas, Sara International, Dudhadhari Exports, DDI (Tower International), Budge Budge Refineries, Indumati Refineries, Shree Ganesh Oils, Velani Traders, Sheetal Industries dan sebagainya.(ang/ddn)

source: detik.com

Tuesday, November 4, 2008

Ekspor CPO Sumut Turun 30,7%

Rabu, 05-11-2008
*wismar simanjuntak
MedanBisnis – Belawan
Krisis ekonomi global yang melanda dunia tampaknya mulai mempengaruhi ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Sumut melalui Pelabuhan Belawan. Ini setidaknya bisa dilihat dari aktivitas ekspor selama periode waktu Oktober 2008 turun sebesar 30,77% dibandingkan bulan sebelumnya.

Padahal di kurun waktu yang sama pada tahun 2007 ekspor komoditas bernilai tinggi yang menjadi primadona ekspor Sumut itu terus meningkat dengan persentase yang signifikan.
Data dikutip MedanBisnis dari Pelindo I Cabang Belawan mengungkapkan, selama September 2008 ekspor CPO Sumut melalui terminal curah cair dengan jasa pipa terpadu Pelabuhan Belawan tercatat 303.494 ton atau turun sekitar 3,15 % dibandingkan Agustus yang jumlahnya 313.080 ton.
Namun di bulan Oktober aktivitas ekspor minyak sawit mentah Sumut melalui Pelabuhan Belawan benar-benar memprihatinkan. Sebab menurut data yang dikutip menyebutkan, selama dekade itu volume ekspornya anjlok hingga 44,45 % yakni dari 303.494 ton pada September menjadi 210.100 ton.
Di bulan Nopember 2008 ini banyak yang memprediksi bahwa ekspor CPO Indonesia bakal membaik menyusul dihapuskannya pajak ekspor (PE) CPO dari 2,5% menjadi 0%. Namun Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Akmaluddin Hasibuan menilai kebijakan pemerintah dengan menurunkan PE CPO menjadi 0 % terlambat.
Kepada pers sebelumnya Akmaluddin mengatakan, kebijakan pemerintah dengan menghapuskan PE CPO sebenarnya sedikit terlambat. “Sekarang masalahnya permintaan turun akibat krisis keuangan global yang berdampak turunnya konsumsi” katanya.
Sementara Ketua Harian Gapki, Derom Bangun mengatakan, target ekspor CPO tahun 2008 sebanyak 14 juta ton kemungkinan tidak tercapai mengingat banyaknya pembatalan kontrak yang terjadi dan turunnya harga minyak mentah dunia yang menyebabkan konsumsi BBM naik dan bahan bakar nabati turun.
Menurut Derom, rata – rata ekspor CPO per bulan sebesar l juta ton.”Tapi ekspor di bulan Nopember saya kira tidak mencapai 1 juta ton. Perkiraan saya sekitar 500 ribu – 700 ribu ton” ujar Derom.

source: medanbisnisonline.com

Thursday, October 30, 2008

Ekspor Sawit Anjlok Hingga Akhir 2008

Rabu, 29 Oktober 2008 20:34 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kebijakan pemerintah menurunkan pungutan ekspor menjadi nol persen belum mampu manaikkan ekspor minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO). Kebijakan itu merupakan salah satu dari 10 jurus pemerintah untuk mengatasi dampak krisis keuangan global.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Derom Bangun memperkirakan, sampai akhir tahun ekspor masih lemah, hanya berkisar antara 500-700 ribu ton. "November mendatang, ekspor CPO belum bisa pulih, karena permintaan dunia sedang lesu," ujarnya, Rabu (29/10).

Derom menuturkan, sejak Agustus lalu, ekspor CPO anjlok hampir 50 persen, dari satu juta ton per bulan menjadi sekitar 500 ribu ton. Padahal dari Januari sampai Juli lalu, ekspor CPO masih satu juta ton. Anjloknya ekspor karena para pembeli dari luar negeri banyak yang membatalkan kontrak. Target ekspor tahun ini sekitar 14 juta ton dari total produksi CPO dalam negeri sekitar 18,8 juta ton. Sisanya untuk memasok kebutuhan CPO domestik.

Para pembeli CPO Indonesia antara lain, India, Pakistan, Cina dan Eropa. Ekspor CPO ke India sekitar empat juta ton, Pakistan 740 ribu ton, Cina sebesar 2-2,5 juta ton, sisanya Eropa.

Menurut Derom, ekspor CPO akan pulih enam bulan mendatang atau pada April-Mei tahun depan. Alasannya, ekspor CPO dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama, seberapa besar pengaruh krisis keuangan global terhadap pembeli. Kedua, harga minyak mentah dunia. Apabila harga minyak mentah dunia lemah, maka harga CPO turut melemah. Selain itu, ketika harga minyak mentah dunia lemah, penyerapan CPO ikut lemah. "Tergantung, apakah negara-negara pengimpor itu bisa mengatasi dampak krisis keuangan global atau tidak," ujarnya.

Harga CPO saat ini Rp 4.100 per ton, sedangkan di Eropa US$ 460 per ton. Maret lalu, harga di Eropa US$ 1.300 per ton. Artinya, ada penurunan harga sekitar 60 persen. Meski terjadi penurunan harga, kata Derom, para petani tetap memanen kelapa sawit mereka. "Mereka tidak akan membiarkan buah membusuk," katanya.

Harga sawit di tingkat petani saat ini sekitar Rp 300 dan Rp 600-700 per kilogram di pabrik. Akibat penurunan harga saat ini stok CPO melimpah sekitar tiga juta ton dari 1,6-1,8 juta ton.

NIEKE INDRIETTA

source: tempointeraktif.com

Tuesday, October 28, 2008

PE CPO Nol, Volume Ekspor Bisa Tembus 1 Juta Ton

Rabu, 29/10/2008 08:44 WIB
Suhendra - detikFinance

Jakarta - Volume ekspor sawit mentah atau crude palm oil (CPO) bakal melonjak setelah pemerintah mengumumkan paket kebijakan stabilitas ekonomi yang salah satunya adalah menurunkan pajak ekspor (PE) CPO menjadi 0% yang efektif berlaku per 1 November 2008. Volume ekspor CPO bulanan selama ini hanya di kisaran 700.000 ton per bulan, setelah harga CPO turun drastis 2 bulan terakakhir. Dengan kebijakan tersebut dipastikan akan mendongkrak volume ekspor hingga 1 juta ton pada bulan November 2008.

PE CPO sebelumnya pada bulan Oktober ditetapkan 7,5%, dan sebelum pemerintah mengeluarkan paket kebijakan ini, Departemen Perdagangan sempat menetapkan PE bulan November sebesar 2,5%.

"Adanya PE 0% pasti disambut positif oleh petani, ini bukti ada pembelaan pemerintah, terhadap pengusaha dan petani tetapi karena harga sawit sudah parah maka tidak terlalu besar dampaknya tetapi secara psikologis dan politis itu baik terhadap respons keluhan petani dan pelaku usaha," kata Ketua Harian Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Derom Bangun saat dihubungi detikFinance, Rabu (29/10/2008).Menurut Derom, penetapan PE 0% akan berdampak positif terhadap penetrasi ekspor CPO Indonesia ke berbagai negara seperti India dan China sehingga diperkirakan bisa meningkat.

"Biasanya mengekspor 1 juta ton per bulan, kalau harga US$ 1.000 maka bisa US$ 1 miliar nilai ekspornya, dengan harga sekarang dan volume hanya 700.000 ton per bulan paling US$ 300 jutaan. Mungkin volume di November bisa meningkat menjadi 1 juta ton," katanya.(hen/ir)

source: detik.com

Friday, October 24, 2008

PE Sawit November Dipangkas Jadi 2,5%

23/10/2008 15:45:31 WIB
Oleh Nur Afni Fiazia dan Andryanto S

JAKARTA, Investor DailyPemerintah akhirnya menurunkan pungutan ekspor (PE) minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dari 7,5% pada Oktober menjadi 2,5% pada November mendatang. Penurunan PE itu mengacu pada patokan harga CPO di pasar internasional selama 20 September-19 Oktober yang berkisar antara US$ 650-550/ton.

Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Bayu Krisnamurti menjelaskan, pemerintah menetapkan PE CPO untuk bulan depan hanya 2,5%. “Memang segitu. Pengesahannya masih menunggu surat keputusan Menteri Perdagangan,” katanya saat dikonfirmasi Investor Daily di Jakarta, Rabu (22/10).

Menteri Perdagangan (Mendag) Mari Elka Pangestu mengakui, pemerintah akan menurunkan PE CPO sesuai dengan harga rata-rata di pasar internasional sebulan sebelumnya. “Menurut ketentuan yang berlaku saat ini, kalau harga CPO di bawah US$ 550/ton, PE yang berlaku 0%. Bulan dengan PE tergantung harga bulan sebelumnya,” tuturnya.

Penetapan PE CPO 2,5% untuk November itu diambil dalam rapat koordinasi interdep yang dihadiri perwakilan dari kantor Menko Perekonomian, Departemen Perdagangan, Tim Tarif Departemen Keuangan, dan asosiasi industri terkait. Meski tidak sesuai dengan usulan pengusaha CPO yang menghendaki PE 0%, pemerintah menilai pajak yang ditetapkan untuk bulan depan itu mampu mengimbangi kemerosotan harga komoditas tersebut di pasar internasional.

Mendag menerangkan, saat ini pemerintah sedang menggodok perubahan skema PE CPO. Revisi kebijakan tersebut akan diteken sebelum akhir tahun ini. “Sudah ada hitung-hitungannya. Kebijakan itu tidak akan menunggu sampai 2009, karena kalau tahun depan itu kelamaan kali,” tuturnya sambil tertawa.

Selain mengubah skema penetapan PE CPO, lanjut dia, pemerintah akan mengantisipasi penurunan ekspor CPO dengan pemberlakuan kewajiban (mandatori) penggunaan bahan bakar nabati (BBN) yang berbasis minyak sawit dari sekitar 1% pada 2009 menjadi 5% pada 2010. “Ini juga sedang dikaji,” paparnya.

Pengaruh Makin Kecil
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Akhmaludin Hasibuan menjelaskan, berdasarkan hitungan Gapki, harga rata-rata (trigger price) CPO di pasar internasional sebulan terakhir berada di kisaran US$ 645,9/ton. Sedangkan harga patokan ekspor (HPE) CPO untuk November sekitar US$ 572/ton. “Karen itu, kami mendapat info PE CPO November ditetapkan 2,5%,” tuturnya.

Ketua Harian Gapki Derom Bangun menilai, dengan penetapan PE CPO sebesar 2,5% untuk bulan depan, setiap ekspor komoditas tersebut dibebankan pajak sekitar US$ 14,3/ton atau Rp 140/kg. Dengan demikian, harga CPO dalam negeri akan turun Rp 14/kg, sedangkan harga tandan buah segar (TBS) lokal turun Rp 28/kg. “Pengaruh PE 2,5% menjadi kecil,” ucapnya.
Meski demikian, lanjut dia, penurunan harga CPO yang terus terjadi makin menyulitkan pengusaha dan petani lokal. Karena itu, Gapki tetap mengusulkan pemerintah membebaskan PE CPO untuk sementara. “Jika PE dibebaskan sementara, harga TBS lokal bisa naik Rp 28/kg,” paparnya.

Namun, pemerintah tetap keberatan jika PE CPO dibebaskan untuk sementara. Kepala Badan Kebijakan Fiskal yang juga Ketua Tim Tarif Departemen Keuangan Anggito Abimanyu menerangkan, pemerintah tidak menghendaki PE CPO dibebaskan karena dapat berpotensi mempengaruhi harga produk turunannya, termasuk minyak goreng yang dibutuhkan masyarakat. "Jangan sampai policy pemerintah mengorbankan kebutuhan dalam negeri. Kalau PE nol persen jangan-jangan akan diekspor semua," ucapnya, Senin (20/10). Menurut dia, jika PE CPO dibebaskan, harga minyak goreng berpotensi tidak terkendali. Kondisi itu justru dihindari pemerintah. "Jadi harus ada instrumen pengamanan (safeguard)," ujarnya.

Anggito menilai, pemberlakuan PE bukan untuk meningkatkan penerimaan negara, tapi guna menjamin kebutuhan dalam negeri dan memanfaatkan windfall profit. Apalagi mengingat harga CPO di pasar internasional dalam dua tahun terakhir naik tajam. "Jika sekarang harga CPO turun, pemerintah juga secara bertahap menurunkan PE," tuturnya. ***

Source: investorindonesia.com

PE CPO November Jadi 2,5%

Rabu, 22/10/2008 17:46 WIB
Suhendra - detikFinance

Jakarta - Harga patokan ekspor (HPE) kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) bulan November 2008 dipatok di US$ 572 per ton. Sehingga pajak ekspor (PE) yang akan diberlakukan pada bulan November sebesar 2,5%.

Artinya PE CPO bulan November turun jauh dari PE bulan Oktober yang hanya 7,5% dengan HPE US$ 736 per ton. penetapan HPE tersebut mengacu pada harga referensi CPO atau triger price CPO sebesar US$ 650 per tonHal ini dikatakan oleh Ketua Harian Gabungan Pengusaha Kelapa sawit Indonesia (Gapki) Derom Bangun saat dihubungi detikFinance, Rabu (22/10/2008).

"PE November telah terjadi penurunan harga referensi sedikit dibawah US$ 650, oleh karena itu PE bulan November 2,5%," ungkapnya.

Dikatakannya informasi ini diperoleh dari hasil rapat mendadak di Departemen Perdagangan siang tadi. Derom yakin dengan PE yang semakin luruh dan mengarah ke angka 0%, volume dan nilai ekspor CPO bulan November bisa meningkat.

"Untuk ekspor November mungkin mengalami peningkatan," ujarnya.(hen/qom)

source: detik.com

Monday, October 20, 2008

Pemerintah Belum Muluskan Pajak Ekspor 0%

Senin, 20/10/2008 10:38 WIB

Dadan Kuswaraharja - detikFinance
Jakarta - Pemerintah belum memutuskan penerapan bea keluar atau pajak ekspor produk minyak kelapa sawit sebesar 0 persen menyusul turunnya harga CPO akhir-akhir ini."Hari ini katanya pemerintah mau ada rapat mengenai hal itu, namun batal," ujarnya Ketua Harian Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Derom Bangun ketika dihubungi detikFinance, Senin (20/10/2008).
Menurutnya dari penerapan PE 7,5% pada Oktober, pada posisi harga CPO di Rotterdam saat ini US$ 565 per ton dengan dipotong biaya-biaya maka harga yang bisa diterima produsen hanya mencapai Rp 3.800 per kilo atau dengan tambahan PPN maka menjadi Rp 4.200 yang diperkirakan mampu membeli harga TBS petani seharga Rp 300-600 per kilo. "Jadi harganya sangat rendah," ujarnya.
Pengusaha kelapa sawit dalam beberapa kesempatan, terus berupaya meminta penurunan pajak ekspor CPO kepada pemerintah. Permintaan pengusaha kelapa sawit di Indonesia ini juga diikuti rekannya di Malaysia, dimana pengusaha mereka juga meminta regulator untuk memotong pajak ketika harga minyak CPO sudah mendekati titik break even point usahanya sebesar 1.500 ringgit per ton.Di bursa komoditas Malaysia sendiri yang merupakan acuan, harga CPO mencapai 1.654 ringgit per ton untuk kontrak di bulan November 2008.
(ddn/ir)

source: detik.com

Friday, October 17, 2008

Pengusaha Usul PE CPO 0% Ketika Harga CPO US$ 750

Senin, 13/10/2008 19:24 WIBSuhendra - detikFinance
Jakarta - Kalangan pengusaha di sektor sawit masih mencari perhitungan yang tepat dalam penetapan batas 0% bagi penerapan pajak ekspor (PE) sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dalam rancangan revisi ketentuan PE CPO.
Dari berbagai usulan dan hitungan beberapa pengusaha sawit diusulkan sejumlah perhitungan antara lain US$ 700 per ton sampai US$ 750 per ton CPO untuk dikenai PE 0%. Selama ini penerapan PE 0% diberlakukan pada saat harga CPO di bawah US$ 550 per ton.
Hal tersebut disampaikan Ketua Harian Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Derom Bangun usai acara temu anggota Kadin dengan beberapa menteri di Graha Niaga, Senin (13/10/2008).
"Kita ingin agar PE diturunkan dibuat 0% ketika harga sudah rendah. Misalnya saja di Malaysia pada saat harga 2.200 ringgit itu enggak kena, atau US$ 640 dollar, itu kan di Malaysia, kalau kita tentunya beda," ujarnya.
Menurutnya bila mengacu pada batasan PE di Malaysia dengan nilai US$ 640 untuk PE 0% tidak relevan dengan kondisi Indonesia, karena setiap produsen di dalam negeri memiliki tingkat efisiensi produksi yang berbeda terutama produsen besar.
"Pada tingkat-tingkat harga itu (US$ 640) sudah tidak ada keuntungan lagi bagi produsen, Indonesia biaya produksi itu bervaraisai jauh, ada yang bisa efisien ada yang nggak," kilahnya beralasan.
Untuk itu Gapki dan beberapa asosiasi lainnya yang terkait kelapa sawit akan melakukan pertemuan pada tanggal 16 Oktober 2008 terkait rencana penetapan PE 0% yang bisa diusulkan ke pemerintah (Departemen Perdagangan).
Yang akan hadir dari asosiasi minyak nabati, asosiasi bahan bakar nabati, asosiasi olein kimia dan lain-lain.
"Harapannya ada kesepakatan dari industri hulu, sampai hilir dan petani. Kita berharap bisa lebih tinggi dari Malaysia, memang ada usulan 700 sampai 750, tapi bukan menjadi usulan Gapki," tambahnya.
Mengenai semakin melorotnya harga CPO belakangan ini, ia mendesak pada pemerintah agar sektor sawit jangan dimasukan dahulu sebagai sumber pendapatan dalam APBN 2009. Apabila dilakukan maka pemerintah akan cenderung menetapkan target pendapatan pada sektor ini, padahal harga CPO sekarang sedang tidak bagus. "Jangan ada target dari PE CPO, kalau boleh jangan dulu," pintanya.(hen/ddn)
source: detik.com

Cari di Google

Google
 
Web kabarsawit.blogspot.com