Rabu, 12/11/2008 12:06 WIB
Alih Istik Wahyuni - detikFinance
Kualalumpur - Harga sawit mentah (CPO) terus menunjukkan tren penurunan. Dalam perdagangan hari ini saja, harga CPO sudah anjlok sebesar 5,1% seiring besarnya tekanan jual.
Berdasarkan data CNBC, Rabu (12/11/2008) harga CPO di perdagangan Bursa Malaysia Derivatif hari ini turun 5,1% menjadi RM 1.510 per ton.
Sementara seperti dikutip Palmoil.com, pada perdagangan Selasa kemarin (11/11/2008) harga CPO untuk pengiriman hingga Maret 2009 juga mengalami penurunan. Seperti untuk pengiriman November 2008, harga CPO turun dari RM 1.625 menjadi RM 1.580.
Sementara untuk pengiriman Desember 2008 harga CPO turun dari RM 1.624 per ton menjadi RM 1.584 per ton. Untuk Januari 2009 harga CPO ditutup pada RM 1.586 per ton atau turun dari harga sebelumnya yang sebesar RM 1.626 per ton.
Sedangkan untuk pengiriman Februari 2009 harga CPO turun dari RM 1.625 per ton menjadi RM 1.589 per ton dan untuk Maret 2009 harga CPO turun dari RM 1.630 per ton menjadi RM 1.589 per ton.
"Aksi jual ini dipengaruhi melemahnya harga kedelai dan tingginya stok kelapa sawit di dalam negeri (Malaysia)," kata seorang trader di Kuala Lumpur seperti dikutip Dow Jones di palmoil.com, Rabu (12/10/2008).
source: detik.com
Wednesday, November 12, 2008
Harga tandan sawit di Riau naik
Rabu, 12/11/2008
PEKANBARU: Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit dan minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO) di Provinsi Riau mengalami kenaikan.
Tim Penetapan Harga Kelapa Sawit di Dinas Perkebunan Provinsi Riau kemarin menyatakan harga TBS pada awal pekan kedua bulan November naik menjadi Rp865,93 per kilogram untuk usia pohon 10 tahun dan Rp619,27 per kg untuk usia pohon 3 tahun.
Sebelumnya harga TBS usia 10 tahun mencapai Rp766,88 per kg, dan kondisi ini merupakan kenaikan pertama sejak harga sawit anjlok. Untuk harga TBS petani nonmitra perusahaan (swadaya), yang sebelumnya sempat mencapai Rp250-Rp300 per kg, kini juga mulai menguat ke harga Rp500 per Kg.
Harga CPO terus naik dan kini Rp4.420,2 per kg. Kenaikan tersebut terus memperbaiki harga CPO lokal yang sejak awal bulan ini sudah mulai menguat dengan harga Rp3.848,02per kg. (Antara)
source: bisnis.com
PEKANBARU: Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit dan minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO) di Provinsi Riau mengalami kenaikan.
Tim Penetapan Harga Kelapa Sawit di Dinas Perkebunan Provinsi Riau kemarin menyatakan harga TBS pada awal pekan kedua bulan November naik menjadi Rp865,93 per kilogram untuk usia pohon 10 tahun dan Rp619,27 per kg untuk usia pohon 3 tahun.
Sebelumnya harga TBS usia 10 tahun mencapai Rp766,88 per kg, dan kondisi ini merupakan kenaikan pertama sejak harga sawit anjlok. Untuk harga TBS petani nonmitra perusahaan (swadaya), yang sebelumnya sempat mencapai Rp250-Rp300 per kg, kini juga mulai menguat ke harga Rp500 per Kg.
Harga CPO terus naik dan kini Rp4.420,2 per kg. Kenaikan tersebut terus memperbaiki harga CPO lokal yang sejak awal bulan ini sudah mulai menguat dengan harga Rp3.848,02per kg. (Antara)
source: bisnis.com
Police stops Greenpeace action in Dumai waters
11/12/08 09:36
Pekanbaru (ANTARA News) - Police on Tuesday stopped Greenpeace which had been intercepting crude palm oil (CPO) shipments in the Dumai port waters in Sumatra in the last two days.
Along with the port administration personnel the police aboard rubber boats stopped the Greenpeace action at around 2 pm. They had also ordered a Greenpeace activist who, in protest of the CPO shipments, tied himself with the chain of an anchor of the Gran Couva tanker that carried the CPO belonging to Wilmar Group bound for Rotterdam, the Netherlands, to get off the ship.
Two Greenpeace activists, namely Bustar Maitar from Forest Campaigner Greenpeace Southeast Asia and Adon, the activist who tied himself on the anchor chain, had been questioned by the police, but not detained.
The police had also ordered an MV Esperanza Greenpeace vessel to leave Dumai port as the berthing period of the Dutch vessel in Dumai port had expired.
The Greenpeace activists also marked the side of the tanker as well as a tug boat full of logs with words reading "Forest Crime" at the Dumai port on Monday.
Bustar Maitar said Greenpeace believed that expansion of oil palm plantations to natural forests in Indonesia had been the factor behind the increasing deforestation and peat moss destruction.
"Ironically companies like Wilmar and Sinar Mas are members of RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil Supply). So long as no public statement has been made by the RSPO that supports a moratorium on the deforestation eco-friendly oilpalm plantations are a myth," he said.
He said the Esperanza would stay in Dumai waters to monitor forest conditions in Riau. (*)
COPYRIGHT © 2008
source: antara.co.id
Pekanbaru (ANTARA News) - Police on Tuesday stopped Greenpeace which had been intercepting crude palm oil (CPO) shipments in the Dumai port waters in Sumatra in the last two days.
Along with the port administration personnel the police aboard rubber boats stopped the Greenpeace action at around 2 pm. They had also ordered a Greenpeace activist who, in protest of the CPO shipments, tied himself with the chain of an anchor of the Gran Couva tanker that carried the CPO belonging to Wilmar Group bound for Rotterdam, the Netherlands, to get off the ship.
Two Greenpeace activists, namely Bustar Maitar from Forest Campaigner Greenpeace Southeast Asia and Adon, the activist who tied himself on the anchor chain, had been questioned by the police, but not detained.
The police had also ordered an MV Esperanza Greenpeace vessel to leave Dumai port as the berthing period of the Dutch vessel in Dumai port had expired.
The Greenpeace activists also marked the side of the tanker as well as a tug boat full of logs with words reading "Forest Crime" at the Dumai port on Monday.
Bustar Maitar said Greenpeace believed that expansion of oil palm plantations to natural forests in Indonesia had been the factor behind the increasing deforestation and peat moss destruction.
"Ironically companies like Wilmar and Sinar Mas are members of RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil Supply). So long as no public statement has been made by the RSPO that supports a moratorium on the deforestation eco-friendly oilpalm plantations are a myth," he said.
He said the Esperanza would stay in Dumai waters to monitor forest conditions in Riau. (*)
COPYRIGHT © 2008
source: antara.co.id
Posted by
raprapmedan
at
Wednesday, November 12, 2008
0
comments
Labels:
CPO,
Greenpeace,
RSPO,
Sinar Mas,
Wilmar
Greenpeace`s action in Dumai port continues
11/12/08 07:34
Pekanbaru, Riau, (ANTARA News) - Greenpeace environmental activists continued their interception of crude palm oil (CPO) shipments in Dumai port waters here Tuesday.
The activists tied themselves to the anchor's chain of Gran Couva, a CPO tanker. The tanker belonged to Wilmar Group, was leaving for Rotterdam in the Netherlands.
Earlier, the activists also painted "Forest Crime" on the bodies of three CPO tankers and a barge carrying logs berthed in the Dumai port Monday (Nov 10).
"We will stop until we are sent away," said Nabiha Shahab, a South Asian Greenpeace campaigner.
Greenpeace had been intercepting CPO shipments in Dumai port waters to protest rampant deforestation in Indonesia.(*)
COPYRIGHT © 2008
source: antara.co.id
Pekanbaru, Riau, (ANTARA News) - Greenpeace environmental activists continued their interception of crude palm oil (CPO) shipments in Dumai port waters here Tuesday.
The activists tied themselves to the anchor's chain of Gran Couva, a CPO tanker. The tanker belonged to Wilmar Group, was leaving for Rotterdam in the Netherlands.
Earlier, the activists also painted "Forest Crime" on the bodies of three CPO tankers and a barge carrying logs berthed in the Dumai port Monday (Nov 10).
"We will stop until we are sent away," said Nabiha Shahab, a South Asian Greenpeace campaigner.
Greenpeace had been intercepting CPO shipments in Dumai port waters to protest rampant deforestation in Indonesia.(*)
COPYRIGHT © 2008
source: antara.co.id
Tuesday, November 11, 2008
Pengusaha Sawit Remajakan 1 Juta Hektar Lahan
Selasa, 11/11/2008 08:35 WIB
Suhendra - detikFinance
Jakarta - Pengusaha sawit akan melakukan peremajaan lahan sawit seluas 1 juta hektar dari total luasan lahan sawit yang mencapai 6 juta hektar.
Cara ini diharapkan mampu menekan produksi sawit sehingga mampu menekan kejatuhan harga sawit dan produk turunannya termasuk minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO)
"Dalam waktu tiga tahun ke depan kami akan melakukan peremajaan seluas 1 juta hektar, dalam rangka percepatan peremajaan usia-usia pohon sawit yang sudah di atas 25 tahun," kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Akmaluddin Hasibuan saat dihubungi detikFinance Senin malam (10/11/2008).
Akmaluddin mengatakan dengan periode peremajaan selama 3 tahun ke depan maka setidaknya luasan lahan yang diremajakan per tahunnya mencapai 300.000 hektar atau senilai 900.000 ton CPO setara dengan 5,4 juta ton sawit tandan buah segar (TBS).
Sehingga ditaksir hingga tahun 2011 produksi CPO akan mulai susut hingga 3 juta ton CPO atau 18 juta ton TBS.
"Dari 1 juta hektar rata-rata satu hektar menghasilkan 18 ton sawit per tahun, untuk CPO rata-rata per hektar 3 ton per tahun. Kami akan lakukan bertahap, ini rutin dilakukan umumnya pohon sawit sudah tua-tua," jelasnya.
Peremajaan ini akan difokuskan pada wilayah-wilayah penghasil sawit utama seperti di Sumatra dan Kalimantan.
Selain itu, pihaknya juga akan fokus memikirkan pasokan bahan baku sawit untuk bahan bakar nabati (BBN) yang sedang dikembangkan di dalam negeri. "Ini untuk me-reduce pasar luar negeri," katanya.(hen/ir)
source: detik.com
Suhendra - detikFinance
Jakarta - Pengusaha sawit akan melakukan peremajaan lahan sawit seluas 1 juta hektar dari total luasan lahan sawit yang mencapai 6 juta hektar.
Cara ini diharapkan mampu menekan produksi sawit sehingga mampu menekan kejatuhan harga sawit dan produk turunannya termasuk minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO)
"Dalam waktu tiga tahun ke depan kami akan melakukan peremajaan seluas 1 juta hektar, dalam rangka percepatan peremajaan usia-usia pohon sawit yang sudah di atas 25 tahun," kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Akmaluddin Hasibuan saat dihubungi detikFinance Senin malam (10/11/2008).
Akmaluddin mengatakan dengan periode peremajaan selama 3 tahun ke depan maka setidaknya luasan lahan yang diremajakan per tahunnya mencapai 300.000 hektar atau senilai 900.000 ton CPO setara dengan 5,4 juta ton sawit tandan buah segar (TBS).
Sehingga ditaksir hingga tahun 2011 produksi CPO akan mulai susut hingga 3 juta ton CPO atau 18 juta ton TBS.
"Dari 1 juta hektar rata-rata satu hektar menghasilkan 18 ton sawit per tahun, untuk CPO rata-rata per hektar 3 ton per tahun. Kami akan lakukan bertahap, ini rutin dilakukan umumnya pohon sawit sudah tua-tua," jelasnya.
Peremajaan ini akan difokuskan pada wilayah-wilayah penghasil sawit utama seperti di Sumatra dan Kalimantan.
Selain itu, pihaknya juga akan fokus memikirkan pasokan bahan baku sawit untuk bahan bakar nabati (BBN) yang sedang dikembangkan di dalam negeri. "Ini untuk me-reduce pasar luar negeri," katanya.(hen/ir)
source: detik.com
Importir CPO India Ingkari Kontrak Demi Menekan Kerugian
Selasa, 11/11/2008 07:32 WIB
Suhendra - detikFinance
Jakarta - Sebanyak 30 importir CPO mengingkari kontrak pembelian produk sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) asal Indonesia. Mereka mengingkari kontrak karena berupaya menekan kerugian akibat harga CPO yang anjlok sejak pertengahan tahun ini.
"Kami sudah komplain, pemerintah india dan asosiasi mereka. Alasan mereka mengalami drop akibat harga CPO yang jatuh karena mereka default," kata Ketua Umum Gapki Akmaluddin Hasibuan saat dihubungi detikFinance, Senin malam (10/11/2008).
Para pengusaha sawit yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia (Gapki) telah memasukan 30 importir tersebut sebagai daftar hitam (blacklist) Gapki.
Menurut Gapki para importir tadi sudah mulai melakukan tindakan mengingkari kontrak sejak bulan Agustus 2008 ketika harga CPO mulai turun.
Ia mencontohkan salah satu alasan para importir India tersebut mangkir diantaranya karena pada saat kontrak CPO pertengahan tahun 2008 para importir dikenakan harga US$ 700 per ton namun katanya sekarang ini harga CPO sudah dilevel US$ 500.
"Kontrak ke India memang cukup banyak, tapi kami nggak bisa beri tahu angka kerugiannya, karena itu masalah perusahaan masing-masing anggota kami," ujar Akmal.
Meski gagal kontrak, ia tetap optimistis produk CPO Indonesia bisa dipasarkan untuk diekspor lagi ke pasar lain. Hal ini tentunya terkait pasokan CPO yang cukup berlimpah didalam negeri.
"Kita cari pembelian lainnya, masih banyak demand kok," kilahnya.(hen/qom)
source: detik.com
Suhendra - detikFinance
Jakarta - Sebanyak 30 importir CPO mengingkari kontrak pembelian produk sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) asal Indonesia. Mereka mengingkari kontrak karena berupaya menekan kerugian akibat harga CPO yang anjlok sejak pertengahan tahun ini.
"Kami sudah komplain, pemerintah india dan asosiasi mereka. Alasan mereka mengalami drop akibat harga CPO yang jatuh karena mereka default," kata Ketua Umum Gapki Akmaluddin Hasibuan saat dihubungi detikFinance, Senin malam (10/11/2008).
Para pengusaha sawit yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia (Gapki) telah memasukan 30 importir tersebut sebagai daftar hitam (blacklist) Gapki.
Menurut Gapki para importir tadi sudah mulai melakukan tindakan mengingkari kontrak sejak bulan Agustus 2008 ketika harga CPO mulai turun.
Ia mencontohkan salah satu alasan para importir India tersebut mangkir diantaranya karena pada saat kontrak CPO pertengahan tahun 2008 para importir dikenakan harga US$ 700 per ton namun katanya sekarang ini harga CPO sudah dilevel US$ 500.
"Kontrak ke India memang cukup banyak, tapi kami nggak bisa beri tahu angka kerugiannya, karena itu masalah perusahaan masing-masing anggota kami," ujar Akmal.
Meski gagal kontrak, ia tetap optimistis produk CPO Indonesia bisa dipasarkan untuk diekspor lagi ke pasar lain. Hal ini tentunya terkait pasokan CPO yang cukup berlimpah didalam negeri.
"Kita cari pembelian lainnya, masih banyak demand kok," kilahnya.(hen/qom)
source: detik.com
HADANG KAPAL CPO, Polisi Dan Adpel Dumai Hentikan Aksi Greenpeace
11 Nov 2008 14:38 wib
ad
PEKANBARU (RiauInfo) - Polisi dan petugas Administrasi Pelabuhan (AdPel) di Dumai hari ini memaksa turun seorang aktivis Greenpeace dari rantai jangkar sebuah kapal tanker bertujuan Rotterdam, yang memuat CPO yang dihasilkan dari praktik yang merusak hutan di Indonesia.
Aktivis Greenpeace sejak kemarin telah mengunci dirinya pada rantai jangkar Gran Couva untuk mencegah kapal itu meninggalkan Indonesia menuju Eropa. Minyak sawit yang dikapalkan pada Gran Couva adalah milik Grup Wilmar.
“Greenpeace percaya bahwa memperbaiki produktivitas perkebunan kelapa sawit yang ada merupakan solusi merespon meningkatnya permintaan global, tanpa menghancurkan hutan yang tersisa,” kata Bustar Maitar, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara, “Perluasan perkebunan kelapa sawit ke dalam hutan alam di Indonesia merupakan pendorong penting deforestasi dan pengrusakan lahan gambut.”
“Ironisnya, perusahaan seperti Wilmar dan Sinar Mas adalah anggota dari organisasi industri RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil). (1) Sepanjang belum ada pernyataan publik dari RSPO mendukung moratorium deforestasi, minyak sawit yang “ramah lingkungan” hanya mitos belaka,” kata Bustar.
Dalam pelayaran “Hutan untuk Iklim” kapal Esperanza di Indonesia, Greenpeace telah mengumpulkan bukti-bukti baru konversi hutan besar-besaran di Propinsi Papua untuk perkebunan kelapa sawit pada konsesi Sinar Mas di dekat Jayapura. Greenpeace juga mendokumentasikan terus berlangsungnya pengrusakan hutan karena pembalakan di Papua dan menemukan pembukaan hutan baru pada hutan gambut di Riau.
“Greenpeace menyerukan kepada RSPO yang akan bertemu minggu ini untuk mendukung moratorium dan mendorong Pemerintah untuk mengambil tindakan segera. Standar RSPO harus diperketat untuk memastikan para anggotanya menghentikan deforestasi dan membuka lahan gambut pada semua operasinya,” tambah Maitar.
Kapal Esperanza, memulai bagian Indonesia dari pelayaran “Hutan untuk Iklim” pada tanggal 6 Oktober di Jayapura, untuk menyoroti kerusakan yang berlangsung terus menerus di hutan terakhir yang tersisa di Asia Tenggara.
Greenpeace menyerukan pemberlakuan sesegera mungkin penghentian sementara (moratorium) terhadap semua bentuk konversi hutan, termasuk untuk perluasan perkebunan kelapa sawit, industri penebangan dan sebab-sebab deforestasi lain.
Greenpeace adalah organisasi kampanye global yang independen yang bertindak untuk mengubah sikap dan perilaku masyarakat guna melindungi dan melestarikan lingkungan hidup serta mengusung perdamaian.(ad)
source: riauinfo.com
ad
PEKANBARU (RiauInfo) - Polisi dan petugas Administrasi Pelabuhan (AdPel) di Dumai hari ini memaksa turun seorang aktivis Greenpeace dari rantai jangkar sebuah kapal tanker bertujuan Rotterdam, yang memuat CPO yang dihasilkan dari praktik yang merusak hutan di Indonesia.
Aktivis Greenpeace sejak kemarin telah mengunci dirinya pada rantai jangkar Gran Couva untuk mencegah kapal itu meninggalkan Indonesia menuju Eropa. Minyak sawit yang dikapalkan pada Gran Couva adalah milik Grup Wilmar.
“Greenpeace percaya bahwa memperbaiki produktivitas perkebunan kelapa sawit yang ada merupakan solusi merespon meningkatnya permintaan global, tanpa menghancurkan hutan yang tersisa,” kata Bustar Maitar, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara, “Perluasan perkebunan kelapa sawit ke dalam hutan alam di Indonesia merupakan pendorong penting deforestasi dan pengrusakan lahan gambut.”
“Ironisnya, perusahaan seperti Wilmar dan Sinar Mas adalah anggota dari organisasi industri RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil). (1) Sepanjang belum ada pernyataan publik dari RSPO mendukung moratorium deforestasi, minyak sawit yang “ramah lingkungan” hanya mitos belaka,” kata Bustar.
Dalam pelayaran “Hutan untuk Iklim” kapal Esperanza di Indonesia, Greenpeace telah mengumpulkan bukti-bukti baru konversi hutan besar-besaran di Propinsi Papua untuk perkebunan kelapa sawit pada konsesi Sinar Mas di dekat Jayapura. Greenpeace juga mendokumentasikan terus berlangsungnya pengrusakan hutan karena pembalakan di Papua dan menemukan pembukaan hutan baru pada hutan gambut di Riau.
“Greenpeace menyerukan kepada RSPO yang akan bertemu minggu ini untuk mendukung moratorium dan mendorong Pemerintah untuk mengambil tindakan segera. Standar RSPO harus diperketat untuk memastikan para anggotanya menghentikan deforestasi dan membuka lahan gambut pada semua operasinya,” tambah Maitar.
Kapal Esperanza, memulai bagian Indonesia dari pelayaran “Hutan untuk Iklim” pada tanggal 6 Oktober di Jayapura, untuk menyoroti kerusakan yang berlangsung terus menerus di hutan terakhir yang tersisa di Asia Tenggara.
Greenpeace menyerukan pemberlakuan sesegera mungkin penghentian sementara (moratorium) terhadap semua bentuk konversi hutan, termasuk untuk perluasan perkebunan kelapa sawit, industri penebangan dan sebab-sebab deforestasi lain.
Greenpeace adalah organisasi kampanye global yang independen yang bertindak untuk mengubah sikap dan perilaku masyarakat guna melindungi dan melestarikan lingkungan hidup serta mengusung perdamaian.(ad)
source: riauinfo.com
Subscribe to:
Posts (Atom)