Minggu, 09/11/2008 14:10 WIB
Angga Aliya ZRF - detikFinance
Jakarta - Sebanyak 30 importir minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) asal India yang disusun dalam daftar hitam Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) sudah mengingkari kontrak sejak Agustus 2008.
Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Gapki Derom Bangun yang dihubungi detikFinance, Minggu (9/11/2008). "Mereka berhenti mengirimkan kapalnya sejak Agustus lalu, tapi tanggal tepatnya saya tidak tahu," katanya.
Menurutnya, sejumlah importir asal India tersebut sudah melakukan kontrak untuk melakukan pengiriman dan pembayaran di tempat dengan beberapa produsen CPO lokal. Namun, ketika tanggal pengiriman tiba, tidak ada satu kapal pun yang datang dari 30 importir tersebut.
Gapki pun memperkirakan kerugian yang cukup besar dengan ingkarnya para importir India nakal tersebut. Namun sayang, ia enggan mengatakan detail kerugiannya.
"Maka dari itu, kami langsung menyusun daftar perusahaan yang tidak menepati kontrak dan melayangkan surat kepada asosiasi CPO India seminggu yang lalu," imbuhnya.
Ia mengatakan, nilai kontrak yang tidak ditepati oleh importir India itu beragam dengan total nilai kontrak yang cukup besar. Hampir semua pesanan di kontrak tersebut di atas 100.000 ton.
"Yang baru diketahui 30 itu saja, sisa kontraknya ke negara lain saya tidak bisa bilang tidak ada. Harus dicek lagi," ujarnya.
Selama ini, Indonesia menjadi eksportir CPO ke lebih dari 100 negara di seluruh dunia. Negara_negara itu antara lain India, Cina, Belanda, Pakistan dan lain sebagainya.
Tiga puluh perusahaan yang termasuk dalam daftar hitam Gapki antara lain: Nafed, JMD Oils and Fats, Bhatinda Oils and Fats, Kundan Oils and Fats, Raj Agro Oils, Gujarat Spices, Puneet and Company, Sarda Agro, Sudhir Agro, NCS Hyderabad, Mahesh Agro, Golden Oils Kolkata, Coastal Energy, Pradyhuman Overseas, Sara International, Dudhadhari Exports, DDI (Tower International), Budge Budge Refineries, Indumati Refineries, Shree Ganesh Oils, Velani Traders, Sheetal Industries dan sebagainya.(ang/ddn)
source: detik.com
Monday, November 10, 2008
Importir CPO India Ingkari Kontrak Sejak Agustus
Posted by
raprapmedan
at
Monday, November 10, 2008
0
comments
Labels:
CPO,
Derom Bangun,
Gapki,
India
Govt supports 3 industries: Shoes, sugar, and textiles
November 08, 2008
Yuli Tri Suwarni, The Jakarta Post, Bandung
The government is expanding its industry revitalization program next year, with footwear manufacturers the latest to join a list of industrial sector subsidy recipients -- in addition to textiles and sugar -- to help renew machinery and boost output.
The Industry Ministry will facilitate the disbursement of Rp 55 billion in interest subsidies for footwear manufacturers, as part of a total of Rp 360 billion set aside in subsidies for the three industries, director general Anshari Bukhari said Saturday in Bandung, West Java.
"The funds are allocated on the government's 2009 state budget and have been approved by the House of Representatives," Anshari told a discussion forum.
This is the expansion of a program started two years ago designed to help targeted strategic industries to bolster production capacity.
Under this program, which originally only covered the textile industry, the government would subsidize part of the interest rate which banks charged on loans so that manufacturers could buy new machinery. It disbursed Rp 175 billion (US$18.77 million) to 78 textile and garment manufacturers in 2007 and expects to disburse another Rp 210 billion this year.
For next year, textile and garments makers will be entitled to another Rp 255 billion in subsidies, while sugar factories will be entitled to Rp 50 billion.
"We expect that this expanded program will not only stimulate investment in the three sectors, but also help improve competitiveness," Anshari said.
Businesses have welcomed this government program, saying it will definitely help them increase production capacity and benefit their industry as a whole.
The Association of Indonesia Textile Producers (API) has said that with the program, the industry is optimistic that it can cope with any decline in traditional export markets despite the current global economic downturn.
It expects total exports to still grow by at least 7 percent next year, mostly resulting from export market diversification. Last year the value of textile exports reached $10.06 billion.
The Indonesia Footwear Producer Association (Aprisindo) meanwhile said that even this year, the industry was doing relatively well and remained on course to achieving a 10 percent export growth target by end year, probably reaching an export volume of $1.76 billion.
Meanwhile, ministry director Budi Irmawan said up to 380 footwear makers have so far applied to make use of the subsidy scheme and this volume of demand would likely continue.
He added that most of the machinery now used by footwear manufacturers dates back to the 1980s.
Anshari added that the government would in the near future further expand its revitalization program.
"We're considering providing subsidies for targeted industrial cluster areas in the country. This would not be via an industry-based subsidy, but via industrial clusters. But, we're still working out the details," he said.
source: thejakartapost.com
Yuli Tri Suwarni, The Jakarta Post, Bandung
The government is expanding its industry revitalization program next year, with footwear manufacturers the latest to join a list of industrial sector subsidy recipients -- in addition to textiles and sugar -- to help renew machinery and boost output.
The Industry Ministry will facilitate the disbursement of Rp 55 billion in interest subsidies for footwear manufacturers, as part of a total of Rp 360 billion set aside in subsidies for the three industries, director general Anshari Bukhari said Saturday in Bandung, West Java.
"The funds are allocated on the government's 2009 state budget and have been approved by the House of Representatives," Anshari told a discussion forum.
This is the expansion of a program started two years ago designed to help targeted strategic industries to bolster production capacity.
Under this program, which originally only covered the textile industry, the government would subsidize part of the interest rate which banks charged on loans so that manufacturers could buy new machinery. It disbursed Rp 175 billion (US$18.77 million) to 78 textile and garment manufacturers in 2007 and expects to disburse another Rp 210 billion this year.
For next year, textile and garments makers will be entitled to another Rp 255 billion in subsidies, while sugar factories will be entitled to Rp 50 billion.
"We expect that this expanded program will not only stimulate investment in the three sectors, but also help improve competitiveness," Anshari said.
Businesses have welcomed this government program, saying it will definitely help them increase production capacity and benefit their industry as a whole.
The Association of Indonesia Textile Producers (API) has said that with the program, the industry is optimistic that it can cope with any decline in traditional export markets despite the current global economic downturn.
It expects total exports to still grow by at least 7 percent next year, mostly resulting from export market diversification. Last year the value of textile exports reached $10.06 billion.
The Indonesia Footwear Producer Association (Aprisindo) meanwhile said that even this year, the industry was doing relatively well and remained on course to achieving a 10 percent export growth target by end year, probably reaching an export volume of $1.76 billion.
Meanwhile, ministry director Budi Irmawan said up to 380 footwear makers have so far applied to make use of the subsidy scheme and this volume of demand would likely continue.
He added that most of the machinery now used by footwear manufacturers dates back to the 1980s.
Anshari added that the government would in the near future further expand its revitalization program.
"We're considering providing subsidies for targeted industrial cluster areas in the country. This would not be via an industry-based subsidy, but via industrial clusters. But, we're still working out the details," he said.
source: thejakartapost.com
Friday, November 7, 2008
Surbakti, Petani Sawit di Galang, “Karena CPO, Tiga Anakku Sarjana”
Sabtu, 08-11-2008
*bersihar lubis
MedanBisnis – Medan
Wajah Pak Surbakti dan istrinya tidak lagi mendung. Ibarat langit dengan awan hitam yang berarak, kini perlahan sirna dan makin cerah. Harga tandan buah segar (TBS) sawit kini mencapai Rp 700 per kg. Kenangan pahit saat harganya Rp 150 per kg sudah berlalu.
“Setelah pungutan ekspor CPO turun dari 7,5% jadi 2,5% dan lalu menjadi nol persen, harga TBS mulai membaik,” kata petani sawit dari Galang, Deliserdang, Sumatera Utara itu kepada MedanBisnis.
Surbakti mendengar kabar pada akhir tahun 2008 ini harga TBS akan menaik lagi, sehingga pasangan suami istri ini semakin giat memupuk kebun mereka. Mereka sangat bersyukur karena dengan kebun sawit itulah tiga anak mereka, satu lelaki dan dua perempuan bisa menyelesaikan sarjana di perguruan tinggi swasta di Medan. Masih ada satu lagi si bungsu sedang sekolah di SMA. “Jika karena tak CPO, tak mungkin mereka jadi sarjana,” kata istrinya.
Surbakti sudah berkebun sawit selama sembilan tahun terakhir ini. Bertumbuh secara perlahan, sekarang sudah seluas 15 hektare, yang berlokasi 20 kilometer dari Galang. Saat harga normal dulu, keluarga beretnik Karo ini memanen TBS sekali dua minggu atau dua kali dalam sebulan. Hasilnya lumayan, apalagi di kala itu harga TBS mencapai Rp 2.000 per kg.
Saban lima hektare, mereka bisa mengutip hasil Rp 6 juta sebulan. “Itu hasil bersih, setelah dipotong upah buruh dan pembelian pupuk,” kata Surbakti. Jika dihitung-hitung, pendapatannya sebulan mencapai Rp 18 juta. Itu sebabnya di saat harga TBS lagi jatuh keluarga Surbakti masih bisa hidup dari cadangan dana simpanan mereka selama ini. “Ada tak dimakan, kalau tak ada baru dimakan,” katanya separuh berfilsafat.
Begitupun, di kala harga TBS jatuh, Surbakti tetap memetik TBS dari kebun sawitnya. “Jika tak dipanen akan merusak pohonnya,” katanya. Jadi walaupun rugi, mereka tetap memanennya karena mempertimbangkan prospek kebun mereka. “Hidup tak selalu menuai untung,” kata istrinya, tergelak.
Sepeda Motor & Listrik
Namun tak diingkari Surbakti, akibat turunnya harga TBS sangat memukul rekan-rekannya, khususnya yang mempunyai kebun sekitar 1-3 hektare. Ia mencontohkan banyak petani sawit yang tadinya mengambil kredit sepeda motor terpaksa mengembalikannya ke dealer di Galang atau Lubuk Pakam. Maklum, cicilan sebulan mencapai Rp 500.000, sementara hasil sawit tak memadai. Jika harga TBS tak membaik juga, mungkin jumlah yang sepeda motornya disita dealer bisa bertambah.
Dampak turunnya harga TBS selama ini juga berpengaruh kepada PLN di Galang. Sedikitnya ada 1.500 dari 20.000 pelanggan PLN yang menunggak membayar rekening listrik. “Umumnya penunggak itu adalah petani sawit,” kata Surbakti. Ia berharap harga TBS segera membaik agar jangan sampai lampu listrik di rumah rekan-rekannya itu diputuskan oleh PLN. “Sebetulnya, PLN juga rugi karena kehilangan pelanggan,” katanya.
Kelebihan Surbakti dibanding umumnya petani sawit, mereka langsung mengangkut panen TBS mereka ke gudang pabrik sawit. “Kami mengangkutnya dengan mobil sendiri,” katanya. Karena pasokan TBS-nya lancar, pihak pabrik pun berkenan memberikan pinjaman, bisa Rp 25 juta atau Rp 50 juta. “Jaminannya, pasokan TBS sekali dua mingu itu,” katanya. Praktis Surbakti tak berhubungan dengan kolektor di lapangan maupun agen para kolektor. “Untuk kedua jasa itu harus membayar Rp 200 hingga Rp 300 per kg,” katanya.
Sayangnya, tidak semua petani punya angkutan sendiri, dan terpaksa rela membagi rejeki dengan para kolektor dan agen. Surbakti melihat sebetulnya soal itu bisa diatasi dengan mendirikan koperasi. “Nantinya, koperasilah yang menggantikan peran kolektor itu, sehingga harga yang diterima petani semakin tinggi,” katanya.
source: medanbisnisonline.com
*bersihar lubis
MedanBisnis – Medan
Wajah Pak Surbakti dan istrinya tidak lagi mendung. Ibarat langit dengan awan hitam yang berarak, kini perlahan sirna dan makin cerah. Harga tandan buah segar (TBS) sawit kini mencapai Rp 700 per kg. Kenangan pahit saat harganya Rp 150 per kg sudah berlalu.
“Setelah pungutan ekspor CPO turun dari 7,5% jadi 2,5% dan lalu menjadi nol persen, harga TBS mulai membaik,” kata petani sawit dari Galang, Deliserdang, Sumatera Utara itu kepada MedanBisnis.
Surbakti mendengar kabar pada akhir tahun 2008 ini harga TBS akan menaik lagi, sehingga pasangan suami istri ini semakin giat memupuk kebun mereka. Mereka sangat bersyukur karena dengan kebun sawit itulah tiga anak mereka, satu lelaki dan dua perempuan bisa menyelesaikan sarjana di perguruan tinggi swasta di Medan. Masih ada satu lagi si bungsu sedang sekolah di SMA. “Jika karena tak CPO, tak mungkin mereka jadi sarjana,” kata istrinya.
Surbakti sudah berkebun sawit selama sembilan tahun terakhir ini. Bertumbuh secara perlahan, sekarang sudah seluas 15 hektare, yang berlokasi 20 kilometer dari Galang. Saat harga normal dulu, keluarga beretnik Karo ini memanen TBS sekali dua minggu atau dua kali dalam sebulan. Hasilnya lumayan, apalagi di kala itu harga TBS mencapai Rp 2.000 per kg.
Saban lima hektare, mereka bisa mengutip hasil Rp 6 juta sebulan. “Itu hasil bersih, setelah dipotong upah buruh dan pembelian pupuk,” kata Surbakti. Jika dihitung-hitung, pendapatannya sebulan mencapai Rp 18 juta. Itu sebabnya di saat harga TBS lagi jatuh keluarga Surbakti masih bisa hidup dari cadangan dana simpanan mereka selama ini. “Ada tak dimakan, kalau tak ada baru dimakan,” katanya separuh berfilsafat.
Begitupun, di kala harga TBS jatuh, Surbakti tetap memetik TBS dari kebun sawitnya. “Jika tak dipanen akan merusak pohonnya,” katanya. Jadi walaupun rugi, mereka tetap memanennya karena mempertimbangkan prospek kebun mereka. “Hidup tak selalu menuai untung,” kata istrinya, tergelak.
Sepeda Motor & Listrik
Namun tak diingkari Surbakti, akibat turunnya harga TBS sangat memukul rekan-rekannya, khususnya yang mempunyai kebun sekitar 1-3 hektare. Ia mencontohkan banyak petani sawit yang tadinya mengambil kredit sepeda motor terpaksa mengembalikannya ke dealer di Galang atau Lubuk Pakam. Maklum, cicilan sebulan mencapai Rp 500.000, sementara hasil sawit tak memadai. Jika harga TBS tak membaik juga, mungkin jumlah yang sepeda motornya disita dealer bisa bertambah.
Dampak turunnya harga TBS selama ini juga berpengaruh kepada PLN di Galang. Sedikitnya ada 1.500 dari 20.000 pelanggan PLN yang menunggak membayar rekening listrik. “Umumnya penunggak itu adalah petani sawit,” kata Surbakti. Ia berharap harga TBS segera membaik agar jangan sampai lampu listrik di rumah rekan-rekannya itu diputuskan oleh PLN. “Sebetulnya, PLN juga rugi karena kehilangan pelanggan,” katanya.
Kelebihan Surbakti dibanding umumnya petani sawit, mereka langsung mengangkut panen TBS mereka ke gudang pabrik sawit. “Kami mengangkutnya dengan mobil sendiri,” katanya. Karena pasokan TBS-nya lancar, pihak pabrik pun berkenan memberikan pinjaman, bisa Rp 25 juta atau Rp 50 juta. “Jaminannya, pasokan TBS sekali dua mingu itu,” katanya. Praktis Surbakti tak berhubungan dengan kolektor di lapangan maupun agen para kolektor. “Untuk kedua jasa itu harus membayar Rp 200 hingga Rp 300 per kg,” katanya.
Sayangnya, tidak semua petani punya angkutan sendiri, dan terpaksa rela membagi rejeki dengan para kolektor dan agen. Surbakti melihat sebetulnya soal itu bisa diatasi dengan mendirikan koperasi. “Nantinya, koperasilah yang menggantikan peran kolektor itu, sehingga harga yang diterima petani semakin tinggi,” katanya.
source: medanbisnisonline.com
Posted by
raprapmedan
at
Friday, November 07, 2008
0
comments
Labels:
CPO,
Kelapa Sawit,
Pungutan Ekspor
Thursday, November 6, 2008
TBS Sawit Sentuh Rp 680/Kg
Jumat, 07-11-2008
*bambang s
MedanBisnis – Medan
Setelah dirundung kelabu akibat anjloknya harga tandan buah segar (TBS) sampai ke titik terendah, para petani sawit di sejumlah daerah di Sumatera Utara sedikit agak sumringah, karena hasil panenan sawit mereka mulai direspon pasar.
Meski kenaikannya masih jauh dari harga layak jual yang sempat dinikmati petani, tapi yang jelas harga TBS mulai menggeliat bergerak naik. Harga penjualan di tingkat petani ke pabrik kelapa sawit (PKS) seperti yang dipantau MedanBisnis, memang belum merata.
Hingga kemarin, harga transaksi (dari petani melalui pedagang pengumpul ke PKS) tertinggi terjadi di Tebingtinggi (Sumut). PKS PT Paya Pinang, salah satu perkebunan swasta tertua dan memiliki perkebunan sawit seluas 4.000 hektar di kabupaten tersebut, mencatat harga pembelian TBS tertinggi, yakni Rp 680 per kg.
Transaksi harga TBS tersebut, menunjukkan terjadinya pergeseran harga buah sawit, yang sejak tiga bulan terakhir ini, tak bergeming di seputaran Rp 250 – Rp 300 per kg. “Mudah-mudahan, harga (pembelian) di PKS ini bisa bertahan. Kalau mungkin bisa naik lagi,” harap Haris, salah seorang pedagang pengumpul yang kerap memasok sawit ke PKS tersebut.
Kenaikan sawit juga terjadi di beberapa PKS baik milik badan usaha milik negara (BUMN) maupun swasta. Seperti PKS Adolina milik PTPN-4 di Kabupaten Serdang Bedagei, kemarin juga bergerak naik berkisar antara Rp 580 – Rp 590 per kg. Dua pekan lalu, harga TBS di PKS tersebut masih bertahan di harga paling rendah, Rp 250 per kg.
Di Kabupaten Padang Lawas, yang kini mengklaim sebagai salah satu kabupaten paling banyak dihuni perkebunan berskala besar, harga TBS sawitnya bervariasi. PT Torganda, salah satu perkebunan kelapa sawit paling luas di kabupaten tersebut, melakukan pembelian berkisar Rp 580 per kg.
Dilaporkan dari perbatasan Sumut – Riau, tepatnya di Baganbatu, lokasi terkonsentrasinya perkebunan kelapa sawit, harga TBS justru belum terkatrol, masih antara Rp 480 – Rp 490 per kg.
*bambang s
MedanBisnis – Medan
Setelah dirundung kelabu akibat anjloknya harga tandan buah segar (TBS) sampai ke titik terendah, para petani sawit di sejumlah daerah di Sumatera Utara sedikit agak sumringah, karena hasil panenan sawit mereka mulai direspon pasar.
Meski kenaikannya masih jauh dari harga layak jual yang sempat dinikmati petani, tapi yang jelas harga TBS mulai menggeliat bergerak naik. Harga penjualan di tingkat petani ke pabrik kelapa sawit (PKS) seperti yang dipantau MedanBisnis, memang belum merata.
Hingga kemarin, harga transaksi (dari petani melalui pedagang pengumpul ke PKS) tertinggi terjadi di Tebingtinggi (Sumut). PKS PT Paya Pinang, salah satu perkebunan swasta tertua dan memiliki perkebunan sawit seluas 4.000 hektar di kabupaten tersebut, mencatat harga pembelian TBS tertinggi, yakni Rp 680 per kg.
Transaksi harga TBS tersebut, menunjukkan terjadinya pergeseran harga buah sawit, yang sejak tiga bulan terakhir ini, tak bergeming di seputaran Rp 250 – Rp 300 per kg. “Mudah-mudahan, harga (pembelian) di PKS ini bisa bertahan. Kalau mungkin bisa naik lagi,” harap Haris, salah seorang pedagang pengumpul yang kerap memasok sawit ke PKS tersebut.
Kenaikan sawit juga terjadi di beberapa PKS baik milik badan usaha milik negara (BUMN) maupun swasta. Seperti PKS Adolina milik PTPN-4 di Kabupaten Serdang Bedagei, kemarin juga bergerak naik berkisar antara Rp 580 – Rp 590 per kg. Dua pekan lalu, harga TBS di PKS tersebut masih bertahan di harga paling rendah, Rp 250 per kg.
Di Kabupaten Padang Lawas, yang kini mengklaim sebagai salah satu kabupaten paling banyak dihuni perkebunan berskala besar, harga TBS sawitnya bervariasi. PT Torganda, salah satu perkebunan kelapa sawit paling luas di kabupaten tersebut, melakukan pembelian berkisar Rp 580 per kg.
Dilaporkan dari perbatasan Sumut – Riau, tepatnya di Baganbatu, lokasi terkonsentrasinya perkebunan kelapa sawit, harga TBS justru belum terkatrol, masih antara Rp 480 – Rp 490 per kg.
RI-Malaysia pangkas 250.000 ha kebun sawit
Kamis, 06/11/2008 19:19 WIB
oleh : Erwin Tambunan
JAKARTA (bisnis.com): Pemerintah Indonesia dan Malaysia sepakat memangkas 250.000 ha perkebunan kelapa sawit untuk mengurangi kelebihan produksi komoditas itu.
"Kami akan mengatur stok produksi bersama-sama untuk memperoleh harga yang pas, tidak jatuh seperti sekarang ini," ujar Mentan Anton Apriantono seusai menandatangani kesepakatan bersama dengan Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditas Malaysia, Peter Chin Fah Kui, hari ini.
Dalam kesepakatan itu, Malaysia mulai 2009 berencana memangkas 200.000 ha perkebunan sawitnya, sedangkan Indonesia memangkas 50.000 ha. "Malaysia mengklaim produksi sawitnya sebanyak 2,5 ton per ha, sedangkan Indonesia 1,5 ton/ha."
Pengaturan pemangkasan perkebunan kelapa sawit, menurut Anton, dilaksanakan awal Januari 2009. "Pemangkasan itu diprioritaskan pohon yang sudah tua yang tujuannya mengurangi produksi, sehingga ekspansinya sesuai kebutuhan pasar," katanya.
Sebelumnya Dirjen Perkebunan Deptan Achmad Manggabarani mengatakan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit yang berlaku sekarang Rp4.500 per kg. "Dua minggu lalu harganya sempat anjlok hingga mencapai Rp3.900 per kg," katanya.
Mengantisipasi perkembangan perdagangan kelapa sawit internasional, kedua negara sebagai produsen 85% kebutuhan minyak sawit dunia bersepakat setiap bulan saling tukar menukar informasi tentang perdagangan kelapa sawit dan karet. (tw)
source: bisnis.com
oleh : Erwin Tambunan
JAKARTA (bisnis.com): Pemerintah Indonesia dan Malaysia sepakat memangkas 250.000 ha perkebunan kelapa sawit untuk mengurangi kelebihan produksi komoditas itu.
"Kami akan mengatur stok produksi bersama-sama untuk memperoleh harga yang pas, tidak jatuh seperti sekarang ini," ujar Mentan Anton Apriantono seusai menandatangani kesepakatan bersama dengan Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditas Malaysia, Peter Chin Fah Kui, hari ini.
Dalam kesepakatan itu, Malaysia mulai 2009 berencana memangkas 200.000 ha perkebunan sawitnya, sedangkan Indonesia memangkas 50.000 ha. "Malaysia mengklaim produksi sawitnya sebanyak 2,5 ton per ha, sedangkan Indonesia 1,5 ton/ha."
Pengaturan pemangkasan perkebunan kelapa sawit, menurut Anton, dilaksanakan awal Januari 2009. "Pemangkasan itu diprioritaskan pohon yang sudah tua yang tujuannya mengurangi produksi, sehingga ekspansinya sesuai kebutuhan pasar," katanya.
Sebelumnya Dirjen Perkebunan Deptan Achmad Manggabarani mengatakan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit yang berlaku sekarang Rp4.500 per kg. "Dua minggu lalu harganya sempat anjlok hingga mencapai Rp3.900 per kg," katanya.
Mengantisipasi perkembangan perdagangan kelapa sawit internasional, kedua negara sebagai produsen 85% kebutuhan minyak sawit dunia bersepakat setiap bulan saling tukar menukar informasi tentang perdagangan kelapa sawit dan karet. (tw)
source: bisnis.com
Posted by
raprapmedan
at
Thursday, November 06, 2008
0
comments
Labels:
Indonesia,
Kelapa Sawit,
Malaysia
Petani dan Buruh Sawit Itu Makin Butuh BLT
Kamis, 06 November 2008
PEKANBARU-Saat menyusuri sepanjang jalan menuju Kantor Pos Kabupaten Siak, tempat pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT)—80 kilometer ke arah timur dari Kota Pekanbaru, Riau—sepanjang perjalanan ternyata berupa tanjakan, turunan, dan sesekali tikungan yang tajam.
Para pelintas juga disuguhi pemandangan kebun kelapa sawit yang terhampar luas di sepanjang perjalanan, serta terlihat pipa-pipa besar berisi minyak mentah milik PT Chevron Pasific Indonesia (dahulu PT Caltex Pasific Indonesia). Di beberapa tempat, permukaan pipa berwarna hitam legam dan bertuliskan, “Awas pipa bertekanan tinggi.”
Perjalanan darat yang ditempuh sekitar dua jam memang tidak semulus yang dibayangkan. Terkadang permukaan jalan bergelombang, tidak rata. Sesekali juga berpapasan dengan truk-truk bermuatan kayu. Jika berpapasan dengan truk tersebut di tanjakan atau tikungan, jantung terpaksa berdetak kencang karena truk itu membawa beban melebihi kapasitas.
Sesampainya di tempat pembagian BLT di Kantor Pos Kabupaten Siak, ternyata para penerima BLT sudah siap sejak pagi hari. Mereka rata-rata menggunakan sepeda motor. Jarak yang ditempuh pun tidak tanggung-tanggung demi mendapatkan uang Rp 400.000. Contohnya Asim (34), warga Desa Belutu, Siak, mengatakan akibat anjloknya harga kelapa sawit di tingkat petani yang awalnya Rp 2.000 menjadi Rp 150, mata pencarian para petani pun terancam. “Setelah lebaran, harga sawit tidak terkendali. Kalau ini berlangsung beberapa bulan, banyak buruh akan kehilangan pekerjaan,” ungkapnya.
Uang yang diterima Asim akan digunakan untuk membeli kebutuhan pokok, seperti beras, dan membayar buku sekolah anaknya. “Rumah saya jauh. Sekitar 30 kilometer. Selain itu, belum mendapat listrik. Kami menggunakan lampu minyak untuk penerangan,” kata ayah dari dua putri itu. Kabupaten Siak memang belum terkena program konversi minyak tanah ke gas.
Akibat anjloknya harga sawit, banyak petani sawit yang terbelit utang. Bahkan, akibatnya lagi, menurut Kanitintel Polsek Ujung Batu Aris Taslim, kasus penjambretan jadi meningkat karena berkurangnya pendapatan petani dan buruh angkut kelapa sawit. “Akhir-akhir ini kasus penjambretan terus marak karena harga sawit yang terus menurun” kata Aris kepada SH di sela-sela pembagian BLT di Kantor Pos Ujung Batu.
Sayangnya, program pengentasan kemiskinan yang ditawarkan Pemprov Riau masih jauh dari harapan. Terbukti penerima BLT masih dari kalangan mampu. Ini terlihat dari pengamatan SH, dimana para penerima BLT ialah mereka yang memiliki sepeda motor. Daerah seperti Riau Kepulauan yang jauh dari listrik, tampaknya masih jauh dari jangkauan BLT.
Kepala Camat Ujung Batu Syaiful Bahri pun mengakui masih banyak daerah yang belum menerima karena sulitnya medan yang harus ditempuh, seperti di kawasan Suku Sakai yang berjarak 30 kilometer dari Kantor Pos Ujung Batu. Tampaknya, program yang ditawarkan Pemprov Riau seperti program pengentasan kemiskinan, pemberantasan kebodohan, dan penyedian infrastruktur pun hanya menyentuh orang-orang di pinggiran Kota Pekanbaru.
Maka, pemerintah pusat seharusnya bekerja lebih keras agar penyaluran BLT tidak salah sasaran dan jangkauan sasarannya lebih luas. (cr-4)
source: sinarharapan.co.id
PEKANBARU-Saat menyusuri sepanjang jalan menuju Kantor Pos Kabupaten Siak, tempat pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT)—80 kilometer ke arah timur dari Kota Pekanbaru, Riau—sepanjang perjalanan ternyata berupa tanjakan, turunan, dan sesekali tikungan yang tajam.
Para pelintas juga disuguhi pemandangan kebun kelapa sawit yang terhampar luas di sepanjang perjalanan, serta terlihat pipa-pipa besar berisi minyak mentah milik PT Chevron Pasific Indonesia (dahulu PT Caltex Pasific Indonesia). Di beberapa tempat, permukaan pipa berwarna hitam legam dan bertuliskan, “Awas pipa bertekanan tinggi.”
Perjalanan darat yang ditempuh sekitar dua jam memang tidak semulus yang dibayangkan. Terkadang permukaan jalan bergelombang, tidak rata. Sesekali juga berpapasan dengan truk-truk bermuatan kayu. Jika berpapasan dengan truk tersebut di tanjakan atau tikungan, jantung terpaksa berdetak kencang karena truk itu membawa beban melebihi kapasitas.
Sesampainya di tempat pembagian BLT di Kantor Pos Kabupaten Siak, ternyata para penerima BLT sudah siap sejak pagi hari. Mereka rata-rata menggunakan sepeda motor. Jarak yang ditempuh pun tidak tanggung-tanggung demi mendapatkan uang Rp 400.000. Contohnya Asim (34), warga Desa Belutu, Siak, mengatakan akibat anjloknya harga kelapa sawit di tingkat petani yang awalnya Rp 2.000 menjadi Rp 150, mata pencarian para petani pun terancam. “Setelah lebaran, harga sawit tidak terkendali. Kalau ini berlangsung beberapa bulan, banyak buruh akan kehilangan pekerjaan,” ungkapnya.
Uang yang diterima Asim akan digunakan untuk membeli kebutuhan pokok, seperti beras, dan membayar buku sekolah anaknya. “Rumah saya jauh. Sekitar 30 kilometer. Selain itu, belum mendapat listrik. Kami menggunakan lampu minyak untuk penerangan,” kata ayah dari dua putri itu. Kabupaten Siak memang belum terkena program konversi minyak tanah ke gas.
Akibat anjloknya harga sawit, banyak petani sawit yang terbelit utang. Bahkan, akibatnya lagi, menurut Kanitintel Polsek Ujung Batu Aris Taslim, kasus penjambretan jadi meningkat karena berkurangnya pendapatan petani dan buruh angkut kelapa sawit. “Akhir-akhir ini kasus penjambretan terus marak karena harga sawit yang terus menurun” kata Aris kepada SH di sela-sela pembagian BLT di Kantor Pos Ujung Batu.
Sayangnya, program pengentasan kemiskinan yang ditawarkan Pemprov Riau masih jauh dari harapan. Terbukti penerima BLT masih dari kalangan mampu. Ini terlihat dari pengamatan SH, dimana para penerima BLT ialah mereka yang memiliki sepeda motor. Daerah seperti Riau Kepulauan yang jauh dari listrik, tampaknya masih jauh dari jangkauan BLT.
Kepala Camat Ujung Batu Syaiful Bahri pun mengakui masih banyak daerah yang belum menerima karena sulitnya medan yang harus ditempuh, seperti di kawasan Suku Sakai yang berjarak 30 kilometer dari Kantor Pos Ujung Batu. Tampaknya, program yang ditawarkan Pemprov Riau seperti program pengentasan kemiskinan, pemberantasan kebodohan, dan penyedian infrastruktur pun hanya menyentuh orang-orang di pinggiran Kota Pekanbaru.
Maka, pemerintah pusat seharusnya bekerja lebih keras agar penyaluran BLT tidak salah sasaran dan jangkauan sasarannya lebih luas. (cr-4)
source: sinarharapan.co.id
Posted by
raprapmedan
at
Thursday, November 06, 2008
0
comments
Labels:
Bantuan Langsung Tunai,
Kelapa Sawit
Penetapan Harga TBS Kelapa Sawit Diusulkan Tiap Minggu

Kamis, 6 November 2008 | 17:10 WIB
PONTIANAK, KAMIS - Periode penetapan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kalimantan Barat yang dilakukan tiap bulan, dinilai sangat memberatkan pengusaha perkebunan sawit manakala harga crude palm oil (CPO) di pasaran global anjlok. karena itu, Gabungan Pengusaha Perkebunan Indonesia (GPPI) Kalbar mengusulkan periode penetapan harga TBS diubah menjadi tiap minggu.
"Dengan harga CPO di pasar dunia yang fluktuatif seperti ini, seharusnya ada penyesuaian harga TBS tiap minggu sehingga industri pengolahan sawit bisa tetap berjalan meski harga CPO turun. Daerah lain seperti di Sumatera Utara sudah menerapkan penetapan harga TBS tiap pekan. Kalbar yang masih menetapkan harga TBS tiap bulan akan didorong untuk menetapkan harga TBS tiap pekan," kata Ketua GPPI Kalbar Ilham Sanusi.
Menurutnya, terakhir kali TBS di Kalbar ditetapkan bulan Oktober lalu. Harga TBS paling rendah untuk tanaman sawit berumur 3 tahun Rp 782,71 per kg, sedangkan harga TBS tertinggi untuk tanaman sawit 10-20 tahun Rp 1.063 per kg. Asumsi yang digunakan waktu itu adalah harga CPO masih berkisar Rp 5.211 tiap kg. Sementara harga CPO dalam dua pekan terakhir turun drastis hingga Rp 3.600 tiap kg.
Perusahaan pengolahaan CPO di Kalbar masih terikat untuk membeli TBS dengan harga Rp 1.063 tiap kg, sementara mereka hanya bisa menjual CPO Rp 3.600 tiap kg. Padahal untuk memproduksi 1 kg CPO dibutuhkan 5 kg TBS. Kondisi ini membuat industri pengolahan sawit terus merugi.
"Untuk menekan kerugian, 17 pabrik pengolahan CPO di Kalbar mengurangi produksinya tiap hari hingga separuh," katanya.
Dalam kondisi normal, kapasitas produksi CPO Kalbar tiap tahun berkisar 850.000 ton atau sekitar 2.300 ton per hari. Dengan pengurangan produksi hingga separuhnya, ini berarti produksi CPO Kalbar saat ini tingga 1.150 ton per hari.
Diakui Ilham, tidak semua TBS dari petani dibeli oleh pabrik. Jika petani sepakat dengan kemampuan beli dari pabrik, maka TBS milik petani itu dibeli. Jika petani tidak sepakat dengan harga itu, terpaksa pabrik tidak membelinya.
Penyesuaian harga TBS yang ditetapkan pemerintah daerah menjadi salah satu solusi agar TBS petani bisa terbeli dan industri pengolahan bisa tetap berjalan, katanya.
source: kompas.com
Subscribe to:
Posts (Atom)