Showing posts with label Lampung. Show all posts
Showing posts with label Lampung. Show all posts

Tuesday, October 28, 2008

317.615 Hektar Hutan Lindung Lampung Dilirik Perdagangan Karbon

Selasa, 28 Oktober 2008 20:31 WIB

BANDAR LAMPUNG, SELASA - Hutan lindung di wilayah Lampung seluas 317.615 hektar saat ini dilirik negara-negara maju untuk diikutkan dalam perdagangan karbon. Saat ini Pemerintah Provinsi Lampung tengah mengkaji prosedur dan kontrak perdagangan karbon yang ditawarkan.

Asisten II Gubernur Lampung Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan (Ekubang), Djunaedi Jaya, Selasa (28/10) pada acara ekspose kerjasama perdagangan karbon internasional di Gedung Gubernur Lampung mengatakan, kerjasama perdagangan karbon tersebut akan menguntungkan Lampung. Selama ini, diketahui hutan lindung di Lampung sudah banyak yang rusak.

"Kerusakan terjadi karena faktor ekonomi, masyarakat masuk hutan dan merambah. Selain itu hutan rusak juga akibat penebangan liar. Sementara kita tidak memiliki dana cukup untuk menjaga dan memelihara hutan," ujar Djunaedi Jaya.

Berdasarkan ekspose, satu ton karbon dihargai sekitar 1013 dollar Amerika Serikat (AS). Harga tersebut diperkirakan akan terus meningkat menjadi 100 dollar AS per ton pada 2012.
Menurut Djunaedi, tawaran tersebut cukup menarik. Apabila Lampung dengan luasan hutan lindung 317.615 hektar yang terletak di lima kabupaten mampu menjaga kelestarian hutan, Lampung bisa mendapat kompensasi sekitar 80 persen dari perdagangan karbon.
"Pemprov Lampung akan mempelajari rancangan kerjasama perdagangan karbon tersebut. Kami akan segera memaparkan tawaran ini kepada bapak gubernur untuk ditindaklanjuti," ujar Djunaedi.

Erlyn Rommel, mitra lokal Carbon Strategic Global Ltd (CSG) atai IBN Group yang berkedudukan di Australia pada ekspose tersebut mengatakan, dana kompensasi tersebut harus bisa dimanfaatkan untuk menjaga kelestarian hutan. Sesuai mekanisme perdagangan, CSG akan melihat potensi hutan lindung Lampung dan kemampuan produksi karbon.

Kemampuan produksi akan dikalikan dengan harga per ton karbon. Hasilnya akan dibagi antara Pemprov Lampung, kabupaten pemilik hutan, serta CSG. Apabila dalam masa kontrak terjadi kerusakan hutan yang cukup parah, kontrak akan langsung dihentikan.

Untuk bisa menjaga hutan, CSG akan memfasilitasi Pemprov Lampung dalam hal penjagaan dan pengawasan hutan. CSG akan merekrut polisi hutan dan membayar dengan bayaran tinggi untuk membantu menjaga hutan dari pen ebangan liar atau aksi perusakan. CSG juga akan memberikan pendidikan mengenai kehutanan kepada masyarakat sekitar hutan lindung.
Menurut Erlyn, perdagangan karbon tersebut menarik. Perdagangan karbon merupakan kompensasi dari negara-negara industri maju untuk membayar kerusakan lingkungan yang sudah mereka buat. Asap karbon dioksida yang dihasilkan pabrik-pabrik di Eropa dan AS sudah merusak lapisan ozon.

Salah satu cara untuk memperbaiki kerusakan ozon adalah dengan mempertahankan produksi karbon dari hutan-hutan di Indonesia, Asia Pasific, Amerika Selatan, ataupun Papua New Guinea. Kompensasi diambilkan dari pembayaran negara-negara maju tersebut atas kerusakan lingkungan yang dibuat.

CSG berupaya memfasilitasi daerah-daerah di Indonesia yang memiliki hutan untuk mendapatkan kompensasi atas karbon yang dihasilkan, sekaligus untuk menjaga dan memelihara hutan lindung.

Wednesday, October 15, 2008

Harga Jual Turun Drastis, Petani Kopi, Sawit, & Kakao di Lampung Menjerit


TANGGAMUS - Dampak krisis ekonomi global mulai dirasakan sejumlah petani yang mengolah tanaman ekspor di Lampung. Sejumlah petani kopi, kakao, dan kelapa sawit mulai mengeluhkan penurunan drastis harga hasil bumi ekspor andalan Lampung tersebut.
Bahkan sebagian petani kopi di Kabupaten Tanggamus banyak yang beralih profesi karena pendapatan dari mengolah kopi tidak sebanding dengan modal penanaman.
Para pedagang kopi yakin penurunan harga masih akan terus berlangsung. "Kami tidak bisa berbuat banyak, Mas," kata Tumino, salah seorang petani kopi di Tanggamus, Rabu (15/10/2008).
Tumino juga mengaku kasihan dengan teman-temannya yang terikat kontrak dengan eksportir lantaran harus memenuhi kuota dengan harga yang terus menurun. "Harganya sudah tidak sesuai, tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena terikat kontrak," bebernya.
Para petani yang terikat kontrak tersebut tetap harus menyediakan kopi untuk kebutuhan ekspor dengan harga yang fluktuatif mengikuti harga kopi dunia.
Para petani mengaku, krisis ekonomi kali ini berdampak paling parah bagi mereka dibandingkan krisis 1997. Saat ini, harga kopi memang betul-betul jatuh hingga 35%. Saat ini harga kopi hanya mencapai Rp11 ribu per kilogram, jauh menurun dari harga sebelum Lebaran sebesar Rp17 ribu per kilogram.
Harga kakao juga turun cukup mencolok. Saat ini harga kakao di sentra perdagangan hanya berkisar pada harga Rp16.500 per kilogram. Sementara sebelum krisis, harga kakao masih berkisar pada Rp22 ribu per kilogram.
Sementara kerugian paling besar dialami oleh petani sawit. Harga sawit berumur 7 tahun yang tadinya masih berkisar pada angka Rp1.700 per kilogram, menurun drastis menjadi Rp700an per kilogram. Sementara untuk tandan buah segar (TBS) harganya turun Rp500 menjadi Rp1.300 per kilogram.
Para petani di Kabupaten Tulang bawang yang dihubungi mengaku tidak dapat berbuat banyak dengan penurunan ini. Sebagian petani memilih membiarkan sawit mereka membusuk di pohon sebagai ungkapan frustrasi mereka.
"Kami berharap pemerintah segera memberikan solusi," kata Sahdana, salah satu petani di Kabupaten Tulang Bawang penuh harap. (Aji Aditya Junior/Trijaya/jri)
Source : okezone.com

Cari di Google

Google
 
Web kabarsawit.blogspot.com